Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 348 Side story ( A Feng story)


__ADS_3

Pada tengah malam, empat pria asing masuk ke kamar mereka.


Melihat Sima Fei dan yang lainnya sudah terlelap. Mereka semakin bersemangat untuk merampok mangsa kali ini. Sebenarnya mereka adalah bandit lokal yang sering merampok para saudagar kaya. Kebetulan mereka sedang berada di penginapan. Ketika melihat rombongan Sima Fei. Segera mereka mengancam pemilik penginapan agar menuruti perintah mereka.


Para bandit itu menyuruh penjaga penginapan untuk mengatakan bahwa hanya ada satu kamar yang tersisa. Agar para pengawal mereka tetap berada di luar dan tidak mengganggu aksi mereka.


" Bos, lihatlah. Wanita ini sangat cantik. Bolehkah aku membawanya untuk aku nikahi. Aku ingin bersenang-senang dengannya. " Salah satu bandit melihat Sima Fei dengan tatapan mesum bersamaan dengan air liurnya yang hampir saja menetes.


" Berhenti bicara omong kosong. Kau sudah memiliki sembilan belas istri dan masih menginginkan satu lagi. Berhentilah sebelum milikmu terlalu lelah dan pada akhirnya tak berfungsi lagi. " Ucap pria yang di panggil bos.


" Kau bahkan tak pernah bermain dengan wanita bos, karena itu kau berbicara seperti itu pada ku. Seandainya kau mencobanya meski hanya sekali saja, aku yakin kau akan ketagihan dan sama sekali tak ingin berhenti. "


" Jangan samakan aku dengan mu. Sekarang berhenti berbicara omong kosong dan bekerjalah. "


Pria itu hanya bisa menggulung bibirnya kecewa. Mereka mulai mencari barang berharga dan memasukkan satu persatu ke dalam saku mereka.


Si bos tanpa sengaja melihat wajah A Fei. Sedikit terpana ia berjalan mendekat. Memperhatikan lekat-lekat wajah terlelap A Fei.


' Si bodoh itu benar. Wanita ini sangat cantik. ' Batin si bos.


Saat begitu serius memperhatikan. Mata A Fei tiba-tiba terbuka membuat si bos terperanjat hingga terjungkal ke belakang.


Ketiga rekannya yang lain ikut terkejut saat melihat aksi mereka di ketahui.


" Bos wanita cantik ini bangun. Bagaimana ini bos? "


" Bodoh. Tentu saja kau bungkam dia. Jangan sampai ia berteriak. "


" Baiklah. " Lalu pria itu mengeluarkan pedang.


Plak.


Si bos memukul kepala pria itu. " Apa yang kau lakukan. Kenapa kau mengeluarkan pedang mu? Aku menyuruh mu untuk membungkamnya bukan membunuhnya. "


" Jika tidak membunuhnya lantas bagaimana aku membungkamnya? "


Sima Fei memutar bola matanya. Mereka terlalu bodoh untuk menjadi bandit gunung, batinnya.


" Nona, lebih baik kau menurut. Kami tidak akan menyakiti mu. Kau menyerah dan ikutlah dengan kami. " Ucap si bos.


Mendengar itu, Sima Fei tak tahan untuk tidak tertawa. Membuat ke empat bandit itu saling memandang heran satu sama lain.


' Apakah wanita ini gila karena terlalu takut. ' Semuanya berpikir begitu.


" Hahaha... Maaf.. kalian terlalu lucu. " Susah payah Sima Fei menghentikan tawanya.

__ADS_1


Kemudian ia kembali berbicara. " Sebelum kalian khawatir dengan keselamatan ku. Lebih baik kalian khawatirkan diri kalian sendiri dulu."


Keempat pria itu heran. Namun sebelum mereka sempat berpikir, tiba-tiba satu persatu dari mereka jatuh ke lantai. Tubuh mereka terasa lemas seolah seluruh tulang mereka berubah menjadi jeli.


" Tubuhku tak bisa di gerakan. "


" Kenapa ini? "


" Bos, apa yang terjadi dengan kita? "


" Apa yang kau lakukan pada kami? " Si bos orang pertama yang menyadari bahwa ini adalah perbuatan Sima Fei.


" Hahaha.. Kalian sepertinya sangat lelah hingga serempak jatuh di lantai. "


" Berhenti omong kosong. Cepat katakan apa yang kau lakukan pada kami. " si bos sudah marah karena A Fei mengabaikan pertanyaannya.


" Ck. ck.. kau sungguh tidak sabaran. Kalian hanya lumpuh. Jadi kalian tidak akan mati. Tenang saja. " Ia menunjuk pada dupa yang masih menyala di atas meja.


" Itu semua karena benda itu. Jadi untuk sementara tidurlah di lantai. "


Selesai mengatakan itu, para bandit yang lain histeris. Bahkan salah satu ada yang menangis.


" Tidak. Aku tidak ingin lumpuh. Bagaimana dengan semua istri ku. "


Sima Fei memutar matanya menatap bandit yang menangis itu. " Kau seorang pria. Sungguh memalukan melihat seorang pria menangis. " Ucap Sima Fei ketus.


Sima Fei melihat ke empat bandit tersebut. Meski mereka tampak kasar, tapi mereka tidak buruk. Setidaknya itu yang A Fei lihat setelah sejak tadi mengamati mereka.


