
" Nona, kita sudah membeli apa yang kita butuhkan. Apakah anda ingin membeli yang lain. " Xiao Er bertanya mengingat kesenangan sang nona berbelanja.
" Tidak. Kau tahu kita datang kesini untuk tugas negara, bagaimana bisa aku berbelanja sementara tugas yang A Feng berikan sama sekali belum ku kerjakan. Aku harus menunjukkan tanggung jawab ku Xiao Er. " Ujar A Fei menunjukkan betapa serius dirinya. Xiao Er yang mendengarnya pun kagum dan puas ternyata sang nona sudah lebih dewasa.
Namun detik selanjutnya, A Fei kembali berkata. " Tapi setelah semuanya selesai. Aku pasti akan memenuhi gerbong kereta kita dengan barang-barang belanjaan ku. "
Rontok sudah kekaguman Xiao Er yang tadi sempat tumbuh.
Akhirnya ketiganya memutuskan untuk berkeliling sebentar sebelum kembali ke penginapan dan akan kembali ke desa keesokan harinya.
Seorang anak berlari, dan tanpa sengaja menabrak A Fei hingga makanan yang dibawa anak itu tumpah dan mengotori baju A Fei sedangkan sang anak ikut terjerembab ke belakang.
Terlihat seorang wanita paruh baya berlari dengan wajah panik dan membantu anak itu bangun. Namun alih-alih meminta maaf, karena sang anak yang mengotori baju A Fei, ia justru marah dan menuduh A Fei mendorong putranya.
" Tega sekali kau mendorong putra ku hanya gara-gara ia tidak sengaja mengotori pakaian mu. Dia masih kecil dan tak tahu apa yang dilakukannya. Harusnya kau paham dan memakluminya. " Maki ibu itu, jarinya turut menunjuk-nunjuk A Fei.
Jingu yang tak terima akan perlakuan ibu itu pada A Fei hendak maju dan menyembur marah, namun lengannya segera di tahan oleh A Fei. Dan dengan terpaksa pria itu patuh lalu kembali mundur.
A Fei tidak marah. Wajahnya masih tenang tak peduli meski saat ini mereka sudah menjadi bahan tontonan orang-orang.
" Nyonya, apa kau melihat ku mendorong putra mu? "
" Meski aku tidak melihatnya, tapi aku yakin ada orang lain yang melihatnya. " Jawab sang ibu dengan percaya diri.
" Siapa dari kalian yang melihat ku mendorong anak ini. " Tanya A Fei mengedarkan pandangannya pada orang-orang yang saat ini menonton mereka.
Semua orang saling bertukar pandang. Tak ada satupun yang maju untuk memberi kesaksian.
" Kau Lihat nyonya? tak ada satupun yang melihat aku mendorong putra mu. Asal kau tahu putra mu itu jatuh sendiri. Ia terjatuh karena menabrak ku dan parahnya lagi mengotori pakaian ku. Aku ingin menjelaskan situasi yang sebenarnya tapi kau justru lebih dulu menuduh ku. "
Wanita itu menggigit bibirnya menahan malu.
A Fei kemudian berjongkok dan melihat anak kecil itu. Tersenyum tipis sebelum ia berbicara, " Bocah, lain kali berhati-hatilah. Jangan sembarangan berlari terlebih ketika kau membawa sesuatu di tangan mu. Apa kau mengerti? "
Dengan mata berkaca-kaca anak itu mengangguk sembari menunduk.
A Fei menepuk pelan anak itu, " Kalau begitu kau harus minta maaf pada ku. Bagaimana pun kau sudah berbuat salah. "
" Ma-maaf.. " Cicitnya.
" Bagus. Kau anak yang sangat patuh. " A Fei berdiri dan beralih melihat sang ibu. " Nyonya, apapun masalah yang sedang kau hadapi tak seharusnya kau lampiaskan pada orang lain. Jika suami mu berbuat kasar, kau bisa melaporkannya ke petugas setempat untuk ditindak. Meski dibenarkan seorang suami menghukum istri, tapi jika melakukan pemukulan tanpa adanya alasan yang jelas itu sudah termasuk dengan penganiayaan. "
" Jika petugas tak mau mendengarkan keluhan mu maka bercerailah. Kau harus menjaga kewarasan mu demi putra mu. Kasihan dia jika melihat ibunya harus dianiaya oleh ayahnya. "
Wanita itu menangis mendengarkan saran A Fei dan dengan penuh perhatian, anak kecil itu menenangkan sang ibu.
