
" Karena itulah jangan sampai ayah dan kakak tahu. Aku mengajak mu karena mereka tidak mungkin mengijinkan aku masuk ke Akademi jika seorang diri. Karena itu... "
" Karena itu kau mengajak ku masuk ke sini. Ini benar-benar sebuah konspirasi gila." Sela A Guang kesal.
Ia bahkan tak lagi menatap A Hua dan segera beranjak keluar kelas.
A Hua pikir keponakan besarnya itu marah, jadi ia masih mematung di tempat yang sama.
" Kenapa masih diam, Kau harus jelaskan padaku bi. Ingat kau masih memliki hutang penjelasan padaku. "
Jika biasanya A Hua akan marah saat pria besar di depannya itu memanggilnya bibi. Tapi untuk saat ini ia hanya bisa mengalah dan mengikuti langkah A Guang. Dari pada ia merajuk lalu memilih kembali ke istana dan meninggalkannya sendiri.
Dan yang terparah adalah ia akan mengadukan semuanya pada sang ayah dan kakak tercinta.
" Kau mau apa? " A Guang bertanya dengan tatapan kesal saat melihat shenshen mengikuti langkah mereka.
" Bukankah kalian berdua akan keluar menuju tempat berkuda. Kenapa kita tidak pergi bersama saja. "
Shenshen berbicara seolah dirinya tidak tahu apapun, meski ia sendiri sempat mendengar apa yang sedang mereka bicarakan. Sebenarnya ia tidak peduli dengan masalah A Hua. Ia hanya ingin berdekatan dengan A Guang. Pria tampan yang diam-diam sudah mencuri perhatiannya.
A Guang bukan pria bodoh yang tak tahu maksud gadis itu. Ia yakin bahwa gadis itu mencoba mendekatinya. Semenjak di ruang makan tadi, sudut matanya selalu menangkap shenshen yang diam-diam memandanginya.
Mengingat gadis itu adalah teman sekamar bibinya, jadi ia masih dengan sopan tak ingin mengungkap maksud terselubungnya.
" Tidak. Aku masih ada urusannya dengannya. Jadi pergilah dengan yang lain. " Balas A Guang lalu pergi begitu saja tanpa melihat raut wajah kecewa shenshen.
Setelahnya A Guang berjalan ke arah samping, dibelakangnya A Hua dengan patuh mengikuti seperti anak itik.
" Sekarang katakan bagaimana bisa kau bertemu dengan guru muda itu? Apa selama ini kalian diam-diam menjalin hubungan terlarang? " Serang A Guang begitu mereka tiba di lorong sepi tak jauh dari ruang kelas.
A Hua menganga mendengar pertanyaan A Guang.
' Apa katanya, hubungan terlarang? apakah imajinasinya begitu liar hingga mampu berpikir hal konyol tersebut? ' A Hua benar-benar ingin sekali membedah isi kepala keponakannya itu.
__ADS_1
" Apa maksud mu itu. Bahkan aku sendiri justru ragu ia mengenal ku. Hubungan kami tidak seperti apa yang kau pikirkan. Aku memang menyukainya tapi ini hanya perasaan sepihak saja. Aku yakin dia tidak menyukai ku. " Lirih A Hua menunduk. Hatinya mendadak sesak saat mengatakan fakta tersebut.
Gadis yang menurut semua orang memiliki kecantikan nomor satu dan mampu menjungkirbalikkan kerajaan Jin itu mengalami cinta yang bertepuk sebelah tangan. Siapapun yang mendengar pasti tak akan mempercayainya. Para wanita mungkin akan menertawakannya, namun tidak dengan para pria yang akan mengutuk laki-laki yang berani menolak satu-satunya putri kerajaan jin tersebut.
" Pertama kali melihatnya, saat acara penyambutan para lulusan ujian Kekaisaran. Saat itu tanpa sengaja ia menolongku yang saat itu berniat keluar istana dengan memanjat dinding. Namun naas, karena alas sepatu yang licin, aku tergelincir dan jatuh. Beruntung saat itu Guru Yan zheng ada di sana dan menolong ku. Setelah itu.. "
" Setelah itu kau jatuh cinta pada pandangan pertama dengannya. Begitu bukan maksud mu. " Sela A Guang, meskipun A Hua belum menyelesaikan ceritanya.
A Hua menggeleng. " Mana ada cinta pada pandangan pertama. Jika itu terjadi maka itu bukanlah cinta melainkan nafsu. " Dengus A Hua, ia kesal karena A Guang seenaknya saja memotong ucapannya. Kebiasaan buruk yang selalu dilakukannya karena sifat tidak sabarannya.
