Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 376 Side story ( A Feng story)


__ADS_3

Hingga tengah malam, pengejaran masih berlangsung dan itu justru menjadi semakin besar. Bagaimana tidak, tak lama setelah mengetahui kabar itu, Sima Feng segera memerintahkan sebagian besar pengawalnya untuk mencari pembunuh A Guang tersebut.


" Tangkap orang itu! hidup atau mati kalian harus mendapatkannya! " Perintah Sima Feng. Ia murka dan menyalahkan penjagaan yang di nilai begitu lemah.


Dengan itu, malam yang sunyi seketika berubah ramai dengan keributan tersebut.


Seorang pengawal berlari tergesa-gesa. Begitu ia tiba di istana Sima Feng, salah satu rekannya berkomentar.


" Apa hantu baru saja mengejar mu? kenapa kau berlari dengan begitu terburu-buru. "


" Ini lebih menyeramkan dari hantu. Dimana Yang mulia pangeran. Aku harus melaporkan sesuatu. "


" Beliau ada di ruang kerjanya. Berhati-hatilah, setelah kabar kaburnya pembunuh putra mahkota, suasana hatinya sangat buruk seolah ia bisa menelan siapapun yang ada di depannya. "


Pengawal yang hendak menemui Sima Feng menelan ludah kasar. Resiko menjadi pembawa pesan adalah harus siap dengan amarah yang akan di terima.


Pengawal itu tiba di depan ruang kerja A Feng dan di depan berdiri Ling He.


" Ada apa? " Tanya Ling He dengan nada biasa namun pengawal itu masih saja merasakan tekanan aura dari pengawal pribadi Sima Feng itu.


" Saya ingin melapor bahwa pembunuh itu sudah di temukan, hanya saja... " pengawal itu tampak ragu.


" Katakan! " Sentak Sima Feng yang ternyata sudah berdiri di depan pengawal itu.


Pengawal itu terkejut seolah rohnya melompat keluar. Keringatnya mengucur deras. Pria yang ketakutan itu dengan susah payah berkata, " Lapor Yang mulia, pembunuh itu ditemukan sudah tak bernyawa. "


" Bagaimana bisa? "


" Itu... saat ditemukan, pengawal putri ketiga tengah menusuknya. "


' Jingu? ' Pikir Sima Feng.


Bagaimana bisa pria itu ikut mengejar pembunuh itu?


*********


Jingu melangkah menuju ruang kerja Sima Feng, setelah seorang pengawal datang dan memberitahunya sementara pengawal Sima Feng yang lain mengurus mayat pembunuh itu.


" Anda memanggil saya Yang mulia pangeran? "


Jingu berbicara formal. Semenjak dirinya tinggal di istana, sedikit banyak ia telah merubah cara berbicara sesuai dengan etika istana.


Sima Feng tak ingin berputar-putar jadi ia langsung menanyakan pertanyaan yang menjadi alasan dirinya memanggil pengawal adiknya tersebut.


" Kenapa kau membunuh tahanan yang melarikan diri itu? "


Tak ada keterkejutan di wajah Jingu, Sima Feng menebak bahwa sepertinya Jingu sudah tahu bahwa ia akan bertanya tentang hal tersebut.

__ADS_1


" Maaf Yang mulia, itu saya lakukan secara tidak sengaja. Awalnya, saya akan memanggil pengawal lain namun saat itu ia menyerang dan selanjutnya terjadilah pertarungan. Dan pada akhirnya saya tanpa sengaja membunuhnya. Silakan anda menghukum saya Yang mulia. " Jingu menjelaskan situasi saat itu.


Sima Feng masih bergeming dan hanya menatap Jingu dengan segala pemikiran di kepalanya. Entahlah, hanya dirinya yang tahu.


" Sudahlah. Kau bisa kembali. "


Jingu keluar, tanpa seorang pun sadari satu sudut bibirnya naik. Lalu berbalik dengan wajah yang kembali datar.


**********


Satu bulan berlalu dengan cepat. Banyak kejadian telah terjadi. Sima Feng tetap tinggal di ibukota, meninggalkan Gu Xinzu dan Gu Feifei yang masih terkurung di penjara. Bahkan dari kabar terbaru yang diterima Sima Feng, Gu Xinzu kehilangan kewarasannya. Ia sering berteriak meminta pembebasan, dan setelah itu, tak lama ia akan menangis seolah menyesali keputusannya yang berkhianat.


" Sima Feng, lepaskan aku! kau sudah berjanji akan melepaskan aku dan adikku! LEPASKAN AKU! SIMA FENG ! hahaha.."


" Hiks... hiks... kenapa semuanya menjadi seperti ini. Andai aku tidak salah memilih keputusan. Hiks... hiks... "


Sedangkan Gu Feifei, wanita cantik itu sudah benar-benar gila. Tak ada lagi Gu Feifei yang cantik dengan penampilan menawan. Rambutnya kusut dan acak-acakan. Ia akan tertawa dan berbicara sendiri seolah dirinya sedang berbicara dengan Sima Feng.


Berkat obat yang diberikan pada Gu Feifei ditambah dengan obsesi wanita itu pada Sima Feng yang mendorong wanita itu benar-benar menjadi seperti sekarang.


Sima Feng bahkan masih tak mengerti, untuk apa pria yang menjadi mantan komandannya itu memutuskan berkhianat. Namun ia tak peduli, yang terpenting adalah saat ini menangkap mantan raja Wei, Li Chenlan. Sima Feng sudah menyebar bawahannya untuk mencarinya di Kekaisaran Nan, karena kemungkinan besar pria itu mencari perlindungan di sana.


