
Untuk dua orang asing yang sejak tadi melihat interaksi pasangan suami istri itu merasa bahwa kehadiran mereka seolah terlupakan.
Ralat, hanya Sima Fei yang melihat.
" Apakah mereka berdua menganggap kita berdua angin. Ayah mu bahkan pergi tanpa menghiraukan kita berdua. " Gerutu Sima Fei.
" Bibi. Bisakah kau singkirkan tangan mu dari mataku. Apa sebenarnya yang kau tutupi dari ku sampai aku tak boleh melihatnya. " Kritis sekali Xiao Yi. Rasa penasarannya memang patut diacungi jempol.
" Kau bocah.. " Ucapan Sima Fei terpotong saat Liu ru berbicara.
" Kalian berdua masih di sini? " Wanita itu menatap terkejut keberadaan adik ipar dan putranya tersebut.
" Akhirnya kau sadar bahwa masih ada kami berdua. Kakak ipar, aku tahu kau dan A Feng adalah pengantin baru. Tapi bisakah kalian tidak bermesraan di depan anak kalian yang masih polos ini. Aku takut ia akan terkontaminasi jika melihat adegan dewasa disaat usianya bahkan masih balita. "
Liu ru mengerutkan kening. " Omong kosong apa yang kau katakan? Siapa pula yang bermesraan. "
Tampaknya Sima Fei sudah salah paham. Ia mengira wajah Liu ru yang bersemu merah karena wanita itu sedang kasmaran dan membayangkan adegan panas yang mereka lakukan saat malam pertama setelah mendengar bisikan vulgar Sima Feng.
" Sudahlah kak. Aku sudah dewasa jadi aku tahu apa yang kalian berdua bicarakan tadi. "
Liu ru kehabisan kata-kata untuk menjelaskan. Ia pikir A Fei mendengar ucapan menghina Sima Feng yang mengatakan dada dan bokongnya rata. Jadi kembali wajah wanita itu memerah.
Kemudian Sima Fei berbicara pada sang keponakan.
__ADS_1
" Xiao Yi, lebih baik kita tidak sering datang kesini atau kau akan menunda kehadiran adik mu yang menggemaskan. Apa kau tak ingin memiliki seorang adik perempuan yang cantik dan lucu. " Sima Fei benar-benar mencuci otak Xiao Yi.
Bocah itu menggeleng. " Tidak. Aku ingin adik laki-laki. Adik perempuan akan sangat merepotkan karena terlalu cengeng. Bahkan ia tidak bisa di ajak berlatih pedang saat dewasa nanti. "
Liu ru tercengang dengan ucapan putranya. Mulutnya bahkan menganga lebar karena begitu terkejut dengan alasan penolakan Xiao Yi tersebut.
Sedangkan Sima Fei justru cemberut. " Adik laki-laki hanya akan merebut mainan mu dan mengajak mu berkelahi. Itu akan sangat mengesalkan. Jadi lebih baik kau meminta adik perempuan saja pada ibu mu. " Pantang menyerah. Sima Fei masih mencoba meracuni pikiran Xiao Yi.
Dan dengan polosnya bocah itu tampak menimbang ucapan sang bibi. Telunjuknya menyentuh dagu seakan ia sedang mencari jalan keluar dari sebuah masalah yang begitu berat.
" Baiklah. Kali ini aku setuju dengan bibi. " Kemudian bocah itu beralih menatap pada ibunya yang masih tercengang dengan interaksi kedua orang di depannya tersebut.
" Bu. Aku ingin adik perempuan. Bisakah kau membuatnya satu untuk ku. " Polos sekali wajah Xiao Yi saat meminta hal tersebut seolah ia sedang meminta sebuah kudapan pada Liu ru.
" Sayang, seorang adik tidak muncul begitu saja. Harus melalui proses dan itu memakan waktu lama. Jadi tidak bisa kau minta adik hari ini dan akan muncul adik ke esokan harinya. Jika kau ingin adik, maka kau harus bersabar. " Jelas liu ru berharap putranya mengerti.
" Berapa lama aku harus bersabar? " Tanya Sima Yi lagi.
Liu ru tampak bingung. Ia pun tak tahu harus memberi batas waktu hingga kapan. Mengingat hubungan dirinya dan Sima Feng yang belum berkembang jauh.
Bagaimana bisa memberi putranya adik. Jika mereka berdua bahkan belum menuntaskan pernikahan mereka.
" Ibu juga tak tahu Tapi ibu janji. Ibu akan berusaha keras membuatnya. " Kata Liu ru pada akhirnya.
__ADS_1
Wanita itu tak tahu, bahwa sejak tadi Sima Feng belum sepenuhnya pergi. Ia masih mendengarkan obrolan ketiganya.
Mendengar ucapan istrinya. Entah kenapa membuat dada Sima Feng bergetar. Seolah ia juga menantikannya dan tak sabar ingin segera merealisasikannya.
" Baiklah. Karena aku anak baik. Aku akan mendengarkan ibu. "
Liu ru tersenyum dan mengelus puncak kepala Xiao Yi. " Anak pintar. Kalau begitu kembalilah. Ingat, untuk mendengarkan guru mu dan jangan membuat repot kakek dan nenek. "
Setelah mengantar kepergian putra dan adik iparnya.
Liu ru berbalik namun terkejut saat Sima Feng ternyata berada tepat di belakangnya.
" Astaga! Sejak kapan kau berada di belakang ku?"
" Sejak kau melambaikan tangan mu meski kereta kuda mereka sudah tak terlihat lagi. " Ejek Sima Feng.
Mengabaikan ejekan Sima Feng. Liu ru langsung melewati pria itu dan berjalan masuk.
Sima Feng masih mengikuti Liu ru. Dan tiba-tiba berkata.
" Ayo kita buat adik untuk Xiao Yi. "
Liu ru terkejut hingga hampir saja ia tersandung saat mendengar ucapan tiba-tiba Sima Feng.
__ADS_1
" Kau... "