Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 368 Side story (A feng story)


__ADS_3

Dua Hari kemudian, Kondisi Liu Ru mengalami peningkatan yang signifikan. Ia sudah bisa turun dari ranjang dan berjalan ke luar pondok. Nenek Wu juga sudah memperbolehkannya melakukan perjalanan. Karena itu, segera Sima Feng meminta Bingjie untuk kembali dan membawa kereta kuda khusus mereka.


Liu Ru tercengang saat melihat kereta kudanya memiliki tampilan berbeda. Tak hanya terdapat beberapa fitur tambahan tapi juga di dalam gerbong terdapat sejenis karpet bulu yang tebal dan lembut yang terlihat sangat nyaman.


Sima Feng mulai memberikan sedikit penjelasan seputar kereta kuda tersebut. " Ini adalah kereta kuda yang sudah di modifikasi, dengan sedikit peredam benturan membuatnya tidak akan terlalu banyak guncangan nantinya. Selain itu, selimut bulu ini juga akan melindungi mu dari kerasnya kursi penumpang. Aku yakin kau tidak akan merasa lelah sama sekali, istriku. "


Liu Ru kehabisan kata-kata.


" Apa ini tidak terlalu berlebihan? bagi ku kereta kuda biasa saja sudah cukup. "


" Tidak ada yang berlebihan jika itu menyangkut keselamatan mu dan calon anak kita. Menurut ku ini masihlah wajar. Aku tahu kau mungkin berpikir berlebihan. Tapi mengertilah, aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuk kalian. "


Liu Ru hanya bisa menghela napas menerima semua pengaturan Sima Feng. Ia mulai terbiasa dengan sikap protektif suaminya tersebut, meski pada awalnya itu terasa aneh dan canggung, namun Liu Ru mencoba memaklumi dan menganggapnya sebagai bentuk penebusan pria itu atas kekecewaan yang kemarin diberikannya.


" Ayah, bisakah aku ikut dengan kereta ibu. Aku juga ingin merasakan selimut bulu itu. pasti sangat nyaman dan hangat di dalam sana. "


Xiao Yi melihat bagaimana nyamannya kereta kuda ibunya dan tak ingin melewatkannya. Bocah itu memohon dengan kedua mata yang terlihat seperti anak anjing yang menggemaskan.


Bagaimana mungkin Sima Feng mampu menolak setelah sang putra memandangnya dengan tatapan seperti itu.


" Tentu saja. Ayah memang ingin kau ikut dengan gerbong ibu mu. Kau memiliki tugas penting, yaitu menjaga ibu mu dan memastikan bahwa ibu mu dan adikmu baik-baik saja. Apa kau bisa menjalankan tugas ini? "


Xiao Yi menepuk dadanya, " Serahkan padaku ayah. Aku pasti akan menjaga ibu dan adik. "


" Bagus, kau memang pria sejati. " Puji Sima Feng sembari mengusap kepala putranya tersebut.


Liu Ru yang melihat interaksi suami dan putranya mendadak hatinya merasa hangat.


Sementara itu Sima Fei sedang memutar otaknya memikirkan rentetan kalimat manis untuk menjilat kakaknya.


" Kakak, kau sangat tampan dan baik hati. Kau benar-benar suami idaman. Aku beruntung memiliki mu sebagai kakak ku. Aku yakin semua ini akan membuat perjalanan kakak ipar tidak terasa berat. Kau benar-benar yang terbaik. "

__ADS_1


Sima Fei juga memberikan ibu jarinya di akhir kalimat sebagai apresiasi tambahan pada sang kakak.


Liu Ru dibuat tercengang dengan kemampuan menjilat adik iparnya itu. Ia tak menyangka akan mendengar gadis itu memuji suaminya hanya agar dirinya di perbolehkan menumpang pada sebuah gerbong kereta.


Sima Fei yang tersenyum manis mulai menunjukkan kekuatan mulutnya. Ia juga ingin menaiki gerbong khusus itu. Meski kakaknya sudah membuka jalan untuk mereka, tapi perjalanan keluar hutan pasti tetap akan bergelombang, hanya membayangkannya saja sudah membuat punggungnya terasa ngilu.


Mendengar ucapan berlapis madu saudaranya, Sima Feng mengerutkan keningnya, pura-pura tak mengerti dengan maksud terselubung di balik kata-kata penuh pujian adiknya tersebut.


" Ada apa? apakah ada yang menggertak mu dan ingin aku memukulinya? "


' Kaulah yang ingin ku pukuli. ' Gertak A Fei dalam hati. Ia masih menahan kesabarannya ketika saudaranya berkata seolah tak mengerti maksud sanjungannya.


