Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 389 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

A Fei menoleh, melihat kebelakang, pandangan matanya mengedar seolah mencari sesuatu.


" Ada apa nona? " Tanya Xiao Er heran melihat sang nona yang tiba-tiba saja berhenti.


" Tidak apa-apa. " Mengabaikan keringat dingin di punggung seolah seseorang sedang menatapnya, A Fei kembali berjalan.


Setelah membersihkan diri, A Fei tak lantas hanya duduk dan bersantai. Wanita itu memutuskan untuk pergi ke toko obat untuk membeli bahan-bahan yang di butuhkan.


Bersama dengan Xiao Er dan Jingu, ketiganya menikmati keramaian malam di desa.


" Nona, kenapa kita tidak pergi besok saja? kita bisa menyuruh seseorang untuk membelinya, sementara nona bisa istirahat. Bagaimana pun juga kita baru saja melakukan perjalanan panjang. Saya tak ingin nona kelelahan. "


A Fei yang sejak tadi sibuk menikmati tanghulu melirik sekilas Xiao Er kemudian berbicara setelah sebelumnya menelan makanan manis tersebut.


" Perjalanan itu sama sekali tidak melelahkan untuk ku. Justru jika aku hanya berdiam diri di kamar, tubuh ku akan merasa lebih lelah. Setidaknya dengan menikmati malam seperti ini, suasana hatiku akan jauh lebih ringan. Sudah lah jangan terlalu serius. Lebih baik saat ini kau menikmati ini.. Cobalah, ini enak. " A Fei menyodorkan satu buah tanghulu lain yang dipegangnya pada Xiao Er kemudian ia menoleh pada Jingu.


" Apa kau juga ingin. " Tawar A Fei pada Jingu.


Senyum Jingu merekah. " Bo-bolehkah? " Tanyanya terbata.


" Tentu saja boleh. Tapi kau beli sendiri. Ini hanya tersisa satu dan sudah ku berikan pada Xiao Er. " Mudah sekali A Fei membuat Jingu yang sebelumnya berharap tinggi langsung terjun bebas.


Jingu yang sejak tadi melihat A Fei menikmati manisan merah itu harus berusaha keras menelan ludahnya kasar. Adam's apple pria itu sejak tadi naik turun seirama dengan gerakan bibir wanita itu. Bibir merah muda A Fei berubah merah karena warna tanghulu membuat tampilan bibirnya terlihat lebih seksi dan menggairahkan. Bahkan ketika daging lunak itu bergerak saat A Fei menggigit atau pun mengunyah, gerakan itu justru menekan sisi liar Jingu membuat pria itu berhasil memikirkan beberapa adegan kotor di otaknya.


Dasarnya, Jingu si otak mesum.


' Ah sial. Kenapa harus bangun sekarang. ' Batin Jingu mengumpat ketika merasakan benda di bawah perutnya kembali berdiri tegak membuatnya frustasi.


Kurang ajar memang benda mungil Jingu itu. Setelah dinyatakan sembuh, mudah sekali aset itu berdiri padahal dirinya hanya memikirkan sedikit adegan liar.


" Jingu? kenapa kau diam? apa kau marah? " A Fei yang melihat Jingu hanya diam berpikir bahwa pengawalnya tersebut sedang merajuk padanya terlebih wajahnya yang sedikit merah.


Jingu yang tersadar sontak menggeleng tanpa sadar. " Tidak nona. Saya hanya berpikir, kelak akan membeli lebih banyak tanghulu jika kau memang menyukai makanan manis itu. " Ucapnya beralasan.


" Itu tidak diperlukan. " A Fei mengayunkan tangannya menolak. " Aku masih ingin berumur panjang. Terlalu banyak tanghulu akan membuat ku terkena penyakit gula. "


Jawaban A Fei berhasil membuat Jingu kehilangan kata-kata.


Ketiganya menuju toko obat yang menurut warga merupakan toko terbesar di desa. Setelah menyebutkan semua yang hendak di belinya. Ternyata ada satu barang yang tidak ada.


" Lalu dimana aku bisa menemukan bahan ini? " Tanya A Fei pada si penjual.


" Kau bisa mencarinya di toko obat di desa sebelah. Toko mereka lebih besar dan lengkap. Jadi aku yakin mereka memiliki bahan ini. "


" Desa sebelah? maksud mu desa yang ada di Kekaisaran Nan? "


" Benar. "


A Fei ragu apakah ia harus datang ke sana atau tidak. Mengingat kerajaannya memiliki dendam dengan mereka. Meskipun kebenaran akan hubungan mereka dengan kematian A Guang masih belum terbukti tapi akan lebih baik untuk waspada .