Jika itu bandit kejam, ia yakin sudah sejak awal A Fei dan yang lainnya dibunuh.


' Sudahlah. Mereka hanya sekelompok pecundang yang mengakui diri mereka sebagai bandit. ' Pikirnya.


Jadi Sima Fei memutuskan untuk membiarkan mereka. Ia mendekati satu persatu bandit itu dan mulai mengambil semua barang di saku mereka.


" Hei kenapa kau mengambil barang kami. " Si bos protes saat melihat A Fei mulai menjarah barang mereka.


Kenapa situasi jadi berbalik? bos bandit itu tak menyangka akan ada hari dimana mereka lah yang justru pada akhirnya di jarah.


" Aku hanya mengambil kembali barang milikku. Tapi aku juga tak menolak untuk bunganya. " Katanya sembari tetap merampok para bandit itu.


Sima Fei meraba pakaian si bos bandit mencari barang lain. Ia tak sadar jika aksinya itu membuat benda lain ikut terbangun.


Untuk pertama kalinya milik bos bandit itu bangun. Jadi ia tak bisa berkata-kata dan hanya diam pasrah saat A Fei menjamahnya.


Semuanya terjadi terlalu cepat, membuat keempat bandit itu kehilangan kata-kata untuk sekedar melanjutkan protes mereka. Apa lagi si bos yang masih membeku karena miliknya yang sedang tegak.

__ADS_1


' Milik ku akhirnya bangun. Mungkin kah aku sudah sembuh? ' Tak pernah miliknya bangun meski di sentuh oleh wanita sebelumnya. Namun wanita ini bisa membuatnya bangkit hanya dengan berdekatan dengannya.


" Lumayan juga uang yang kalian punya. Karena aku baik hati. Ini aku tinggalkan satu tael ini untuk kalian. " A Fei meletakkan satu tael perak di lantai sementara tangannya memegang kantong yang penuh uang perak itu.


" Hei itu uang kami. kau... " Belum juga si bos menyelesaikan ucapannya. A Fei sudah lebih dulu menyumpal mulutnya dengan kain. Berikut dengan ketiga bandit yang lain.


Sudut mata A Fei menatap gantungan Giok di celana bos bandit itu.


Ia cukup tertarik dan segera meraih Giok itu.


" hmph.. hmph..hmph.. " ( Apa yang kau lakukan. Itu milik ku).


" Apa yang kau katakan? Bicaralah lebih jelas. " A Fei melihat bos bandit dengan tatapan tak bersalah seolah tak paham kenapa pria itu berbicara tidak jelas.


" Hmph... hmph.. " ( Kembalikan itu pada ku. )


Bos bandit masih terus berbicara meski tidak jelas.


" Aku juga akan mengambil ini. " Sima Fei tersenyum puas memandangi baru Giok ditangannya tersebut. Berjalan meninggalkan keempat pria yang masih tergelak di lantai dengan mulut tersumpal itu.


Setidaknya mereka harus menunggu sampai dua puluh empat jam hingga mereka pulih. Dan saat mereka bisa bergerak, A Fei dan lainnya sudah berada di perbatasan.


Dan setelah insiden itu. Sima Fei dan yang lainnya meninggalkan penginapan keesokan harinya. Bersama harta jarahan yang ia dapatkan semalam.


Di dalam kereta, A Fei terus memandangi baru Giok itu. Entah kenapa ia sangat menyukai benda itu.


" Bibi, jangan bilang itu batu Giok yang kau curi dari bandit itu? "


" Tepat. Ini milik bos mereka. Bukankah ini bagus. " Sima Fei menunjukkan tepat di depan wajah Xiao Yi.


Xiao Yi mengangguk setuju. " Itu terlihat seperti bukan Giok biasa. Mungkin akan mahal jika kau menjualnya. "


Menjualnya? A Fei tak memiliki keinginan untuk menjualnya. Ia hanya tertarik dan berniat untuk menyimpannya.


Sayangnya, di masa depan, A Fei akan menyesali keputusannya yang ingin menyimpan benda itu.


Perjalanan yang semestinya memakan waktu dua hari bertambah menjadi tiga hari. Hingga akhirnya rombongan mereka memasuki kota perbatasan.


Tanpa membuang waktu, segera mereka menuju kediaman pangeran. Xiao Yi sudah tak sabar dan ingin segera bertemu dengan ayah ibunya.


Pintu di ketuk, dan seorang pelayan membukanya. A Fei segera memberitahu dan menunjukan benda yang menjadi identitasnya. Keduanya dipersilahkan masuk dan langsung menuju halaman utama.


" Putri, pangeran. Silakan kalian menunggu disini. Saya akan memberitahu Wangfei segera. " Kepala pelayan Hu tahu Sima Fei. Jadi dengan sopan ia segera meminta pelayan untuk menyiapkan teh dan kudapan sementara ia memanggil Liu ru.


Gu Feifei melihat dua orang yang terlihat asing di matanya. Melihat pakaian mereka yang tampak biasa, ia berpikir bahwa mereka adalah sepasang ibu dan anak yang di tolong oleh Liu ru seperti pemuda sebelumnya.

__ADS_1


A Fei menyadari jika ada sepasang mata tengah menatapnya dengan tajam. Jadi dia menoleh dan menemukan Gu Feifei yang sedang melihat ke arahnya.


__ADS_2