
Ziyan memberikan sebuah catatan pada xiaoqi. Catatan itu berisi semua hal yang perlu di persiapkan. Xiaoqi yang menerima catatan tersebut segera membacanya. Ia melipat keningnya kala membaca isi catatan tersebut.
Sebuah baris dari daftar barang yang diperlukan membuat xiaoqi merasa ganjil hingga membuat dirinya tidak bisa berkata-kata. "Nona..ini... "
"Apa kau punya pertanyaan xiaoqi? " Ziyan berbicara meski mata dan tangannya kembali sibuk pada catatan lain yang sedang ditulisnya.
Sebenarnya ia ingin bertanya tapi ragu. Sejenak xiaoqi berpikir. Kemudian ia memberanikan diri untuk bertanya. "Baris ini... Disini tertulis pria tampan dengan tubuh proporsional. ehm.. Nona, apa yang akan kau lakukan dengan ini. "
Melihat keraguan di wajah Xiaoqi, alih-alih menjawab pertanyaannya. Ziyan justru memberikan pertanyaan padanya.
"Bisa kau sebutkan, ada berapa rumah bordil di Shangjing? "
"........... "
Xiaoqi diam tak tahu harus menjawab apa. Karena dirinya memang tidak tahu, jelasnya ada berapa rumah bordil di Shangjing.
"Tidak tahu? kalau begitu bisa kau beritahu, pria atau wanita yang sering datang ke rumah bordil? "
" ............"
Kali ini Xiaoqi lebih bingung harus bagaimana menjawab pertanyaan nonanya ini. Karena hal ini sangat memalukan, mengingat dirinya juga pria yang mana pria adalah golongan yang sering mendatangi tempat hiburan itu.
Melihat xiaoqi yang hanya diam dan wajahnya sedikit merah, bibir ziyan membuat sebuah senyum simpul. Ia menghentikan aktifitas menulisnya dan mulai menatap lurus xiaoqi.
"Orang menganggap rumah bordil adalah tempat kotor dimana pria mencurahkan nafsunya. Namun apakah kau sadar bahwa tak semua pria kesana mencari Pelampiasan. Ada beberapa yang mungkin kesana mencari hiburan sekedar menenangkan kegundahan hati mereka. Cukup minum, lalu mendengarkan keluh kesahnya. Para wanita rumah bordil itu sudah cukup untuk meringankan beban mereka. Nah menurutmu, apakah hanya pria yang mempunyai beban. Sedangkan wanita tidak. "
__ADS_1
Suasana hening sejenak. Xiaoqi masih diam, mencoba memahami ucapan nonanya.
" Wanita cenderung lebih sensitif dari pada pria, mereka menggunakan hati untuk mengambil keputusan dari pada menggunakan otak mereka. Alhasil membuat kejiwaan mereka tertekan, dan menyebabkan depresi. Tapi di Shangjing, tidak ada yang memikirkan para wanita, padahal yang mereka butuhkan hanyalah pendengar untuk mendengarkan keluh kesahnya. Jadi untuk pertama kalinya, aku akan mendirikan 'Host club'. "
"Host.. club.. " Xiaoqi mengulang istilah yang tak pernah didengarnya itu. Lidahnya terasa aneh saat mengucapkannya.
"Benar. Aku akan mendirikan sebuah klab malam berisi pria tampan untuk menemani para wanita yang kesepian. Tentu saja untuk menjaga privasi sang wanita, sebelum masuk mereka wajib menggunakan topeng. Tidak ada transaksi *** di dalam klab malamku. Jika si wanita membutuhkan pelayanan tersebut, harus melakukan diluar jam kerja pria tersebut, dan bila ada masalah, hal itu diluar tanggung jawab klab. Tentu saja sebagai jaminan, mereka harus mengisi surat pernyataan sebelum memasuki klab. "
Xiaoqi tercengang. Penjelasan ziyan benar-benar membuat otak kecilnya menerima informasi yang 'luar biasa'. Pemikiran nona mudanya ini benar-benar berbeda dari wanita lainnya.
Setelah mendengarkan informasi 'hebat' yang hampir membuat otaknya not responding akibat shock. Kini sedikit demi sekit kerja otaknya sudah mulai terbiasa. Ziyan mulai menjelaskan lebih detail rencana klab malamnya. Ternyata tak hanya klab malam yang akan ia buka, tetapi juga kasino. Ia berencana membuka kasino pada lantai satu, dan klab malam di lantai dua.
Selain menyediakan permainan yang sudah ada seperti kasino lain di shangjing yang hanya bermain dengan dadu, atau mahjong. Ia juga akan menambahkan permainan baru, Roulette dan blackjack.
