
Ziyan masih menatap datar pria berbaju hitam yang membawa makanannya.
' Kenapa dia masih berdiri di situ. Apa dia tidak tahu bahwa perut ku sudah berdemo minta di isi. Ini sudah lewat dari jam makan malam ku. ' Kesal ziyan namun sebisa mungkin ia buat wajahnya datar seolah tidak peduli dengan kedatangannya.
Setelah hamil, entah kenapa ziyan selalu lapar. Karena itu ia meminta xumu menyiapkan makan pada tengah malam. Jadi jika dihitung, maka dalam sehari ziyan akan makan sebanyak empat kali. Belum termasuk dengan snack atau kudapan. Namun meski makan begitu banyak. Bobot ziyan tidak bertambah secara drastis. Hanya pipinya yang sedikit berisi.
Karena sima rui tak kunjung bergerak maju, ziyan akhirnya membuka suaranya.
" Sampai kapan kau berdiri di situ. Cepat letakkan piring itu di meja, setelah itu pergi dari sini. "
Sima rui masih menutup mulutnya. Ia melangkah maju. Namun alih-alih meletakkan piring itu di meja. Ia justru meletakkannya tepat di depan ziyan.
Ziyan menatap tak suka pada pria itu. Namun saat wajah keduanya dekat, Sima rui membuka penutup wajahnya sedikit.
" Kau! " Suara keras ziyan menarik perhatian penjaga pintu.
" Ada apa? kenapa kau berteriak. "
" Ti-tidak. Aku hanya sedikit kesal karena pria ini hampir menumpahkan makananku. " bohong ziyan.
Lalu pandangan penjaga pintu beralih pada Sima rui.
" Hei, cepat keluar atau kau akan membuat tuan marah. " Kata penjaga itu dengan suara keras.
" Jangan. Maksudku, dia tidak perlu keluar. Biarkan dia menemaniku makan. Aku tidak suka ada piring kotor di ruangan ku. Bukankah xumu juga selalu menunggu ku menyelesaikan makanan ku. " Ucap ziyan sukses membuat rasa cemburu Sima rui kembali berkobar mendengar kalimat terakhir yang di ucapkan oleh sang istri.
Penjaga pintu mengangguk patuh dan membiarkan Sima rui tetap di dalam. Ia memang selalu melihat tuannya menemani ziyan hingga selesai makan lalu membawa piring kotor tersebut keluar. Jadi ia tidak merasa curiga dengan ucapan ziyan.
Begitu pintu tertutup sempurna, Ziyan segera memeluk tubuh suaminya yang dua hari ini begitu di rindukannya. " Akhirnya kau bisa menemukan ku. Aku percaya kau pasti menemukan ku. Apakah kau tahu aku terus menunggumu. " Ucapnya penuh haru.
" Terima kasih karena percaya dan menunggu ku istriku. Aku juga sangat merindukanmu. " Kemudian Sima rui melerai pelukannya dan menelisik tubuh sang istri. " Apakah dia menyiksa mu? "
Ziyan menggeleng. " Tidak. Xumu bahkan memberi ku makanan yang enak setiap hari. Jika terus berlanjut mungkin aku akan lupa bahwa aku sebenarnya sedang ditawan bukan sedang berlibur di hotel. " Wanita itu tertawa kecil.
"Jangan tertawa. Apa kau tahu bahwa aku khawatir setengah mati. Dua hari ini membayangkan dia mungkin saja menyiksa mu. Membayangkan kau mungkin sedang menderita karena aku tidak kunjung menemukan mu. Juga membayangkan kemungkinan aku kehilangan anak kita. Bayangan semua itu membuatku hancur. Hatiku seolah-olah di cabut dari sini. " Sima rui menunjuk dadanya.
__ADS_1
Niat hati agar ziyan terlihat tegar, namun justru membuat suaminya marah. Bukan marah atas sikap istrinya. Namun Sima rui marah pada dirinya yang gagal melindungi sang istri.
" Maaf, maafkan aku. Jika saja saat itu aku tidak lengah. Mungkin saja ini semua tidak akan terjadi. " Ziyan menunjukan wajah penuh penyesalan.
Mendengar istrinya menyalahkan dirinya. Justru membuat dada Sima rui semakin sesak. Ucapan ziyan membuat dirinya semakin didera rasa bersalah. Jika saat itu ia lebih fokus pada sang istri mungkin ziyan tidak akan berada di tempat ini.
