
Semua orang di aula memandang yuefeng dengan pandangan tak percaya. Mo yincheng sudah mengungkapkan semua kejahatan yuefeng. Dari meracuni yaner tiga tahun lalu, menggunakan obat halusinogen untuk menjebaknya, dan terakhir menggunakan racun yang sama untuk kembali meracuni yaner.
Nyonya mo tak menyangka orang yang membunuh putrinya tak lain adalah orang yang selalu di anggap adik oleh putrinya ini.
" Katakan. kenapa kau ingin membunuh putriku? bukankah kami selalu baik padamu. " Nyonya mo benar-benar ingin tahu, alasan apa yang membuatnya bisa berbuat begitu kejam.
"Baik? Kalian sebagai keluarga utama selalu menganggap keluarga cabang parasit. Sejak kecil yaner selalu saja mendapatkan hal terbaik, bahkan pertunangan dengan pangeran pertama juga. Karena dia dari keluarga utama, dia bisa bertunangan dengannya. Apanya yang keluarga mo memandang sama semua anggota keluarga. Tidak ada keluarga cabang ataupun keluarga utama. Tapi bukankah tetap saja sebagai keluarga utama, Yaner bisa mendapatkan semuanya. Kalian semua sama, sekumpulan orang munafik yang bertindak sok baik."
Setelah mengatakannya, yuefeng tertawa keras. Ia tampak seperti orang stres yang sudah terpojok.
"Kau menyalahkan kami atas perasaan irimu. Lucu sekali. Apa yang membuatmu merasa lebih baik dariku? " Ziyan tak tahan untuk mengungkap kebodohannya karena begitu mudah di manipulasi oleh orang lain. " Apakah kau pikir karena aku berasal dari keluarga utama makanya bisa bertunangan dengan pangeran pertama? Bukan. Itu karena kau yang bodoh bisa dengan mudah dimanipulasi oleh seorang pelayan. Bagaimana bisa wanita yang akan menjadi istri seorang jenderal besar digunakan oleh orang lain."
"Apa maksudmu? siapa yang digunakan oleh orang lain. Kau jangan bicara omong kosong. Kau hanya asal membuat alasan hanya untuk membuatku terlihat bodoh bukan? " Yuefeng tak percaya bahwa ziyan akan membuat alasan tak masuk akan untuk membuatnya terlihat tak pantas sebagai istri pangeran pertama.
"Tidak. Semua yang dikatakan yaner benar. Aku sudah menyelidiki asal usul xun ai. Jika ia hanya orang biasa. Bagaimana bisa ia mendapatkan racun Pelahap jiwa yang sangat sulit di dapatkan. Karena ini menyangkut kekuatan militer Kerajaan jin. Aku tak akan membahasnya di sini. Kau hanya perlu tahu bahwa kau sudah di manfaatkan olehnya." Mo yincheng memandang yuefeng dengan ekspresi merendahkan.
Yuefeng tak percaya dengan yang baru saja didengarnya. Kebodohannya karena dengan mudah di manfaatkan oleh pelayannya. Konyol. Yuefeng menatap tajam xun ai. " Apa itu benar? "
Xun ai hanya menatap yuefeng, diam sejenak lalu mulai tertawa sinis.
__ADS_1
Tindakan xun ai itu tentu saja memancing emosi yuefeng. Dirinya ingin sekali menerjang xun ai lalu mencekiknya. Bahkan ibunya, han jian yang sejak tadi memegangnya tak sanggup menahan tubuh yuefeng.
Xiaoqi yang mendapatkan sinyal anggukan dari tuan mo segera menyeret xun ai yang terikat itu dan membawanya pergi.
Yuefeng masih meronta berniat menyerang xun ai, sambil berteriak memakinya. Kali ini yuefeng benar-benar tampak seperti orang gila. Tampak raut wajah kecewa Mo Qingchen memandang yuefeng. Sebagai seorang ayah, dirinya merasa gagal mendidik anaknya. Ia merasa bersalah sekaligus malu dengan kakaknya yincheng. Karena itu ia tak akan menentang apapun keputusan kakaknya untuk menghukum yuefeng.
Sejujurnya yincheng ingin sekali memberikan hukuman mati untuk yuefeng. Tapi semua anggota keluarga kecuali istrinya menganggap bahwa yaner masih hidup. Mereka tidak tahu bahwa yaner yang sebenarnya sudah tiada. Jadi mereka akan berpikir sangat tak adil jika memberi hukuman mati padanya.
"Yuefeng. Sebagai kepala keluarga, aku berhak menghukummu. Karena kau berulang kali berniat membunuh saudaramu sendiri. Maka aku tak ada pilihan lain selain mengeluarkanmu dari keluarga mo. Kau tak di izinkan menginjakan kakimu di kediaman ini lagi. Kau juga di larang membawa apapun dari kediaman mo. Apakah ada yang keberatan dengan keputusanku." Yincheng memandang semua anggota keluarganya. Terutama adiknya, Qingchen. Ia tahu bagaimana perasaan adiknya sekarang. Bagaimanapun yang ia hukum adalah putrinya.
