
" Kenapa tiba-tiba pergi ke sini? " Sima rui kembali bertanya pada ziyan. Ketika istrinya memiliki sesuatu untuk di renungkan ia pasti akan pergi ke tempat ini.
" Kali ini apa yang ingin kau putuskan ratu ku? " Tambahnya.
Ziyan mengulas sebuah senyum lalu berkata, " Aku sedang memikirkan mengenai serikat dagang Zi. Saat kita menua, tentu kita akan mewariskan nya pada salah satu anak kita. Dan aku sudah putuskan akan memberikannya pada siapa? apa kau tidak ingin tahu pada siapa aku akan mewariskannya? "
Tatapan lembut Sima rui terkunci pada sosok wanita di depannya. " Siapapun itu, aku yakin ia mampu untuk mengurusnya. Aku setuju apapun keputusan yang kau ambil. "
" Kau percaya begitu saja dengan keputusan ku? Apa kau yakin bahwa kali ini keputusan ku tidak akan salah? Aku justru ingin mendengar pendapat mu mengenai keputusan ku ini. "
Entah sejak kapan, menjadi sebuah kebiasaan bagi wanita tiga anak itu untuk selalu meminta pendapat Sima rui, bukan karena ia tidak percaya diri dengan keputusannya melainkan ia yang memang ingin suaminya ini tahu apapun yang ia lakukan. Selain karena ziyan tak ingin menyembunyikan apa pun darinya. Sebenarnya ia akui selama ini penilaian suaminya sangat memuaskan.
Dan poin terakhir tentu menjadi alasan utamanya.
" Istriku membangun serikat dagang Zi dari nol. Itu bukti kerja keras mu. Aku yakin kau tidak akan membuat keputusan gegabah untuk hal ini. " Melihat istrinya mengangguk. Sima rui melanjutkan. " Itulah kenapa aku percaya dengan mu. Dan aku juga siap memberikan saran jika istri ku memintanya. "
Suami yang begitu percaya padanya, sangat menyayanginya, juga begitu memanjakannya. Bersama anak-anak yang hebat. Ziyan merasa hidupnya sudah sangat sempurna.
" Kalau begitu tebak lah? "
Istri tercinta memintanya untuk menebak, Sima rui tak mungkin menolak. Jadi ia berpikir.
" Aku pikir itu putra tertua kita. Atau lebih tepatnya istrinya. Kau mungkin akan menyerahkannya pada calon menantu mu melalui putra kita. Apakah tebakan ku benar? "
Ziyan terlihat puas dengan jawaban Sima rui. Tidak salah pria ini bisa membuatnya sangat mencintainya.
" Kau memang masih yang terbaik. Tebakan mu memang benar suami ku. Tapi aku masih ingin mengamatinya lebih jauh. Bukan meragukan tapi hanya memastikan batas kemampuannya. "
Sima rui mengangguk setuju. " Aku pikir putra kita cukup beruntung. Bajingan kecil itu akhirnya menemukan wanita yang cukup baik. Meski tidak sebaik istri ku. "
Bagi mata Sima rui tak ada wanita yang melebihi istrinya dan itu mutlak.
***********
Jauh di Kerajaan Shu,
"Bagaimana apa semuanya sesuai dengan perintah ku? " Tanya Zhuocheng pada salah satu anak buahnya.
__ADS_1
" Sudah tuan. Aku yakin saat ini Siwang sedang kacau dan mau tidak mau nona Xu akan kembali ke shu untuk mengurus semua kekacauan ini. Dan begitu ia meninggalkan jin, kita bisa menangkap dan menculiknya. "
Zhuocheng mengangguk puas dengan hasil kerja anak buahnya. Ia tersenyum iblis membayangkan wajah menderita Sima Guang. Ia bersumpah akan membalas karena membuat dirinya harus kehilangan beberapa gigi yang membuatnya kini terlihat seperti pria bodoh.
Bahkan setiap ia bercermin, ingin sekali ia menghancurkan benda itu karena pantulan wajahnya yang tampak idiot.
Serikat dagang Siwang,
" Ketua gawat, beberapa barang kita rusak di jalan. Dan pihak pembeli menuntut ganti rugi. " Salah satu bawahan Xu xiang melapor.
" Lagi? bagaimana mungkin? bukankah sewaktu barang di kirim dari shu dalam keadaan baik? " Tanya Xu xiang bingung.
Ia yakin bahwa Gu shang pasti sudah melakukan pemeriksaan barang terlebih dahulu sebelum di kirim. Tapi kenapa satu minggu ini, ia menerima laporan yang sama hampir setiap hari.
