
Salah satu sudut bibir Sima shao naik. Seolah senyum itu bermaksud untuk mengejek guru Yan.
" Jadi kau yang melecehkan putri ku? Berani sekali kau melakukannya. " Ucap Sima shao penuh intimidasi.
Jika boleh memukul maka dengan senang hati sima shao akan melakukannya. Karena ia datang selain sebagai ayah A Hua, tapi juga sebagai kaisar agung yang membuatnya tidak bisa bersikap semana-mena.
Tak terima dengan tuduhan palsu tersebut. Guru Yan berkata. " Anda salah Yang mulia. Semuanya hanya salah paham. Saat itu saya hanya mencoba menolong A Hua yang terjatuh dari tangga. Jadi semua itu murni karena kecelakaan. " Jelasnya setelah mengumpulkan keberaniannya.
Namun bukan Sima shao jika ia tidak bisa mengembalikan ucapan guru Yan.
" Entah itu murni karena kecelakaan atau karena sabotase seseorang. Fakta bahwa kejadian yang merugikan putri ku telah terjadi. " Lalu sima shao menambahkan dengan suara lebih rendah. " Guru Yan, kau menawarkan pernikahan pada putri ku? kenapa? Apa karena dia seorang putri? "
A Hua ingin menyela dan menyanggah pendapat ayahnya. Tapi sima shao sudah lebih dulu mengangkat tangannya menyuruhnya agar diam.
' Ayah kenapa berbicara omong kosong seperti itu. Bukankah kau sangat menyayangi ku tapi kenapa kau tidak bisa melihat bahwa putri mu ini menginginkannya. ' Gumamnya dalam hati. Bibir gadis itu bahkan mengerucut hingga lima senti.
Sedangkan A Guang yang sejak tadi menyimak hanya bisa menghela napas. ' Benar bukan, sesuai dugaan ku, tidak akan baik-baik saja jika kakek yang datang. Sebaiknya aku menghubungi Ibu atau nenek saja. '
Meski tidak sampai menghancurkan tempat ini, tapi A Guang yakin kakeknya akan membuat keributan.
Mendapat pertanyaan langsung seperti itu membuat guru Yan semakin tak enak hati.
" Saya hanya ingin bertanggung jawab. Biar bagaimana pun, reputasi A Hua sudah sedikit terpengaruh. Meski kita semua sudah menjelaskan, pasti akan tetap meninggalkan jejak. Dan jika boleh jujur, sebenarnya saya tidak berharap ia seorang putri. Akan lebih baik jika ia seorang gadis biasa dan dari keluarga biasa. " Ungkap guru Yan jujur.
" Kenapa? apa kau merasa dia tak pantas untuk mu atau kau yang justru tak pantas bersanding dengan putri ku? " Sima shao tersenyum sinis.
" Sejujurnya sebagai pribadi saya merasa pantas untuk tuan putri. Tapi tidak dengan latar belakang saya. Saya tahu mungkin ini terdengar munafik karena mengatakannya. Tapi akan jauh lebih baik jika saya jujur pada anda Yang mulia. "
" Kau sungguh percaya diri anak muda. Kau menilai terlalu tinggi dirimu hingga membuat bisa bersikap sombong. Kenapa dengan latar belakang mu? apa kau seorang penjahat? "
Guru Yan terkejut, " Tidak. Saya bersih Yang mulia. Saya hanya seorang yatim piatu yang dulu pernah di selamatkan oleh Yang mulia ratu saat di kota lingguang. Lalu saya minta maaf, bukan maksud saya untuk sombong. Tapi saya hanya mengikuti apa yang dulu Yang mulia ratu katakan. Bahwa kita tidak boleh merendahkan diri kita sendiri. Percaya dirilah selama itu memang pada taraf kemampuan mu. "
__ADS_1
" Kau pernah bertemu dengan menantu ku? " Kedua alis Sima shao saling bertaut. Kali ini justru sima shao yang terkejut. Ia menjadi sedikit tertarik dengan cerita menantu dan calon menantunya ini.
Ia pun berkata. " Ceritakan pada ku, bagaimana bisa ratu menyelamatkan mu? "
" Itu... " Guru Yan sedikit ragu. Mengingat itu seperti memasuki tempat tergelap dalam hidupnya. Namun di depan orang yang pernah berkuasa di kerajaan Jin ini. Ia harus mengatakannya. Lalu mengalir lah cerita bagaimana dulu ia bertemu dengan Ziyan.
Sima shao terlihat serius. Lalu berbicara, " Hidup mu memiliki makna yang begitu dalam. Aku tahu kau pria yang baik. Tapi aku tidak bisa merestui mu sebagai menantu ku. Membiarkan orang lain menyelesaikan masalah mu dan A Hua membuat ku berpikir bahwa kau kurang cakap. " Sima shao melirik sekilas pada A Guang.
" Karena itu, Aku tidak bisa menyerahkan putri ku pada sembarang orang. Dan apa yang kau katakan benar. Bahwa kalian tidak berada dalam status yang sama. "
Setelah bicara sima shao berdiri. Aura dominannya masih terpancar kuat.
