Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 334 side story ( A Feng story)


__ADS_3

Menjelang malam pesan darurat datang dari perbatasan. Kerajaan Wei menyerang lebih awal. Hal itu memaksa A Feng untuk segera berangkat. Jadi malam itu juga Sima Feng berangkat ke perbatasan sementara Liu ru akan menyusul keesokan harinya.


" Hati-hati. Setelah fajar aku akan segera menyusul. " Liu ru berkata saat mengantar keberangkatan Sima Feng.


" Jangan terburu-buru. Kau bisa menemui Xiao Yi terlebih dulu sebelum berangkat. Aku tak ingin bocah itu marah karena kita berdua pergi tanpa sepengetahuannya. Cukup aku yang pergi tanpa berpamitan dengannya. "


Berpikir apa yang dikatakan suaminya masuk akal. Liu ru memutuskan melakukannya.


Ia mengangguk, " Baik. Aku akan pergi ke istana terlebih dulu untuk berpamitan dengannya. "


Keduanya terdiam. Sebenarnya Sima Feng ingin sekali memeluk Liu ru tapi mengingat temperamennya, ia mengurungkan niatnya.


Jangan sampai ia di pukuli di depan para bawahannya. Bukankah itu akan sangat memalukan.


Namun siapa yang menduga, bahwa Liu ru akan memeluknya terlebih dulu.


" Jaga diri mu. Aku akan menunggu mu di sana. "


Satu kalimat sederhana, dan itu berhasil membuat hati pria yang selalu berwajah datar itu menghangat.


" Pasti. " Setelah melerai pelukannya, Sima Feng melihat pada kepala pengawal yang akan mengawal perjalanan istrinya.


" Pastikan perjalanan istri ku aman. " Tekannya pada kepala pengawal.


" Saya akan melakukan yang terbaik Yang mulia. "


Sima rui menoleh kembali pada Liu ru sebelum akhirnya ia naik ke atas kuda miliknya dan dengan mantap memacu kudanya menembus gelapnya malam itu.


Liu ru masih enggan untuk masuk, tatapannya masih menatap lurus meski punggung yang menjadi tujuan matanya sudah tak terlihat lagi.


" Nyonya, sebaiknya kita masuk. Anda juga harus bersiap untuk keberangkatan besok. " Xiao su mengingatkan.


" Perjalanan kita tunda satu hari. Besok aku harus ke istana terlebih dulu. Aku tak ingin pergi sebelum berpamitan dengan Xiao Yi. " Hanya membayangkan putranya marah dan menyusulnya ke perbatasan sudah berhasil membuatnya sakit kepala. Jangan sampai hal itu terjadi.


Sayangnya, Liu ru tak akan pernah menyangka bahwa di masa depan hal itu akan terjadi.


Jadi dengan malas, Liu ru kembali ke kamarnya. Setelah merebahkan badannya dan berguling ke kanang dan ke kiri. Tiba-tiba ia merasa bahwa ranjang mereka terasa lebih besar.

__ADS_1


" Baru juga satu malam tidur sendiri. Kenapa aku sudah merindukannya. Ah jangan sampai pria itu tahu bahwa aku sedang memikirkannya. "


" Sudahlah. Aku lebih baik tidur. " Liu ru menarik selimut dan langsung menutup seluruh badannya.


Sementara Sima Feng yang berada di atas kuda tiba-tiba merasa hidungnya gatal dan beberapa kali bersin.


" Yang mulia apakah anda terkena flu? " Tanya Ling He.


" Abaikan. Mungkin saja seseorang sedang merindukan ku dan belum terbiasa tidur seorang diri. "


********


Keesokan harinya, Liu ru pergi ke istana bermaksud untuk berpamitan. Namun saat ia menuju istana dimana putranya tinggal, pelayan pribadi ziyan muncul dan berkata bahwa ratu mengundangnya.


Tak ingin membuat ratu menunggu, Liu ru memilih untuk menemui ibu mertuanya terlebih dahulu.


Setelah memberikan salam dan duduk. Ziyan mulai bersuara.


" Kapan kau akan berangkat ke perbatasan? " Ucap ziyan membuka percakapan.


" Besok bu. " Karena hanya ada mereka berdua, Liu ru memanggil ziyan ibu alih-alih Yang mulia ratu. Sesuai permintaan wanita nomor satu di Kekaisaran jin itu.


Secara garis beras, Liu ru paham maksud ucapan ziyan. Ini termasuk peringatan sekaligus pesan.


" Aku akan lebih hati-hati bu. " Liu ru tak bisa menjanjikan bahwa ia akan baik-baik saja. Tapi setidaknya ia akan melakukan yang terbaik agar selamat.