Untuk aturan bermain roulette cukup mudah, sementara blackjack yang menggunakan kartu remi mungkin akan sedikit sulit. Namun ia percaya bahwa sensasi kesenangannya akan lebih besar dari permainan konvesional.
Tak lama setelah Xiaoqi pergi. Yaoyao masuk dan memberitahu bahwa Xun ai pelayan pribadi Yuefeng meminta bertemu.
Ziyan berpikir sejenak, lalu kembali membuka suaranya. "Bilang padanya aku sedang sibuk. Jadi ada kepentingan apa, katakan saja semuanya padamu. "
Mendengar nonanya yang menolak bertemu, yaoyao bergegas menemui xun ai dan mengatakan apa yang dikatakan ziyan.
Kebanggaan yang sebelumnya tampak di wajah xun ai hilang, berubah dengan ekspresi geram. Penolakan Ziyan membuat harga dirinya seperti di injak-injak. Ia selalu menganggap bahwa Yuefeng Nona yang di layaninya lebih baik dari pada Ziyan. Secara otomatis membuatnya berpikir tinggi terhadap dirinya.
"Hal penting apa yang dilakukan Nona pertama hingga tidak bisa menemuiku? "
__ADS_1
Yaoyao yang tak menyukai ucapan arogan Xun ai memutuskan untuk memberinya pelajaran. " Atas dasar apa kau mempertanyakan apa yang di lakukan Nona Yaner. Kau hanya seorang pelayan. Ingat! pe.la.yan. " Yaoyao sengaja memberikan tekanan pada kata pelayan.
Diingatkan kembali dengan statusnya membuat darah Xun ai semakin mendidih. Ia sangat marah dengan penghinaan yang di lontarkan yaoyao. Meski dirinya pelayan, Namun ia tak ingin disamakan dengan para pelayan rendahan itu.
"Sampaikan pada Nona pertama bahwa Nona Yuefeng mengajaknya keluar untuk menikmati pertunjukan dan minum teh di paviliun manyue. " Ucapnya sambil memberikan sebuah kertas kecil. "Karena ia masih harus ke toko perhiasan mengambil pesanannya. Kemungkinan nona Yuefeng akan sedikit terlambat. Jadi nona pertama silakan masuk terlebih dahulu menggunakan tiket ini. "
Setelah menyampaikan pesannya, Xun ai berbalik untuk bergegas pergi meninggalkan tempat yang membuat darahnya mendidih itu.
Hampir semua pelayan di halaman barat melihat pertarungan sengit keduanya. Ada yang puas karena melihat Xun ai yang terkenal sombong mendapat pelajarannya, ada juga yang merasa kasihan dengan yaoyao, karena mungkin saja Xun ai akan membalasnya nanti.
Yaoyao yang tidak memperdulikan pandangan para pelayan lain melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Ziyan. Segera ia melaporkan apa yang terjadi antara dirinya dan Xun ai.
Bibir Ziyan melengkung sedikit membentuk senyum tipis. " Rasa sombong sudah membuat otaknya tumpul. Jadi, cara memberikan pelajaran pada pelayan yang menganggap dirinya tinggi adalah dengan mengingatkan kembali statusnya. "
"Dari kapan anda sadar dengan sifat Xun ai nona? Maksudku... jika kami yang sudah lama tinggal disini wajar mengetahuinya. Tapi, andakan baru tinggal disini beberapa hari."
Ziyan menyentuh bibirnya dengan jari telunjuk, memberikan isyarat untuk yaoyao mengecilkan suaranya.
Yaoyao yang mengerti isyarat Ziyan, langsung membungkam mulutnya dengan kedua tangannya.
" Aku tahu saat berbicara dengan Yuefeng tempo hari. Seorang pelayan yang melihat nona pertama kediaman Mo namun sama sekali tidak memberikan hormat yang sepantasnya. Bukankah sudah jelas. "
Yaoyao terpukau dengan kejelian majikannya ini. Hal sepele seperti itu pun tak luput dari perhatiannya.
"Xun ai berkata bahwa nona kedua mengajak anda keluar untuk menikmati pertunjukan dan minum teh di paviliun Manyue. Ia juga memberikan ini. " Yaoyao menyerah kertas kecil yang diberikan Xun ai. "Karena kemungkinan nona kedua akan sedikit terlambat. Ia meminta anda untuk masuk terlebih dahulu dengan tiket ini. "
__ADS_1
Ziyan mengambil tiket itu, dan tersenyum licik. "Sepertinya kita akan menonton pertunjukan yang sebenarnya. "