
Merahasiakan sesuatu dari seseorang yang sudah mengetahui kebenarannya hanya akan terlihat seperti lelucon. Ziyan tertawa dalam hati. Pria ini ternyata lebih hebat dari yang dipikirnya.
"Sejak kapan kau mengetahuinya? " (ziyan)
Sima rui menutup matanya. Ia menceritakan kejadian saat ia membantu xiaoqi menyelamatkan anak-anak. Lalu saat menunggunya keluar, ia melihat Snowy. Jadi secara tidak langsung ia bisa menebak orang terakhir yang keluar dari pondok itu meski wajahnya tertutup.
Mendengar itu, ziyan sedikit menyalahkan snowy. Karena kucing ini memiliki fisik yang berbeda dengan kucing umum yang ada disini. Tapi menyalahkannya tentu saja hanya sebuah tindakan sia-sia. Sisi positif dari kejadian ini, Ziyan tak perlu repot-repot mencari alasan untuk meminta bantuan Sima rui.
"Lalu bagaimana rencanamu selanjutnya?" (ziyan)
" Menghancurkan mereka. "
Jawaban singkat Sima rui cukup memuaskan ziyan. Tapi kenapa Sima rui ingin menghancurkan mereka? Saat ia berbicara, terlihat kilatan emosi di matanya. Apakah ia memiliki dendam dengan mereka juga.
Sima rui sebenarnya tidak memiliki dendam dengan mereka. Hanya saja saat mereka berbicara ingin menjadikan ziyan sebagai percobaan. Itu menyulut emosi Sima rui. Apalagi sakitnya tiga tahun lalu berasal dari racun mereka juga. Sejak itu ia sudah bertekad untuk memusnahkan mereka bagaimanapun caranya. Ternyata dewa membantunya. Menggunakan kasus penculikan anak dan menjadikan mereka sebagai percobaan. Dua kasus itu sudah cukup sebagai alasan menjatuhkan hukuman untuk mereka.
"Aku masih memiliki beberapa rahasia. Tapi aku tak bisa mengatakannya sekarang. Jika sudah waktunya, aku akan mengungkap semuanya. Tapi aku berjanji. Aku tidak akan merahasiakan apapun setelah ini. Jika aku mengalami kesulitan, orang pertama yang aku cari adalah pangeran. "
Sima rui menepuk pelan kepala gadis itu. Gadis ini benar-benar sanggup membuat suasana hatinya berubah-ubah.
"Oh iya ini. " Ziyan mengeluarkan bank note yang ia terima dari sima yan kemarin. "Ini milik putra mahkota. Aku ingin mengembalikannya. Untuk uang pangeran. Aku akan mengembalikannya saat kita tiba di ibukota. "
Sima rui mengambil bank note Sima yan. "Aku ambil yang ini. Aku akan mengembalikannya pada putra mahkota. Untuk uangku, kau pakai saja. Itu semua untukmu. "
Hah!? OMG! !
Uang senilai 100 tael emas ini diberikan begitu saja. Apakah ia begitu kaya atau ia memiliki tambang emas di rumahnya? Kenapa ia sama sekali tidak merasa terbebani saat memberikannya.
Melihat keterkejutan ziyan. Sima rui kembali membuka mulutnya. "Karena kau tunanganku normal jika aku memberimu uang. Selama itu masih jumlah yang wajar, aku tidak keberatan. "
"Jadi kau tak keberatan jika aku menghabiskan semua uangmu. "
"Untuk sekarang kau tidak bisa. "
"Hah?! "
__ADS_1
Melihat gadis itu masih tidak mengerti, Sima rui kembali menjelaskan.
"Sekarang kau tidak diperbolehkan menghabiskan semua uangku. Tapi ketika kau sudah menikah denganku. Semua uangku milikmu. Kau bisa menghabiskannya. "
Jawaban Sima rui tentu saja menjadi serangan telak untuk ziyan. Ia tak menyangka calon suaminya ini seorang yang berhati besar. Poin plus Sima rui bertambah dalam daftar ziyan.
"Lalu kapan kita akan kembali? " (ziyan)
"Lusa. Masih ada beberapa hal yang harus ku selesaikan. Apa kau tidak ada rencana siang ini? Jika tidak, kau bisa ikut aku menemui putra mahkota. "
"Bertemu putra mahkota? Dia tidak tinggal disini? "
"Dia datang sebagian utusan resmi Yang mulia. Jadi ia tinggal di rumah dinas. "
Pantas saja ziyan tak melihat sosoknya di kediaman He. ternyata ia tinggal di rumah dinas. Lalu kenapa Sima rui tidak tinggal disana? Kenapa memilih tinggal disini. Apa jangan-jangan ada hubungan dengan....
Ziyan ingin membuang pikiran negatifnya. Tidak mungkin sima rui seperti itu.
"Apa yang kau pikirkan? " Sima rui memperhatikan ziyan yang tampak memiliki perdebatan di pikirannya.
