
A Guang tidak langsung membawa Xu xiang kembali ke rumahnya. Ia membawa gadis itu ke sebuah penginapan dan mengirim tabib untuk mengobati lukanya.
" Kenapa kau membawa tabib pria. Apa kau tidak tahu bahwa pasiennya adalah seorang wanita? " A Guang tak tahan untuk tidak mengkritik pelayan yang ia perintahkan untuk mencari tabib tersebut. Namun bukan tabib pria dalam pikiran A Guang. Ia menginginkan seorang tabib wanita yang tentunya masih sangat jarang jumlahnya.
" Maaf tuan muda. Anda hanya meminta saya mencari tabib. Jadi tanpa peduli pria atau wanita saya mencoba mencarinya secepat mungkin. "
Meski sekilas pelayan itu seolah merasa bersalah namun dalam hati ia mengutuk A Guang.
' Jika seorang tabib memeriksa pasien sesuai dengan jenis kelamin mereka bukankah dunia ini akan terlalu banyak tabib pria yang menganggur. '
Dengan perbandingan 1 : 10 , tabib wanita akan lebih sibuk dari pada tabib laki-laki.
" Kalau begitu kau carilah tabib lain dan kali ini usahakan harus tabib wanita. Aku tak ingin pria lain melihat tubuh teman ku. Apa kau mengerti? " Tekan A Guang.
Pelayan yang kesal itu mau tak mau patuh dan mencatat semua kata-kata A Guang di kepalanya.
Beruntung A Guang sudah memberikan uang cukup banyak pada pelayan itu. Jika tidak mungkin pelayan itu akan menelan A Guang hidup-hidup karena begitu pemilih seperti wanita.
Segera pelayan itu mengajak tabib pria yang ia bawa sebelumnya untuk pergi. Ia akan berusaha mencari tabib lain sesuai dengan keinginan A Guang.
" Kau tak perlu memaksanya mencari tabib wanita. Aku tak masalah dengan tabib pria. Bagaimana pun dia berniat mengobati bukan memiliki motif lain. "
Xu xiang berpikir sikap A Guang cukup berlebihan namun ia mencoba berpikir positif mengingat bagian yang akan di periksa mengharuskannya membuka pakaian. Jadi mungkin saja A Guang hanya ingin kepolosannya tetap terjaga.
Pikiran positif Xu xiang tidak sepenuhnya salah. Namun alasan utama yang mendasari tindakan A Guang adalah perasaan cemburu saat membayangkan ada laki-laki lain yang melihat tubuh Xu xiang. Tidak peduli tabib itu seorang pria tua dengan jenggot putih panjang. Baginya ia tetaplah masuk ke dalam spesies yang dinamakan 'laki-laki'.
" Bagaimana bisa kau berpikir terlalu mudah seperti itu. Kau bahkan belum menikah dan kau tidak peduli saat ada laki-laki lain yang melihat tubuh mu. Tidak peduli apa motifnya, ia masihlah menggunakan matanya untuk melihat. " Dan aku tidak menyukainya. A Guang menelan kata-kata terakhirnya. Memalukan jika sampai Xu xiang mengetahuinya.
" Baiklah. Aku tidak akan berdebat dengan mu. " Kata Xu xiang menyerah.
Hampir satu tahun tinggal bersama membuat Xu xiang sedikit banyak paham akan sifat A Guang yang menurutnya terkadang suka memaksakan kehendak.
__ADS_1
Setelah beberapa saat dalam keheningan, A Guang memulai kembali pembicaraan.
" Berhentilah. Aku tak ingin kau bekerja di Lianhua lagi. "
Xu xiang membuang napas dan menggeleng. " Tidak mungkin. Hutang kakak bajingan ku masih tersisa banyak. Jika aku tidak melunasinya maka ibu ku akan kembali mengancam bunuh diri. "
Diam sejenak kemudian kembali berkata, " Aku juga ingin sebenarnya tidak kembali ke tempat menjijikan itu. Jika bisa memilih maka aku akan memilih untuk pergi dan meninggalkan kedua keluarga ku itu. Tapi aku tidak bisa begitu saja meninggalkan mereka. Jika aku pergi begitu saja maka aku akan di cap sebagai anak yang tidak berbakti. Aku hanya bisa pergi saat aku menikah. Dan tak ada keluarga baik-baik yang akan menikahkan putra mereka dengan wanita yang berasal dari keluarga yang bermasalah. "
Xu xiang mengucapkan kalimat terakhir dengan sangat lirih.
A Guang termangu. Dengan situasi keluarga Xu xiang yang sangat berbeda dengan keluarganya membuat pria itu tidak memiliki kata-kata bagus yang bisa menghiburnya. Ia sendiri tak pernah mengalami semua kejadian yang di alami oleh Xu xiang. Jadi ia tidak bisa menempatkan dirinya seperti dia.
