
Flashback On
Sima rui mengikuti pelayan tersebut. Ditengah jalan ia justru menghentikan langkahnya. Pelayan itu berbalik dan dengan polosnya bertanya.
" Apa ada masalah Yang mulia? "
Sima rui tak langsung menjawab. Matanya justru mengunci menatap tajam pelayan tersebut. Siapa saja pasti akan gemetar ketakutan jika mendapatkan tatapan tersebut.
" Katakan. Siapa sebenarnya yang menyuruh mu? " Tanya Sima rui dengan aura mengintimidasi.
" ma-maaf Yang mulia saya.... " Kalimat pelayan itu terputus. Sima rui kembali berbicara sama sekali tak memberikan kesempatan pada pelayan tersebut untuk menyangkal atau membela diri.
"Berhenti bicara omong kosong. Apa menurutmu aku percaya. Sekarang katakan semuanya, cepat! atau kau akan menyesalinya. "
Sima rui di kenal sebagai jenderal dan pahlawan perang bukan tanpa alasan. Setelah bertahun-tahun berada di medan perang. Hal itu secara alami mengasah Instingnya. Ia memiliki kepekaan terhadap bahaya lebih baik dari siapapun. Selain itu ia mampu membaca ekspresi lawannya. Jadi ketika melihat ekspresi pelayan tadi, Sima rui tahu bahwa ia sedang berbohong. Apa lagi mengingat kenyataan tentang istrinya yang bukan seorang wanita lemah. Ia yakin bahwa jika pun ada bahaya istrinya tersebut akan mampu melawannya.
' Bahkan istriku mampu menghancurkan pasar gelap lingguang. Apalagi hanya beberapa penjahat kecil. '
Pelayan itu berakhir dengan jalan buntu. Membayangkan amarah Sima rui yang menakutkan. Pelayan itu akhirnya mengaku dan mengatakan semuanya. Ia berharap setidaknya dengan kejujurannya, Sima rui tak akan memberikan hukuman yang terlalu berat.
" Rong....Feiyue... " Ucap Sima rui pelan. Namun penuh kebencian dalam matanya.
" Sekarang kau panggil putra mahkota kemari. Katakan saja sesuai dengan apa yang kau katakan padaku. "
" Ingat jangan bermain trik denganku. Atau tak hanya kau yang akan mendapatkan siksaan dari ku tapi juga seluruh keluarga mu. " Ancam Sima rui.
Pelayan itu mengangguk ketakutan. Ia hanya bisa pasrah mengikuti perintah Sima rui.
Kemudian Sima rui memanggil junyi. Pengawal setianya yang tak pernah jauh darinya itu langsung datang menghadap.
__ADS_1
" Nyalakan dupa halusinasi. Berikan rong feiyue obatnya sendiri. "
Junyi sedikit ragu, dan hal itu tak luput dari pandangan Sima rui. " Ada apa? Apa kau memiliki hal lain yang ingin kau katakan? " Tanya Sima rui.
" Maaf pangeran, saya hanya berpikir apakah tak akan menimbulkan masalah. Saya hanya takut hal ini merusak hubungan anda dengan mantan jenderal. Mengingat beliau adalah guru anda dan rong feiyue cucu kesayangannya. Apa ini tidak akan menyinggungnya? "
Tak ada perubahan dari raut wajah Sima rui. Ekspresinya dingin. " Lakukan saja. "
Junyi tak ingin memancing amarah Sima rui. Ia tahu saat ini tuannya sedang sangat marah. Jika itu orang lain sudah pasti Sima rui tak akan membiarkannya berakhir dengan mudah. Bisa di pastikan siapapun itu pasti akan mengalami pembalasan yang menyakitkan.
Sima rui menatap kepergian junyi. Karena memandang gurunya maka Sima rui melepaskan rong feiyue dan hanya memberikan hukuman kecil untuknya. Lagipula hukuman yang ia berikan akan membuatnya menjadi wanita nomor satu di negeri wei. Bukankah itu sebuah berkah.
flashback off
********
Setelah mengantar ziyan kembali, Sima rui pergi ke suatu tempat. Tak ada yang tahu tempat ini kecuali para penjaga bayangan Sima rui dan juga junyi.
Segera dua pria dengan tangan terikat dan mulut tertutup rapat diseret masuk. Keduanya tersungkur tepat di depan Sima rui.
Bawahan Sima rui mengambil kursi untuk tuannya itu duduk. Sima rui duduk dan memandang kedua pria yang tersungkur di depannya.
