
A Fei pulang dengan perasaan senang karena berhasil menghasilkan banyak uang. Untuk merayakannya, A Fei mentraktir kedua laki-laki yang sejak tadi mengekor padanya di bar yang ada di lantai dua Chuntian. Berkat toleransi alkoholnya yang rendah, dengan mudah A Fei mabuk dan berakhir dengan situasi seperti saat ini.
Di depan Chuntian, tepatnya di tepi jalan. Terjadi perdebatan antara Jinfu dengan Jingu dan orang yang menjadi sumber perdebatan justru tengah mabuk tak sadarkan diri.
" Terima kasih tuan muda Jiang. Saya akan membawa putri pulang. "
" Tidak, biarkan aku yang membawanya. Kau adalah pengawal putri, sangat tidak pantas jika kau sampai menggendongnya. Maaf, bukan aku bicara kasar, tapi status kalian berbeda. "
' Lalu apa menurut mu kau juga pantas hanya kau seorang bangsawan? ' Jingu terus menggerutu dalam hati.
Tak ada yang mau mengalah, kedua pria itu saling menarik lengan A Fei. Membuat ketiga orang itu kini menjadi tontonan para pejalan kaki.
" Lihatlah, sepertinya mereka bertiga terlibat cinta segitiga dan pria di tengah itu yang sedang mereka berdua perebutkan. "
" Kau benar. Sungguh sangat di sayangkan. Mereka semua pria tampan, tapi harus memiliki penyimpangan seksual. Andai mereka bertiga normal, mungkin aku akan memilih salah satu dari mereka menjadi menantuku. "
" Aku juga. Putri ku masih muda dan cantik. Aku yakin akan sangat cocok dengan salah satu dari mereka. "
Obrolan itu mampu di dengar oleh Jingu dan Jinfu. Mereka hampir muntah darah saat orang-orang berpikir bahwa mereka adalah pasangan penyuka sesama jenis dan sedang memperebutkan kekasih.
Tak ingin menjadi pusat perhatian, akhirnya Jingu memilih mengalah dan membiarkan Jinfu menggendong A Fei di punggungnya. Sepanjang jalan, Jingu menatap dua orang di depannya dengan tatapan rumit.
Ada perasaan tak rela saat A Fei berada di atas punggung Jinfu. Rasanya ingin sekali ia menarik A Fei dan memanggulnya lalu membawanya pergi.
**********
Keesokan harinya, A Fei terbangun dengan pusing yang teramat sangat. Ia memijit kepalanya yang terasa berat seolah ada martil besar yang memukulnya.
" Putri, anda sudah bangun? saya juga sudah buatkan air jahe untuk menghilangkan efek mabuk. Ini sudah siang, apakah anda ingin makan sesuatu? " Dengan sigap, Xiao Er menyiapkan segala kebutuhan A Fei.
Saat jendela dibuka, sinar matahari menyilaukan mata A Fei. Ia menyipit untuk melihat ke arah luar. Ia menyadari bahwa matahari sudah berada di atas, kemungkinan sudah jam 10 atau 11 pagi.
A Fei menggeleng lemah. " Tidak. Perut ku terlalu mual untuk di masukkan sesuatu. Aku takut akan kembali mengeluarkannya jika memaksakan diri makan. Tolong siapkan air jahe yang kau katakan tadi. "
" Baik. "
" Oh iya dimana Jingu? "
" Jingu ada di luar, putri. Apa anda ingin saya memanggilnya? "
" Tidak perlu. "
Setelah membersihkan diri, A Fei segera menikmati air jahe buatan Xiao Er. Hangatnya air jahe segera mengalir di tenggorokan dan lambungnya, membuat perasaan mual yang sejak tadi menyerangnya berangsur-angsur hilang.