"Kami tidak tahu ketua. Tapi saat ini para pembeli sedang ada di luar menuntut ganti rugi? "
Tanpa menunggu Xu xiang segera berjalan keluar.
Dan benar saja, beberapa orang yang Xu xian yakini sebagai rekan bisnisnya sedang menunggu dengan wajah tak ramah.
"Ketua, sekarang apa yang harus kita lakukan? " Tanya asisten Xu xiang dengan khawatir.
Mengingat barang berasal dari shu. Maka ia harus ke sana untuk pemeriksa. Ia yakin, ini bukan hanya permasalahan barang rusak semata. Jika dugaannya benar, ada pihak yang sedang berusaha untuk menghancurkan Siwang.
Xu xiang berpikir sejenak. Tak ada jalan lain, jadi ia segera memutuskan.
" Aku akan ke shu. Tolong kau tangani semua urusan di sini. "
Xu xiang segera kembali ke kediaman sementaranya untuk mengepak beberapa barang sebelum keberangkatannya ke shu.
" Aku mendengar kau akan pergi ke shu? " Tanya A Guang begitu sampai dan melihat wanita yang sejak tadi menganggu pikirannya.
Segera setelah A Guang mendengar berita itu, ia bergegas menemui Xu xiang. Memacu kudanya sangat cepat. Ingatan saat gadis itu pergi dulu kembali muncul. Dan itu berhasil membangunkan rasa cemas pria itu.
" Aku baru akan mengatakan ini pada mu. Maaf ini permasalahan mendesak jadi mau tidak mau aku harus kembali ke sana. "
" Apa masalahnya sangat serius? " A Guang tidak tahu permasalahan detail di Siwang jadi ia bertanya.
__ADS_1
Xu xiang tidak menjelaskan, ia hanya mengangguk sebagai jawaban.
A Guang membuang napas gusar. Ia sebenarnya tak rela jika harus membiarkan Xu xiang kembali ke shu. Tapi ia paham betul bahwa Siwang sudah seperti hidupnya.
Tak ingin menjadi pria egois, akhirnya dengan terpaksa ia mengijinkannya.
"Jangan terlalu lama di sana. Aku takut terlalu merindukan mu. "
Curahan hati A Guang itu berhasil membuat Xu xiang kembali bersemu merah seperti pantat babon. Meski pernikahan mereka sudah di depan mata, tetap saja gadis itu masih belum terbiasa.
" Jangan memulai, kau tahu aku masih belum terbiasa dengan mulut manis mu itu. "
Bukannya menurut, A Guang justru semakin ingin menggoda calon istrinya itu. Terlihat menggemaskan saat wajahnya merah. Namun saat ia ingin melancarkan aksinya, seorang pelayan sudah lebih dulu datang memberitahu bahwa kereta kuda yang Xu xiang pesan sudah datang.
" Kau berangkat sekarang? " Tanya A Guang seolah tak terima. ia berpikir bahwa Xu xiang akan berangkat besok. Ia tak menduga bahwa akan secepat ini.
" Iya. Aku harus secepatnya sampai sana. Para pembeli hanya memberikan waktu tidak lebih dari Dua minggu. Jadi aku tidak memiliki banyak waktu. Aku janji aku akan berusaha secepat mungkin untuk kembali. "
Setelah berkata, Xu xiang segera keluar. A Guang mengikuti dengan sisa tenaganya yang tinggal setengah.
" Bersemangat lah. Aku pergi tidak akan lama. Anggap ini sebagai ujian sebelum kita menikah. " Xu xiang berusaha memberikan semangat.
" Hati-hati. Jangan pikirkan aku. Lebih baik fokus dengan pekerjaan mu agar bisa kembali secepatnya. "
Secara tidak langsung, A Guang meminta Xu xiang agar tidak melakukan apapun selain bekerja dan langsung kembali begitu urusan selesai.
Xu xiang terkekeh mendengar tuntutan pria dewasa yang kini terlihat seperti anak ayam yang tidak ingin di tinggal induknya.
" Pasti. Tunggu aku. "
A Guang memandang kereta kuda yang membawa Xu xiang semakin jauh. Ia menekan segala kegelisahan di hati. Berharap bahwa tak terjadi sesuatu padanya.
Meski ia sudah menempatkan beberapa penjaga bayangan untuk menjaganya, namun tetap tak membuat kegelisahan di hatinya berkurang.
Ada apa ini? kenapa aku begitu gelisah?
Xu xiang, cepatlah kembali?
__ADS_1