" Kepala sekolah. Tolong ijinkan aku membawa A Hua dan A Guang. "
" Silakan Yang mulia. Silakan bawa mereka. " Kepala sekolah langsung mengangguk setuju tanpa berpikir lagi.
Masih dengan wajah dingin. Sima shao menatap kedua anak muda yang sudah mengkerut.
" Kalian berdua, ikut aku. "
Ketiganya sudah berada di dalam kereta kuda.
Sima shao duduk bersedekap menatap dua anak muda yang duduk di depannya. Ia harus menghukum mereka, itulah yang ingin ia lakukan begitu tiba di istana. Kepalanya sudah memikirkan cara apa yang tidak menyakiti mereka secara fisik tapi sanggup membuat mereka jera.
Namun A Hua sudah menduganya. Jadi ia berpura-pura bahwa ia sudah menyesalinya serta bersikap layaknya anak yang penuh bakti.
" Ayah, maaf karena merahasiakan ini semua. Aku hanya ingin mencari teman yang tidak memandang status ku. Begitupun dengan A Guang. Jadi, tolong berhenti marah ayah. Hati ku sakit jika melihat mu marah. Aku ingin ayah selalu bahagia agar selalu sehat dan memiliki umur panjang. Aku janji, tidak akan pernah mengulanginya lagi. "
" Aku juga minta maaf kek, karena tidak bisa menjaga bibi hingga akhirnya terjadi hal seperti itu. "
Baik A Guang dan A Hua menjual wajah sendu penuh penyesalan. Kedua mata mereka berkaca-kaca membuat hampir saja pertahanan Sima shao runtuh.
__ADS_1
Sima shao memandang keduanya. Dalam hati memaki mereka karena masih sempat memikirkan trik kotor.
" Hentikan bermain trik dengan ku. Metode itu tidak akan mempan. Jadi lebih baik siapkan diri kalian. Ingat kalian berdua masih berhutang penjelasan juga. "
A Hua bergumam lirih. " Apanya yang bermain trik, kami hanya mencoba membujuk. Lagi pula kakak dan kakak ipar juga sudah setuju. "
***********
Berbeda dengan situasi A Guang dan A Hua yang panas.
Di tempat ini justru lebih tenang. Xu xiang menatap aliran sungai yang membuat riak karena gerakan kapal.
" Apa kau menyesal atas keputusan mu yang ingin pergi ke shu? " Tanya pemimpin kelompok tiba-tiba.
Xu xiang menoleh sekilas dan tersenyum lalu kembali menatap ke depan. " Tidak. Aku sudah membulatkan tekad dan aku tidak akan menyesalinya. Hanya satu yang aku sayangkan adalah tidak sempat untuk berpamitan dengan seseorang. "
" Apa dia orang yang kau cintai? " Pemimpin kelompok melihat iris mata Xu xiang yang biasa cerah berubah sendu.
Tanpa sadar Xu xiang tersenyum, " Dia orang yang penting untuk ku. Darinya aku mendapatkan sesuatu yang tak pernah aku dapatkan, yaitu kepedulian dan kasih sayang. "
Meski A Guang selalu menganggap hubungan mereka sekedar teman. Tapi tidak dengan Xu xiang. Mungkin selama ia masih mengingatnya, A Guang akan selalu menjadi seseorang terpenting di hatinya.
Xu xiang termenung. Memikirkan segala kemungkinan yang terjadi pada A Guang dan keluarganya.
Mungkin saat ini A Guang sedang belajar dengan tenang bersama A Hua. Bahkan kepergiannya mungkin saja tidak memberikan pengaruh apa pun padanya. Atau justru sebaliknya, ia senang atas kepergiannya karena bisa menghasilkan lebih banyak uang untuk membayar hutangnya.
Dari semua itu, kemungkinan terakhir adalah yang bisa ditanggap masuk akal oleh Xu xiang. Jadi secara tidak sadar ia tersenyum pahit karena itu dan dadanya sedikit sesak.
Sedangkan untuk keluarganya, Xu xiang sudah bisa menebak apa yang terjadi dengan mereka saat ini. Ia sangat yakin sekali, saat ini ibu dan kakaknya sedang sibuk memaki dan mengutuk dirinya.
Ah sungguh melegakan saat terbebas dari suara sumbang kedua anggota keluarganya itu. Ia cukup menyesali kenapa tidak dari dulu ia melakukan ini. Pergi jauh dan meninggalkan mereka. Menutup telinga akan penilaian orang lain yang mengatakan bahwa ia tidak berbakti. Bahkan mereka tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Jadi kenapa harus peduli dengan penilaian mereka.
__ADS_1
Xu xiang memutuskan untuk bertindak egois. Ia akan menutup mata dan telinganya, lalu menjalani hidup sesuai dengan keinginannya.
" A Guang, ibu, kakak, selamat tinggal. "