
Seminggu kemudian,
"Tuan anda menerima sebuah surat tapi tidak ada nama pengirimnya. " Junyi memberikan sebuah surat yang baru saja diterimanya itu. Setelah ia periksa, tidak ada nama pengirimannya.
"Berikan." Sima rui langsung meminta pengawalnya itu untuk menyerahkan surat misterius itu.
Sima rui mulai membaca isi surat tersebut. Wajahnya yang sebelumnya datar terlihat semakin suram. Pandangannya menggelap, ia meremas surat tersebut. Lalu segera memerintahkan junyi untuk memeriksa sesuatu.
"Segera periksa, apakah yaner dan putra mahkota pernah bertemu sebelumnya. Lalu bagaimana hubungan mereka. Aku ingin hasil itu secepatnya. "
Perintah sima rui membuat junyi bergidik. Wajahnya yang serius dan penuh aura gelap. Ada apa dengan isi suratnya? Apakah ada hubungannya dengan putra mahkota dan nona besar mo. Jika itu benar, maka akan ada badai yang segera terjadi. Tanpa membuang waktu, junyi segera pergi untuk menjalankan perintah.
Sima rui meremas kuat surat tadi. Ia tak tahu perasaan apa yang sedang di rasakannya. Marah, tapi ia tak tahu marah dengan siapa. Sima yan, adiknya atau yaner tunangannya. Seandainya apa yang di tulis di surat itu benar. Apa yang akan ia lakukan. Ia pikir hubungannya dengan ziyan sudah cukup baik. Tapi kenyataannya hubungan mereka hanya sebatas pertunangan tanpa adanya cinta dalam pondasinya. Seakan bisa hancur kapan saja.
Sima rui segera mendapatkan kembali logikanya. Ia tidak ingin mengambil keputusan berdasarkan perasaan. Ia teringat kembali dengan janji yang pernah ia dan ziyan ucapkan. Benar, aku harus membicarakan ini dengannya. Jika memang informasi yang di bawa junyi sama dengan yang ada di surat tersebut. Ia harus mendapatkan penjelasan secepatnya. Karena lusa bagaimanapun ia harus berangkat ke perbatasan. Ia tak ingin pergi dengan membawa masalah. Maka ia harus segera menyelesaikan ini.
Dengan sangat cepat, Junyi berhasil mendapatkan informasi yang di inginkan sima rui. Ia menggunakan segenap tenaga dan kemampuannya. Namun setelah ia mendapatkan informasi tersebut, ia justru merasa kekhawatirannya semakin bertambah. Karena informasi yang ia terima mungkin akan membuat emosi sima rui semakin buruk. Junyi berdoa dalam hati, semoga hari ini bukan hari terakhirnya melihat dunia. Dengan penuh keberanian, junyi kembali untuk melaporkan hasil pemeriksaannya.
"Tuan ini laporannya. " Junyi mencoba bersikap tenang, meski dalam hati Ia terus menerus melafalkan sutra dewa.
Sima rui segera membaca laporannya, dan dengan penuh emosi membanting laporan tersebut ke meja.
" Omong kosong ! "
Sima rui yakin ziyan bukan tipe wanita yang akan memberikan 'topi hijau ' untuknya. Lalu Sima rui teringat kembali saat mereka berada di lingguang. Kenapa Sima yan tiba-tiba muncul. Apakah itu karena ziyan?
Sima rui segera menulis surat untuk ziyan. Lalu memerintahkan junyi untuk mengirimnya.
Sore hari sesuai dengan surat yang ditulis Sima rui. Ziyan menerima undangan untuk datang ke istana Rixi. Pelayan menyambut kedatangan calon nyonya mereka. Lalu membawa mereka ke ruang belajar Sima rui.
Sima rui melihat kedatangan wanita yang sejak pagi mengganggu pikirannya tersebut.
