
Xiao Yi terbelalak saat melihat cangkir melayang hampir mengenai kepala pria berstatus ayahnya itu.
' Bibi, kau terlalu menakutkan. ' Dalam hati Xiao Yi memuji Sima Fei.
Sementara Sima Feng yang sudah lebih dulu pulih dari keterkejutannya, berusaha menata kembali kesabarannya yang hampir runtuh.
' Tenang Sima Feng. Ingat. Kau datang untuk meminta maaf. Jadi tetap bersabar dan jangan terpancing. ' Sima Feng mensugesti dirinya untuk mengalah, mengingat bagaimana keras kepalanya saudara kembarnya itu.
" Baiklah. Aku minta maaf. Aku terlalu emosi tadi hingga tanpa sadar berbicara kasar pada mu. Karena itu aku datang kesini untuk meminta maaf dan berharap kita bisa berbaikan. " Sima Feng berusaha berbicara setenang mungkin.
" Apa kau datang kesini setelah mendengar bujukan wanita ular itu? " Sima Fei berkata dengan sinis.
" Dia bukan wanita ular A Fei. Cobalah memanggilnya dengan benar. Ia memiliki nama, kau memanggilnya Feifei. "
" Aku tidak sudi memanggil namanya. Jika kau datang kesini untuk kembali membelanya, lebih baik sekarang kau pergilah. " Usir Sima Fei.
Menghembuskan napas pasrah, Sima Feng berkata. " Dengar, aku benar-benar tidak ingin bertengkar dengan mu. Kau adalah saudara kembar ku. Kita sudah bersama semenjak di dalam kandungan. Bagaimana bisa kau menyimpulkan bahwa aku lebih menyayangi Feifei dari pada dirimu? " Sungguh Sima Feng tidak menyangka bahwa saudaranya akan memiliki pikiran konyol seperti itu.
" Aku membela Feifei karena tak ingin membuat sakitnya bertambah parah. Tabib mengatakan bahwa penyakitnya berhubungan dengan mentalnya yang kesepian karena rasa rindu sosok kakaknya yang sudah tiada. Dan kau tahu betul bagaimana kakaknya meninggal. Tolong lah A Fei, mengertilah untuk kali ini saja situasi ku. "
Tidak tega sebenarnya, melihat bagaimana saudaranya memohon. Ini kali pertama mereka bertengkar hebat dan itu semua karena wanita ular itu, membuat kebencian Sima Fei pada Gu Feifei semakin besar.
Sima Fei berdecak. " Ck.. Baiklah. Aku memaafkan mu. Aku juga tak bisa marah terlalu lama pada mu. " Ungkap Sima Fei masih dengan bibir cemberut.
Sima Feng tersenyum tipis lalu mengusap pelan kepala A Fei. " Kau memang yang terbaik. Benar apa yang dikatakan istri ku. Kau marah karena kecewa pada ku bukan karena membenci ku. "
" Benarkah kakak ipar berkata begitu? " Tanya Sima Fei sedikit terkejut.
Sima Feng mengangguk. " Itu benar. "
" lalu apa kau sudah minta maaf padanya? "
Sima Feng menatap bingung A Fei. " Pada istri ku? "
" Tentu saja. Apa kau tak tahu bahwa tindakan mu yang lebih memperhatikan wanita itu jauh lebih menyakitinya dari pada menyakiti ku. Meski kakak ipar hanya diam dan seolah tidak peduli. Tapi aku tahu hatinya pasti sakit. " Ungkap Sima Fei dengan nada tinggi.
__ADS_1
"Jadi apa kau sudah minta maaf padanya? "
" Aku yakin percakapan sebelumnya sudah termaksud dengan permohonan maaf ku padanya dan Liu Ru pasti tahu itu. Jadi tak ada yang perlu di maafkan lagi. "
Ah sungguh, ingin sekali Sima Fei mendaur ulang saudara ini.
*******
Beberapa hari kemudian, Liu Ru meminta ijin pada Sima Feng untuk pergi ke kota memantau perkembangan klinik umum miliknya. Namun terkadang ada kalanya, hal yang tak diinginkan datang. Seperti saat ini, tanpa malu Gu Feifei mengajaknya pergi bersama.
" Wangfei, bolehkah aku ikut bersama dengan mu. Aku juga ingin pergi ke kota untuk membeli sesuatu. "
Meski enggan, Liu Ru terpaksa mengiyakan permintaan Gu Feifei. "Baiklah. Kau bisa ikut bersama ku. "
Selama perjalanan, mereka berdua tidak banyak bicara, hingga akhirnya mereka tiba di pusat kota dan berpisah untuk menyelesaikan urusan masing-masing.
Liu Ru sudah mendapatkan beberapa tabib yang bersedia menjadi relawan di sana, bahkan tabib Bai juga ikut membantu.
