
Semua pelayan menyambut kedatangan Sima Feng. Pria itu mendapatkan kabar mengenai kedatangan Sima Fei dan Xiao Yi dua hari setelah mereka tiba di manor.
Gegas, Sima Feng melangkahkan kakinya menuju ke ruang keluarga dimana saudara kembarnya berada.
Brak!
Suara pintu terbuka terdengar cukup keras karena Sima Feng mendorongnya dengan kuat.
" Kenapa kau membawa serta Xiao Yi? apa kau tak tahu bagaimana berbahayanya di perbatasan? " Ucap Sima Feng begitu tiba dan melihat saudara kembarnya sedang santai sembari mengunyah biji kuaci.
" Kau kembali? " Begitu tenang respon Sima Fei. Ia seolah tak peduli dengan dua tanduk yang seakan keluar dari kepala saudaranya itu.
" A Fei, bisakah kau tidak terlalu santai? tidakkah kau lihat bahwa aku sedang marah? " Geram Sima Feng tertahan.
A Fei melirik wajah Sima Feng sekilas, kemudian kembali fokus pada kuaci-kuaci miliknya. Setelah jeda beberapa saat, A Fei berbicara. " Apa menurut mu aku memiliki kuasa untuk menculik putra mu dan membawanya kemari? sebelum aku berhasil melakukannya, ibu pasti sudah mengikat kakiku bahkan sebelum kaki ini melangkah keluar ibu kota. "
Kening Sima Feng mengerut, menatap penuh selidik pada Sima Fei. " Jadi ibu mengijinkan kalian kemari? " Tanyanya setengah tidak percaya.
Sima Fei mengangkat jari telunjuknya ke depan dan menggoyangkannya. " A.. a.. Lebih tepatnya kaisar Jin yang mengijinkannya. Ibu hanya mengikuti keputusan ayah. "
Kedua mata Sima Feng melotot. " Ayah mengijinkan mu? tidak mungkin. " Jelas terlihat senyum remeh A Feng seolah ucapan A Fei adalah sebuah dusta.
Kali ini Sima Feng lebih ragu, mengingat bagaimana ayahnya begitu protektif pada adik perempuannya itu.
" Apa yang tidak mungkin? Kau bisa bertanya pada putra mu jika tidak percaya. Hampir setiap hari putra mu akan datang dan merengek pada Yang mulia ratu demi ijin tersebut namun pada akhirnya ayahlah yang memberikannya. "
Hah?
" Xiao Yi merengek? maksud mu Xiao Yi menempel pada ibu hampir setiap hari? "
Putranya tidak mungkin melakukan hal kekanakan tersebut.
" Tepat sekali. Putra mu terus menempel pada ibu dan tak memberikan kesempatan untuk ayah bersama dengan istri tercintanya. "
Setelah mendengar penjelasan yang baru saja di katakan A Fei, Sima Feng akhirnya tahu alasan sebenarnya kenapa ayahnya mengijinkan dua pembuat onar ini datang.
Putranya sungguh terlalu licik. Ia tahu tak mungkin mendapatkan ijin dari ibu. Itulah kenapa ia memutuskan untuk terus menempel padanya lalu membuat ayahnya jengah. Dengan begitu, tidak butuh waktu lama untuk ayah mengirim pergi putranya yang sangat berbakti itu.
__ADS_1
" Baiklah. Aku percaya. Karena kau sudah berada di sini maka jangan buat masalah. " Tak ada lagi yang bisa Sima Feng lakukan sejak keduanya sudah berada di rumahnya.
" Tenang saja. Itu tidak akan terjadi. " Sima Fei menempelkan telunjuk dan ibu jarinya sebagai gestur 'oke'.
" Apa maksud mu? apa kau berniat membuat masalah? "
" Bu-bukan. Maksud ku, aku tidak akan membuat masalah. " Buru-buru Sima Fei mengoreksi.
Ketika Sima Feng hendak pergi, A Fei teringat akan sesuatu. Ia kembali bertanya pada saudaranya tersebut.
" Oh iya kak. Wanita yang bernama Gu Feifei, apa kau akan mengangkat wanita itu sebagai selir. "
" Selir? Gu Feifei? " A Fei mengangguk menjawab pertanyaan A Feng.
" Tenang saja. Aku masih memegang prinsip dasar seorang Sima. " Setelah berkata begitu, Sima Feng segera melangkah pergi.
Ia segera menuju kamar istrinya dan tersenyum hangat saat melihat istri dan putranya sedang bermain bersama.
" Apa aku mengganggu kalian? " suara tiba-tiba Sima Feng membuat Liu ru dan Xiao Yi seketika menoleh.
