
Lima belas tahun kemudian,
Sima Rui dan Ziyan memutuskan untuk turun tahta dan menikmati masa tua mereka, menjalani kehidupan tenang jauh dari permasalahan kerajaan.
Hari ini secara resmi Sima Feng menggantikan Sima Rui sebagai Kaisar Jin. Liu Ru secara otomatis menjadi Ratu. Dua tahun setelah kelahiran Putra kedua mereka, Liu Ru kembali melahirkan putra ketiga mereka.
Sima Feng menginginkan seorang putri, namun Liu Ru merasa tiga anak cukup. Wanita itu berpikir bahwa itu akan menjadi kehamilan terakhir. Nyatanya anggapan itu salah, karena Liu Ru kembali hamil tiga bulan setelah melahirkan anak ketiganya.
" Bagaimana bisa aku hamil lagi? bukankah tonik yang biasa ku minum adalah tonik kontrasepsi? " Tanya Liu Ru bingung saat tabib baru saja mengatakan kelelahan yang baru-baru ini ia rasakan karena faktor kehamilan. Tentu saja kabar tersebut mengejutkan wanita itu, mengingat dirinya rutin mengkonsumsi tonik pencegah kehamilan.
" Hal ini memang kadang terjadi Yang mulia. Mungkin karena anda rutin mengkonsumsi tonik itu membuat tubuh anda menjadi kebal secara tidak langsung. Karena itu saya akan meresepkan tonik kontrasepsi lain yang lebih kuat di masa depan. " Jelas sang tabib yang tentunya itu semua hanya alasan acak yang baru saja muncul di otaknya.
Fakta yang sebenarnya adalah Sima Feng meminta sang tabib untuk mengganti tonik yang biasa di minum istrinya dengan tonik penambah stamina. Dimana itu tidak hanya membuat istrinya sehat dan bugar tapi juga subur.
Di sisi lain, Sima Feng diam-diam menyeringai begitu mendengar diagnosa tabib. Ia begitu bahagia mendengar kabar tersebut. Namun untuk menutupi kejahatannya karena secara sengaja menghamili sang istri. Sima Feng berpura-pura memasang wajah menyesal.
Ia menggenggam tangan Liu Ru dan berkata dengan hati-hati.
" Istriku, maafkan aku karena membuat mu hamil lagi. Tolong jangan marah pada anak ini. Jika kau ingin marah. Maka kau bisa marah pada ku. " Kata Sima Feng terlihat penuh penyesalan.
" Apa yang kau katakan, Yang mulia. Apakah menurut mu aku adalah wanita berpikiran pendek. Ini adalah anak kita, tidak mungkin aku marah padanya karena hadir di rahim ku. Lebih tidak mungkin menyalahkan mu yang notabene adalah suami ku dan sudah menjadi tugas ku untuk melayani mu, Yang mulia. Jadi tolong jangan berkata seolah aku menolak ini semua. Reaksi ku sebelumnya hanya sebuah tindakan spontanitas karena hamil terlalu cepat mengingat aku baru saja melahirkan tiga bulan yang lalu. "
Liu Ru memang terkejut dengan kehamilannya yang begitu amat cepat tapi dirinya juga tak sampai hati untuk menyalahkan semuanya pada suami dan anak yang ada di kandungannya. Ia anggap ini semua jalan takdir untuk pernikahannya.
Melihat begitu kuatnya sang istri. Sima Feng merasa bersalah karena sudah menipunya. Ia berjanji ini akan menjadi kehamilan terakhir terlepas jenis kelamin bayi yang akan lahir nantinya. Tidak peduli itu bayi perempuan atau laki-laki.
Beruntung di kelahiran yang ke empat ini Liu Ru melahirkan bayi perempuan. Lengkap sudah kebahagiaan keluarga kecil Sima Feng.
Sementara jauh di Kekaisaran Shu,
Sima Guang yang sudah kembali pulih beberapa tahun yang lalu, kini tengah sibuk mengembangkan serikat dagang Siwang dan Zi. Dua serikat yang akhirnya bergabung dan menjadi serikat dagang WangZi. Serikat ini menjadi serikat terbesar dan berhasil melakukan ekspansi hingga keluar negeri.
__ADS_1
Sima Guang dan Xuxiang memiliki seorang putri. Karena efek racun dulu yang sempat merusak beberapa organ dalamnya, membuat A Guang kehilangan kemampuan reproduksinya atau mandul. Beruntung organ vital lainnya seperti jantung dan paru-paru bisa pulih berkat perawatan A Fei.
Keduanya tak mempermasalahkan dan begitu bahagia meski hanya hidup bertiga.
Sedangkan A Fei dan Jingu...
