
Sima Feng tak menyangka, niat awalnya datang ke kediamannya guna melihat persiapan tempat tinggal sementara untuk calon istrinya itu akan bertepatan dengan kedatangan Liu Mei.
Kedatangan saudara tiri calon istrinya itu tentu sempat membuatnya suasana hati Sima Feng mendadak jelek.
Setelah mencari tahu hubungan Liu ru dan keluarganya. Sima Feng secara otomatis menjadi membenci mereka. Karena itu ia tak menyukai kedatangan Liu Mei.
Ia bisa menebak bahwa wanita itu datang dengan maksud yang tidak baik.
Beruntung tanpa ia harus turun tangan, Ling he yang sudah paham langsung mengusirnya bahkan tak segan-segan memberikan ancamannya.
" Apa kau sudah menerima kabar dari orang mu di kediaman Liu? " Tanya Sima Feng tiba-tiba.
Ling he memang memasukan orang suruhannya di kediaman Liu. Hal tersebut ia lakukan agar memudahkannya memantau mereka.
" Sudah Pangeran. Mereka semakin gencar menghubungi nona Liu ru. Berharap sebelum upacara pernikahan, hubungan mereka menjadi lebih baik. Karena itu, mereka sengaja mengirim Liu Mei hari ini. " Jelasnya.
Melihat tuannya mengangguk mengerti. Ling he kembali bertanya. " Pangeran kenapa anda tidak menghancurkan mereka saja sekaligus. Bukankah terlalu merepotkan untuk mengurus mereka seperti ini. " Maksud Ling he adalah merepotkan untuk bermain tarik ulur seperti sekarang.
Ia tahu metode Sima Feng tidak seperti ini. Ia benci sesuatu yang merepotkan dan penuh skema. Seperti membunuh, ia akan lebih memilih memenggal kepala musuh alih-alih membunuh dengan racun.
" Jika bukan karena permintaan calon istriku. Apakah menurut mu aku akan repot-repot melakukannya? " Jawab Sima Feng. Wajah datarnya seolah mengejek Ling He yang masih sendiri dengan menekan kata 'calon istri '.
Oh baiklah. Tuannya kini senang sekali pamer.
Beberapa hari ini, setelah hari pernikahannya semakin dekat. Sima Feng memang mengganti panggilan Liu ru menjadi calon istri ku. Seolah menunjukkan hubungan mereka yang semakin dekat.
__ADS_1
" Tidak. Anda memang seorang Sima sejati. " Balas Ling he lebih tepatnya menyindir majikannya itu. Karena ia tahu, perlahan Sima Feng akan menjadi budak istri sama seperti para pria lain di keluarga Sima, yang selalu memanjakan istri mereka.
" Lalu bagaimana persiapan kediaman di perbatasan? "
" Di sana juga sudah selesai Yang mulia. Anda bisa pindah kapan pun juga. "
Setelah pernikahan, A Feng memang akan kembali ke perbatasan. Ia berencana akan mengajak Liu ru ikut bersamanya. Karena itu, Sima Feng menyiapkan satu kediaman untuk mereka tinggali nanti.
" Yang mulia, apa anda sudah berbicara dengan nona Liu ru mengenai kepindahan kalian. Saya takut, nona tidak setuju dan menolak keputusan itu. " Tanya Ling he.
" Apakah itu perlu? " Sima Feng menatap penuh tanya pada Ling he.
Apa yang Ling he duga benar. Tuannya tersebut mengambil keputusan tanpa berunding dulu dengan calon istrinya.
" Saya rasa itu perlu Yang mulia. Meski istri mutlak harus patuh pada suami. Tapi mereka akan lebih senang saat pendapatnya di dengar. "
" Kau begitu paham mengenai wanita. Apa kau berniat menikah sebentar lagi? atau jangan katakan kau sudah memiliki wanita idaman mu? "
Kemudian Sima Feng menepuk pelan pundak Ling He. " Kalau aku tahu kau miliki kekasih. Aku akan memberikan mu sedikit waktu luang untuk mu. " Dan Sima Feng pergi setelah berkata demikian.
Ling He diam tertegun. Tuannya yang selalu disiplin dan tegas itu baru saja mengungkap perhatiannya. Entah Ia harus senang atau menangis.
Tapi ia sadar, sedikit demi sedikit tuannya yang dulu irit bicara dan selalu dingin. Telah berubah lebih manusiawi dan berbicara sedikit lebih banyak.
Tampaknya kehadiran anak dan calon istrinya itu membawa pengaruh positif baginya. Dan Ling he suka itu.
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di kediaman Liu.
Setelah mendapatkan laporan putrinya yang gagal bertemu Liu ru. Tak ada lagi yang ia rasakan selain kekecewaan dan putus asa. Apalagi sang ibu terus mendesaknya.
Liu mingchen mulai memikirkan keputusannya dulu yang langsung mengusir putrinya begitu pendeta tao itu berbicara.
Menyesal? tentu saja. Ia mulai menyalahkan pendeta tersebut. Berharap rasa penyesalan dirinya akan sedikit berkurang.
' Itu benar. Semuanya karena pendeta itu. Andai saja ia tidak mengatakan omong kosong itu. Aku pasti tidak akan mengusirnya. ' Batinnya.
" Sekarang apa yang akan kita lakukan? " Tanya nyonya tua Liu membuyarkan lamunan Liu mingchen.
Kepala keluarga sekaligus ayah Liu ru tersadar dari trans nya dan menghela napas berat seolah mengeluarkan beban pikirannya.
" Entahlah bu. Aku dengar akan ada perjamuan di kediaman pangeran saat hari pernikahan. Mungkin kita bisa datang dan berharap saat itu bertemu dengan Liu ru. Hanya itu satu-satunya cara. Setelah bertemu kita bisa memaksanya untuk datang tiga hari setelah pernikahan. Bagaimana pun juga ia masih memiliki keluarga dan Liu ru tak bisa mengabaikannya. "
Tiga hari setelah pernikahan adalah hari dimana mempelai wanita kembali bersama sang suami. Hal ini guna menunjukkan pada keluarga wanita bahwa menantu lelaki mereka memperlakukan putri mereka dengan baik.
Berbeda dengan Xu xiang yang bisa mengabaikan tahapan ini karena tak memiliki anggota keluarga lagi. Maka Liu ru tidak, ia harus melaluinya karena seluruh keluarga Liu masih membuka mata mereka.
Nyonya tua merasa ide putra sulungnya cukup bagus. Tapi masih ada hal yang mengganjal.
" Jika ia menolaknya? Apa yang harus kita lakukan? " Tanya nyonya tua Liu.
" Maka kita cukup sebarkan berita bahwa permaisuri putri pangeran Feng adalah anggota keluarga Liu. Ini bukan sebuah kebohongan, jadi kita tak perlu takut akan menerima hukuman. "
__ADS_1
Kemudian melanjutkan. " Saat semua orang tahu tentang hubungan keluarga kita dengan Liu ru secara otomatis Liu ru tak akan bisa menghindar dari tahapan tersebut dan akan datang dengan sendirinya ke kediaman kita. Setelah itu kita harus berpura-pura menyesal dan mengambil kembali hatinya. "