Para warga kurang mampu juga mulai banyak yang datang ke kliniknya. Mereka tampak berbaris rapi menunggu giliran. Mata Liu Ru terasa hangat melihat pemandangan tersebut.
" Terima kasih wangfei, anda benar-benar bintang keberuntungan kami. Akhirnya kami bisa berobat setelah sekian lama merasakan sakit tanpa mampu mengobatinya. " Tangis haru salah satu warga yang baru saja menyelesaikan pengobatannya.
" Nyonya tolong bangun, jangan seperti ini. Aku masih hidup, berhenti menyembahku. " Tegur Liu Ru sembari menuntun wanita tua itu bangun.
Liu Ru baru bisa kembali ke kediaman ketika langit hampir menjelang sore.
" Bagaimana perjalanan tadi? " tanya Sima Feng pada Liu Ru yang sedang melepas satu persatu hiasan di kepalanya.
Liu Ru berkata sembari menatap cermin di depannya yang memantulkan bayangannya dan Sima Feng di belakang.
" Semuanya berjalan lancar. Terima kasih atas bantuan mu Yang mulia. Jika bukan karena kau, aku mungkin akan sulit mewujudkan mimpi ku itu. "
" Apa yang kau ucapkan. Klinik mu tak hanya mimpi mu tapi juga mimpi semua warga karena berkat itu, mereka akhirnya bisa berobat tanpa takut memikirkan biaya. Terima kasih istri ku. Kekaisaran jin beruntung memiliki putri permaisuri seperti mu. " Ungkap tulus Sima Feng.
Ia memeluk tubuh sang istri dari belakang, mengecup lembut tengkuknya dan meraih dagu Liu Ru untuk pria itu kecup bibirnya. Namun belum juga Sima Feng mencium bibir Liu Ru, sebuah ketukan menghentikannya.
__ADS_1
Liu Ru terkekeh melihat wajah kesal suaminya. " Bukalah. Sepertinya ada hal penting yang ingin di sampaikan oleh kepala pelayan Hu. "
Dengan terpaksa Sima Feng mengikuti kata istrinya. Sima Feng urung memarahinya ketika melihat ekspresi khawatir kepala pelayan Hu
" Kepala pelayan Hu, ada apa? " Tanya Sima Feng yang melihat ekspresi tak biasa dari pria yang seumuran dengan ayahnya tersebut.
" Yang mulia, nona Gu... dia.. dia sepertinya keracunan. " Jawab kepala pelayan Hu panik.
Sima Feng tanpa pikir panjang mendorong kepala pelayan Hu kesamping dan bergegas berjalan menuju kamar Gu Feifei dengan langkah cepat.
Liu Ru yang melihat itu merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres tengah terjadi. Jadi ia mengikuti Sima Feng dibelakang.
Brak.
Pintu terbuka. Sima Feng bisa melihat wajah biru Gu Feifei di atas tempat tidur. Peluh di keningnya menunjukkan bagaimana sakitnya racun itu menyerang tubuhnya.
" Feifei, bagaimana kondisi mu? " Tanya sima Feng panik.
" Yang mulia, nona Gu tampaknya terkena racun, saya sudah memberinya obat penawar. Jadi sudah tidak berbahaya lagi. Namun masih ada sisa racun di tubuh nona Gu. Ini akan hilang setelah beberapa hari. Jadi mohon agar anda tetap memantau perkembangan kesehatannya. "
Sima Feng yang melihat tabib itu sekilas, kemudian mengangguk mengerti. Ia kembali melihat Gu Feifei. Wajahnya yang sedikit biru dengan bibirnya yang pucat membuat penampilan wanita itu sangat mengenaskan.
Tanpa sadar, Sima Feng meraih tangan Feifei dan menggenggamnya. " Feifei, kau harus sadar. Setelah ini aku berjanji akan mengabulkan apapun keinginan mu. "
Liu Ru melihat semua itu dengan tatapan terluka. Karena panik, Sima Feng tak tahu jika Liu Ru sejak tadi mengikutinya dan beranda di belakangnya.
Diam-diam, Liu Ru memutuskan untuk keluar dan kembali ke kamarnya. Jujurnya hatinya sakit saat melihat suaminya memberikan perhatiannya pada wanita lain. Ia menghirup udara dalam-dalam berharap sesak di dadanya sedikit berkurang.
" Ah kenapa masih sesak sekali. " Liu Ru memukul-mukul pelan dadanya hingga tanpa disadari air matanya keluar.
" Ini... kenapa juga aku harus menangis sekarang? " Berkali-kali Liu Ru menghapus air matanya.
Mengingat janji Sima Feng tadi, membuat air mata Liu Ru tak bisa berhenti. Bukan Liu Ru tak tahu apa maksud ucapan Sima Feng. Ia justru sangat tahu.
Ya, Liu Ru tahu, jika tak lama lagi, suaminya mungkin akan memiliki seorang selir.
__ADS_1