
Dalam sekejap mata, seminggu telah berlalu.
Surat yang dikirim Sima Fei ke ibukota pun sudah mendapatkan balasan bersamaan dengan datangnya pengawal elit yang dikirim Sima Rui untuk mengawal mereka.
Sebenarnya, Liu Ru masih tidak yakin tentang perjalanan ini. Selain karena usia kandungannya yang masih sangat muda, ia pun belum mengatakan perihal keberangkatannya ini pada Sima Feng, terlebih tentang kehamilannya.
Bagi Liu Ru, meskipun hubungan mereka saat ini sedang tidak baik-baik saja. Namun sebagai istri ia tetap membutuhkan ijin suami ketika dirinya hendak pergi.
Seketika ia berada dalam dilema.
" A Fei, apa kita tidak menundanya sampai kakak mu kembali? Aku belum bicara padanya mengenai keberangkatan kita. " Kata Liu Ru menunjukkan keraguannya.
" Kakak ipar, kau tenang saja. Perihal keberangkatan kita, aku sudah mengirim surat padanya. Aku yakin saat ini ia sudah membaca suratnya. Ia hanya terlalu sibuk membasmi sisa para pemberontak negara wei, jadi akan sangat sulit untuknya kembali sekarang. "
Liu Ru tampak merenung sejenak kemudian mengangguk setuju. " Baiklah. Kita akan berangkat setelah ini. "
Ia teringat, di awal pernikahan mereka, Sima Feng memberikan pilihan pada Liu Ru apakah ingin mengikutinya tinggal di sini atau tidak. Karena itu sebuah pilihan, bukankah tak apa jika saat ini dirinya memutuskan kembali ke ibukota.
Awalnya Liu Ru memilih mengikuti Sima Feng ke perbatasan berharap menemukan ketenangan disini. Siapa yang menduga akan ada Gu Feifei, membuat ketenangan yang baru saja di nikmati Liu Ru harus segera berakhir. Belum lama wanita itu tinggal di kediaman pangeran, namun sudah membuat banyak masalah dan yang terbesar adalah di saat ia di tuduh meracuni wanita itu.
Cukup sudah. Liu Ru tak ingin melihat drama lain. Ia sudah cukup sering melihat drama di kediaman Liu. Lebih baik ia mengalah dan kembali ke ibukota dari pada pikiran dan kesehatan mentalnya ikut terkena imbas.
Keberangkatan tiba-tiba mereka tentu saja mengejutkan kepala pelayan Hu. Bagaimana pun juga ia bertanggung jawab atas kediaman pangeran selama Sima Feng pergi.
__ADS_1
" Wangfei, apa tidak sebaiknya anda menunggu Yang mulia kembali. Saya takut pangeran akan marah pada anda jika tahu anda pergi tanpa sepengetahuannya. " Saran kepala pelayan Hu yang lebih kepada mencegah keberangkatan Liu Ru.
Liu Ru yang sedang melihat para pelayannya mengepak barang-barang miliknya menyampingkan perhatian sejenak untuk melihat kepala pelayan Hu.
" Kepala pelayan Hu kau tenang saja. Yang mulia sudah tahu. "
" Benarkah? " Terlihat jelas raut tidak percaya di wajah kepala pelayan Hu.
" Tentu. Apakah wajahku terlihat seperti seorang penipu. "
Kepala pelayan Hu kehilangan kata-kata.
" Baiklah. Jika Yang mulia sudah tahu mengenai keberangkatan anda. Saya hanya bisa berharap semoga perjalananan anda lancar dan tiba di ibukota dengan selamat. Saya tunggu semoga anda kembali ke kediaman ini secepatnya. "
Ada sedikit perasaan haru saat mendengar pria tua itu berbicara. Meski ia selalu tegas bila berhubungan dengan pekerjaan. Tapi bagi Liu Ru, ia seperti sosok ayah yang selalu membantunya terlebih di saat awal kedatangannya.
Gu Feifei yang mendengar bahwa Liu Ru akan kembali ke ibukota, tentu sangat senang. Apalagi bersama dua pengacau lainnya, Sima Fei dan Sima Yi. Tanpa mereka di sini, akan sangat mudah baginya mendekati Sima Feng.