" Putri, tadi Yang mulia Putra Mahkota berpesan jika anda sudah bangun, ia meminta anda untuk menemuinya"
__ADS_1
A Fei menghentikan minumnya dan menoleh pada Xiao Er. " Ada apa kakak mencari ku? "
" Saya tidak tahu putri. "
" Baiklah. Setelah ini aku akan menemuinya. "
Tak ingin membuat saudaranya menunggu lama, A Fei segera menuju istana putra mahkota. Kakinya dengan mantap melangkah ke ruang kerja sang kakak.
" Kak Jinfu, kau disini juga? " A Fei tak menduga akan kembali bertemu dengan Jinfu setelah semalam membuat sedikit keributan kecil.
Tampaknya ia baru saja bertemu dengan A Feng.
Semenjak menduduki kursi putra mahkota, hubungan A Feng dengan Jiang Jinfu memang menjadi lebih dekat. Sangat berbeda jika dibandingkan dengan hubungan Jinfu dan A Guang di masa lalu.
" Putri.. Kebetulan sekali kita bertemu lagi. Apa kau ingin bertemu putra mahkota? "
" Iya. Oh iya, aku minta maaf untuk semalam kak. Punggung mu pasti sakit karena harus menggendong ku. Seharusnya kau biarkan saja Jingu yang menggendong ku. " Sepintas ia melirik pengawalnya yang berdiri tidak jauh darinya.
Jinfu terkekeh. " Tak masalah. Aku justru senang menggendong mu. Eh maksud mu aku senang bisa membantu mu. " A Fei bisa melihat telinga Jinfu merah.
" Baiklah kak, aku pergi temui kakak ku dulu. "
Jingu yang sejak tadi diam menyaksikan interaksi keduanya hanya bisa menahan diri. Hatinya mendadak cemburu, ia tak suka jika A Fei tersenyum pada tuan muda Jiang tersebut.
Panas sekali hati Jingu, niat awal membuat A Fei menyukainya, justru berakhir sebaliknya. Ia jadi yang selalu terbakar bila melihat wanita itu bercanda atau sekedar berbicara dengan pria lain.
" Kemari lah dan duduk disitu. " A Feng segera menyuruh adiknya duduk di depannya.
" Ada apa kak? "
" Kau sudah dengar dengan musibah yang terjadi di kabupaten Wuyuan. " A Fei mengangguk.
" Kali ini, hama yang menyerang jauh lebih parah. Wabah ini membuat para petani terancam gagal lagi. Jika hal ini sampai terjadi, maka akan terjadi bencana kelaparan di seluruh kabupaten. Sementara persediaan di lumbung istana juga kian menipis. Sudah pasti istana tidak bisa mengirim bantuan yang cukup. Karena itu, aku memberi mu tugas untuk membuat racun yang bisa membunuh hama namun tidak meracuni tanaman. Apa kau bisa A Fei? "
A Fei masih diam mencerna ucapan sang kakak. Ia menyimak penjelasan A Feng, tapi ada bagian yang tidak ia pahami.
" Kakak, bolehkah aku perjelas. Kau meminta ku membuat racun hama, sementara kau tahu aku hanya membuat racun untuk manusia. "
" Benar. Apa itu berbeda? Bukankah sama-sama racun. Aku yakin kau pasti bisa membuatnya. "
Enteng sekali Sima Feng memberikan perintah pada A Fei yang notabene bukan ahli botani.
A Fei memutar matanya, bagaimana bisa racun hama disamakan dengan racun manusia.
" Kalau begitu, kakak maukah kau makan rumput? jangan marah, tapi sapi juga memakannya. Bukankah sama-sama makanan. "
__ADS_1
" Tentu saja itu tidak sama. Bagaimana bisa manusia kau samakan dengan sapi. "
" Lalu apa bedanya dengan mu. Kau menyamakan manusia dengan hama. "
A Feng mendengus kesal mendengar jawaban saudaranya. Tak ada yang bisa mengalahkan kemampuan A Fei dalam berdebat.
