
A Guang menggantikan tugas Sima rui meninjau beberapa rencana tahunan para menteri di ruang baca kaisar.
Lalu dimana Sima rui?
Sang pemilik tugas justru tengah menikmati waktunya bersama istri satu-satunya.
Jika orang lain bertanya maka Sima rui akan menjawab bahwa itu bentuk pelatihan untuknya dan juga ia percaya bahwa Sima Guang akan sangat mampu menyelesaikan tugasnya?
Alasan cukup masuk akal. Tapi bukan itu alasan sebenarnya.
Mungkin ia terkesan malas dan abai. Namun percayalah Sima rui melakukannya agar kesehatan mental putranya tetap terjaga.
Setelah kepergian Xu xiang, Sima Guang terlihat sering melamun. Padahal baru saja dua hari gadis itu pergi dan hidup putranya sudah sangat sunyi.
" Kau meninggalkan A Guang bersama tumpukan tugas mu. Kau sungguh pengertian suami ku. " Sindir ziyan pada suaminya.
Mendengar sindiran istrinya, Sima rui justru senang. " Terima kasih atas pujiannya ratu ku. " Ucapnya tak tahu malu.
Sima rui mengangkat tangannya lalu meletakkan satu biji hitam di atas papan weiqi,
" Aku menang istriku. Jangan lupa taruhan kita tadi. "
Ziyan mengamati papan permainan di depannya. Semua wilayah sudah di klaim dan poin sima rui lebih banyak.
Ia menghela napas. " Baiklah. Taruhan tetaplah taruhan. Permainan nanti malam aku yang memimpin. " Ucapnya putus asa.
Ziyan melihat suaminya semakin berumur justru semakin tidak tahu malu. Bahkan saat usia mereka sudah lebih dari kepala empat. Sima rui sama sekali tidak mengurangi aktivitas ranjang mereka.
Melihat suaminya tersenyum puas, ziyan tak tahan untuk tidak memakinya.
" Dasar predator! "
" Aku tahu itu. " Dengan percaya diri Sima rui mengakui.
Kemudian Ziyan teringat pada putra keduanya, Sima Feng.
" Aku dengar A Feng sedang menyelidiki tugas yang di berikan A Guang? "
Sima rui mengangguk, " Beberapa pejabat setempat melakukan pungutan liar dengan dalih biaya keluar kerajaan jin dan masuk kerajaan wei. Karena hal ini lah ia tidak berada di kamp militer untuk sementara waktu. "
" Aku harap, A Feng bisa cepat kembali. Aku merindukan anak itu. Aku terus menerus khawatir, padanya. Apa lagi saat ini terjadi masalah internal di Kerajaan wei. "
" Aku akan memberitahunya agar sering-sering mengirim surat. "
__ADS_1
Melihat istrinya khawatir, tiba-tiba Sima rui ingin sekali mengutuk putranya itu. Setelah istrinya berhenti mengkhawatirkan putra pertama mereka, kini justru giliran putranya yang lain.
Membuatnya tidak bisa untuk tidak memiliki pikiran licik lainnya. ' Sepertinya aku harus mencarikan wanita untuk bocah itu juga. '
Disaat yang sama, Ketika ziyan dan sima rui sibuk dengan ungkapan cinta mereka. Sima Guang masih tampak sibuk dengan laporannya.
Merasa tenggorokan kering, ia menuangkan teh hangat pada cangkirnya. Namun tiba-tiba cangkir tersebut retak.
Retak? Apa ini?
Lalu ia menyentuh sisi teko. ' Tidak panas? ini hangat. '
Kenapa tiba-tiba aku merasa cemas? semoga ini bukan pertanda buruk?
Melihat itu, kasim yang melayani A Guang dengan sigap mengambil cangkir tersebut dan segera menuangkan isi teko pada cangkir lain.
"Silakan Yang mulia. "
A Guang tidak menjawab. Ia masih termangu seolah pikirannya sudah tak ada di situ.
" Ada apa Yang mulia? apakah ada yang mengganggu anda? "
A Guang menatap kasim wu. Sangat jelas ada kecemasan di dalamnya.
" Aku tidak terlalu yakin Yang mulia. Tapi kadang hal itu terjadi. "
Mendengar jawaban kasim wu, A Guang tidak bisa untuk tidak kembali bertanya.