Memikirkan hal ini membuat bibirnya melengkung senyum. Ia yakin tak lama lagi, dirinya akan menjadi salah satu wanita di harem pangeran kedua Kekaisaran Jin tersebut.
" Nona. Bukankah ini waktu yang tepat untuk menyingkirkannya. Kita bisa membuat seolah terjadi sesuatu dengan wanita itu saat perjalanan dan membuatnya itu semua tampak seperti sebuah kecelakaan. "
Gu Feifei melihat pada pelayannya yang baru saja memberikan ide gila. Melenyapkan Liu Ru tentu keinginan terbesarnya. Ia adalah penghalang dirinya menjadi permaisuri putri.
__ADS_1
Ia memandang sekilas pelayannya, pelayan Sima Feng yang sudah ia suap agar berada di pihaknya. Meski begitu ia masih tidak bisa percaya sepenuhnya dengannya. Menurutnya, sekali seseorang berkhianat, maka akan ada lagi pengkhianatan berikutnya. Tidak menutup kemungkinan, pelayannya akan mengkhianatinya suatu hari nanti.
" Tidak. Ada Sima Fei dan juga Sima Yi bersamanya. Terlalu banyak korban hanya akan menarik terlalu banyak perhatian. Lebih baik lupakan saja. Setidaknya wanita itu sudah pergi dari kediaman ini. Dimasa depan, aku memiliki lebih banyak kesempatan untuk membuat hubungan ku dan pangeran menjadi lebih dekat. " Tolak Gu Feifei. Meski begitu di belakang pelayannya, diam-diam ia merencanakan rencana lain. Rencana yang akan membuat Liu Ru benar-benar pergi untuk selamanya dari kehidupan Sima Feng.
Setelah semua persiapan selesai, Liu Ru dan yang lainnya bersiap meninggalkan kediaman pangeran. Sesaat sebelum Liu Ru memasuki kereta kuda, sekali lagi ia menoleh ke belakang melihat kembali kediaman yang hampir setahun ini menjadi tempat tinggalnya.
' Aku pasti akan sangat merindukan tempat ini. ' Batinnya. Ada sedikit perasaan tidak rela ketika harus pergi dari tempat itu.
Tak ingin semakin sedih, Liu Ru secepatnya melangkah masuk ke dalam gerbang. Kepala pelayan Hu dan beberapa pelayan ikut mengantar kepergian mereka. Tak terkecuali Gu Feifei, yang tampak seolah tidak rela. Namun Liu Ru yakin sekali dalam hati wanita itu tengah berpesta merayakan kepergiannya.
Liu Ru membuka sedikit tirai saat kereta mereka melewati pusat kota.
" Kakak ipar, apakah kau tidak pernah mengikuti perjamuan di rumah bangsawan? " Tanya Sima Fei tiba-tiba.
" Kenapa kau bertanya begitu? "
" Itu karena selama tinggal disini aku tidak melihat mu mengunjungi perjamuan atau sekedar mendapat undangan dari kediaman bangsawan lokal. "
" Menurut mu? "
Sima Fei menutup mulutnya sendiri dengan ekspresi terkejut. " Mungkinkah kau di bully kakak ipar? "
Tertegun. Liu Ru benar-benar kehilangan kata-kata. Ia pun berkata." Imajinasi mu benar-benar luar biasa. " Liu Ru memberikan ibu jarinya pada Sima Fei.
__ADS_1
Kemudian ia melanjutkan dengan terkekeh. " Bukan aku tidak pernah datang. aku pernah sekali datang. Namun selanjutnya aku memilih menolak semua undangan yang datang, bagiku pertemuan itu sangat melelahkan. Ada terlalu banyak kebohongan di sana. " Liu Ru mengingat jamuan pertamanya di perbatasan.
Meski di permukaan, para nyonya muda dan nona bangsawan lokal tampak menghormati Liu Ru. Namun di belakang, mereka justru menghina dan mencemoohnya sebagai wanita kampung yang tak pantas bersanding dengan Sima Feng.