Saat melihat pemandangan mengharukan ini, tiba-tiba seorang pria paruh baya datang lengkap dengan ekspresi garang. Terlihat sekali bahwa dia sedang sangat marah.
" Dasar ******! kenapa kau lama sekali. Apa kau tidak tahu aku sudah lama menunggu mu. Ayo cepat serahkan uang mu. "
Pria itu mencoba menarik wanita tadi sementara anaknya mencoba menolong ibunya.
__ADS_1
" Tidak ayah, tolong jangan sakiti ibu. "
" Diam kau anak kurang ajar. " dihempaskannya tubuh kecil anaknya hingga terpental.
Sang istri yang melihat anaknya terluka langsung meledak marah. " Kau suami bajingan. Kau hanya tahu mabuk-mabukan dan bermain pelacur. Aku tidak akan memberikan mu uang lagi. Mati saja kau. Aku bersumpah kau akan mati karena penyakit kelamin. "
Entah keberanian dari mana, setelah mendengarkan saran A Fei, wanita itu memiliki kekuatan untuk melawan suaminya. Mungkin karena didorong dengan perlakuan kasar pada anaknya tadi.
"Beraninya kau melawan ku! rasakan ini. " Pria itu mengayunkan tangannya hendak memukul sang istri.
Wanita itu sudah memejamkan matanya pasrah. Tapi tak ada rasa sakit atau suara pukulan. Perlahan ia membuka mata dan melihat A Fei sudah menangkap tangan sang suami yang akan digunakannya untuk memukul.
" Apa kau seorang banci? Kenapa kau memukul wanita. " Ucap A Fei dengan sorot mata tajam. Ia paling benci dengan pria yang begitu mudah memukul wanita.
A Fei hempaskan tangan pria itu seolah itu adalah benda menjijikan yang tak seharusnya ia pegang dan setelah itu barulah ia menolong anak itu.
" Siapa kau? ini bukan urusan mu. Lebih baik kau pergi atau aku juga akan memukul mu. "
" Kau ingin memukulku? Sebelum hal itu terjadi aku akan mematahkan tangan mu terlebih dulu. "
Pria itu terbahak. Ia menghempaskan tangan istrinya dan dengan cepat berjalan ke arah A Fei bermaksud untuk memukul. Sedangkan putri Jin itu justru terlihat acuh tak acuh dengan tangan melipat di dada.
" Arghhh! " Pria itu berteriak kesakitan saat tangannya sudah di pelintir ke belakang. Itu Jingu, dialah yang melakukannya. Dan dengan tangan yang lain, Jingu mematahkan tangan tersebut dengan begitu mudahnya seolah yang sedang ia patahkan adalah serangkaian tulang ayam.
Bahkan A Fei sampai meringis saat melihat proses Jingu mematahkan tangan pria itu, terbayang bagaimana sakitnya.
Sementara istrinya sedang memeluk sang anak yang sedang ketakutan atas sikap ayahnya tadi.
'Ah masalahnya semakin panjang. ' Batin A Fei saat melihat sekelompok petugas berjalan mendekat.
" Ada apa ini? kenapa ada ribut-ribut? " Tanya salah satu petugas.
" Petugas tolong aku. Mereka mematahkan tanganku. " Adu pria itu dengan wajahnya yang sudah pucat menahan sakit.
Si petugas melihat pria itu, kemudian beralih melihat A Fei dan juga Jingu.
" Apa benar yang dia katakan? Kalian sudah mematahkan tangannya? "
" Benar. Pengawal ku yang melakukannya atas perintah ku. Jadi secara tidak langsung akulah yang mematahkan tangannya. " Ungkap A Fei jujur.
Dan dalam sekejap mata, A Fei sudah berpindah tempat ke biro penyidik.
Pengadilan dilakukan secara terbuka dan langsung tanpa adanya proses penahanan terlebih dulu. Terlihat pria yang tadi A Fei patahkan tangannya sedang tersenyum puas karena berpikir nasib A Fei sudah selesai.
" Xiao Er, dimana Jingu? " tanya A Fei saat tak melihat pengawalnya di sana.
" Katanya sedang sakit perut dan akan kembali setelah menyelesaikan masalahnya tersebut. "
"Ck.. Aku tak menyangka perut Jingu sangat pintar. Bisa sakit di saat genting seperti ini. "
Seorang pria dengan jenggot sedang dan memakai pakaian formal datang. Setelah pria itu duduk dengan sempurna, dan pengadilan pun di mulai.