" Apa kau pernah mengalaminya? " Tanya A Guang dengan tidak sabar.
Dengan tanpa rasa bersalah, kasim wu menjawab. " Tidak Yang mulia. "
A Guang memutar bola matanya. Ia merasa seolah kasim wu baru saja memberinya harapan palsu. " Kalau kau tak pernah mengalaminya kenapa kau mengatakan kadang hal itu terjadi? "
Kasim Wu tahu bahwa lebih baik ia diam dan tidak menjelaskannya atau pria yang tak ingin di salahkan ini akan terus bertindak seolah ia baru saja di tipu.
A Guang kembali memikirkan Xu xiang. Ia meremas dadanya, entah kenapa sejak tadi ia merasa dadanya terasa sakit dan sesak.
Berharap perasaan cemasnya hanya sebuah perasaan berlebihannya saja.
*********
Beberapa jam sebelumnya,
__ADS_1
Kapal Xu xiang berhasil sampai di pos perbatasan. Setelah melakukan beberapa prosedur sebelum akhirnya kapal kembali berlayar meninggalkan Kekaisaran Jin.
Xu xiang yang berada di dalam, mendadak keluar saat mendengar kegaduhan dari arah luar.
Ia begitu terkejut saat melihat beberapa pria membawa pedang besar. Xu xiang melihat orang-orang bawahannya sudah tumbang bersimbah darah. Tidak tahu apakah masih hidup atau mati?
" Siapa kalian? Kenapa kalian menyerang kami? "
" Kau tidak perlu tahu siapa kami. Lebih baik ikut dengan kami baik-baik atau kau akan bernasib seperti mereka. " Ucap salah satu pria pembunuh.
" Dalam mimpi mu. Aku tidak akan ikut dengan kalian. " Xu xiang menantang mereka. Di permukaan keberaniannya amat meyakinkan. Tapi percayalah, di dalam ia gemetar.
Jika hanya satu atau dua orang tanpa senjata, mudah bagi Xu xiang untuk mengalahkan mereka. Namun jika lebih dari lima orang dan lagi semuanya memegang pedang. Jelas itu bukan tandingannya. Ia tidak akan dengan bodoh melawan mereka.
Jadi Xu xiang sudah berencana bahwa ia akan melompat jika memang situasi berubah gawat.
" Dasar jalan kecil. Maka kami akan memaksa mu. " Pekik salah satu dari mereka. Lalu memberikan aba-aba pada rekannya untuk menangkap Xu xiang. " Tangkap dia. Ingat jangan sampai dia terbunuh. "
Total ada tujuh orang. Mereka mulai berjalan bermaksud mengepung Xu xiang.
Tidak berdiam diri menunggu dirinya di tangkap, Xu xiang melempar barang apapun di dekatnya. Ia kemudian berlari menuju belakang kapal.
Salah seorang mencegatnya, Xu xiang melawan. Pria itu mengarahkan pedang padanya, Dengan cepat ia menghindar. Tau ada kesempatan Xu xiang segera menancapkan tusuk rambut miliknya di punggung pria itu.
Pria itu mengerang kesakitan sembari memegang punggung.
Dengan penuh amarah, ia mengayunkan pedangnya, menusuk tepat mengenai tepat di perut Xu xiang.
Byur!
Xu xiang yang kehilangan keseimbangan karena luka tusukan tersebut terjebur ke sungai.
Jejak darah Xu xiang terlihat di permukaan air. Sementara tubuh gadis itu sudah tenggelam dan terbawa arus.
" BODOH! apa yang kau lakukan? Kenapa kau membunuhnya? Tuan menyuruh kita agar membawanya hidup-hidup! " Maki salah satu rekannya.
" Maaf ketua. Tapi dia menusukku. Jadi secara spontan aku melukainya. " Bela pria yang tadi terkena tusuk rambut Xu xiang. Ia masih memegang punggungnya yang terus mengeluarkan darah.
Pria yang di sebut ketua itu langsung menendang pria yang terluka itu. " Aku tidak mau tahu, cari wanita itu sampai dapat. "
" Ba-baik. "
Ketua pembunuh menatap tusuk konde yang di pegang bawahannya. " Serahkan benda itu. "
__ADS_1
Tanpa ragu bawahannya langsung memberikan benda yang di minta tersebut. Persetan untuk apa, ia tidak peduli mau diapakan aksesoris wanita itu oleh ketuanya.