__ADS_1


Tanpa A Fei ketahui, setelah ia keluar dari toko. Seorang pria datang dan memberikan sekantong tael perak pada si penjual.


A Fei terus memikirkan masalah A Guang, hingga tanpa sadar dirinya melamun dan menabrak seseorang.


" Hei, dimana matamu? "


" Maaf, aku tidak sengaja. " Buru-buru A Fei meminta maaf. Ia sadar bahwa dirinya yang salah karena melamun saat berjalan.


Meski A Fei sudah meminta maaf, tampaknya orang itu tak ingin melepas A Fei begitu saja.


" Apa kau bilang, tidak sengaja? Kau tahu, pundak ku sakit karena kau menabrak ku tadi. Jadi lebih baik sekarang kau berikan aku uang untuk ku berobat atau kau bisa ikut dengan ku untuk merawat pundak ku ini. " Pria itu melihat A Fei dengan tatapan lapar seolah ia adalah daging segar yang siap disantap.


Wajah bersalah A Fei seketika hilang begitu menyadari niat tak baik dua pria di depannya.


" Apa kau berniat memeras ku? " Tak ada lagi keramahan yang A Fei tunjukan. Berganti dengan ekspresi dan nada bicara yang terkesan datar namun penuh ejekan.


" Nona, sangat buruk jika kau menuduh orang lain sedang memeras mu. Aku hanya mencoba meminta pertanggung jawaban mu karena telah melukai pundak ku hingga terkilir. Apa itu salah? "


" Terkilir? apa tulang mu terbuat dari tahu hingga membuatnya begitu rapuh. Aku bahkan sekarang ragu, apakah jangan-jangan kau seorang wanita. Mengingat begitu lemahnya dirimu. " Ejek A Fei dengan sorot mata merendahkan.


Dan itu berhasil membuat emosi dua pria itu langsung tersulut.


" Nona, lebih baik kita jangan terlalu memprovokasi mereka. Tampaknya mereka tidak hanya berdua. " Bisik Xiao Er.


" Kenapa kau takut? kita memiliki Jingu. Biarkan dia yang melawan mereka. " Tenang sekali A Fei menyerahkan tugas melawan para pengganggu itu pada Jingu hingga Pria yang bersangkutan tak bisa berkata-kata.


Ia hanya bisa menarik napas panjang dan menerima nasibnya karena dijadikan tumbal oleh A Fei.


Merasakan sinyal bahaya, Jingu secara otomatis langsung berjalan ke depan memasang posisi siaga untuk melindungi kedua wanita di belakangnya.


" Ho.. ternyata mereka memiliki seorang pahlawan. " Ejek pria itu dan di sambut tawa kencang temannya.


Jingu yang diejek masih memasang wajah lempeng.


" Kenapa? apa kau sekarang takut karena kedua wanita ini ternyata memiliki seorang pahlawan? "


Kedua pria itu terbahak mendengar ucapan provokasi Jingu. Tanpa mereka sadari, perdebatan mereka sudah menarik perhatian orang sekitar.


" Sepertinya percuma berbicara dengan mu. Aku akan memberimu pelajaran terlebih dulu, baru setelah itu, aku akan membawa dua wanita di belakang mu untuk menemani kami bersenang-senang. "


Kedua tangan Jingu mengepal kuat. Sekarang hanya ada satu keinginannya, yaitu merobek mulut pria di depannya dan mencongkel matanya yang telah berani melihat A Fei dengan tatapan penuh nafsu.


Sayangnya sebelum Jingu merealisasikan aksinya, datang beberapa orang lain yang merupakan rekan pria itu.


'Sial. Ternyata dia memiliki kelompok. Jika seperti ini tak ada yang bisa aku lakukan kecuali itu. ' Batinnya.


Kurang lebih ada 20 orang yang saat ini menghadang Jingu. Melangkah mundur sedikit, Jingu berbisik, " Nona, saat aku memberikan aba-aba segeralah lari. Aku akan menghambat mereka sebentar baru kemudian menyusul mu. "


Rahang A Fei hampir jatuh mendengar bisikan putus asa Jingu. Sadar bahwa ternyata pengawalnya terlalu mudah putus asa.

__ADS_1


" Apa kau tak malu? " A Fei berkata lirih, menahan dirinya untuk tidak memaki, bahkan saat bicara ia sama sekali tak membuka mulutnya.