Han jian menolak hukuman yuefeng. Ia menuntut yincheng agar mengubah hukumannya. " Kakak ipar. Tolong kau rubah hukuman yuefeng. Anggap saja aku memohon padamu. Lagipula bukankah yaner baik-baik saja. " Hanjian berlutut sambil menangis.
"Diam kau! sebagai kepala keluarga kau tak bisa melakukan apapun. Bahkan melihat putrimu dihukumpun kau hanya diam saja. Dasar tidak berguna. Apakah kau pernah memberikan apa yang aku inginkan. Kau selalu menjaga kejujuranmu tanpa memperdulikan keinginan istrimu. Aku hanya ingin suamiku memiliki status dan kedudukan tinggi , bukan hanya seorang pejabat rendahan. Aku sudah muak denganmu. "
PLAKK! !
Sebuah tamparan mendarat di pipi hanjian. Qingchen menatap tangannya yang gemetar. Ini kali pertama ia menampar istrinya. Selama pernikahannya, ia bahkan ia tak pernah sekalipun meninggikan suaranya. Menurutnya dengan menghormati dan mencintai istrinya sudah cukup untuk membuatnya bahagia. Tapi ternyata ia salah, bagi istrinya itu semua tak ada apa-apanya dibandingkan dengan status dan kedudukan tinggi.
"Qingchen..... beraninya kau menamparku. Aku sudah muak denganmu! aku ingin kita bercerai! " Han jian berteriak sambil memegangi pipinya yang masih tampak merah.
__ADS_1
Chufeng hanya bisa menahan air matanya agar tak keluar, sementara yifeng menutup matanya seakan ia tak melihat perkelahian kedua orang tuanya. Hanya nyonya tua yang menangis melihat kehancuran keluarga anaknya tersebut.
Qingchen yang mendengar keinginan istrinya untuk bercerai hanya diam memandangnya. Lalu ia pergi meninggalkan aula. Sementara hanjian masih berteriak memanggil nama suaminya. Bahkan sampai bayangan Qingchen tak terlihat, hanjian masih mengutuk suaminya.
Mo yincheng tak ingin terlalu lama melihat drama keluarga adiknya ini. Jadi ia pun kembali bertanya dengan anggota keluarga yang tersisa di aula " Jadi apakah ada yang keberatan dengan keputusanku? "
Melihat semua orang diam dan tampak menutup mata dengan hukuman yang ia berikan, maka yincheng segera memerintahkan pengawal kediamannya untuk segera mengusir yuefeng keluar dari kediaman. Hanjian memegangi tubuh putrinya yang hendak di bawa oleh para pengawal. Tangis yuefeng yang meminta tolong ibunya membuat hati hanjian terasa teriris. Ia sangat sedih melihat anaknya diseret tepat di depan matanya.
Hanjian masih menangis di tengah aula sambil bersimpuh di lantai. Tak lama Qincheng datang kembali ke aula. Ia membawa sebuah amplop di tangannya. Tepat ketika ia berhenti di depan hanjian, ia melempar amplop itu padanya, amplop yang bertuliskan kata cerai.
Semua orang terkejut dengan tindakan Qingchen. Hanya yifeng yang masih begitu santai menyesap tehnya. Ziyan menangkap sikap yifeng yang terlalu santai itu. Sepertinya ia sudah menduga hal ini akan terjadi. Apakah memang dari awal sudah ada keretakan dalam pernikahan mereka?
"Karena kau sudah muak denganku dan menganggapku sebagai suami yang tak pernah memberikan keinginanmu. Sekarang akan ku kabulkan keinginanmu untuk bercerai. Mulai sekarang kau tak lagi bagian dari keluarga ini. " Qingchen yang biasanya cenderung diam, kini terlihat begitu tegas.
Hanjian tak percaya suaminya akan benar-benar menceraikannya. Ia mengambil amplop tersebut. Masih menatap tak percaya bahwa amplop ini berasal dari tangan suaminya. Han jian tertawa sambil menangis. Entah tertawa sedih atau tertawa bahagia, tak ada yang tahu.
"Meski kau menceraikanku. Kau tetaplah pecundang dimataku. " Ia berdiri, lalu menatap dan menunjuk chufeng. " Dia. Kau akan menyesal sudah menyayangi anak ini. " Hanjian tertawa puas. Ia berjalan keluar dengan terhuyung seakan setengah jiwanya baru saja pergi meninggalkan raganya.
Chufeng tak mengerti kenapa ibunya sangat membencinya. Bahkan hingga saat terakhirnya berada di kediaman mo, ia masih saja mengutuk dirinya. Terlihat wajah sedih chufeng, yang disadari juga oleh yifeng. Ia memeluk adiknya itu dan seketika tangis chufeng pecah.
__ADS_1
Aula utama kini berubah menjadi aula perpisahan bagi keluarga Qingchen. Dalam sekejap ia kehilangan putri dan istrinya.