" Duduklah. Ada sesuatu yang ingin ku perlihatkan denganmu. "
Sima rui memberikan sebuah surat tanpa nama yang ia terima. Kondisi suratnya terlihat cukup memprihatinkan. Terlihat jelas bahwa kertas tersebut sudah di remas beberapa kali. Ziyan menerima surat itu dengan ragu-ragu tak tahu apa yang terjadi. Sima rui mengangguk menyuruh wanita itu untuk membacanya. Ziyan segera membaca surat tersebut. Ia mengerutkan keningnya, bukan karena isi surat tersebut. Tapi justru pada tujuan si pengirim yang mengirim surat tersebut ke Sima rui. Kenapa ia terlihat seperti wanita tak bermoral dalam surat tersebut.
Dalam surat tertulis bahwa ziyan dan Sima yan memiliki hubungan rahasia yang membuat mereka sering bertemu diam-diam. Mereka saling jatuh cinta saat pertama kali bertemu di donglu. Bahkan keduanya sudah saling bertukar cinta mereka dengan ciuman mesra saat itu juga.
__ADS_1
Ziyan ingin sekali tertawa. Hubungan rahasia dan bertemu diam-diam? Mereka memang pernah bertemu dengannya sekali. Tapi bukankah ada yelu dan chufeng juga disana. Apakah itu termasuk diam-diam. Jatuh cinta saat pertama bertemu? Apakah terpesona dengan ketampanan seseorang juga termasuk jatuh cinta. Jika benar, sudah berapa kali ia jatuh cinta kalau begitu. Bahkan saat bertemu dengan Sima rui bukankah ia juga terpesona dengannya. Kalau begitu ia termasuk jatuh cinta dengannya juga. Dan yang terakhir ciuman mesra? Itu karena Sima yan diam-diam mengambil keuntungan darinya. Dan bukankah setelah itu ia menampar wajah sang putra mahkota. Kelihatannya si pengirim ini harus mengkaji ulang arti kata mesra.
Ziyan melipat surat itu, Lalu tersenyum lembut pada Sima rui.
"Apa kau percaya. "
"Tidak.Tapi karena ini menyangkut kehormatan tunanganku dan putra mahkota. Aku harus segera mengurusnya. Jadi aku sudah meminta junyi memeriksannya. Dan.... "
Sima rui tak tahu harus bagaimana mengungkap informasi yang ia dapat. Karena beberapa dari isinya memang sesuai dengan isi surat itu.
Melihat keraguan Sima rui, ziyan segera memberikan penjelasannya.
"Aku memang bertemu dengan Sima yan, tapi itu bersama yelu dan chufeng juga. " (ziyan)
" Aku tahu. " ( Sima rui).
" Karena putra mahkota membantuku menyampaikan pesan untuk yifeng. Jadi aku setuju dengan undangan minum tehnya. Selain sebagai rasa terima kasihku. Aku juga ingin membantu chufeng. Sedangkan untuk pertemuan di donglu... Itu adalah sebuah kebetulan. Aku bahkan tidak tahu ia putra mahkota. "
"Lalu ciumannya? "
Ziyan menjawab dengan wajah datar. "Apakah menampar seorang putra mahkota juga termasuk tindak kejahatan? karena aku sudah melakukannya dari dulu. "
Meski hanya sebuah ciuman sepihak. Tapi Sima rui masih merasakan sedikit perasaan kesal di hatinya. Ia merasa kesal sekaligus iri karena ciuman tersebut.
Wajah Sima rui linglung. Apa itu? iri? kenapa aku iri dengan adikku sendiri. Aku bahkan tidak peduli dia mencium gadis mana pun. Tapi kenapa aku kesal saat tahu ia sudah mencium bibir gadis ini. Apakah karena ia mencium tunanganku.
Ziyan memperhatikan wajah Sima rui yang tampak kesal meski dirinya sudah menjelaskannya. Ia nampak seperti pria yang sedang cemburu?
Hah?!