" Lalu? "
" Karena itu dengarkan sampai aku selesai. Baru setelah itu kau bisa berbicara. "
" Maaf. Silakan lanjutkan ceritanya bi. " A Guang tersenyum melihat kebiasaan buruknya yang membuat bibinya kini malas untuk meneruskan ceritanya.
A Hua memutar bola matanya malas.
Kemudian A Hua kembali memohon. " Karena itu aku mohon jangan katakan pada ayah, maksud ku kakek mu. Aku tak ingin mengacau karir yang sudah susah payah di bangunnya di sini. "
Mendengar permohonan bibinya, A Guang hanya bisa menghela napas dan mengangguk.
' Mungkin aku bisa menyembunyikan ini dari kakek. Tapi tidak dari ayah. Apa menurut bibi, aku bisa menyembunyikan sesuatu darinya. Bahkan berapa jumlah lubang semut di istana saja aku yakin ia mengetahuinya. ' Batin A Guang.
Di saat keduanya begitu fokus dengan pembicaraan mereka. Ada telinga lain yang diam-diam menguping dengan salah satu sudut bibirnya yang terangkat.
Sementara di tempat lain.
Sima rui baru saja mendapatkan laporan dari penjaga bayangan yang ia minta untuk mengawasi Putra dan adiknya.
" Hm.. jadi A Hua sudah bertemu dengannya. " Gumam sima rui tanpa sadar.
" Siapa yang bertemu? " Ziyan datang ke ruangan suaminya tak lama berselang setelah Aying mengantar laporannya.
__ADS_1
" A Hua.. " Sima rui tersenyum tipis sembari menyerahkan laporan di tangannya.
Ziyan membaca sekilas. Sudut bibirnya ikut naik ke atas, mengetahui bahwa sang adik ipar sudah bertemu dengan pria yang menjadi tambatan hatinya selama ini.
" Kau sebenarnya tahu mengapa adikmu ingin pergi ke akademi. Tapi kau tak melarangnya. Apakah itu karena kau setuju dia memiliki hubungan dengan Yan zheng? "
" Jika aku melarangnya, akankah ia dengan patuh diam di istana? aku rasa A Hua dan bajingan kecil itu akan tetap pergi ke akademi secara diam-diam. "
Ziyan tertawa. Bahkan suaminya masih saja menyebut A Guang yang sudah besar dengan bajingan kecil.
" Aku mengijinkan A Hua bukan berarti aku juga setuju dengan Yan Zheng. Aku hanya masih melihatnya. Setidaknya Yan zheng bukan salah satu dari pria brengsek di luar sana. Apa lagi yang terpenting adalah dia menghormati istri ku. "
ziyan mengerutkan keningnya, lalu mengingat satu fakta dari laporan yang tadi di bacanya.
" Apa karena dia salah satu anak yang dulu ku tolong saat di pasar gelap lingguang? "
Sima rui mengangguk. " Itulah juga yang menjadi dasar kenapa ia memilih mengajar di akademi milik mu. Alih-alih menerima tawaran ku menjadi pejabat istana. Ia dengan berani menolak tawaran kaisar dan dengan tegas mengatakan bahwa ia akan membalas jasa orang yang sudah menolongnya. Dari hal tersebut sudah bisa ku lihat bahwa dia bukan salah satu dari orang-orang yang menjadikan dirinya budak kekuasaan seperti yang lain. " Jelas Sima rui.
" Menarik. " Tanpa sengaja ziyan mengutarakan penilaiannya.
Hal itu tentu tidak bisa di terima oleh suami posesifnya.
Menyadari bahwa ia telah menyiram cuka pada suaminya. Segera ziyan mengoreksi ucapannya.
" Tapi tidak lebih menarik dari suami ku tentunya. " Ziyan tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya.
" Istri ku. Apakah aku harus menghukum mu karena menganggap pria lain menarik? " Satu alis Sima rui terangkat.
Jika sudah begini maka, tak ada gunanya ziyan mengelak. Jadi alih-alih berkelit, ziyan justru maju ke depan lalu menarik baju Sima rui ke arahnya.
" Aku rasa menerima hukuman di sini tidak terlalu buruk. Sesekali mengganti suasana tempat bisa memicu adrenalin. "
Mendengar lampu hijau dari istrinya. Tanpa ampun Sima rui langsung memberikan hukuman yang membuat ziyan menjerit dan mende**h.
__ADS_1