" Jingu! lihatlah Putra mu, dia benar-benar sangat nakal. Jika aku tidak ingat pernah melahirkannya sudah ku buang dia ke hutan. " Teriak A Fei marah sembari melempar putranya dengan sebuah cangkir. Namun anak laki-laki yang menjadi sumber masalah itu justru tampak tertawa puas melihat wajah garang ibunya dan melenggang pergi.
Jingu baru saja datang ketika mendengar teriakan A Fei. Ia sedang membawa putrinya di gendongannya. Jingu masuk untuk melihat wajah gelap A Fei yang seperti pantat panci, hitam dan panas.
" Maka kau bisa membuangnya. Lalu aku bisa membuat anak laki-laki lagi yang lebih patuh. " Begitu mudahnya Jingu berkata seolah hidupnya tanpa beban.
Putra Jingu yang melihat kedatangan ayahnya hendak menghampiri, ia hampir saja tersandung ketika mendengar ucapan Jingu.
Ayah kau terlalu kejam, pikirnya.
A Fei melotot mendengar itu. " Apa maksud mu? Apa kau tak menyayangi Putra mu. Apa kau tak tahu aku mengandungnya selama 10 bulan lalu melahirkannya dengan susah payah. Dan kau menyuruhku untuk membuangnya. Kenapa kau begitu berdarah dingin? " Pekik A Fei.
' Bukankah kau sendiri yang memiliki keinginan untuk membuangnya, ' Batin Jingu.
Jingu benar-benar memperlakukan A Fei seperti ratu. Meskipun terkadang kehidupan mereka diwarnai dengan huru hara. Pria itu selalu mengalah dan mencintainya tanpa syarat. Definisi cinta buta Jingu ini.
*********
Beberapa tahun kemudian.
Ziyan berbaring di kursi santai bersama Sima Rui. Sore ini entah kenapa Ziyan ingin sekali melihat langit senja.
Tidak terasa sudah lebih dari setengah abad dirinya tinggal di dunia ini. Dunia Baru, yang sangat asing baginya. Dunia dimana ia menemukan cinta sejati dan mendapatkan keluarga baru.
" Apakah akan ada kehidupan setelah kematian? " Tanya Ziyan menatap sang suami yang entah kenapa sejak tadi enggan untuk melepaskan genggaman tangan mereka.
__ADS_1
Sima Rui diam sejenak sebelum ia kemudian berkata. " Ada atau tidak adanya kehidupan setelah kematian. Kita akan selalu bersama. "
Ziyan terkekeh. " Kenapa kau begitu menempel? aku yakin jika ada kehidupan selanjutnya kau pasti akan melupakan ku dan mungkin kau akan hidup bahagia bersama wanita lain. "
" Tidak akan. " Sima Rui menjawab tanpa ragu.
" Aku berjanji pada mu, tak akan ada wanita lain selain kau istri ku. Baik di kehidupan ini ataupun kehidupan selanjutnya, hanya kau yang akan menjadi istri ku. Aku lebih memilih menjadi seorang biksu jika tidak bersama dengan mu. " lanjutnya.
Ziyan kembali terkekeh. " Kau tidak akan bisa menggunakan milik mu jika kau menjadi biksu dan kau akan melewatkan kesenangan dunia. "
" Aku tidak peduli. Lebih baik aku menjadi impoten dari pada bersama wanita lain. "
Ziyan tidak lagi menggoda Sima Rui. Wajah suaminya saat ini begitu memperlihatkan kesungguhannya.
" Maka kita akan bertemu lagi di kehidupan selanjutnya. Mari berjanji. " Mereka menyatukan jari kelingking sebagai pengikat janji.
Sima Rui menarik tubuh renta istrinya ke dalam pelukannya. Tubuh mereka yang sudah menua seolah menjadi saksi akan cinta mereka yang begitu besar dan tak lekang oleh waktu.
Matahari perlahan turun, bersama itu mata Ziyan ikut terpejam. Sima Rui semakin mengeratkan pelukannya. Merasakan napas yang istri yang semakin lemah seolah pergi bersama matahari yang ikut menghilang.
Tanpa sadar, sudut mata pria itu meneteskan air mata. Di samping telinga sang istri, ia berbisik dengan suara bergetar.
" Tunggu aku. Aku akan segera menyusul mu, istriku. "
Ziyan adalah napasnya, hidupnya, dan detak jantungnya. Kepergiannya adalah kematian untuknya.
Mata Sima Rui perlahan tertutup. Merasakan sesak yang menghimpit dadanya. Kekuatan yang sebelumnya memeluk Ziyan dengan kuat perlahan melemah dan pada akhirnya tangan itu terkulai.
Terbenamnya matahari seolah menjadi saksi akan kehidupan keduanya yang telah usai. Meskipun raga mereka telah tiada, tapi cinta kasih keduanya masih terus berlanjut.
Kepergian adalah awal dari sebuah pertemuan.
__ADS_1
Tamat.