Ia tidak bodoh, dan ia juga menyayangi nyawanya. Jadi sudah secara alami, Liu ru akan melindungi dirinya.


Percakapan mereka berlangsung cukup lama. Liu ru merasa sedikit gelisah karena ia belum mengunjungi putranya untuk berpamitan.


Melihat menantunya gelisah. Ia tahu apa yang sedang di pikirannya. Jadi ziyan berkata, " Aku sudah meminta pelayan untuk memanggil Xiao Yi. Jadi kau tak perlu datang ke istananya. Tunggu lah disini. "


Liu ru sedikit terkejut, meski begitu ia tetap mengucapkan terima kasih.


" Ibu! " Panggilan Xiao Yi membuat dua wanita beda generasi itu menoleh.


Liu ru segera melebarkan tangannya menyambut pelukan putranya tersebut.

__ADS_1


" Ibu merindukan mu. " Liu ru memeluk erat putranya setelah itu mencium seluruh wajah bocah gembul itu.


Terkesan berlebihan memang. Karena mereka baru saja bertemu kemarin. Tapi Liu ru benar-benar merindukan bayi kecilnya tersebut. Apalagi mengingat sebentar lagi ia akan ke perbatasan dan akan sulit bertemu dengannya.


Tiba-tiba ia merasa seperti ada lubang besar di hatinya.


" Ibu, apa benar ibu akan pergi ke perbatasan? " Tanya bocah itu menatap Liu ru.


Liu ru sedikit mengendurkan pelukannya. Lalu menatap lembut pada sang putra.


" Ayahmu sedang melawan musuh yang sedang menyerang kerajaan. Ia berjuang melindungi kita dan seluruh rakyat Kekaisaran. Karena itu ibu ke sana untuk mendukungnya. Apakah putra ibu ini keberatan jika ibu pergi ke sana? "


Xiao Yi menggeleng. " Aku tak apa-apa. Aku tahu dari para pelayan bahwa ayah sekarang sedang berjuang. Karena itu, ibu jangan khawatir dengan ku di sini. Aku baik-baik saja. " Dewasa sekali Xiao Yi. Ia paham betul apa yang sedang terjadi.


Lagi, Liu ru memeluk sang putra erat. Memejamkan mata meluapkan kasih sayang dan kerinduannya. Bayi kecilnya yang dulu susah payah ia lahirkan ternyata sudah besar sekarang. Dan itu membuatnya sedikit merasa kehilangan.


Setelah melepas rindu sekaligus berpamitan. Liu ru akhirnya kembali. Namun sebelum ia pulang, ziyan terlebih dulu memberinya beberapa racun dan juga bubuk yang bisa digunakan untuk melindungi diri saat di perjalanan nanti.


*******


Sima Feng akhirnya tiba di kamp militer Kekaisaran Jin. Perjalanan yang seharusnya memakan waktu hingga dua hari hanya di tempuh kurang dari satu hari.


Begitu cepat mereka memacu kuda. Ditambah tanpa istirahat. Tentu saja hal itu membuat mereka mampu memangkas waktu tempuh sampai setengahnya.


Para pengawal elit yang mengikuti Sima Feng bahkan kini terlihat seperti mayat hidup. Sangking cepatnya kuda mereka berlari. Seolah-olah jiwa mereka masih tertinggal di suatu tempat.


" Kenapa wajah kalian pucat? " Tanya salah satu rekannya yang tak ikut dalam perjalanan setan itu.


" Kami baru saja menyelesaikan perjalanan dari ibu kota bersama Yang mulia. " Balasnya dengan sisa tenaga yang di milikinya.


"Lalu apa masalahnya? Bukankah kalian sudah berulang kali melakukannya? " Remehnya pada sang rekan.


" Kalau begitu kau kembalilah ke ibu kota dengan kecepatan penuh tanpa berhenti meski itu hanya sedetik dan mari kita lihat. Seperti apa wujud mu setelah itu. Aku ragu bahwa kau akan berakhir baik-baik saja "


Membayangkan tantangan dari rekannya itu saja sudah membuat seluruh tulangnya terasa ngilu. Jadi dengan tidak tahu malu ia kemudian memuji temannya tersebut.


" Tidak. Terima kasih. Aku tahu sejak awal bahwa kalian lebih kuat dari ku. " Kemudian ia melihat Sima Feng. " Tapi kenapa Yang mulia masih baik-baik saja? "

__ADS_1


Salah satu pengawal elit yang bersama Sima Feng menjawab. " Bagaimana bisa kau bandingkan kami dengan Yang mulia. Apa kau tahu apa julukan Yang mulia? " Rekannya itu menggeleng.


" Iblis pembunuh. Jadi bagaimana bisa seorang iblis kelelahan? "


__ADS_2