
Xu xiang melangkahkan kakinya dengan cepat meninggalkan rumahnya.
Ia sungguh tak menyangka akan mendengarkan rencana gila kakak dan ibunya. Bagaimana bisa mereka begitu tidak tahu malu berpikir untuk memanfaatkan A Guang dan menjadi serakah.
Setelah ia membantu melunasi hutang kakaknya bukan ucapan terima kasih yang mereka berikan. Mereka justru semakin menggila.
Awalnya Xu xiang memang ingin menolak bantuan A Guang. Namun pria itu terus mendesak dan pada akhirnya ia memilih untuk menerima tawaran bantuan tersebut.
Karena ia sudah mengundurkan diri dari akademi, otomatis ia tidak bisa bekerja menyalin buku untuk para murid lagi namun ia masih bisa bekerja di toko buku terdekat sebagai juru tulis. Meski upahnya tidak seberapa, setidaknya ia tidak harus bekerja dengan perasaan was-was setiap harinya.
Xu xiang melangkah tak tentu arah. Jujur ia sendiri tak tahu harus kemana. Namun jika harus kembali saat ini, ia sungguh tak mau. Apa lagi menjadi alat bagi ibu dan kakaknya.
Di tengah lamunannya, tiba-tiba Xu xiang mendengar perdebatan dua orang.
" Kenapa kau baru mengatakannya? jika kau pergi seperti ini, dimana aku harus mencari pengganti mu sekarang? sementara kita harus berangkat besok. "
" Maaf tuan. Tapi istri ku membutuhkan ku saat ini. Ia akan segera melahirkan sedangkan perjalanan ke shu membutuhkan waktu lama untuk kembali. "
" Huft.. kalau begitu kau sebarkan pengumuman bahwa kita mencari seorang administrator untuk serikat dagang kita. Kalau bisa malam ini juga kau harus menemukannya. "
Wajah pria itu berubah panik. Bagaimana bisa ia menyelesaikan tugas mustahil tersebut. Sedangkan mereka harus berangkat saat fajar yang akan datang beberapa jam lagi.
Dan malam-malam seperti ini, bagaimana orang akan membaca pengumuman sedangkan mereka justru tengah terlelap merajut mimpi.
Sulit mencari pekerja dalam hitungan jam semetara pekerjaan itu membutuhkan keahlian khusus seperti menulis dan mengerti pembukuan. Sementara di zaman ini, kemampuan itu masih tergolong jarang. Jika pun ada, mereka akan memilih bekerja di tempat yang dekat dengan keluarga.
Xu xiang melihat pria itu tampak frustasi. Samar-samar ia mendengar bahwa mereka membutuhkan pekerja.
' Apa aku mencobanya saja? tapi tadi ia bilang mengenai perjalanan ke shu. Apakah itu berarti mereka pedagang dari shu? ' Xu xiang mulai memikirkan ide gila yang mungkin saja bisa mengubah hidupnya.
Semenjak serikat dagang Zi membuka jalur sungai. Perdagangan antar kerajaan melalui jalur sungai pun semakin ramai.
Transaksi dari Kerajaan Shu menjadi transaksi utama dengan transaksi terbanyak. Karena itu tidak heran sekarang banyak pedagang kerajaan Shu yang berada di Kerajaan Jin.
" Apa kalian membutuhkan seorang administrator? maaf aku tidak sengaja mendengar percakapan kalian? " Xu xiang datang menyela.
" Benar. " Pria yang Xu xiang yakini sebagai pimpinan kelompok dagang tersebut menjawab.
" Apakah ada syarat khusus untuk melamar? Jika boleh apakah wanita juga bisa menjadi administrator kalian? "
Pemimpin kelompok dagang tersebut menangkap arah maksud pertanyaan Xu xiang.
__ADS_1
" Kau ingin melamar? " Ia balik bertanya.
Xu xiang mengangguk pasti.
" Apa yang kau bisa? "
" Aku bisa membaca, menulis, dan berhitung. Ah, aku juga menjadi juru tulis di sebuah toko buku. Tidak hanya itu aku juga mengatur pembukuan toko setiap bulannya. "
Pemimpin kelompok memegang dagu nya sembari mengangguk. Ia tampak menimbang semua yang dikatakan Xu xiang.
" Kau cukup bagus. Tapi sayang kau seorang wanita dan kami tidak menerima wanita. " Pungkas pemimpin kelompok menolak tanpa ragu.
Sekali lagi, Wanita menjadi objek yang direndahkan. Hal itu tentu saja memukul hati Xu xiang. Ia merasa sebagai kaum yang di rendahkan merasa tertantang untuk membuktikan bahwa wanita juga bisa lebih baik dari laki-laki.
Jadi dengan tegas ia pun berkata. " Tuan. Bukankah kau dilahirkan dari rahim seorang wanita. Tapi kenapa kau begitu memandang rendah kaum yang melahirkan mu? Jika kau begitu menganggap para laki-laki lebih baik kenapa kau tidak meminta mereka melahirkan anak. Jika kau menjawab karena itu sudah menjadi tugas seorang wanita maka kau tidak menjawab. Itu bukan jawaban melainkan pengalihan dari ketidaktahuan. "
Kemudian Xu xiang juga berkata. " Wanita bisa menjadi ahli keuangan karena mereka mengatur pembiayaan rumah tangga. Wanita juga bisa menjadi pengasuh, karena mereka dengan telaten mengurus anak-anak mereka. Wanita bisa menjadi guru, karena disaat anak-anak tidak mengenal apapun. Wanita yang kau sebut ibu lah yang mengajari untuk pertama kali. Lihatlah, dari tiga contoh ini saja kita bisa melihat berbagai macam kemampuan dari wanita. Lalu kenapa saat ini kau menolak ku hanya karena aku seorang wanita? "
Pemimpin kelompok masih diam menatap Xu xiang. Entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang.
