
Xiao Wen pengawal pribadi Sima Guang segera pergi ke istana putra mahkota untuk menemui Sima Rui.
" Lapor Yang mulia, pembunuh itu sudah berhasil di tangkap. Sekarang ada di ruang interogasi. "
Xiao Wen benar-benar berusaha sangat keras menangkap penjahat itu. Terlihat jelas bahwa selain sebagai bentuk tanggung jawabnya karena gagal melindungi A Guang. Xiao Wen juga membenci pembunuh itu yang sudah berani melukai tuannya.
" Bagus. Biar aku sendiri yang akan menginterogasinya. " Ada kilatan di mata Sima Rui, sebuah kilatan kemarahan. Terlihat jelas bahwa Sima Rui tak akan pernah melepaskan orang tersebut.
Sima Rui menghampiri Ziyan dan memeluknya, mencium lembut puncak kepalanya. Melihat sang istri yang begitu tampak lelah dan itu menyakitkan hatinya.
" Aku akan pergi dulu. Kau juga pergilah istirahat ratu ku. Jangan terlalu keras dan memaksa tubuh mu. Aku akan semakin sedih jika sampai kau sakit. " Ujarnya lirih.
Ziyan memejamkan mata menikmati pelukan Sima Rui. Saat ini ia benar-benar membutuhkan dukungan suaminya. Beruntung suaminya selalu ada untuknya.
" Aku tidak akan sakit. Aku tahu sampai mana batas tubuh ku, aku tidak akan memaksakan diri. Sekarang pergilah, selesaikan dulu urusan mu Yang mulia. Aku akan tetap disini menjaga putra kita. "
Ada perasaan aneh yang ziyan rasakan saat ini. Perasaan yang terasa seperti sebuah ketakutan. Sungguh, ia amat takut jika waktu putranya tidak akan lama lagi. Karena itu, sebelum A Fei dan para tabib menemukan penawar A Guang. Ia tidak akan tenang dan akan terus menemaninya.
" Baiklah. " Setelah mencium kening Ziyan, Sima Rui bergegas pergi menuju ruang interogasi.
Tak lama setelah Sima Rui pergi, Xu xiang masuk. Wajahnya sembab dengan kedua mata bengkak membuatnya terlihat begitu menyedihkan.
" Kenapa kau kesini? istirahat lah. Ada aku yang menemaninya. "
Xu xiang menggeleng, ia kembali terisak. " Bagaimana aku bisa beristirahat bu jika suamiku masih terbaring tak berdaya. Setiap memejamkan mata, justru mimpi buruk yang muncul. Mimpi seolah suamiku pergi untuk selamanya. Aku tidak ingin bu. Tolong, bangunkan suami ku bu. Aku.... benar-benar tidak sanggup jika harus hidup tanpa dirinya. "
Xu xiang luruh terjatuh, bersimpuh menganggap kaki Ziyan. Membayangkan suaminya pergi, membuat hati Xu xiang hancur. Seolah separo hidupnya telah pergi.
Ziyan mengambil sapu tangannya dan menghapus air mata Xu xiang. Ia membantu menantunya untuk bangun dan duduk di sampingnya.
" Berdoalah yang terbaik untuk A Guang. Saat ini meski kau hancur dan sedih, kau tidak boleh lupa bahwa ada nyawa lain yang harus kau jaga. " Ziyan memegang perut Xu xiang. " Ada anak kalian di sini. Apa yang ibunya rasakan, akan dirasakan pula oleh anak kalian. Jadi tenangkan dirimu saat ini. Aku yakin A Guang akan bahagia saat mendengar berita kehamilan mu. "
Xu xiang tak bisa berkata-kata. Ia hanya bisa kembali terisak. Sungguh ia merasa beruntung mendapatkan ibu mertua yang begitu baik. Mampu memberikan dorongan semangat padanya meski ia sendiri sangat yakin bahwa ibu mertuanya pasti jauh lebih sedih darinya.
Ibu mana yang tidak akan sedih ketika melihat kondisi putranya yang sedang berjuang antara hidup dan mati.
__ADS_1
' A Guang, kau harus kuat. Bangunlah dan lihatlah istri mu saat ini, dia begitu rapuh. Apalagi sekarang istri mu sedang mengandung anak kalian. Tidakkah kau ingin melihat anak mu tumbuh. ' Monolog Ziyan dalam hati menatap sedih ke arah A Guang.
Sementara di ruang interogasi, Sima Rui memandang datar pria didepannya yang sudah terluka parah. Pria itu berdiri terikat dengan kedua tangan dan kakinya terbuka lebar terlihat seperti huruf X.
" Bangunkan dia. Siram dengan air cabai. " Perintah Sima Rui pada pengawalnya.
Tak lama seorang pengawal datang membawa seember air rendaman cabai dan langsung mengguyur pria yang tengah pingsan tersebut.
Seketika pria itu bangun dan menjerit kesakitan. Rasa perih dari luka yang terasa panas seolah terbakar itu membuatnya tersiksa.