Hal ini akan dijadikan pelajaran oleh sima rui. Kelak ia tidak akan membiarkan istri atau anaknya pergi ke luar tanpa pengawal. Meskipun dirinya sudah menugaskan para penjaga bayangan.
Dan dari sinilah, sima rui sang ayah posesif dimulai.
" Sekarang makanlah. Setelah ini kita akan kabur. Kita akan keluar diam-diam. " Ucap Sima rui.
" Diam-diam? Kau tidak ingin membuat perhitungan dengannya? " Tanya ziyan heran. Pasalnya bukan seperti ini cara suaminya memukul musuh. Pria itu selalu membabat habis sarang musuh.
" Aku harus memastikan keselamatan istriku terlebih dulu. Setelah kau aman. Barulah akan ku musnahkan mereka semua. " Ucap Sima rui penuh keyakinan. Ia rela mengubah metodenya demi menjamin keselamatan anak dan istrinya.
Nah ini baru cara suaminya bertindak. Tak pernah membiarkan satu lalat pun kabur.
Ziyan dengan semangat melahap habis semua makanannya dan hanya menyisakan tulang ikan.
" Penjaga! " Jerit ziyan.
Penjaga pintu yang mendengar teriakan ziyan langsung masuk begitu saja.
" Ada ap- "
Gubrakk!
Pria itu langsung jatuh ke lantai setelah pukulan Sima rui mendarat tepat di tengkuk penjaga itu.
Ziyan hendak membuka pakaian penjaga itu namun gerakannya segera dihentikan oleh Sima rui. Pria itu tak ingin istrinya membuka pakaian pria lain, apa lagi di depan matanya sendiri.
" Biar aku saja yang membukanya. " Ziyan mengangguk lalu melangkah mundur. Namun sima rui masih diam tidak kunjung membuka pakaian pria itu. Ia justru masih melihat ke arah sang istri.
" Apa lagi? " Tanya ziyan bingung.
__ADS_1
" Tutup matamu istriku. " Kata sima rui singkat.
Ziyan langsung menutup matanya mematuhi perintah sang suami. Meski dirinya juga tak habis pikir, bisa-bisanya suaminya itu cemburu di saat seperti ini.
Melihat istrinya sudah menutup mata. Sima rui segera melucuti pakaian penjaga itu.
" Lepaskan pakaian luar mu istriku. " Kata Sima rui.
Ziyan segera melakukan apa yang dikatakan suaminya. Melepaskan pakaian luarnya lalu memakai pakaian penjaga itu.
Sima rui membawa pakaian ziyan lalu memakaikannya pada si penjaga.
" Singkirkan selimutnya. "
Ziyan menyingkirkan selimut yang ada di atas ranjang. Sima rui membaringkan tubuh si penjaga di sana lalu menyelimutinya. Dengan cara ini setidaknya bisa menjadi pengecoh disaat mereka melarikan diri.
Sebelum istrinya keluar Sima rui terlebih dulu memeriksa keadaan sekitar. Setelah aman keduanya bergegas pergi. Tidak lupa Sima rui mengunci ruangan itu dan membawa serta kunci tersebut.
Mereka akan kembali ke desa tianguan melalui jalan yang sebelumnya Sima rui lewati.
************
Hampir menjelang subuh dan junyi masih belum tidur. Ia khawatir akan keselamatan tuannya yang sebenarnya itu adalah hal yang sia-sia. Ia terus menatap nyala api pada lilin agar tidak padam.
tok tok tok
Jantung junyi seolah melompat saat mendengar suara ketukan pintu. Keraguan membuatnya tak kunjung membukanya.
" Ini aku. Cepat buka pintunya junyi. "
Mendengar suara seseorang yang sejak tadi sedang di tunggunya. Dengan langkah kilat junyi berjalan dan membukakan pintu kamarnya.
" Tuan, akhirnya an- " Suara junyi menggantung, Matanya melebar, terkejut dengan wanita yang ada di samping tuannya.
" Wangfei! " Ucap junyi tidak percaya, sekaligus senang. Karena akhirnya musim dingin tuannya berakhir. Dan para prajurit tidak akan terus menerus mendesak dirinya untuk menyampaikan laporan hasil pencarian mereka pada Sima rui.
__ADS_1