" Aku mungkin tak mengerti apa yang harus ku lakukan dengan situasi keluarga mu. Tapi untuk hutang kakak mu, aku bisa membantu mu untuk melunasi nya. "
" Tidak! aku tidak ingin merepotkan mu. " Potong Xu xiang menolak tawaran A Guang.
Pria itu menggeleng. " Kau tidak merepotkan ku. Aku tahu kau tidak menyukai hutang budi. Maka dari itu kau bisa menganggapnya sebagai hutang. Kau bisa membayarnya dengan mencicilnya sedikit demi sedikit. Dengan demikian kau tidak perlu bekerja di lianhua lagi. "
Tak lama pelayan datang dengan seorang tabib.
Senyum A Guang yang sudah mengembang langsung luruh saat melihat pria asing masuk ke dalam kamar mereka.
" Apa lagi ini yang kau bawa. Bukankah aku meminta mu membawa tabib wanita, kenapa kau justru membawa tabib buta. " Sentak A Guang yang sudah terlalu kesal.
" Maaf tuan muda. Tabib wanita tidak ada. Tapi saya sudah membawa tabib sesuai dengan apa yang anda inginkan. Karena anda tidak ingin tubuh teman wanita anda dilihat oleh pria lain. Maka saya menggantinya dengan tabib buta. Bagaimana pun ia tidak akan mungkin bisa melihat tubuh teman anda. "
A Guang hampir muntah darah karena kesal. Sedangkan pelayan itu masih tersenyum puas karena akhirnya ia bisa menyelesaikan perintah tuan muda pilih-pilih di depannya ini.
Xu xiang ingin sekali tertawa, namun ia tak ingin terlihat mengejek kesialan A Guang. Jadi ia memilih untuk membiarkan tabib buta itu mengobatinya.
Karena A Guang merasa tidak yakin dengan kemampuan tabib tersebut. Akhirnya ia memerintahkan seorang pelayan wanita untuk membantu sang tabib.
__ADS_1
*********
Beberapa hari berlalu.
" Bu, apa kau dengar. Bahwa salah satu teman Xu xiang telah membantu ku membayar semua hutang di Lianhua. " Seru Na li pada sang ibu.
Nyonya Guli memandang tak percaya pada putranya. " Benarkah itu? bagaimana bisa ia berteman dengan orang kaya? "
" Tentu saja bisa. Apa ibu lupa bahwa Xu xiang menggantikan ku pergi ke akademi. Aku pikir ia mengenal temannya tersebut saat berada di sana. Adik ku yang bodoh itu seharusnya berterima kasih pada ku karena jika bukan karena menggantikan ku, ia pasti tidak akan memiliki kenalan dari kalangan orang kaya. Bukan malah terus menasehati dan marah-marah. " Dengus Na li kesal.
Ia benar-benar bajingan sejati dimana menganggap keberuntungan yang adiknya dapatkan semua berkat campur tangannya. Namun ia sendiri tidak sadar bahwa ada lebih banyak kesialan Xu xiang yang justru diciptakan olehnya.
" Kau benar. Seharusnya ia berterima kasih pada mu karena bagaimana pun juga berkat menggantikan posisi mu ia jadi bisa menikmati pergaulan bersama kalangan atas. "
Lalu nyonya Guli melanjutkan. " Jika bukan karena kebodohan mu sudah pasti kau lah yang akan menikmati ini semua. Ah sungguh sangat di sayangkan. "
" Sudah lah bu. Lagi pula semuanya juga sudah berlalu. Lebih baik kita manfaatkan teman Xu xiang saja. Aku lihat sepertinya pria itu menyukainya. "
Nyonya guli mengerut keningnya. " Omong kosong apa yang kau bicarakan ini. Siapa yang menyukai Xu xiang? "
Melihat tatapan tidak percaya ibunya, Na li kemudian menceritakan kunjungan A Guang beberapa hari yang lalu saat ibunya mabuk.
" Jika demikian. Kita harus berpegang teguh pada pemuda itu. Jika perlu kita harus memaksanya menikahi Xu xiang. Bukankah jika pemuda itu benar-benar berasal dari keluarga kaya kita akan sangat beruntung. "
" Aku setuju dengan mu bu. " Na li setuju dengan pemikiran ibunya.
Keduanya tertawa puas membayangkan bahwa mereka akan bisa menikmati hidup enak dan bisa bersenang-senang tanpa perlu bekerja keras.
Mereka tidak tahu bahwa pemuda yang hendak mereka permainkan adalah seorang putra mahkota. Entah apa jadinya jika mereka mengetahui fakta tersebut.
Ada telinga lain yang diam-diam mendengar obrolan ibu dan anak itu. Ia mengepalkan tangannya dan pergi meninggalkan tempat tersebut.
__ADS_1