" Baiklah. Aku minta maaf, tapi apa kau bisa membantu ku menyelesaikan tugas ini. Aku sudah bicarakan ini dengan ayah, dan ia juga sudah menyetujuinya. " Kali ini Sima Feng membujuk sang adik dengan membawa nama sang ayah. Ia tahu karena A Fei yang selalu dimanja oleh ayahnya tak akan tega menolak jika itu permintaan pria yang berstatus kaisar Jin itu.
Sesuai dugaan, akhirnya A Fei luluh juga. Ia menghela napas setuju. " Aku tidak tahu, tapi aku akan mencobanya. Lagipula, ini semua juga untuk rakyat Jin. Jadi ini bukan tugas tapi tanggung jawab ku. "
" Terima kasih. Kalau begitu bersiaplah, besok pagi kau harus berangkat ke sana. "
*********
Perjalanan ke kabupaten Wuyuan memakan waktu lebih dari tiga hari. Letaknya secara kebetulan dekat dengan Kekaisaran Nan.
Sesuai permintaan A Fei pada sang kakak, ia berangkat ke kabupaten Wuyuan bukan dengan status sebagai putri melainkan sebagai salah satu nona bangsawan. Bukan tanpa alasan ia melakukannya. Menurutnya itu akan lebih membuat nyaman para penduduk ketika berinteraksi dengannya.
" Nona, kita sudah sampai. "
terdengar sebuah ketukan berikut suara Jingu yang memberitahu A Fei bahwa mereka sudah sampai di tempat tujuan.
" Xiao Er, ayo kita turun. "
Kedatangan A Fei tampaknya sudah ditunggu oleh kepala desa dimana ia singgah kali ini. Ia dengan beberapa penduduk menyambut kedatangan A Fei dengan ramah. Begitu pula sebaliknya, A Fei pun menerima sambutan baik mereka.
Kemudian mereka berkeliling sebentar dan melihat situasi tanaman pertanian.
A Fei melihat benda putih menempel pada masing-masing tanaman dan yakin sekali bahwa benda putih asing inilah yang menyebabkan kegagalan panen. Dengan hipotesis ini akhirnya A Fei bisa menarik kesimpulan.
" Sepertinya wabah yang menyerang tanaman kalian ini sejenis jamur. Bisa jadi karena cuaca yang cenderung lembab akhir-akhir ini membuat jamur tumbuh subur. Alasan kenapa jamur ini baru menyerang tahun ini, aku juga masih belum mengetahuinya. Tapi aku akan berusaha untuk membuat racun untuk membasmi mereka namun masih tetap aman untuk manusia dan tanaman. " Papar A Fei pada kepala desa dan juga penduduk yang dengan serius mendengarkan.
" Jadi karena jamur bersifat menyerap nutrisi pada tanaman inangnya, hal itu membuat tanaman yang ditempelinya menjadi layu dan pada akhirnya mati. "
Semua orang larut dalam diskusi masing-masing. Mereka tak menyangka bahwa benda putih yang tampak indah seperti salju itu justru penyebab kegagalan panen mereka.
"Jadi apakah anda memiliki solusi untuk menyingkirkan jamur tersebut, nona? " Tanya salah satu warga.
A Fei berdeham, bingung harus bagaimana mengatakannya. Tak mungkin kan ia mengatakan bahwa saat ini dirinya belum menemukan solusi.
Dibawah tatapan penuh harap para penduduk desa, A Fei menghela napas kemudian berkata. " Aku masih berusaha menemukan formula yang cocok. Tidak membutuhkan waktu lama, racun pembasmi jamur ini akan selesai. Jadi, untuk kalian semua mohon bersabar. "
Meski jawaban A Fei tidak sesuai harapan, para warga mencoba mengerti. Jadi setelah pertemuan singkat itu, A Fei dan lainnya menuju ke tempat dimana ia akan tinggal sementara ini.
Dari jauh, seorang pria menyeringai saat melihat wanita yang sudah hampir dua tahun tak ditemui itu. Sosok yang selalu mengganggu mimpinya dan juga sosok yang amat dirindukannya dan secara tidak sadar sudah berhasil mengisi seluruh hatinya.
__ADS_1