Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 147


__ADS_3

Sima Dan dan shuwang duduk bersama dalam diam. Keduanya seolah tak peduli dengan keheningan yang terjadi di antara mereka.


" Kau tahu, seseorang mengatakan padaku bahwa orang meninggal akan menjadi bintang dan mengawasi kita yang masih hidup dari atas sana. " Ucap shuwang tiba-tiba memecah keheningan.


" Aneh bukan, tapi setidaknya dengan meyakini hal tersebut, kita jadi tidak merasa sendiri. Karena itu jika orang yang kau sayangi meninggalkan dunia ini. Paling tidak kita masih bisa melihat mereka dari bawah sini. " Sambung shuwang.


Mata shuwang masih setia menatap langit. Sementara Sima Dan, diam-diam memperhatikan wajah shuwang. Wajah kesepian shuwang entah kenapa sedikit mengganggu pikirannya. Namun dengan cepat ia segera menoleh ke arah lain. Tak ingin tindakannya itu diketahui oleh gadis tersebut.


" Kalau begitu aku tak ingin keluargaku yang meninggal menjadi bintang. " Ujar Sima Dan memandang langit.


Shuwang menoleh ke arah pria tersebut begitu mendengar ucapannya.


" Jika mereka menjadi bintang, maka mereka tidak bisa bereinkarnasi, dan kesempatan kami untuk bertemu kembali pun hilang. " Lanjutnya.


Pria itu melihat ke arah shuwang, membuat pandangan mereka bertemu. Dan untuk sejenak, keduanya saling mengunci dengan tatapan masing-masing.


Kruk.... kruk....


Suara perut keroncongan terdengar, membuat keduanya langsung menoleh ke arah lain.


Shuwang yang menyadari sumber bunyi berasal dari perutnya merasa sangat malu. Wajahnya langsung memerah bagai tomat. Bahkan di tengah gelapnya malam pun ia yakin Sima Dan bisa melihat rona merah pada wajahnya.


' Ya ampun, benar-benar memalukan. ' Batin shuwang. Mengutuk hal memalukan yang pertama kali ia lakukan seumur hidupnya ini.


Sedangkan Sima Dan tidak peduli dengan suara tersebut. Ia hanya merasa canggung karena tatapan mereka tadi.


" Aku.. " Ucap Shuwang dan Sima Dan bersamaan.


" Kau dulu. " Sima Dan mempersilahkan shuwang untuk berbicara terlebih dulu.


Shuwang yang masih malu lalu berdeham, mencoba membuang rasa canggungnya.


" Apakah menurutmu apa yang di rencanakan pangeran pertama akan berhasil? " Tanya shuwang mengalihkan topik.


" Kau tak percaya dengannya? "


Shuwang menggeleng. " Bukan seperti itu. Aku hanya takut kecewa setelah menaruh harapan yang begitu besar. "


" Kecewa wajar jika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan kita. Namun sebagai manusia kita hanya bisa berusaha dan sekuat tenaga mewujudkannya. Jika masih gagal, maka bangkitlah dan kembali berusaha. Karena sesungguhnya dari kegagalan itulah kita belajar. "

__ADS_1


Shuwang terpana mendengar ucapan bijak Sima Dan. Ia tak percaya, pria sepertinya bisa mengucapkan kata-kata sarat arti seperti itu.


" ... Itulah yang kakak pertama katakan padaku. " Sambung Sima Dan.


Binar mata kekaguman shuwang langsung luruh ketika mendengar ucapan Sima Dan.


' Ck.. ternyata kata mutiara dari Sima Rui. ' Cibir shuwang dalam hati.


Melihat tatapan tak biasa shuwang. Sima Dan mengerutkan keningnya.


" Apa ada sesuatu dengan wajahku? Kenapa kau menatapku aneh seperti itu. " Tanya Sima Dan.


" Bukan mataku yang aneh, tapi kau yang aneh. " Celetuk shuwang lalu berdiri dan pergi meninggalkan Sima Dan.


*********


Sebulan kemudian di istana wei.


" Bagus, akhirnya aku menemukanmu putri. Kali ini kau tidak akan bisa kabur lagi. " Desis Baiji setelah mendengar laporan salah satu prajuritnya perihal keberadaan shuwang.


" Siapkan prajurit, kita akan menyerang markas mereka. Kita taklukan kembali prajurit wei yang tersisa. " Perintah Baiji.


