Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Dia pangeran pertama, calon tunanganku


__ADS_3

Hari perjamuan ulang tahun huang guifei tiba. Ziyan dan chufeng sudah tampil rapi dan anggun. Kediaman mo menggunakan dua kereta kuda. Kereta pertama di isi pasangan mo, sementara kereta kuda kedua, ziyan dan chufeng.


"Apakah kau gugup? " Ziyan memperhatikan chufeng yang sejak tadi menghela napasnya.


Chufeng mengangguk. Ini pertama kali baginya pergi keperjamuan besar. Ia takut akan melakukan kesalahan dan mempermalukan kakaknya.


Ziyan tahu kekhawatiran chufeng. Ia menggenggam tangan chufeng dan menepuknya pelan. " Semua akan baik-baik saja. " Keduanya tersenyum.


Iring-iringan kereta kuda masuk satu persatu ke dalam istana. Setelah melewati pengecekan dan memastikan kereta aman, para tamu di perbolehkan masuk. Namun kereta mereka hanya bisa sampai di depan gerbang istana dalam. Dari sini mereka harus berjalan kaki menuju aula perjamuan.


Ziyan melihat bangunan istana yang begitu megah. Bangunan dengan gaya arsitektur oriental terlihat mengagumkan bagi ziyan yang selalu melihat istana bergaya eropa. Dengan warna merah bata sebagai warna dasar, dan puluhan anak tangga bak kaki sebagai penyangganya.


Ziyan mengikuti ayah dan ibunya. Mereka memasuki aula perjamuan. Banyak para tamu yang sudah hadir di perjamuan. Karena acara belum dimulai, dan masih merupakan acara bebas. Ziyan mengajak chufeng untuk keluar berjalan-jalan di taman istana. Ternyata tak hanya mereka, banyak para bangsawan muda yang telah lebih dulu berada di sana.


"Nona mo, kau juga datang. " Yelu segera mendekati dan menyapa chufeng. Begitu melihatnya dari kejauhan. "Kita bertemu lagi nona besar mo. "


Nona besar mo mengacu pada ziyan. Yelu tak menyangka, wanita yang ditangkap jaringnya di kota donglu adalah nona besar kediaman mo.


"Iya. Oh ya panggil saja chufeng. Nona mo terdengar sangat berat untukku." Chufeng selalu merasa sedikit terbebani jika seseorang memanggilnya nona mo. Sebagai nona muda dari keluarga cabang yang bahkan tak dilihat oleh ibunya, panggilan itu terdengar sangat mewah untuknya.


"Baiklah nona chufeng. Itu..jika, jika tidak keberatan. Apakah kau mau...berjalan-jalan sebentar dengan...ku. Ada yang ingin kusampaikan. " Wajah yelu memerah. Keberanian yang tadi sudah di kumpulkannya tiba-tiba menguap. Ia merasa sangat tegang.

__ADS_1


Ziyan menangkap perubahan wajah yelu. Sikapnya yang kikuk terlihat lucu di matanya. Jangan-jangan bocah ini dengan chufeng? Yelu memang bukan orang jahat. Ia termasuk pria muda terbaik di kota shangjin. Ia mampu menyelesaikan pendidikannya bahkan saat usianya masih muda. Kakak sepupunya yifeng saja masih menempuh pendidikan tahun terakhirnya. Sebagai pelajar ia juga bekerja sebagai pengusaha. Ayahnya seorang guru besar di Akademi, yang sekaligus merupakan guru putra mahkota. Meski status bangsawannya ada di bawah keluarga mo, tapi dari segi pendidikan dan nama baik mereka tidak kalah. Chufeng juga senang belajar, ziyan yakin yelu pasti mendukungnya. Baiklah, demi kebahagiaan chufeng, ia akan membantu yelu kali ini.


"Chufeng, aku baru ingat sepertinya masih ada hal yang harus ku lakukan. Kau berjalan dengan yelu dulu. Nanti aku menyusul kalian. "


Yelu tahu ziyan sedang membantunya, jadi diam-diam ia mengucapkan terima kasih dan dijawab dengan anggukan ringan oleh ziyan.


Ziyan berjalan sendiri mencari tempat yang tak banyak orang. Jika tahu begini, lebih baik ia membawa snowy. Karena ini pertama kalinya ia berkunjung ke istana. Ia tak ingin membuat sedikitpun masalah. Jadi dengan terpaksa ia meninggalkannya di rumah bersama yaoyao. Ziyan berjalan melewati jalan setapak yang membawanya ke sebuah gazibo kecil dengan pepohonan besar yang berjejer rapi. Ziyan berpikir untuk duduk sebentar di gazebo tersebut, tapi saat baru beberapa langkah, ia menghentikan langkahnya. Karena insting bela dirinya, ia cukup sensitif dengan keberadaan seseorang. Ia melihat ke atas pohon dan melihat seorang pria sedang tertidur. Tapi tak lama kemudian ia bangun seakan menyadari kedatangan ziyan.