Sima Rui menatap datar pria yang sedang kesakitan itu dengan acuh tak acuh, sama sekali tak terlihat puas seolah penyiksaan yang sudah pria itu terima belum cukup untuk meredakan kemarahannya.
Dengan napas tersengal, akibat lelah berteriak dan menahan rasa sakit. Mata sayu pria itu bertemu dengan mata Sima Rui. Tentu ia mengenal pria nomor satu di kekaisaran Jin tersebut. Meski kini seluruh tubuhnya mati rasa akibat rasa sakit yang teramat sangat, tapi otaknya masih berfungsi dengan baik.
" Kau cukup hebat mampu bertahan dengan semua siksaan itu. "
Pria itu terkekeh, " Aku tak menduga bahwa Yang mulia kaisar Jin akan berada di tempat seperti ini. Bagaimana hadiah dari kami. Kau pasti sangat menyukainya, bukan? lihatlah, situasi berbalik dan kini kau lah yang akan kehilangan anggota keluarga mu. Seperti kau yang sudah membunuh anggota keluarga ku. "
Mengabaikan kalimat provokatif pria itu, Sima Rui bertanya. " Siapa yang menyuruh mu? "
Sima Rui menatap pria itu tanpa ekspresi, diam, namun semua orang yang mengenal Sima Rui tahu bahwa ia sedang merencanakan sesuatu yang akan membuat pria yang mencoba membunuh A Guang itu menderita.
" Turuti kemauannya. Bunuh dia, namun terlebih dulu buat dia tersiksa. Pastikan ia mati secara perlahan. "
Setelah berkata demikian Sima Rui bergegas pergi.
Di tempat lain, Sima Fei sedang menenggelamkan dirinya di antara puluhan tanaman obat. Satu persatu ramuan sudah di buatnya namun tak ada satupun yang bisa menawarkan racun A Guang. Ketika dirinya hampir putus asa, ia teringat akan buku catatan racun langka yang ditinggalkan Lucy.
Setelah membacanya, A Fei menemukan satu jenis racun yang memiliki gejala mirip dengan racun A Guang.
Gegas, A Fei mulai membuat penawar tersebut sesuai panduan dalam buku. Namun Ada satu bahan yang kurang, mengabaikan hal itu, Sima Fei kemudian mulai meramu, mengujinya pada darah A Guang.
" Akhirnya... meski tidak sepenuhnya menawarkan tapi ini melambatkan kerja racunnya. Aku yakin ini tidak bekerja sepenuhnya karena kurangnya bahan itu. " Gumam A Fei. Bibirnya sedikit tersenyum lega.
Sima Fei berniat akan memberitahu kabar baik ini pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
" Dimana Jingu? " Tanya Sima Fei pada salah satu pelayannya. Karena Jingu saat ini sudah menjadi pengawal pribadinya, secara otomatis kemana pun dirinya pergi. Pria itu harus berada di sampingnya.
"Jawab putri, pengawal Jingu berkata bahwa ia memiliki urusan yang harus di lakukan. Itu tidak akan lama, dan akan segera kembali. "
' Urusan apa yang dilakukan malam-malam? ' Batinnya bertanya-tanya.
Ah sudahlah.
Sima Fei tak peduli dengan urusan Jingu. Karena ia memiliki hal penting yang harus di lakukan, gadis itu memutuskan untuk pergi bertemu sang ayah tanpa Jingu yang mengawalnya.
Segera, Sima Fei pergi menemui ayahnya yang saat ini berada di istana putra mahkota. Namun saat ia tiba di sana, suasana terlihat sedang tidak baik-baik saja.
" Ada apa? " A Fei menghentikan salah satu pelayan dan bertanya.
" Pu-putri... "
" Katakan Ada apa? " Sentaknya, entah kenapa A Fei merasakan suatu firasat buruk.
" Pu-putra mahkota, tiba-tiba kondisinya tidak stabil. Saat ini para tabib sedang berusaha untuk menolong..."
Tanpa mendengarkan ucapan pelayan itu sampai selesai, A Fei berlari ke kamar sang kakak.
Di sana ia melihat untuk pertama kalinya ibunya menangis begitu pula sang ayah yang tampak begitu terpukul.
Sementara tak jauh dari sana, kakak iparnya pun sama, menangis bersimpuh di lantai.
Semua orang menangis. Para tabib bersujud dengan ekspresi sedih.
Dengan langkah gontai, Sima Fei berjalan mendekat menuju tempat dimana A Guang terbaring. Mencoba menyangkal semua pikiran buruk di kepala.
" Kakak... " Panggilnya lirih. Matanya merah, berusaha menahan agar air mata yang mencoba mendobrak pertahanannya itu agar tidak jatuh.
Saat hampir menyentuh tubuh A Guang. Ucapan sang ayah membuat tubuh lemas tak bertulang.
" Kakak mu sudah tenang. Maafkan ayah karena tidak bisa menjaganya, A Fei. "
__ADS_1