
Gerbang istana terbuka. Beberapa prajurit menyambut kedatangan menteri guan dan shuwang. Baru saja menteri guan menginjakan kakinya di tanah, puluhan tombak langsung mengarah padanya.
Terkejut? tentu saja. Sebagai perdana menteri yang memegang kekuasaan di saat kaisar koma. Ia sungguh tak menyangka akan mendapat sambutan 'khusus'.
" Lancang! beraninya kalian mengarahkan tombak padaku! " pekik menteri guan marah. Ia masih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
Sementara ziyan dan shuwang hanya menatap kejadian tersebut dalam diam.
" Tangkap dia, dan masukan dia ke dalam penjara. " Suara berat seorang pria mengejutkan menteri guan. Ia menatap pria yang mengenakan baju kebesaran kerajaan wei. Wajah pucatnya sama sekali tak mengurangi kharismanya.
" Kau... " Menteri guan terkejut hingga tak bisa berkata-kata.
" Terkejut? " Seringai kaisar wei memandang rendah menteri guan. " Menteri guan, Kau di tangkap atas tuduhan percobaan pembunuhan kepada kaisar dan penyalahgunaan kekuasaan. Prajurit, tangkap dan seret menteri guan ke penjara. " Titah kaisar wei.
Menteri guan memberontak ketika dirinya di seret oleh dua prajurit. Sungguh harga dirinya seakan di injak-injak karena di perlakukan seperti ini. Dengan mata merah penuh amarah, ia kembali menatap sang kaisar.
' Tunggu saja pembalasanku. ' Batin menteri guan.
Kaisar wei yang masih belum sepenuhnya pulih, lunglai hampir saja terjatuh. Namun dengan sigap lucy menangkap tubuh kaisar.
Dari kejauhan, shuwang yang melihat kejadian tersebut hanya bisa memandang sang kaisar dengan tatapan rumit. Untuk pertama kalinya ia melihat tatapan lembut kaisar pada wanita selain dirinya.
" Bibi... " Panggil ziyan saat ia menghampiri lucy bersama shuwang.
Lucy tersenyum cerah saat mendengar panggilan dari keponakan yang sejak kemarin sudah ditunggunya itu. " Akhirnya kalian tiba juga. "
Ziyan bisa melihat kelegaan di wajah lucy. " Bagaimana kabar bibi? "
__ADS_1
" Baik. Bagaimana dengan perjalanan kalian? Apakah penjahat gila itu melakukan sesuatu? "
Tawa hampir saja lepas dari bibir ziyan saat mendengar bibinya menyebut menteri guan dengan sebutan penjahat gila. " Tidak. Pangeran pertama memerintahkan puluhan prajurit untuk mengawal kami sampai di perbatasan. Dan ketika memasuki wilayah kerajaan wei pun, perjalanan kami masih tetap tenang. "
Kaisar wei berdeham. Ia merasa sebagai kaisar yang di acuhkan oleh kedua wanita tersebut.
Ziyan langsung tersadar dan dengan cepat memberikan hormatnya. Ia kemudian melirik pada shuwang yang sama sekali tidak berbicara.
" Shuwang, tampaknya kaisar wei masih butuh istirahat. Aku harus bicara dengan bibi lucy dan xiaoqi. Jadi bisakah kau antar beliau untuk kembali ke kamarnya. Aku dan bibi lucy akan menyusul ketika kami telah selesai. " Tanpa menunggu shuwang menjawab, ziyan segera menarik lucy pergi.
" Apa yang mau kau bicarakan Yaner? " Tanya lucy saat jarak mereka sudah cukup jauh.
" Aku hanya ingin memberikan waktu bicara untuk mereka berdua. Tampaknya shuwang memiliki hal yang ingin di bicarakan dengan kaisar wei. "
Lucy berdecak, " Kau ini. Aku pikir ada hal penting. Lalu apa kau sudah bertemu dengan sima rui? "
" Apa kau tidak tahu. Ia sendiri yang membantu kaisar wei mendapatkan semua bukti kejahatan menteri guan. "
" Tapi bagaimana mungkin? Aku yakin ia masih di kerajaan jin saat aku berangkat. "
" Untuk itu lebih baik kau tanyakan saja dengannya. "
Lucy tak ingin ikut campur dengan permasalahan sepasang kekasih tersebut. Anak muda memiliki caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah mereka.
********
Pintu terbuka dengan keras. Ziyan yang mendengar keberadaan sima rui dari lucy, langsung menginterogasi junyi yang bertugas menjaganya.
__ADS_1
" Kau benar-benar penuh dengan kejutan pangeran pertama. “ Sindir ziyan.
Sima rui tersenyum mendengar sindiran sang kekasih. " Aku tahu. Jadi apakah kau terkejut? "
Bukannya menjawab, ziyan langsung melangkah masuk dan dengan kasar duduk di kursi yang ada di depan sima rui. Ziyan bersedekap dengan kedua tangannya yang terlipat di dada. Namun bukannya menghibur ziyan yang tampak marah itu, Sima rui justru melanjutkan menyesap tehnya sambil sesekali melirik ziyan.
Ziyan menatap sima rui intens, dan kemudian membuang napasnya. “ Sekarang aku tahu, kenapa begitu masuk wilayah kerajaan wei, sama sekali tidak ada serangan. Itu bukan karena menteri guan yang 'berbaik hati', tapi karena kau yang memberikan kejutan pada mereka. "
Sima rui tahu, bahwa tunangannya tersebut tak hanya cantik tapi juga sangat jeli. Ia bisa begitu mudah menyadari situasi.
" Aku hanya tak ingin perjalanan mu terasa sulit. Karena itu sebisa mungkin aku harus menyingkirkan semua kerikil agar tak ada gangguan yang membuatmu merasa tidak nyaman. "
Mendengar penjelasan Sima rui, sungguh ziyan tak bisa berkata-kata. Begitu besar perhatian yang ditunjukkan pria itu padanya.
" Terima kasih. Aku tidak tahu harus bereaksi seperti apa. " Ziyan bingung harus bagaimana membalas Sima rui.
" Cukup menikah denganku setelah kita tiba di kerajaan jin. "
" Hish... kau ini. " Ziyan menyesal karena tersentuh dengan tindakan Sima rui.
" Oh ya apa kau yang membantu kaisar wei mendapatkan bukti kejahatan menteri guan? " Sima rui mengangguk. " Bagaimana bisa? "
" Ingat saat aku ke perbatasan terakhir kali. " Ziyan mengangguk. Ia ingat baru kemarin Sima rui kembali ke medan perang, karena prajurit jin yang hampir mengalami kekalahan di karenakan salah satu orang dalam yang membocorkan strategi kita ke pihak musuh.
" Saat aku menyelidiki, aku menemukan hubungan kerajaan wei dengan bangsa bar-bar. karena itu aku memerintahkan bawahan ku untuk menyelinap ke kerajaan wei dan mencari bukti. " Jelas Sima rui.
Pria itu diam sejenak sebelum membuka kembali mulutnya. Namun sorot matanya tampak lebih tajam seolah mendapatkan rasa kecewa yang teramat besar.
__ADS_1
" Bahkan aku sampai mengetahui siapa dalang di balik semua kekacauan yang ada di kerajaan jin. Termasuk orang yang berada di belakang hong dawei. "