" Menyelamatkan nyawa jauh lebih penting dari pada mempertahankan wajah. Lebih baik malu dari pada terbunuh Nona. " Sungguh prinsip yang patut di acungi jempol.


" Berhenti saling berbisik kalian, jangan berpikir untuk memikirkan trik apapun. Karena kalian tidak akan bisa kabur. " Hardik pria itu sebab merasa diabaikan oleh Jingu.


Tanpa ingin membalas ucapan pria itu, Jingu langsung memberi pukulan tepat di wajah lawannya hingga ia mundur beberapa langkah dengan darah yang sudah menetes keluar dari hidungnya.


" ARGH!!! " Pria itu histeris saat mengetahui hidungnya mengeluarkan cairan merah.


" SEKARANG! " Teriak Jingu. A Fei yang mengerti segera menarik tangan Xiao Er dan berlari.


Jingu yang masih di belakang menghadang dan memukul satu persatu orang yang berniat mengejar A Fei lalu ikut melarikan diri setelahnya mengabaikan teriakan mereka yang kini sudah mengejarnya.


A Fei berhasil mengelabui mereka dan dengan selamat kembali ke kediaman pemerintah dimana dirinya tinggal. Masih dengan napas tersengal, ia menatap tajam Jingu yang baru saja tiba setelah berhasil menyusulnya.


" Bisakah kau lebih pengecut dari ini. Sungguh percuma, kau menjadi pengawal jika mengalahkan mereka saja kau tidak bisa. "


" Nona. Bukan aku pengecut. Aku hanya mencoba berpikir realistis. Mereka begitu banyak, sedangkan aku hanya seorang sendiri. Aku mungkin bisa mengalahkannya, namun siapa yang akan melindungi mu dan Xiao Er. Aku takut saat aku sibuk bertarung, mereka akan menggunakan kesempatan itu untuk menculik mu. Jika hal itu sampai terjadi, maka sudah pasti nyawa ku yang akan melayang, bukan karena mereka tapi karena kemarahan ayah dan kakak mu. " Papar Jingu beralasan.


Meski sebagian alasan itu benar tapi yang utama adalah itu terlalu merepotkan untuknya bertarung dengan begitu banyak orang.


Masih dengan napas tersengal, Jingu kembali berbicara. " Sungguh, aku masih menginginkan hidup ku Nona. Aku bahkan belum pernah merasakan nikmat dunia. Meski satu kali, aku juga ingin merasakannya. " Tentu saja kalimat terakhir diucapkan dengan suara pelan, sangat pelan.


" Kau bicara apa? " Tanya A Fei tak mendengar kalimat terakhir Jingu.


" Nona, lebih baik kita masuk sebelum mereka melihat kita. " Potong Jingu mengalihkan topik. Ia mendorong kedua wanita itu masuk ke dalam.


" Hei. Dasar kau tidak sopan. Beraninya kau mendorong ku... " Dan masih banyak omelan A Fei yang pastinya sama sekali tak di dengar sang pengawal.


*********


Beberapa jam setelah kejadian. Saat malam semakin larut.


Terlihat seorang pria tengah berjalan sempoyongan karena mabuk. Pria itu adalah orang yang tadi menghina A Fei. Terlihat seorang pria lain menghadangnya. Sangat jelas bahwa tindakan itu sengaja di lakukan.


" Minggir kau. Apa kau ingin mati, hah? " Pria yang mabuk itu mengumpat kesal karena seseorang menghalangi jalannya. Pandangannya yang kabur tak bisa melihat wajah si penghadang dengan jelas.


" Apa kau buta. Kurang ajar! "


Tiba-tiba sebuah pisau keluar dari balik lengan panjangnya. Dan dengan cepat, menusuk kedua mata pria itu hingga terdengar jeritan kesakitan.


" ARGHHH!!! " Pria itu meraung tersiksa.


Darah langsung keluar dari balik rongga mata. Tidak hanya sampai di situ, tanpa memberikan jeda untuk si korban menikmati rasa sakitnya. Pria itu lantas memotong lidah dan,


Pluk.


Daging lunak itu terjatuh di tanah dengan darah berceceran. Tidak berhenti sampai di situ. Ia juga merobek kedua ujung bibirnya hingga ke pipi.

__ADS_1


" Itu hukuman untuk mu karena telah berani menghina A Fei. " Pria itu Jingu.


Jingu menatap pria yang baru saja di siksanya itu dengan tatapan datar, tampak biasa seolah apa yang dilakukannya bukanlah sesuatu yang kejam.


__ADS_2