
Seluruh tubuh A Fei gemetar. Dalam kegelapan, ia membayangkan tubuh Jingu yang tumbang tertembak panah Chenlan. Namun segera ia tersadar saat sebuah sentuhan lembut mendarat di pundak wanita itu bersamaan dengan kata-kata menenangkan Jingu.
" Tidak apa-apa. Semuanya sudah selesai. "
A Fei membuka matanya terkejut. Jika bukan Jingu lantas siapa yang jatuh?
Pertanyaan itu menuntun mata A Fei langsung mengarah ke depan dimana Li Chenlan tergeletak dengan anak panah menancap tepat di dadanya. Begitu pula dengan pengawalnya yang bernasib sama tak jauh darinya.
Ternyata seorang pemanah jitu berhasil melesatkan anak panahnya tepat mengenai anak panah Li Chenlan hingga membuatnya terpental disusul anak panah selanjutnya yang tepat menghujam jantungnya dan si pengawal.
Tidak lama setelah insiden itu, Sima Feng datang bersama puluhan pengawal dibelakang.
****
" Berhenti menangis, maaf karena aku terlambat menemukan mu. " Sima Feng berusaha membujuk A Fei yang sejak tadi menangis di pelukannya. Jika tidak ingat sang adik baru terkena musibah, mungkin pria yang selalu dingin itu akan berpikir seribu kali untuk melakukan ini.
A Fei yang selalu tampak kuat kini terlihat rapuh. Tangisnya bukan karena ia masih takut melainkan lega karena akhirnya terbebas dari sosok Li Chenlan.
" Benar, kau sangat terlambat. Kau payah. Jingu bahkan bisa lebih cepat menemukan ku. " Bahkan di saat menangis pun, A Fei masih bisa mengejek sang kakak.
" Kau benar, aku memang payah. Sudah, berhenti menangis. Jika ayah tahu, ia akan memarahi ku berpikir kalau aku lah yang membuat mu menangis. "
Melihat sang adik sudah lebih tenang. Sima Feng kembali bertanya, " sekarang katakan pada ku, apa yang bajingan itu lakukan padamu selama penculikan kemarin? "
Ada sedikit amarah dalam pertanyaan Sima Feng dan itu di sadari A Fei.
" Tenang saja. Dia tak melakukan apapun lebih tepatnya belum melakukannya. "
__ADS_1
Kedua alis Sima Feng terajut mendengar ucapan A Fei. " Apa maksud mu dengan belum melakukan apapun? "
Menghembuskan napas, A Fei akhirnya menceritakan rencana Li Chenlan yang secara tidak sengaja didengarnya itu pada sang kakak.
Kedua tangan Sima Feng mengepal lalu memaki sang mantan ipar. " Bajingan keparat! beraninya dia ingin melakukan itu pada mu. Andai saja dia masih hidup, akan ku siksa dia sampai dirinya hanya mengharapkan kematian alih-alih pengampunan dari mu bahkan itu pun belum termasuk hukuman atas kematian A Guang. " Ada kilatan amarah di mata Sima Feng.
Andai pria itu ada di depannya saat ini mungkin sudah ia kuliti hidup-hidup. Tak ada satu kalimat pun yang bisa menggambarkan semarah apa Sima Feng saat ini.
" Aku tahu dia bajingan kak. Tapi itu semua sudah berlalu, dia juga sudah membayar dengan nyawanya. Tapi... entah kenapa aku merasa masih ada hal lain yang mengganjal. " A Fei menatap Sima Feng, ekspresinya terlihat serius.
" Aku merasa kematian kak A Guang tidak ada hubungannya dengan Li Chenlan. Saat aku bertanya padanya mengenai kematian Kak A Guang, ia dengan tegas membantahnya. "
" Dan kau mempercayainya? ucapan pria brengsek sepertinya. " Sima Feng langsung menyela ucapan A Fei.
" Bukan seperti itu. Aku juga tahu dia brengsek, licik, bajingan. Tapi ucapannya membuatku sedikit berpikir, mungkinkah ia memang bukan pembunuh kak A Guang. jika itu benar, bukankah pembunuh yang sebenarnya justru masih hidup bebas dan Chenlan sebagai kambing hitam menanggung semuanya. "
" Baiklah, aku akan mencoba menyelidikinya lagi. Sekarang lebih baik kau istirahat. Tidur lebih awal akan membuat mu awet muda. "
A Fei terkekeh. " Aku tahu dan terima kasih sudah memberitahuku. Aku pasti akan awet muda dan panjang umur. "
Sima Feng tersenyum tipis saat hendak keluar, A Fei kembali memanggilnya.
" Apa lagi? "
" Aku hanya ingin tanya, kapan kita akan kembali ke desa? " A Fei ingat bahwa ia masih memiliki tugas yang harus di selesaikan.
" Kita tidak kembali ke kabupaten Wuyuan. Kita akan langsung ke ibukota. "
__ADS_1
A Fei melihat saudaranya dengan ekspresi keberatan. " Kenapa? bukankah aku masih harus menyelesaikan tugas yang kau berikan, kak. "
" Tugas itu akan ku serahkan pada orang lain. Ayah dan ibu ingin kau cepat kembali. Mereka tidak sabar ingin bertemu dengan mu. Kelihatannya karena insiden kemarin, ayah ibu akan lebih protektif pada mu. "
" Tidak bisa. Bagaimana bisa kau melimpahkan pekerjaan ku begitu saja pada orang lain. Aku bahkan belum memulainya. " A Fei masih kekeh menolak.
"Ini bukan keputusan ku, tapi keputusan kaisar Jin. "
" Dan kaisar Jin itu ayah kita kak. Tidak bisakah kau bicara padanya dan katakan bahwa aku ingin tetap tinggal dan menyelesaikan tugas ini. Jika aku pergi begitu saja, aku merasa seolah menjadi manusia yang tidak memiliki rasa tanggung jawab. "
Melihat wajah lesu A Fei, Sima Feng mau tak mau mengalah. " Baiklah. Aku akan bicara pada ayah. Tapi jangan terlalu banyak berharap karena aku hanya membantu bicara bukan membujuknya. "
*****
Sementara di tempat lain,
" Bagaimana? apa kau sudah mengurus mayatnya? " Tanya Jingu pada bawahannya.
" Sudah tuan, tapi sepertinya Yang mulia kaisar tahu dan akan segera memanggil anda. "
" Sudahlah. Biarkan saja tua bangka itu. Aku sudah tahu apa yang akan ia katakan. Membunuh salah satu bidaknya tentu akan membuatnya marah, bahkan aku sendiri juga salah satu bidaknya. " Jingu tersenyum getir memikirkan nasibnya.
Sebagai Pangeran termuda dari Kaisar Nan, ia harus siap kapan pun di gunakan oleh ayahnya. Seperti saat ini, ia harus menjalankan sebuah misi namun di sisi lain ia juga enggan untuk melaksanakannya. Jingu dilema, harus memilih antara cinta atau pengabdian pada negaranya.
Ragu, namun ia sadar tak ada lagi kesempatan baginya untuk mundur. Terlebih setelah kesalahan besar yang sudah ia lakukan. Mungkinkah A Fei masih mau memaafkannya.
Mustahil.
__ADS_1