Kedua pria itu meronta melihat Sima rui yang berada di hadapan mereka.
" Buka penutup mulutnya. "
Keringat dingin mengalir di kening dan punggung keduanya. Mereka ketakutan ketika melihat sosok Sima rui. Wajah dingin dan tatapan intimidasi Sima rui mampu membuat siapa pun bergidik takut. Wajar saja jika mereka ketakutan, pasalnya, Sima rui yang di kenal oleh kebanyakan orang karena prestasinya dalam peperangan dan juga ketampanannya itu menyembunyikan jiwa iblis di dalam dirinya. Sedikit orang yang tahu bagaimana kejamnya Sima rui terhadap Lawan-lawannya.
" Yang mulia maafkan kami. Kami hanya di perintah seseorang untuk menakut-nakuti wangfei. Sungguh kami tidak bermaksud menyakitinya. " Dengan suara gemetar salah satu pria itu meminta pengampunan.
__ADS_1
Sima rui hanya mengangkat salah satu sudut bibirnya.
" Tak berniat menyakiti katamu? Jika istriku wanita lemah apa menurutmu yang akan terjadi. " Dengus Sima rui.
Kedua pria itu menggigil ketakutan. Tentu saja jika ziyan tak berhasil mengalahkan mereka. Justru ziyan yang akan terjebak bersama mereka. Dan ketika orang-orang mulai datang dan melihat semuanya maka mereka akan menganggap Ziyan adalah wanita murahan yang tak bermoral. Dan kesempatan rong feiyue untuk memasuki istana Sima rui semakin besar.
" Maafkan kami Yang mulia. Tolong maafkan kami. Kami hanya menuruti perintah nona Rong. "
" Itu benar Yang mulia. Tolong ampuni kami. "
Kedua pria itu bersujud hingga membenturkan kepalanya berulang kali. Mereka benar-benar menyesali kebodohan mereka. Jika saja mereka tak tergiur dengan jumlah uang yang ditawarkan feiyue. Pasti hidup mereka tidak akan berakhir seperti saat ini. Namun nasi sudah menjadi bubur. Percuma juga menyesali apa yang sudah terjadi.
" Saat kalian memutuskan untuk menyerang istriku. Maka saat itu juga seharusnya kalian sudah bersiap dengan konsekuensi yang akan kalian terima. " Tekan Sima rui.
"Seret mereka dan berikan pada harimau ku. Sudah cukup mereka berpuasa. Jadi mereka akan sangat senang karena mendapatkan dua daging segar. "
Mendengar nasib mereka yang akan menjadi makanan harimau. Ketakutan mulai menjalar di seluruh tubuh. Lebih baik mereka mati dengan pedang, dari pada harus menjadi makanan hewan buas itu. Tak terbayang lagi rasa sakit yang akan mereka terima. Mereka akan mati secara perlahan dengan rasa sakit tubuh yang terpotong.
Mereka terus meronta dan memberontak ketika para penjaga menyeret mereka. Dan tak lama terdengar raungan harimau dan jeritan kesakitan dari kedua pria itu.
Sima rui hanya bisa melampiaskan kebenciannya terhadap rong feiyue pada kedua pria itu. Ia tak bisa melakukannya pada rong feiyue karena menghormati kakek rong.
Dibelakang Sima rui, Junyi dan aying yang melihat kembali kekejaman Sima rui hanya bisa menahan napas mereka. Meski mereka tahu bagaimana kejamnya Sima rui. Tapi itu sudah lama sejak terakhir kali mereka melihatnya.
" Apakah kesalahan dua orang itu. Kenapa pangeran sangat marah? " Tanya aying pada junyi. Ia baru saja kembali dari misi nya, jadi sama sekali tidak mengetahui perihal rong feiyue.
" Tentu saja pangeran marah. Kedua orang itu hendak melecehkan wangfei. Orang yang paling di puja oleh Yang mulia. Dan sekarang mereka harus menerima nasib buruk mereka. Lihatlah demi beberapa tail perak. Mereka rela bertemu raja iblis. Kalau sudah begini, hanya bisa menyalahkan orang yang menyuruh mereka. " Jelas junyi.
" Pantas saja. Berani menyerang wangfei. Apa mereka tak tahu bahwa wangfei adalah penjinak iblis. "
__ADS_1
Junyi mengangguk setuju dan keduanya menghela napas karena kembali sadar bahwa tuan yang mereka layani adalah iblis. Setelah lama amnesia karena pengaruh ziyan yang mampu menenangkan Sima rui.