Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 343 Side story ( A Feng story)


__ADS_3

Dengan ragu-ragu Liu ru mulai menjelaskan. " Dengar. Aku tidak bermaksud membelanjakan uang-uang itu. Aku hanya ingin melampiaskan kekesalan ku karena pengabaian mu. Lagipula semua barang-barang itu aku berikan pada orang tua mu, putra mu dan keluarga Sima yang lain. Jadi kau tidak boleh memarahi ku. Dan yang terpenting kau tidak bisa meminta ku untuk mengembalikan semua uang itu. Karena aku miskin, jadi itu mustahil. " Jelas Liu ru berharap bisa mengurangi kemurkaan suaminya.


Pernah satu waktu, ia melihat ayahnya marah besar karena ibu tirinya yang berbelanja banyak dan menguras hampir setengah simpanan uang manor. Bahkan ayahnya yang ia ketahui begitu mencintai selirnya tersebut sampai memberikan hukuman cambuk di kaki sang selir. Liu ru kecil yang melihat itu hanya bisa bersembunyi sembari menahan ketakutannya.


" Jadi? " Sima Feng bertanya yang justru membuat Liu ru semakin bingung menebak jalan pikiran suaminya itu.


" Jadi, ya anggap saja itu sebagai biaya kompensasi atas kepergian mu. Dan kau tidak boleh memberikan ku hukuman cambuk atau sejenisnya bagaimana pun keadaannya. "


Kali ini Sima Feng memasang wajah bingung. Keningnya mengerut sembari mencerna kata-kata istrinya tersebut.


Jadi ia bertanya lagi. " Siapa yang akan memberikan mu hukuman cambuk? "


" Kau. "


" Aku? kenapa? " Sima Feng lagi-lagi bertanya.


" Karena aku terlalu boros. "


Detik itu juga Sima Feng akhirnya mengerti. Ternyata istrinya telah salah paham padanya. Ia pasti mengira bahwa dirinya akan marah karena istrinya itu hampir mengosongkan pembendaharaan manor.


Ia terbahak, dan dengan susah payah berbicara. " Aku tidak masalah dengan seberapa banyak kau menghabiskan uang ku. Aku hanya heran, kenapa kau hanya membelanjakan uang mu untuk keluarga Sima. Tidakkah kau ingin membeli barang untuk dirimu sendiri? Jika karena kau kehabisan uang. Kau bisa meminta tambahan uang pada kepala pelayan Hu. "


Ia juga melanjutkan. " Kau istri ku tentu saja kau bebas menggunakan uang ku. Jadi jangan pernah berpikir aku akan marah atau menghukum mu. Aku bahkan tak pernah memiliki sedikit pun pikiran untuk mencambuk mu. Jadi buang jauh-jauh pikiran jelek itu. Apakah menurut mu aku begitu brengsek hingga menyiksa istri ku sendiri. Hanya bajingan yang akan melakukannya. "


Liu benar-benar dibuat tercengang. Tak bisa berkata-kata. Respon Sima Feng benar-benar di luar dugaan.


" Kau tidak marah? " Selidiknya. Memastikan bahwa apa yang ia pikirkan bukan sekedar khayalan.


" Tidak. "


Liu ru masih tidak percaya. Jadi ia masih menatap tak percaya pria di depannya itu.


" Berhenti menatap curiga. Aku sedang tidak bercanda. Lagipula jika bukan kau yang menghabiskan uang ku lantas siapa lagi. " Enteng sekali Sima Feng mengatakannya.


Barulah setelah Sima Feng selesai berbicara. Liu ru bisa bernapas lega.


" Jadi dimasa depan, aku bisa bebas berbelanja dan kau tidak akan marah? "


Sima Feng mengangguk. " Tentu saja. Tapi satu yang tidak boleh. Kau tidak di perkenankan untuk berbelanja apapun yang berhubungan dengan tindakan pemberontakan. " Tekannya.


Liu ru tercengang dengan imajinasi suaminya itu. Apa yang sebenarnya ia pikirkan. Mungkinkah udara di medan perang benar-benar telah mengacaukan isi kepalanya.