Apakah ia sedang cemburu? Ziyan tersenyum dalam hati. Pria yang selalu dingin ini, tak hanya bersikap lembut padanya, juga mengerti apa yang ia pikirkan. Jika aku melepaskannya. Apakah aku akan menyesal?
Bolehkah aku mengujinya?
Tentu saja boleh. Ziyan menjawab dalam hati pertanyaannya sendiri.
"Apakah kau kesal? "
__ADS_1
Sima rui tak menjawab. Hanya diam menatap gadis itu.
Karena tak mendapatkan jawaban. Ziyan berpikir apakah ia harus mengujinya lewat tindakan?
Ziyan bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Sima rui. kedua tangannya mencengkram pegangan tangan pada kursi pria itu. Ziyan menatap pria itu yang kini berada di bawah ziyan. Sima rui mengatur arah pandangannya keatas untuk melihat wajah ziyan.
Wajah gadis itu semakin dekat. Lalu dalam seperkian detik, bibirnya menempel di bibir Sima rui. Belum juga Sima rui mengerti apa yang sedang terjadi. Bibir ziyan sudah terpisah dari bibirnya. Dan gadis itu sudah kembali duduk di kursinya.
" Sudah. Sekarang masalah tentang putra mahkota yang menciumku sudah selesai bukan. Bahkan kau juga sudah menciumku sekarang. ?"
Apa?! Kini Sima rui tahu tujuan gadis itu melakukan tindakan tadi.
Giliran Sima rui yang bangkit dari kursinya dan melakukan hal yang sama seperti gadis itu sebelumnya.
"Itu tidak cukup. Kita masih belum menyelesaikan apa yang kita lakukan di kereta waktu itu. "
Senyum seringai mengembang di bibir pria itu. Dan dengan cepat menempelkan bibirnya di bibir gadis itu.
Mata ziyan melebar karena terkejut. Ia tak menduga pria ini berani melakukan hal ini.
Sima rui menutup matanya. Merasakan perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Gairah kebahagiaan semakin besar. Meski jantungnya berdetak dengan cepat, namun ia sangat menikmatinya. Ketika ia hendak memperdalam ciumannya. Gadis itu tiba-tiba melepaskan tautan mereka.
Wajahnya sangat merah. Ziyan merasakan bibir Sima rui yang terasa lembut. Pria sekuat dirinya tak menyangka akan memiliki bibir yang begitu lembut. Bibirnya membuatnya ingin merasakan lagi dan lagi. Itulah kenapa ia merasa sangat malu sehingga melepaskan tautan mereka.
Sima rui melihat reaksi ziyan. Wajah merahnya justru membuatnya terlihat imut, sangat menggemaskan.
"Apakah kau malu? " Sima rui bertanya dengan senyum nakal di wajahnya.
"Si, siapa yang malu? "
Ziyan mencoba mengelak. Namun semua terlihat jelas di wajahnya. Jadi Sima rui hanya tertawa melihat dirinya yang berusaha berbohong.
" Aku ingin lagi. Bisakah? " (Sima rui)
Wajah ziyan semakin memerah. Pertanyaan Sima rui sangat tak tahu malu. Apa ia tidak tahu wanita butuh persiapan, keluh ziyan dalam hati. Namun isi hati gadis itu bertolak belakang dengan keinginan. Jadi meski memalukan, ziyan mengangguk.
Tanpa mengubah posisi mereka. Sima rui segera mencium bibir gadis itu, menyesapnya. Semakin lama ciuman itu semakin dalam. Sima rui bahkan memasukan lidahnya dan bermain dengan daging lembut ziyan. Ciuman panas dan intens Sima rui hampir membuat gadis itu kehabisan napasnya. Namun saat Sima rui melepaskan ciuman mereka, dia hanya memberinya waktu kurang dari sedetik untuk ziyan mengambil napas. Lalu kembali menciumnya lagi dan lagi.
__ADS_1