__ADS_1
"Jadi kau melaporkan dia karena mematahkan tangan mu? " Pria yang katanya korban itu mengangguk.
" Betul tuan. Wanita ini memerintah kan pengawalnya untuk mematahkan tangan ku. Tolong bantu agar aku bisa mendapatkan keadilan Tuan. Selain itu aku juga harus mendapatkan ganti rugi untuk pengobatan tangan ku yang terluka. "
A Fei memutar bola matanya jengah. Pria itu bahkan berani memerasnya, lihat saja nanti. A Fei berjanji akan membuat perhitungan. Bila perlu membuat kedua tangannya patah.
Setelah mendengarkan kesaksian si korban. Tatapan hakim beralih pada A Fei. Ia memperhatikan aura tak biasa pada wanita itu. Dan dengan hati-hati bertanya.
" Apa semua yang dikatakannya benar? "
Tanpa ragu, A Fei menjawab. " Benar. Aku memang melakukannya, namun itu karena suatu sebab. Jika dia mengatakannya sebagai penyerangan, maka lain halnya dengan ku yang menganggapnya sebagai pembelaan. Dia lah yang ingin memukul ku terlebih dulu. Banyak saksi mata, jika tuan tidak percaya silakan kau tanyakan pada yang lain. "
Beberapa warga angkat bicara dan membenarkan pernyataan A Fei.
Setelah mendengarkan pernyataan saksi, hakim segera memutuskan bahwa A Fei tidak bersalah dan sebagai gantinya menahan pria itu.
A Fei tercengang dengan kecepatan perubahan situasi tersebut.
" Hei, kenapa justru kalian menangkap ku. Lepaskan aku. Ini pasti ada kesalahan. Bukan aku yang bersalah tapi dia. "
" Berisik! " Salah satu petugas yang lelah langsung memukul pria itu hingga pingsan.
A Fei menggaruk kepalanya bingung. Meski begitu Ia sangat senang karena sesuai dengan keinginannya. Hanya dengan beberapa kata dan bukti keputusan langsung di jatuhkan begitu saja.
" Nona, akhirnya selesai juga. Kita bisa kembali ke penginapan. " Xiao Er berseru.
" Kau benar. Ayo kita kembali. Tapi tunggu sebentar. Dimana Jingu? apakah sejak tadi ia belum kembali juga? "
Xiao Er menggeleng. " Mungkin ia terlalu sakit hingga membuatnya begitu lama. "
"Baiklah mari kita tunggu sejenak. " Xiao Er mengangguk.
" Oh iya nona kau sangat hebat hari ini. Aku juga memiliki sesuatu yang ingin ku tanyakan. Bagaimana kau bisa tahu bahwa suami wanita itu sering memukulinya. "
A Fei kembali mengingat penampilan wanita itu. " Dia sebenarnya wanita yang lembut karena ia terlihat menyayangi putranya. Tadi aku sempat melihat luka ditangannya. Selain itu ada lingkaran hitam di sekitar matanya yang menandakan bahwa wanita itu kurang tidur. Mungkin karena beban yang di pikirannya. Dari situlah aku menduga bahwa ia sering menerima tindak kekerasan. "
*******
Di sisi lain,
" Tuan, kenapa kau membebaskan wanita itu. Bukankah ia memang terbukti mematahkan lengan pria itu. "
Tuan hakim memukul keras kepala asistennya. " Kau memang bodoh. Apa menurut mu aku mengambil keputusan begitu saja tanpa pertimbangan terlebih dulu? "
Diamnya sang asisten menjadi sebuah jawaban. Hakim membuang napas berat sebelum berbicara.
" Wanita itu bukan orang sembarangan dia adalah putri Kekaisaran Jin. Selain itu, salah satu pangeran kita juga mendukungnya. Setelah mendengar ini apa menurut mu keputusan ku salah? "
Sang asisten akhirnya mengerti. Namun kini ia justru memiliki rasa penasaran lain. " Jadi tuan, pangeran mana yang menjadi pendukungnya? "
".... Pangeran ke lima. " Katanya sembari mengarahkan matanya pada sosok pria yang tengah mengobrol dengan A Fei.
__ADS_1
Ya, itu adalah Jingu, Pangeran Ke lima Kekaisaran Nan.