Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 308 side story ( A Guang story)


__ADS_3

Tiga tahun berlalu sejak pertarungan itu.


Bagaimana dengan hasilnya? Tentu saja A Feng dengan mudah mengalahkan mereka dan membungkam semua orang yang meragukan kemampuannya.


Selain mendapatkan kehormatannya kembali, A Feng juga mendapatkan kepercayaan dari seluruh prajurit Jin. Dan perlahan, kini ia berhasil naik pada posisi sebagai jenderal senior tepat di bawah Jenderal utama Jiang.


Dan saat ini,


" Pangeran, mereka berusaha melarikan diri ke dalam hutan. " Seru salah seorang prajurit pada A Feng.


" Melarikan diri? Jangan harap kalian bisa kabur setelah membakar gudang kami. " Desis Sima Feng.


A Feng tengah melawan musuh abadi mereka, bangsa bar-bar. Setelah secara diam-diam mereka telah menyelinap dan melakukan pembakaran pada salah satu gudang di markas militer Jin.


Mendengar musuh memasuki hutan, Sima Feng tidak tinggal diam. Ia segera mengejar mereka.


Hutan Migong, hutan liar penuh dengan tanaman dan hewan beracun. Bahkan hutan ini jauh lebih menakutkan dari sarang suku bar-bar sendiri.


" Pangeran, apa anda yakin akan masuk ke dalam? Hutan Migong sangat berbahaya. Saya khawatir alih-alih menangkap mereka, kita justru akan terjebak di sana dan menjadi santapan hewan beracun di sana. " Ngeri sekali saat Lin he membayangkan apa yang baru saja diucapkannya.


Lin He tak ingin mengambil resiko. Ia tahu bagaimana berbahaya nya hutan tersebut.


" Jika kau takut, tunggu aku disini. Aku akan masuk sendiri. " Sima Feng mengabaikan peringatan Lin he.


Lin He tertegun. " Tidak Pangeran. Saya akan ikut masuk. "


Mana mungkin ia membiarkan tuannya masuk seorang diri. Bukankah sama saja mengantar dirinya ke tiang gantungan jika sampai terjadi sesuatu dengannya.


Keduanya akhirnya masuk. Sementara prajurit yang lain menunggu di depan hutan atas perintah Sima Feng.


Tiba-tiba hutan berkabut. Asap tersebut membuat jarak pandang keduanya terbatas.


" Ini? Kabut. Pangeran! lebih baik kita segera keluar. Kabut ini menyulitkan pencarian kita. "


Hening, Tak ada sahutan dari Sima Feng. Ia sangat yakin tadi tuannya berada di depannya.


Lin he menoleh ke belakang, dan kosong. Tak ada Sima Feng di sana. Lin He semakin panik begitu menyadari mereka telah terpisah.


Astaga! kenapa harus terpisah disaat seperti ini? Apakah ini kabut ilusi yang di katakan orang-orang mampu menyesatkan siapa saja itu.


Lin he mulai bergidik ngeri. Mencoba berpikir positif.


Karena belum lama memasuki hutan, Lin He berpikir bahwa mungkin saja Sima Feng sudah keluar terlebih dulu. Jadi ia putuskan untuk kembali menyusul keluar.


Di sisi lain.


" Lin He? " Sima Feng menoleh ke belakang dan tidak menemukan pengawal pribadinya.

__ADS_1


Tersadar bahwa kabut ini telah memisahkan mereka. Sima Feng hendak berbalik sebelum secara perlahan kabut akhirnya menghilang.


Entah ini sebuah keberuntungan atau kemalangan. Hilangnya kabut juga membuat tersadar bahwa saat ini dirinya telah tersesat.


Nama lain hutan Migong adalah hutan kebingungan. Itulah kenapa banyak orang tersesat di hutan tersebut.


Dahi Sima Feng mengernyit saat tanpa sadar sesuatu menusuk punggung tangannya, sebuah tanaman berduri.