Di aula pengadilan istana,


" Yang mulia tolong segera putuskan untuk mengangkat pangeran kedua sebagai putra mahkota. Bagaimana pun posisi itu tidak boleh dibiarkan kosong. "


Serempak sebagian menteri berseru bersama menuntut Sima Rui untuk mengangkat Sima Feng sebagai putra mahkota.


Tuntutan para menterinya membuat wajah Sima Rui berubah gelap. Kilatan kemarahan terlihat jelas di matanya. Menatap nyalang satu persatu menterinya yang tengah bersujud dengan wajah menunduk.


Dengan suara dingin, Sima Rui berkata. " Ini baru satu bulan semenjak kematian mendiang putra mahkota dan kalian ingin aku mengangkat putra mahkota baru. Berhenti bersikap seolah kalian memikirkan urusan negara. Aku tahu satu persatu motif kalian. Jadi berhentilah berpura-pura. Itu sangat menjijikan. "


Sima Rui benar-benar memukul telak satu persatu para bawahannya yang memiliki maksud tersembunyi itu.


Setelah berkata, Sima Rui segera beranjak meninggalkan pengadilan istana dengan situasi yang sudah berubah dingin.


" Bagaimana bisa kaisar berkata kasar seperti itu? bukankah seharusnya beliau mendengarkan saran kita. "


" Aku juga sependapat dengan mu. Meski kaisar berduka dengan kematian pangeran pertama, tapi hierarki Kekaisaran harus tetap berjalan. Bagaimana pun juga pemilihan putra mahkota amat penting untuk kelangsungan pemerintahan. "


" Kau benar, sebaiknya kita mencoba kembali pada pertemuan selanjutnya. "


Baru ketika tiga pejabat itu hendak beranjak pergi, Jiang Wu bersama putranya berbicara dan itu sukses membuat langkah mereka terhenti.


" Aku harap salah satu putra mereka akan mati jadi mereka akan tahu bagaimana sedihnya perasaan kaisar saat ini. "


" Kau benar ayah. Mungkin itu satu-satunya cara membuat mereka diam. "

__ADS_1


Wajah ketiga pejabat itu seketika berubah hijau karena marah.


" Perdana menteri Jiang. Meski kau pejabat tingkat satu dan kami hanya tingkat empat tapi tidak ada alasan untuk mu mengutuk kami. Bukankah itu terlalu kejam. "


Jiang Wu memasang wajah polos tak bersalah begitu pun dengan putranya, Jiang Jingfu yang memasang wajah lempeng.


Jiang Wu mengerutkan kening dan dengan bodohnya bertanya. " Kau bicara denganku? "


" Paman? apa kau bicara dengan kami? " Jingfu juga bertanya.


" Kalian... " Pejabat itu hampir saja mimisan karena terlalu marah dengan respon kedua manusia bermarga Jiang tersebut.


Kedua pejabat yang lain tahu bahwa sebuah kerugian jika berselisih dengan Jiang Wu. Jadi mereka berusaha keras membujuk temannya untuk bersabar dan bergegas menyeretnya pergi.


Tanpa mereka sadari, Sima Feng mendengar semua obrolan itu. Ia tersenyum penuh arti. Lalu berbalik dan pergi.


Sejak meninggalkan aula pengadilan, Sima Rui terus mengurung dirinya di ruang kerja. Jika biasanya ada A Guang yang akan datang dan berbagi beban pikiran dengannya. Namun saat ini sosok itu telah pergi. Semua orang mungkin melihat bahwa ia berhati dingin, karena sama sekali tak menangis ketika salah satu putranya meninggal. Namun tak ada yang tahu bahwa meskipun dirinya tidak menangis, hatinya hancur. Sebagai seorang ayah, perasaan sakitnya kehilangan anak tidak jauh beda dengan perasaan seorang ibu.


Ketika ia sibuk merenung. Kepala kasim datang melapor jika pangeran kedua meminta untuk bertemu.


Sima Rui tak menolak, ia meminta Sima Feng masuk.


Setelah memberikan salam, Sima Feng menatap ayahnya yang tampak tak biasa.


" Ayah, apa kau baik-baik saja? " Tanya Sima Feng khawatir masih dengan wajah lempeng.


" Ada apa? "


Tidak ada bedanya dengan sang putra, Sima Rui juga memasang wajah datar. Ah dua manusia yang begitu mirip.


" Ayah, kau tampak pucat begitupun rambut putih ayah seolah bertambah karena beban pikiran yang kau tanggung sendiri. Apakah ayah tidak ingin berbagi beban dengan ku. "


Satu sudut bibir Sima Rui naik. Jika itu orang lain, mungkin tak akan tahu apa maksud ucapan Sima Feng, namun tidak dengan Sima Rui.


" Apa kau yakin? " Tanya Sima Rui pada siang putra.


Sima Feng mengangguk. " Aku pikir sudah saatnya. Jika tidak, akan semakin banyak kekacauan di pengadilan. "


Jadi keesokan harinya, pengadilan istana kembali di gelar.


Seperti kemarin, para pejabat istana menuntut Sima Rui untuk segera mengangkat putra mahkota. Kali ini Sima Rui setuju dan segera membuat dekrit pengangkatan Sima Feng sebagai putra mahkota dan Liu Ru sebagai putri mahkota.


Kabar pengangkatan itu pun segera di umumkan. Para pejabat yang memiliki maksud untuk menjalin hubungan dengan Sima Feng juga sudah bersiap.


Sayang, saat pengangkatan, Sima Feng membuat pengumuman bahwa ia tidak akan mengangkat selir dimasa depan.


Hal itu seketika membuat semangat para pejabat yang sebelumnya mempunyai niat memasukkan putri mereka ke harem Sima Feng harus gigit jari.

__ADS_1


Ah pria keluarga Sima terlalu setia.


__ADS_2