"Jujur saja. Apakah kau tinggal disini karena Nona He? kenapa kita tidak di rumah dinas. "
Melihat ziyan mencurigainya memiliki maksud terselubung tinggal disini. Sima rui tak tahan untuk memberikan gadis itu sebuah sentilan ringan di keningnya.
Alasan kenapa Sima rui memilih tinggal disini. Karena ada begitu banyak pria disana. Namanya saja rumah dinas. Namun sebenarnya itu seperti kantor pejabat pemerintah. Sima rui yakin gadis itu tak akan nyaman tinggal bersama para pria asing. Ia sendiri juga tak ingin banyak mata yang memandang gadis itu. Membayangkan banyak mata yang dipenuhi kekaguman memandangnya. Membuat suasana hati Sima rui menjadi buruk.
"Itu karena kita datang bukan sebagai utusan Yang mulia. Kita disini untuk penyelidikan. Jika kedatangan kita diketahui. Semua rencana kita tak akan berhasil. kita juga tak akan menemukan anak-anak itu, bukan begitu? "
Ziyan mendengarkan alasan Sima rui. Cukup masuk akal.
"Lagi pula aku juga tidak pernah bertemu dengan nona He sebelumnya. Bagaimana bisa karena dia, aku tinggal disini. "
Sima rui menyentuh ujung rambut ziyan yang tergerai di pundaknya. Wajah tampannya tersenyum. membuatnya begitu tampan.
Sesuai rencana, Sima rui mengajak ziyan bertemu putra mahkota. Mereka pergi ke rumah dinas setelah Sima rui menyelesaikan makan paginya.
__ADS_1
"Ini rumah dinas? "
Ziyan melihat sebuah kantor pemerintah, tidak seperti rumah dinas yang ada di pikirannya. Ternyata rumah dinas disini adalah kantor pemerintah yang menyatu dengan kediaman yang diperuntukan untuk utusan Kerajaan yang sedang melakukan kunjungan ke kota ini.
"Benar. Bagaimana menurutmu? "
"Aku bersyukur pangeran tak mengajakku tinggal disini. "
Sima rui tersenyum penuh kemenangan.
Meski kediamannya terlihat nyaman. Tapi hampir tidak ada pelayan wanita disini. Jika ia tinggal disini pasti akan terasa canggung.
Sima rui segera membawa ziyan ke kediaman. para pelayan pria yang melihat kedatangan pangeran pertama segera membungkuk memberikan hormat. Ziyan yang ada di sampingnya juga menarik perhatian para pelayan. Mereka yakin gadis ini adalah tunangan pangeran pertama yang beberapa minggu lalu menjadi pembicaraan hangat.
"Aku ingin berjalan-jalan. " Snowy membisikan keinginan pada ziyan. Segera ziyan menurunkan snowy dari gendongannya dan dengan cepat kucing itu melesat pergi.
"Apakah tidak masalah. Kau tidak takut kucing itu hilang? "
Sima rui tahu kucing itu merupakan peliharaan kesayangan ziyan. Ia hampir membawanya kemanapun ia pergi. Jadi melihat gadis itu melepaskannya begitu saja. Cukup mengejutkannya.
"Tak apa. Dia akan kembali."
Sima rui tak tahu alasan apa yang membuat gadis itu begitu yakin. Tapi ia tahu gadis itu benar.
Mereka tiba di ruang penerima. Pelayan membawa teh dan kudapan untuk mereka. Bahkan para pelayan yang melayani mereka saat ini juga pria. Ketika ziyan sibuk memperhatikan para pelayan pria itu, putra mahkota tiba.
Sima yan melihat kedatangan ziyan. Hatinya yang tadi tenang, seketika bergemuruh. Sima yan menarik napas mencoba menyembunyikan kegundahan hatinya. Ekspresinya tetap tenang saat menyapa keduanya.
Percakapan mereka seputar masalah kerajaan. Sima yan juga sudah melaporkan kasusnya pada Yang mulia. Sekarang mereka hanya perlu menjalankan rencana selanjutnya.
Ziyan tidak begitu tertarik dengan percakapan mereka. Jadi ia tidak mendengarkannya. Ia hanya menikmati teh dan kudapan yang disajikan para pelayan. Berbagai makanan manis yang ada di depannya lebih menggoda dari pada pembicaraan berat kedua pria tersebut. Sudah tinggal di dunia ini beberapa bulan, membuat ziyan sudah terbiasa dengan makanan disini.
"Nona mo. Sepertinya kau pencinta makanan manis." Sima yan sejak tadi memperhatikan ziyan yang begitu menikmati makanannya.
" Tentu. Makanan manis mampu membuatmu lebih rileks. "
__ADS_1
Sima yan dan Sima rui tercengang dengan jawaban ziyan. Namun bukan karena efek makanan manis yang baru saja di katakan ziyan. Namun lebih pada selera gadis itu.