" Ayah. " Seru Xiao Yi dan seketika itu juga ia bangkit dari kursinya. Liu Ru yang melihat bagaimana reaksi putranya tersenyum.
Xiao Yi berdiri dan bertanya dengan ekspresi heran pada Sima Feng. " Ayah, kau sedang apa? "
Sima Feng merasa malu, ia mengepal tangannya di depan mulut dan berdeham. " Bagaimana perjalanan mu ke sini, Xiao Yi? "
" Semuanya baik-baik saja ayah, hanya saja saat di penginapan, kami bertemu bandit yang ingin mencuri barang-barang kita. Tapi berkat bibi, justru kamilah yang pada akhirnya menjarah mereka. "
Melihat putranya bercerita dengan riang, Sima Feng sudah bisa menebak bahwa adik perempuannya itu berhasil membuat para bandit menangis.
" Baguslah jika begitu. Ayah senang mendengarnya. "
Mereka bertiga akhirnya mengobrol sejenak sampai Liu Ru meminta anaknya untuk pergi karena Sima Feng harus berganti pakaian.
" Pergilah temui bibi mu. Setelah ini kita akan makan siang bersama. "
Dengan patuh Xiao Yi mengikuti apa yang di perintahkan Liu Ru.
__ADS_1
" Kenapa pulang begitu tiba-tiba. " Liu ru segera memulai percakapan setelah putranya pergi. Ia membantu Sima Feng mengganti pakaiannya.
" Aku mendapatkan kabar jika A Fei dan Xiao Yi datang. Karena itu aku pulang sebentar. Aku akan kembali ke perbatasan setelah beberapa hari lagi. "
" Jadi kau hanya pulang karena putra dan adik mu? apakah tidak ada yang lain? " Pancing Liu ru.
Sima Feng mengangkat alisnya dan tersenyum jahil, tentu saja ia bisa menebak apa yang ingin disampaikan istrinya. " Lalu, apa ada hal lain yang kau harapkan? "
Wajah Liu ru cemberut. Suaminya memang paling senang membuatnya kesal.
" Tidak. Aku justru tidak berharap kau pulang. "
Sima Feng tertawa. Puas karena berhasil membuat wajah istrinya cemberut. Mudah sekali membuat wanita ini kesal.
Ia menarik tangan Liu Ru kemudian merangkulnya.
" Aku merindukan mu. " Tiga kata itu amat sederhana namun mampu membuat suasana hati Liu Ru kembali naik.
Ah mudah sekali ia dibujuk, batin Liu Ru memaki dirinya yang terlalu murah.
Tanpa ia sadari tangan Sima Feng mulai menjelajah, dengan bibirnya sesekali meninggalkan beberapa jejak di lehernya. Keduanya melakukan penyatuan singkat hingga akhirnya waktu makan tiba.
" Ibu, kenapa dengan leher mu bu? apa kau makan sesuatu yang membuat mu alergi? " Xiao Yi memperhatikan leher Liu Ru yang terdapat bercak merah. Sementara Sima Fei dan Gu Feifei yang ikut memperhatikan juga namun dengan perasaan berbeda.
Tangan Liu Ru menutup lehernya tanpa sadar dengan wajahnya yang sudah merah padam. Ia tersenyum kikuk. Entah harus memberi jawaban seperti apa pada putranya itu.
Sementara Sima Feng dengan tenang mulai memasukkan makanannya ke dalam mulutnya.
Beruntung Sima Fei segera mengalihkan perhatian Xiao Yi, hingga makan siang mereka akhirnya selesai.
" Yang mulia, pelayan nona Gu memberitahu bahwa nona Gu jatuh sakit. " Lapor kepala pelayan Hu pada Sima Feng.
" Sakit? Kalau begitu kau panggilkan tabib. Aku akan melihatnya nanti. "
Kepala pelayan bergegas pergi untuk melaksanakan perintah Sima Feng.
A Fei yang sejak tadi mendengarkan tak tahan untuk tidak berkomentar. " A Feng. Sepertinya nona Gu sakit hati melihat hasil kerja keras mu di leher kakak ipar. "
__ADS_1
" Berhenti berbicara omong kosong. " Ekspresi Sima Feng masih acuh tak acuh.
Sima Fei berdecak kesal. " Kau sebenarnya tahu tapi pura-pura tidak tahu. Kau pun pasti menyadari bukan kalau wanita itu menyukai mu. Jangan terpaku pada hutang budi mu atau kau akan kehilangan sesuatu yang penting bagi mu. Dan ketika itu terjadi, menyesal lah dan aku akan menjadi orang pertama yang tertawa keras. "