Memilih abai, ia pun terus melanjutkan langkahnya. Namun setelah cukup lama berjalan, ia merasa ada sesuatu yang salah dengan tubuhnya.


Napasnya tersengal dengan hawa panas di seluruh tubuh.


" Tampaknya aku terkena racun tanaman tadi. Aku harus menemukan tempat untuk bersembunyi. " Gumamnya pada dirinya sendiri. Memegang dadanya yang mulai terasa sesak. Pandangannya mulai kabur dengan langkah yang semakin berat.


' Sial! aku sudah tidak tahan lagi. ' Dan akhirnya,


Brukk.


Badan Sima Feng akhirnya terjatuh dan pingsan.


*********


Samar, Sima Feng bisa mendengar suara tetesan air. Perlahan ia mulai bisa merasakan seluruh indera di tubuhnya. Bahkan rasa sesak di dadanya masih bisa ia rasakan.


Matanya terbuka dan melihat sekeliling. Tampak dinding batu khas tampilan sebuah gua.


Berbagai pertanyaan muncul. Saat Ia tenggelam dalam kebingungan. Sebuah suara menjawab segala pertanyaan tersebut.


" Kau sudah sadar? " Seorang wanita muncul dengan tas anyaman rotan di punggungnya.


" Sehari penuh kau tak sadarkan diri. Ada luka bengkak di punggung tangan mu sepertinya itu bekas tusukan. Dari tempat kau pingsan, aku menduga bahwa kau terkena duri salah satu tanaman beracun. " Katanya lagi sembari mengeluarkan beberapa tanaman obat dari dalam tas miliknya.


Sima Feng hanya diam. Ia menatap waspada punggung wanita tersebut.


Meski sesak di dadanya sudah mulai hilang. Namun panas tubuhnya masih menyiksa membuat napasnya sedikit tersengal.


Ada keinginan terpendam yang terus memaksa keluar. Sama seperti saat sisi gelapnya muncul. Keinginan kuat untuk membunuh. Dan itu terjadi saat ini.


Wanita itu terus berbicara tanpa menyadari bahwa predator di belakangnya sedang mengintainya.


" .... sekarang kau minum air ini. Kau masih sangat pucat, jadi lebih baik beristirahat terlebih dulu. " Ucapnya memberikan air untuk Sima Feng.


Sima Feng merasakan panas tubuhnya semakin terbakar saat wanita itu memangkas jarak mereka. Tepat saat ini, ketika wanita itu ada di depannya, seluruh darah Sima Feng seolah bergejolak.


Dan sialnya ia tak bisa menahannya lagi.


Sima Feng mencengkram tangan wanita itu yang terulur memberikan mangkuk air.

__ADS_1


" Apa yang kau.. Argh! " Belum sempat ia menyelesaikan ucapannya, Sima Feng sudah lebih dulu menariknya hingga tubuh ramping wanita itu menabraknya.


Masih meronta, Sima Feng membaringkan wanita itu dengan paksa lalu mengungkungnya. Napas Sima Feng semakin memburu saat wajah keduanya begitu dekat.


" Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan ku. Tapi aku tidak bisa menahannya lagi. " Tatapan mata Sima Feng tampak sayu.


" Apa yang kau lakukan! lepaskan aku! dasar bajingan! " Makinya meluapkan amarah. Wanita itu terus meronta, mendorong, bahkan menendang. Namun sia-sia. Tenaga Sima Feng terlalu kuat.


Tahu usahanya sia-sia, tangisnya akhirnya pecah. " Tolong tuan lepaskan aku. Anggap ini permohonan ku karena menyelamatkan mu. Aku tidak meminta apapun sebagai balas budi mu. Tapi ku mohon lepaskan aku. " Sungguh ia merasa sangat ketakutan saat ini. Menangis dan memohon. Saat ini hanya itu yang bisa ia lakukan.