Tersadar ada seseorang mendekat. Sima rui membuka matanya, Ia segera bangun dan melihat ke bawah. Cukup mengejutkan melihat sosok yang sedang menatapnya. Kenapa dia disini? Itulah pertanyaan pertama yang terlintas di kepalanya. Sima rui melompat turun dan berdiri tepat di depannya.


Ziyan memperhatikan pria yang sudah berada tepat di depannya. Pria ini sangat tampan namun terlihat dingin. Pakaian hitam dengan campuran biru membuatnya terlihat lebih berkarisma. Tapi di lain sisi itu juga meninggalkan kesan misterius padanya. Entah kenapa melihat sosoknya, membuat ziyan tak bisa mengalihkan pandangannya, ia begitu terpukau dengan penampilan pria ini.


Merasa terus di perhatikan, membuat jantung Sima rui berdetak cepat. Meski sebelumnya ia sudah melihat dan mengetahui apa saja yang ia lakukan dari laporan junyi. Tapi ini pertama kalinya mereka bertemu secara langsung. Tidak bisa, ia harus segera menghilangkan suasana canggung ini. Jika terus berlanjut ia tak tahu apa yang akan terjadi dengan jantungnya.


Tersadar ia sudah menatap seseorang dengan begitu intens. Ziyan merasa sangat malu. Bagaimana bisa ia begitu terpukau dengan seorang pria. Ia berharap, semoga saja air liurnya tidak menetes.


"Maaf. Aku sudah mengganggu tidur siangmu. Silakan kau lanjutkan saja. " Ziyan tak tahu harus bicara apa, ia hanya ingin cepat-cepat berbalik dan pergi dari sini.


"Kau sudah membangunkanku. Bagaimana aku bisa tidur lagi. " Sima rui juga tak tahu harus menjawab apa. Jadi ia dengan asal menjawab meski terdengar sedikit ambigu.


Entah kenapa, otak ziyan yang kotor atau memang suasanya yang kikuk. Ia merasa sedikit aneh dengan jawaban pria di depannya ini. Membangunkan? tidak bisa tidur lagi? kenapa terdengar seperti ia sudah melakukan sesuatu dan harus bertanggung jawab. Wajah ziyan sontak memerah. Ia menyalahkan otaknya karena disaat seperti ini justru membayangkan fantasi liarnya.

__ADS_1


Sima rui menyadari perubahan warna pada wajah ziyan, ia mencoba melihatnya lebih dekat. Namun ziyan justru melangkah mundur.


"Nona. Apa kau sakit? Wajahmu merah. Aku hanya ingin melihatnya lebih dekat. " Melihat gadis itu melangkah mundur. Sima rui pikir gadis ini mungkin mengira ia akan melakukan sesuatu padanya karena tiba-tiba mendekat.


Ziyan tahu pria ini tak akan melakukan sesuatu padanya. Ia hanya tak ingin penyebab wajah tersipunya di ketahui.


"Kakak kau disini? aku sudah mencarimu dari ta..di."


Sima Dan cukup terkejut, ternyata kakaknya tak sendirian. Ia melihat mo ziyan bersama dengannya. Setelah mengetahui ia bermarga mo. Cukup mudah baginya untuk mengetahui identitas ziyan. Jadi ia meminta heimian untuk mencari tahu tentangnya dari semua kediaman yang bermarga mo. Melihat dari pakaian ziyan, Sima Dan yakin ia bukan rakyat biasa. Jadi heimian dengan mudah berhasil menemukannya identitasnya. Meski Sima Dan sudah berpikir ziyan mungkin ada hubungannya dengan keluarga menteri mo yincheng. Tapi ia cukup terkejut juga saat mengetahui fakta itu. Ia tak menyangka gadis yang membantunya memecahkan kasus adalah calon istri kakaknya, secara tidak langsung calon kakak iparnya. Sima Dan tertawa saat mengetahui kenyataan itu.


"Nona besar mo kau disini juga? kau sudah bertemu kakakku ternyata. Aku pikir kalian akan menunggu saat pertunangan kalian di umumkan. "


Ziyan terkejut mendengar ucapan Sima Dan. Dia bilang siapa? Kakaknya? Pertunangan? Ziyan sontak menatap kembali Sima rui dengan ekspresi terkejut. Jadi pria yang ada di depannya ini pangeran pertama, calon tunanganku.


******************


pojok author.


Waktu bikin deskripsi sima rui di chapter ini. Entah kenapa jadi kepikiran sama karakter Li chenlan/mo Qin di film The legends.


__ADS_1


kira-kira cocok g ya kalo jadi Sima rui?


__ADS_2