
Tengah malam,
Seorang pria terlihat berjalan dengan hati-hati. Ia mengendap dan menyapu pandangannya ke sekitar memeriksa apakah ada yang mengikutinya.
Langkahnya berhenti tepat di bawah pohon besar. Ia tampak sedang menunggu sembari mengusap kedua tangannya karena hawa dingin malam itu.
Matanya terus memindai, seolah mencari sesuatu.
Ia menoleh saat mendengar gerakan dari belakang pohon.
" Kau sudah da- " Kalimat yang hendak keluar tertahan di tenggorokan saat melihat sosok yang keluar dari balik pohon.
" Kau! Sedang apa kau disini? " Pria itu bertanya dengan nada tinggi.
A Guang bisa mendengar ada sedikit kekhawatiran dari nada sarkas pria yang diketahui bernama Xi jun. Salah satu dari tiga teman sekelas A Guang yang meninggalkannya saat insiden.
Seringai muncul di bibir A Guang. " Ternyata kau yang melakukannya. Betapa mudahnya memancing kau untuk datang kemari hanya dengan secarik memo. "
" A-apa yang kau katakan? " Tanya Xi jun tak mengerti dengan maksud A Guang.
" Berhenti bertingkah bodoh atau kau akan benar-benar bodoh. Sesuai dengan isi pesan yang kau terima. Kau kan yang membuat ku terjatuh dari kuda."
" Kau terjatuh karena ketidakmampuan mu mengendalikan kuda. Kenapa kau justru menyalahkan aku? "
A Guang lalu menunjukkan jarum yang tadi ia temukan. " Kau lihat ini. Aku tidak akan terjatuh jika bukan karena perbuatan mu. Bahkan aku menemukan pelontarnya di kamar mu. " Bohong A Guang.
" Tidak mungkin. Aku sudah membuangnya saat itu juga. " Ucap Xi jun tanpa sadar.
" Oh jadi kau sudah membuangnya. " A Guang menyeringai. " Ternyata kau cukup bodoh untuk mengakui begitu saja. "
Xi jun mengepal kedua tangannya. Ia marah, namun ia harus menahannya karena tak ingin kejahatannya terbongkar. Ia harus mengelak. Xi jun yakin bahwa A Guang hanya menggertaknya.
" Jaga ucapan mu. Aku sungguh tak mengerti apa yang kau katakan. Aku datang kemari karena menerima pesan aneh. Aku hanya ingin melihat orang iseng mana yang berani mengirim memo berisi pesan konyol itu. Jadi jangan berpikir terlalu jauh. " Cibir Xi jun.
A Guang bersender di batang pohon dengan kedua tangannya melipat di dadanya.
" Pesan aneh? pesan konyol? Jika memang seperti itu menurut mu lantas kenapa kau begitu meluangkan waktu mu tengah malam datang kesini. Antara kau bodoh karena tak memiliki pekerjaan lain atau karena kau begitu takut kejahatan mu yang berani mencelakai ku saat pelajaran berkuda di ketahui oleh pihak guru. " Cerca A Guang membuat wajah Xi jun seketika pucat. Dan kalimat A Guang selanjutnya semakin membuat Xi jun lemas seolah roh baru saja keluar dari raganya.
" Akulah yang mengirim memo itu. Sengaja memancing mu datang kesini. Benar kan guru Yan zheng? "
Mendengar namanya di sebut, guru Yan zheng yang sejak tadi bersembunyi tidak jauh dari tempat itu muncul. Bersama Na li yang berada di sampingnya.
Flashback,
" Jadi kau akan mengirim mereka bertiga memo yang sama untuk melihat siapa pelaku sebenarnya? " Tanya Na li.
Na li, A Hua dan A Guang sedang membahas rencana apa yang akan mereka lakukan untuk mengetahui pelaku sebenarnya.
__ADS_1
" Benar. Dia pasti panik karena ada orang lain yang mengetahui kejahatannya. " Jelas A Guang.
" Kalau dia mengabaikan pesan mu bagaimana? " Kali ini A Hua yang bertanya, mengingat bisa saja terjadi kemungkinan lain.
" Aku yakin dia akan datang. " A Guang menjawab dengan yakin.
" Kenapa? " Tanya A Hua.
" Karena aku mempercayai intuisi ku. "
A Hua memutar bola matanya mendengar jawaban A Guang, sementara Na li hanya bisa menggeleng dengan sikap percaya diri A Guang yang berlebihan.
A Hua mendapatkan tugas mengirim memo tersebut secara diam-diam. Sementara Na li akan memanggil guru Yan Zheng ke tempat yang sudah di janjikan.
Dan benar saja sesuai dugaan A Guang. Tikus menggigit umpannya. Dia datang setelah mendapatkan pesan tersebut.
Flashback selesai,
" Apa yang di katakan oleh A Guang benar itu Xi jun. Bahwa kaulah yang membuat kuda A Guang hilang kendali? " Tanya Yan zheng penuh tuntutan.
" Ti-tidak. Aku tidak melakukan apapun. Aku tidak melakukan apa yang kalian katakan. " Xi jun tampak panik meski masih saja berusaha mengelak.
Yang zheng berjalan mendekat. " Katakan kenapa kau melakukannya? apa kau tahu hukuman untuk kesalahan mencelakai sesama murid? "
Xi jun masih bungkam.
" Kau akan di keluarkan dari akademi. Dan kau tahu apa selanjutnya yang akan terjadi. Nama mu akan masuk daftar hitam. Bahkan akademi kekaisaran akan menolak mu. Jadi lebih baik katakan jujur pada ku. Apa kau benar melakukannya sendiri atau ada orang lain yang menyuruh mu? "
Sedangkan di sisi lain, xi jun sedang merasakan nasibnya berada di ujung tanduk. Bagaimana tidak, ia tak pernah tahu bahwa konsekuensi dikeluarkan dari akademi akan begitu besar.