" Sayang sekali putri, apa yang kau harapkan tidak akan pernah terjadi. " Gumam Baiji.


Setelah semua persiapan selesai. Tanpa membuang waktu, Baiji segera menunggang kudanya dan bergegas menuju tempat shuwang berada.


Sementara di tempat lain,


Seorang prajurit berlari dengan seekor burung di tangannya.


" Komandan, kita mendapatkan pesan. " Prajurit tersebut menyerahkan burung di tangannya.


Komandan Jiang dengan tenang mengambil burung tersebut lalu mengeluarkan pesan yang ada di kaki hewan tersebut.


' Bergerak. ' Hanya itu yang tertulis pada pesan tersebut.


Komandan jiang bangkit dari kursinya. " Beritahu yang lain bahwa sudah waktunya. " Lalu keluar dari tendanya setelah memberikan perintah pada prajurit tadi.


********

__ADS_1


Baiji duduk di atas kudanya memimpin ratusan prajurit yang ada di belakangnya. Setelah setengah perjalanan, mereka akhirnya tiba di jalan berbatu dengan tebing menjulang di sisi kanan dan kiri. Bahkan Baiji bisa mendengar gema suara langkah dari ratusan prajuritnya.


Ia mengerutkan keningnya, ia merasa sesuatu yang janggal. Namun hal itu tidak menghentikan langkah kudanya. Ia hanya melihat ke sisi atas tebing.


' Aneh, kenapa begitu sunyi. ' Pikir Baiji.


Sebelum Baiji sempat berpikir lebih jauh. Kejutan datang dengan suara gemuruh yang berasal dari atas tebing. Puluhan batu besar tiba-tiba jatuh dan dengan cepat menimpa ratusan prajurit Baiji yang bagaikan pin bowling tersebut.


Ratusan prajurit Baiji yang belum siap langsung berjatuhan. Bahkan beberapa ada yang terlindas hingga terluka parah.


" Bersiap bertahan! " Teriak Baiji memberi perintah.


Begitu ratusan prajurit Baiji dalam mode bertahan, ratusan prajurit lain muncul dari atas tebing dengan anak panah yang mengarah pada mereka.


" Sial! " Umpat Baiji.


Belum hilang keterkejutan Baiji dengan keberadaan ratusan prajurit di atas tebing. Ia kembali mendapatkan sambutan dari ratusan prajurit wei yang datang dari arah depan.


" Baiji, menyerah lah. Kau dan pasukan mu sudah tidak memiliki jalan. " Seru komandan Jiang.


Baiji yang melihat keberadaan salah satu komandan pasukan Jin itu akhirnya tahu, bahwa sejak awal ia sudah masuk dalam jebakan mereka. Keberadaan shuwang nyatanya hanya umpan untuk menarik dirinya datang ke tempat terkutuk ini.


Bukannya menyerah, Baiji justru terbahak mendengar ucapan Komandan Jiang.


" Menyerah? Aku Chu Baiji, Hanya mengenal menang atau mati. Jadi jangan pernah kau berharap aku akan menyerah. " Sinis Baiji.


" Baiklah jika itu mau mu. " Komandan Jiang mengangkat tangannya sebagai aba-aba siaga.


" Apakah kau masih tidak berubah pikiran? " Tanya komandan Jiang sekali lagi pada Baiji.


Bukannya menjawab, Baiji justru meludah, menatap komandan Jiang penuh hinaan.


Melihat musuhnya masih dengan keputusannya, maka begitu Komandan Jiang menurunkan tangannya. Ratusan anak panah langsung melesat menyerang pasukan Baiji.


Peperangan pun pecah. Baiji beserta pasukannya langsung menyerang pasukan wei dan jin yang ada di depan mereka. Meski sudah di pastikan tak mungkin memenangkan perang tersebut. Baiji tidak ingin menyerah. Baginya lebih baik mati dari pada harus tunduk pada musuh. Toh ia sendiri juga hanya boneka yang di gunakan oleh ibu suri.


Kini Baiji berhadapan dengan komandan Jiang. Keduanya berada di atas kuda masing-masing. Melihat wajah datar Jiang membuat Baiji semakin tertarik ingin mengalahkan komandan terkuat milik Sima rui tersebut.


" Suatu keberuntungan bagiku bisa mati di tanganmu. Tapi sayangnya itu hanya akan terjadi dalam mimpi. Kemari lah Jiang, kalahkan aku! " Tantang Baiji.

__ADS_1


__ADS_2