Ia tak pernah menduga bahwa dirinya akan mendapatkan perlakuan seperti ini setelah menyelamatkannya. Jika saja ia tahu akan seperti ini. Ia tidak akan menolongnya. Sumpah demi apapun, ia sangat menyesal.


Seolah tertutup oleh kabut nafsu, telinga Sima Feng seolah tuli. Ia tidak peduli dengan permohonan dan tangis wanita itu.


" Argh! tolong lepaskan! " Jerit wanita itu saat Sima Feng mulai melucuti lalu melakukan rudapaksa padanya.


Jeritan kesakitan perlahan berubah menjadi desah*n yang menggema di seluruh penjuru gua. Seolah alam pun memberikan dukungannya dengan hujan yang turun di luar. Membuat suasana semakin memabukkan.


Hingga lebih dari dua jam akhirnya gua itu kembali sunyi. Sepasang manusia tertidur dengan keringat di sekujur tubuh mereka. Terlalu lelah untuk sekedar membuka mata mereka.


" Aw.. sakit sekali. " Wanita itu merintih saat merasakan seluruh tubuhnya remuk seolah tercerai berai.


Seakan lupa dengan apa yan baru saja terjadi dengannya. Ia langsung bangkit, namun saat baru saja duduk, Ia merasakan sakit di pangkal pahanya.


Matanya masih setengah terbuka saat tersadar akan keberadaan orang lain di sampingnya.


Seketika itu matanya langsung terbelalak, terkejut dengan pria tanpa sehelai kain terbujur lemas di sampingnya. Bahkan tanpa di pandu, matanya melihat turun ke daerah bawah perut Sima Feng.


" Astaga ! " Hampir saja Ia berteriak sebelum akhirnya menutup mulutnya sendiri.


Ia bergumam dalam hati. " Liu ru. Apa yang kau kau perbuat tadi. Dasar bodoh. Bukankah tadi kau berteriak seolah menolak. Lalu kenapa justru kau jadi terbuai. " Memaki dirinya sendiri saat satu persatu potongan ingatannya bermunculan.


Penolakan keras yang awalnya ia lakukan justru semakin memudar berganti dengan kenikmatan bodoh yang begitu memabukkan.


" Ya ampun Liu ru, Liu ru. Betapa murahannya kau. Pengalaman pertama mu bukannya kau berikan pada suami mu. Tapi kau justru serahkan pada pria asing yang bahkan namanya tidak kau ketahui. Tidak peduli setampan apa dirinya, seharusnya kau menjaga harga diri mu. " Masih berbicara dalam hati. Ia mulai menyesali apa yang baru saja terjadi.


Liu ru merasa tak hanya tubuhnya yang sakit melainkan hatinya juga ikut terluka. Setelah ini, Ia yakin hidupnya akan semakin buruk.


Menahan air mata yang memaksa keluar, Liu ru mulai bangkit dengan kaki gemetar. Seluruh tubuhnya remuk. Sungguh pria ini seperti predator kelaparan yang menyantap daging mewah setelah bertahun-tahun berpuasa.


Setelah mengenakan pakaiannya, Ia menatap nanar Sima Feng. Ingin sekali rasanya ia meracuni pria ini alih-alih menolongnya. Namun sisi manusiawinya menolak melakukannya.


" Kau sungguh pria kejam yang membalas air susu dengan air tuba. Aku harap setelah ini kau akan hidup dengan rasa penyesalan seumur hidup mu. " Liu ru memandang Sima Feng penuh kebencian dan juga rasa sakit.


Setelah berbicara, Ia pergi meninggalkan Sima Feng seorang diri.


Liu ru berpikir bahwa ini adalah pertemuan terakhir mereka. Namun takdir berkata lain. Siapa yang menduga bahwa pada akhirnya mereka akan bertemu kembali di masa depan. Bahkan dengan tambahan seorang bocah diantara mereka.

__ADS_1


__ADS_2