Tak hanya dikeluarkan, ia akan masuk dalam daftar hitam dan jika sampai hal itu terjadi maka kesempatannya untuk bekerja di pemerintahan tak akan pernah tercapai.
Dirinya yang hanya seorang anak selir selamanya akan selalu direndahkan. Padahal takdirnya berubah sedikit lebih baik setelah masuk ke akademi. Keluarga ayahnya begitu bangga padanya setelah mengetahui ia berhasil diterima masuk akademi.
Xi jun berada di persimpangan jalan. Ia ragu saat guru Yan memaksanya mengatakan yang sebenarnya, Ia takut akan balasan dari Jinfu. Tapi ia juga harus menyelamatkan masa depan dirinya. Jadi dengan sangat terpaksa ia pun memilih opsi kedua.
" Apakah setelah aku jujur, aku tidak akan di keluarkan dari akademi guru? " Tanya Xi jun hati-hati. Ia harus memastikan bahwa langkah yang di ambilnya juga tak akan membuatnya di keluarkan dari akademi.
" Jika kau jujur, setidaknya hukuman mu akan jauh lebih ringan. " Jawab Guru Yan, tanpa mengiyakan ataupun membatah pertanyaan Xi jun.
Xi jun menarik napas dalam-dalam. Seolah-olah dirinya tengah bersiap mengeluarkan bongkahan besar keluar dari tenggorokannya.
" Sebenarnya seseorang menyuruhku. Aku tidak ada jalan lain selain menerimanya karena jika tidak, ia mengancam akan membuat kehidupan ku di akademi mengalami kesulitan. Jadi dengan terpaksa aku menerimanya. "
A Guang ingin sekali memuntahkan isi perutnya saat mendengar alasan Xi jun.
" Siapa dia? " Tanya A Guang tidak sabar.
__ADS_1
" Jin-jinfu. " Ucap Xi jun lirih.
" Apa maksud mu Jiang Jinfu? " Guru Yan memastikan.
" Benar guru. " Xi jun mengangguk.
Guru Yan tampak diam sejenak seolah memikirkan sesuatu.
Ia bukannya tidak tahu bagaimana perangai Jinfu dan kelompoknya selama ini. Namun kepala sekolah selalu menutup mata dengan segala kesalahan Jinfu. Menurutnya itu hanya kenakalan anak remaja yang masih bisa di maklumi.
Sayangnya guru Yan tidak lah bodoh. Ia tahu kepala sekolah mengistimewakan Jinfu karena statusnya sebagai putra perdana menteri. Tidak sekali dua kali dirinya melakukan protes dengan sikap kepala sekolah. Namun nyatanya keluhannya tidak mendapat tanggapan, dan justru dirinya yang menerima peringatan keras.
Karena itulah saat ini dirinya ragu, apakah harus menyampaikan masalah ini pada kepala sekolah. Karen akan sia-sia jika ia nekat melakukannya.
" Kalau begitu Xi jun, kau kembalilah ke kamar mu. Besok terima hukuman mu. " Ucap guru yan tanpa melihat ke arah Xi jun.
Xi jun mengangguk dan melangkah pergi. Diam-diam sudut bibirnya melengkung naik.
' Lihatlah. Meski kau tahu aku pelakunya, apa menurut mu pihak sekolah akan mengeluarkan ku. ' Ejek Xi jun dalam hati.
A Guang yang melihat tatapan penuh ejekan xi jun seketika hatinya memanas.
Setelah Xi jun tak terlihat lagi. A Guang langsung melayangkan protesnya.
" Guru kenapa kau membiarkannya pergi begitu saja? " A Guang bertanya dengan geram. Nada suaranya bahkan tak mampu menyembunyikan kekecewaannya.
Guru Yan menghela napas. Ia memijat pangkal hidungnya. " Sebenarnya apa yang kau lakukan hingga menyinggung Jinfu? "
" Menjadi tampan. "
A Guang menjawab asal dan sukses mendapat tatapan tajam guru Yan.
A Guang memutar matanya. " Baiklah. Aku juga tidak tahu kenapa senior jiang menargetkan ku. Sungguh aku tidak melakukan apapun. Selama ini aku hanya berusaha menjadi murid teladan yang baik dengan datang tepat waktu ke kelas. "
" Apa kau yakin? " Guru Yan menyipitkan matanya tak yakin dengan penjelasan A Guang.
" Yakin dan sangat yakin. Amat sangat yakin. "
Na Lin yang sejak tadi diam ingin sekali berbicara. Namun ia masih bimbang. Mungkin ia akan mengatakannya saat berdua dengan A Guang, tekad Na li.
" Jadi guru, apa tidak ada hukuman sama sekali untuk mereka. Bukankah tidak adil bagi ku jika mereka lepas begitu saja dari tanggung jawab. Lantas apa bedanya kalau begitu akademi ini dengan akademi Kekaisaran yang cenderung berpihak pada bangsawan? " Keluh A Guang.
Ia benar-benar tak habis pikir dengan akademi milik ibunya ini.
Andai tak terikat dengan syarat yang ibunya berikan. Ingin sekali A Guang membuka status dirinya sebagai putra mahkota. Setelah itu melihat seberapa pucat mereka karena telah melakukan kejahatan mencelakai calon raja mereka.
Namun angan tinggal lah angan.
__ADS_1
' Bu, tahukah kau anak mu saat ini sedang di ganggu. ' Batin A Guang.
Tanpa ia tahu, bahwa sebenarnya kedua orang tuanya sedang tertawa saat mengetahui nasib putra mereka.