Kembali, Sima Fei berkata setelah menebalkan mukanya.


" Kakak, kereta mu cukup luas. Aku yakin jika menambah satu orang lagi tak akan membuat kakak ipar kesempitan. Aku juga bisa menjadi tenaga tambahan untuk menjaga kakak ipar di saat Xiao Yi tertidur. "


Bocah empat tahun itu menyipitkan matanya memandang sang bibi, tak terima saat sang bibi meragukan dirinya seolah ia adalah pria yang tidak bertanggung jawab.


" Kau pasti akan tertidur. Perjalanan ke ibu kota akan sangat lama. Aku yakin kau akan tertidur apalagi dengan semua selimut bulu ini. Kau pasti akan langsung tertidur begitu kereta berjalan. Lagipula kau masih kecil dan masih dalam masa pertumbuhan. Alangkah baiknya kau harus memiliki tidur cukup agar kau bisa tumbuh tinggi. "


Xiao Yi ingin membantah ucapan A Fei, namun Sima Feng sudah lebih dulu menyela.


" A Fei, aku sudah mempersiapkan kereta kuda untuk mu. Lihatlah, itu kereta kuda yang akan kau naiki nanti. " Tunjuk Sima Fei pada sebuah kereta kuda biasa yang berada di belakang kereta kuda Liu Ru.


Sebuah kereta kuda pada umumnya tanpa peredam guncangan, juga tak ada selimut tebal berbulu yang nyaman dan hangat di dalamnya.


Melihat betapa tak nyamannya kereta itu jika dibandingkan dengan milik Liu Ru. Wajah A Fei seketika berubah cemberut. Ia memandang saudaranya dan mengeluh.


" Kau jahat A Feng. Apakah aku bukan saudaramu lagi? kenapa kau begitu tega dengan ku. Apa kau ingin aku berubah menjadi wanita jompo karena cidera tulang punggung .... "


Ucapan A Fei segera terpotong, ketika Liu Ru menyela ucapan gadis itu.

__ADS_1


" Jangan dengarkan suami ku, A Fei. Kau naiklah ke gerbong itu dengan ku dan Xiao Yi, dan kau suami ku berhenti menggoda A Fei. "


A Fei mendelik saat melihat senyum jahil Sima Feng. Sadar jika ternyata saudaranya tersebut telah mempermainkannya.


Sebelum berangkat, Liu Ru berpamitan pada semua orang, terutama dengan nenek Wu yang sudah merawatnya selama ini. Meski pertemuan mereka amat singkat, Liu Ru sudah menganggap nenek Wu seperti keluarga.


" Nenek Wu, terima kasih atas semuanya. Aku tahu kau akan tetap menolak apapun yang ku berikan sebagai ungkapan rasa terima kasih ku. Karena itu aku meminta mu tinggal bersama ku, tapi kau tetap saja menolaknya. Tidakkah kau ingin memikirkannya terlebih dulu? "


" Aku hargai niat baik mu. Tapi sayangnya kehidupan istana tidak cocok dengan ku. Aku lebih menyukai kehidupan bebas seperti ini. "


Liu Ru membuang napas lelah. " Baiklah. Aku tidak akan memaksa mu lagi. Jaga diri mu baik-baik nenek Wu. "


Ia pun memberi pelukan perpisahan pada wanita tua itu sebelum akhirnya naik ke dalam gerbong kereta.


" Kenapa belum berangkat? apakah kita masih menunggu seseorang? " Tanya A Fei pada Liu Ru.


Liu Ru mengangguk, kemudian menjawab. " Jingu akan ikut dengan kita. "


Kedua Alis A Fei bertemu. " Jingu? siapa dia? "


Saat Liu Ru hendak menjelaskan, terdengar suara lain dari arah luar.


" Maaf, aku membuat kalian menunggu. Ayo kita berangkat. "


Sima Fei yang penasaran membuka tirai. Ia ingin melihat sosok yang sudah berani membuat mereka menunggu. Mata A Fei dan Jingu langsung bertemu ketika gadis itu melihat ke luar.


A Fei tertegun sesaat ketika melihat Jingu. Ia merasa pernah melihat pria itu, tapi dimana? Namun tak lama kedua bola mata A Fei melebar ketika ingatannya kembali pada malam ia melumpuhkan empat bandit dan salah satunya itu adalah Jingu.


" Dia.. bandit itu... " Gumamnya tanpa sadar.


Jingu menyeringai. Melihat reaksi A Fei, ia yakin sekali gadis itu sudah mengingat siapa dirinya.

__ADS_1


__ADS_2