Namun tiba-tiba ia tertawa terbahak hingga membuat pria yang berada di sampingnya dan Xu xiang melonjak kaget.
' Ada apa dengannya? apakah ucapan ku lucu menurutnya? ' Batin Xu xiang.
" Ja-jadi aku di terima tuan? " Ucap Xu xiang tidak percaya.
" Tentu saja. Oh iya sebaiknya kau memberitahu pada keluarga mu mengenai keberangkatan mu besok. Karena kita akan kembali ke Kerajaan Jin sangat lama. Jadi akan ku pastikan sekali lagi, apakah kau serius ingin melamar kerja di sini? "
" Tentu. Aku sangat siap. "
" Bagus. Segera kembali dan jangan lupa datang lagi pada esok hari. "
Xu xiang pun segera pergi. Ada beberapa hal yang harus ia lakukan malam ini. Jadi malam ini, ia akan sangat sibuk.
" Tuan sepertinya kau melupakan sesuatu? " Tanya mantan bawahan pemimpin kelompok.
Pemimpin kelompok mengangguk. " Aku juga merasa begitu. Tapi apa yang ku lupakan? " Ia mencoba mengingat.
" Aku ingat! " Seru mantan bawahan itu.
" Tuan. Kau belum menanyakan namanya. Namun kau begitu saja menerimanya. Apakah itu tidak terlalu terburu-buru? "
__ADS_1
Pemimpin kelompok yang baru sadar hanya bisa menepuk kening dan menyalahkan kecerobohan dirinya.
*********
Sesuai dugaan, ibu dan kakak Xu xiang tengah menunggunya. Ck.. mungkin yang benar adalah menunggu uang yang dibawanya.
Xu xiang tidak bicara dan langsung melangkah menuju kamarnya.
" Xu xiang, apa benar hutang kakak mu di bayar oleh teman mu? " Nyonya Guli tak tahan untuk tidak menanyakan pertanyaan yang sejak tadi membuat mulutnya gatal.
Langkah Xu xiang yang hampir memasuki kamar terhenti. Ia memutar badannya dan melihat kedua orang yang menjadi keluarga dalam nama namun tidak dalam arti yang sebenarnya itu.
Xu xiang menatap Na li. " Kakak, jika kau ingin bercerita sebaiknya kau katakan dengan jelas. Jika kau hanya mengatakan informasi secara terpisah justru akan membuat ibu salah paham. Dan lihatlah, ibu berpikir teman ku yang membayarnya. Padahal kenyataannya aku berhutang padanya dan sedang mencicil membayarnya. " Ucapan Xu xiang masih tampak tenang. Tapi percayalah, dalam hati ia ingin sekali meronta dan berteriak.
Lelah. Itulah satu kata yang pantas untuk menggambarkan kondisi tubuh dan hatinya saat ini.
Na li tidak setuju. " Bukankah artinya sama saja. Kau membayar hutang dengan uangnya. Bukankah itu tidak ada bedanya dengan apa yang ku katakan. " Ia masih merasa bahwa apa yang dikatakannya benar.
Sungguh pemikiran seseorang memang tergantung dengan kualitas otak masing-masing. Dan terbukti dari Na li. Xu xiang merasa seolah dirinya sedang berbicara bukan dengan manusia.
Xu xiang membuang napas kasar. Ia memenangkan dirinya agar tidak mengamuk.
" Terserah apa menurut mu itu. Aku lelah. " Lalu ia menatap nyonya Guli. " Aku sedang menyicil hutang tersebut. Jadi, tolong ibu buang jauh-jauh pikiran bahwa semua hutang bajingan itu sudah selesai. Dan nasehati putra kesayangan ibu itu, dari pada sibuk berjudi lebih baik mengasah otaknya agar tidak semakin tumpul. "
Setelah mengatakan itu Xu xiang segera menutup pintu kamar. Na li yang baru saja tersadar dirinya di hina sudah berwajah merah karena emosi.
" Anak sialan. Kemari kau! keluar! " Bentak Na li. Ia bahkan menggedor pintu kamar Xu xiang.
Xu xiang memejamkan matanya. Emosinya kini membuat darahnya mendidih. Siapapun mungkin bisa melihat asap keluar dari kepalanya.
Hanya menunggu sampai pintu kamar Xu xiang roboh dan ia berjanji akan memukul habis kakak bajingannya.
" Hentikan! apa kau mau merusak pintu itu. Biaya renovasi sangat mahal. " Hati nyonya Guli sakit melihat pintu kamar putrinya digedor seperti itu. Bukan karena takut putrinya terluka melainkan ia sakit hati jika harus mengeluarkan uang yang mereka anggap berharga itu untuk hal tidak penting seperti renovasi. Ia lebih suka jika uang tersebut dihabiskan untuk membeli arak.
Di dalam kamar, Xu xiang sedang mengepak pakaiannya. Ia tidak akan membawa semuanya. Tanpa sadar ia meninggalkan beberapa lembar berharap ketika sang ibu merindukannya. Ia akan melihat pakaian miliknya yang ia tinggalkan tersebut.
Ia tersenyum getir. Ketika tersadar akan tindakan dan juga harapan bodohnya tersebut.
" Bahkan sampai akhir pun aku masih berharap kasih sayang ibu. " Gumamnya pelan.
Ia mengusap air matanya, kemudian menulis sebuah surat yang akan ia serahkan pada A Guang.
__ADS_1
Ia tidak tahu tempat tinggalnya. Jadi ia akan menitipkannya pada pihak akademi.
' Aku harap saat bertemu lagi. Aku bisa sepenuhnya melupakannya. ' Batinnya berharap.