" Aku tidak mungkin melakukannya. Aku justru ingin melakukan sesuatu yang berguna bagi rakyat Jin. "


Melihat suaminya tertarik, ia pun mulai menjelaskan. " Jadi aku berniat membangun sebuah klinik umum. "

__ADS_1


" Klinik itu akan mengutamakan rakyat miskin dimana mereka kesulitan untuk membayar pengobatan pada tabib umum. Lalu bagaimana dengan biaya operasional jika orang miskin tak mampu membayarnya? Kita bisa menggunakan sistem barter atau pertukaran. Dengan sistem ini, mereka bisa membayar dengan bahan makanan atau pun herbal liar. "


" Sebagai contoh, ia tidak memiliki bahan pangan karena tak memiliki ladang. Maka ia bisa menukarnya dengan ikan atau herbal liar yang banyak ditemukan di gunung. Bukankah itu hanya memerlukan tenaga tanpa harus mengeluarkan uang. "


" Dengan cara ini. Tak ada lagi rakyat miskin yang menderita karena tidak bisa berobat. Bagaimana menurut mu suami ku? " Tanya Liu ru di akhir penjelasan.


Sima Feng awalnya tertegun namun ia segera tersenyum dan berkata. " Itu bagus aku yakin itu akan sangat membantu mereka. Lalu bagaimana dengan tabibnya? kita tak mungkin membuka klinik tanpa seorang tabib yang memeriksanya kan? "


Liu ru berdeham, " Untuk itu, aku akan mengajukan diri menjadi tabib sukarela di sana sampai kita bisa merekrut tabib lain untuk bergabung. Aku yakin tidak semua tabib memiliki sifat buruk seperti tabib Meng, bukan? "


Sima Feng berpikir sejenak. Ide istrinya sangat bagus namun mungkin akan sangat lama jika menunggu tabib yang mau bekerja secara sukarela.


" Aku akan mengirim surat pada Yang mulia menyampaikan ide mu ini. Mungkin pihak kerajaan akan menyediakan dana bantuan untuk ini. Selain itu, kita juga bisa bekerja sama dengan serikat dagang Zi untuk menyediakan bahan obat-obatan. "


" Serikat dagang Zi? " Seru liu ru tak percaya. Sungguh hebat sekali suaminya memiliki hubungan dengan Serikat dagang terbesar di kekaisaran.


Dengan antusias tinggi Liu ru bertanya. " Kau kenal pemilik Serikat dagang Zi? "


" Tentu saja. Kau juga mengenalnya. "


Mata Liu ru melotot. "Aku? "


Liu ru menunjuk wajahnya sendiri. Ia terkekeh seolah itu adalah lelucon. " Jangan bercanda. Aku tidak dekat dengan keluarga kaya mana pun selain keluarga Sima. "


Perlahan Liu ru menoleh pada Sima Feng. Ia masih tertawa kecil, " Jangan bilang Serikat itu milik keluarga Sima? "


Tawa Liu ru benar-benar hilang dari wajahnya. Berganti dengan ekspresi terkejut. " Heh!? "


Sima Feng bangkit dari kursi dan berpindah duduk di tepi ranjang samping sang istri. Ia menepuk pipi Liu ru yang masih membeku karena terkejut.


" Kau tak apa? " Tanya sima Feng masih menepuk pelan pipi wanita itu.


Namun ia hanya mendengar istrinya bergumam. " Aku bukan hanya menantu ratu, tapi juga menantu bos Zi wanita terkaya di Kekaisaran. Aku menantu Bos Zi. "


Seperti orang linglung ia menoleh pada Sima Feng. " Cubit aku. Aku pasti sedang bermimpi. "


Tanpa ragu Sima Feng mencubit hidung Liu ru.


Terdengar jeritan kesakitan Liu ru. " Apakah kau sudah sadar? "


Liu ru mengangguk sembari mengusap hidungnya.


" Tapi aku harap kau bisa merahasiakannya. "


" Kau tenang saja. Demi bos Zi aku akan merahasiakannya. "

__ADS_1


Sima Feng tak tahu, jika dalam hati Liu ru ia tengah bersorak bahagia mengetahui bahwa orang yang menjadi idolanya adalah mertuanya sendiri. Siapa pun di Kekaisaran pasti tahu siapa bos Zi. Pemilik Serikat dagang terbesar yang sangat misterius. Bahkan orang yang memiliki kerja sama dengan Serikat dagang itu pun belum tentu bisa bertemu dengan bos Zi.


Tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.


" Yang mulia, makan malam sudah siap. Apakah anda ingin dihidangkan sekarang? " Itu kepala pelayan Hu yang memberitahu makan malam mereka.


Sima Feng melihat istrinya yang justru kembali merebahkan badannya. " Kau makanlah sendiri. Aku terlalu lelah karena perbuatan mu. " Suara Liu ru cukup keras membuat kepala pelayan Hu bisa mendengarnya.


" Baiklah. " Kemudian berbicara pada kepala pelayan Hu. " Kau dengar bukan. Bawa saja makanannya ke kamar. Istriku terlalu lelah dan tak bisa bangun dari tempat tidur. "


Ucapan Sima Feng terdengar begitu ambigu. Membuat Wajah dua pelayan wanita yang bersama kepala pelayan Hu bersemu merah. Membuat dua gadis belia itu seketika memiliki imajinasi liar dan dengan semangat akan membagikannya ke seluruh kediaman.


" Baik Pangeran. " Dengan patuh kepala pelayan Hu langsung menjalankan perintah Sima Feng.


*******


Ditempat lain, Gu Feifei sudah selesai membersihkan badan dan berganti pakaian. Ia juga menerapkan sedikit riasan untuk menunjang penampilannya. Berharap bahwa Sima Feng akan melihat padanya.


Pria dingin itu sudah lama mengisi hatinya. Semenjak pertama kali ia melihatnya dulu, dirinya sudah jatuh cinta padanya. Ia bertemu Sima Feng saat mengunjungi sang kakak di kamp militer. Siapa yang menduga bahwa itu menjadi pertemuan dengan pria yang menjadi cinta pertamanya tersebut.


Sayangnya ia harus mengubur dalam-dalam cintanya ketika mengetahui identitas Sima Feng. Dia adalah pangeran kedua. Perbedaan status membuatnya tak mungkin untuk menggapai cintanya tersebut.


Hingga kabar kematian kakaknya membuat dunianya seolah runtuh. Namun di satu sisi, ada dunia lain yang seolah terbuka untuknya. Sima Feng datang dan berjanji akan menjaganya. Meski ia tahu bahwa Janji Sima Feng sebagai bentuk tanggung jawabnya atas kematian sang kakak. Tapi itu cukup baginya. Asal ia bisa berada dekat dengannya.


Sayang, kembali ia harus menelan pil pahit saat pria itu mengenalkan wanita lain sebagai istrinya.


Jujur dirinya cemburu. Namun sekuat hati ia menahannya dan mencoba bersikap biasa. Tak apa jika ia hanya akan dijadikan seorang selir. Cepat atau lambat ia akan membuatnya hanya mencintainya.


Gu Feifei tersenyum saat memikirkan itu. Ia tak sabar bertemu dengan Sima Feng. Jadi ia berjalan lebih cepat ke arah ruang makan.


Namun senyumnya seketika pudar saat tak menemukan satu orang pun di sana.


' Kenapa tak ada orang. Mungkinkah aku yang datang terlalu cepat? ' Gu Feifei masih mencoba berpikir positif.


Jadi ia duduk dan pelayan langsung menyiapkan mangkuk untuknya.


" Dimana pangeran dan wangfei? kenapa mereka tak ikut makan di sini? " Gu Feifei bertanya dengan sopan.


Pelayan yang diajak bicara itu adalah pelayan yang bersama kepala pelayan Hu tadi. Jadi ketika Gu Feifei bertanya tentang majikannya tersebut, wajahnya sontak kembali bersemu merah.


Dengan pelan ia menjawab. " Pangeran berkata, wangfei sangat lelah hingga tak bisa bangun dari tempat tidur. Itulah kenapa mereka meminta untuk menyiapkan makan malam di kamar. "


Hati Feifei hancur. Seolah sebuah martil besar baru saja menghancurkannya.


Sumpit di tangannya bergetar. Segera ia meletakkannya dan memaksakan diri untuk tersenyum.

__ADS_1


" Ow begitu. Hubungan mereka pasti sangat baik. "


Pelayan itu tersenyum dan mengangguk. Tak tahu bahwa di bawah meja, tangan Feifei sudah mengepal kuat.


__ADS_2