Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 431 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

Jingu memegang pipinya yang panas. Tampak di sana ada cap merah dengan pola tangan A Fei. Sebuah tamparan baru saja diberikan gadis itu.


" Kenapa kau kejam sekali. Aku tidak sengaja melihat. Itu bukan salahku atau mataku jika melihatnya. Pemandangan itu terpampang jelas tepat di depan ku jadi begitu bangun secara otomatis aku akan melihatnya. " Jingu berusaha membela diri. Tak ingin jika A Fei sampai berpikir bahwa ia pria mesum yang memanfaatkan situasi.


Tapi bukankah seperti itu?


Sayangnya ucapan Jingu itu justru secara tidak langsung mengatakan bahwa itu adalah salah A Fei dan itu semakin menyulut emosi gadis itu.


" Jadi kau menyalahkan ku? " A Fei yang sudah selesai memakai baju langsung berjalan cepat ke arah Jingu, tak terima dirinya disalahkan.


Matanya menatap tajam pria itu.


Jingu mengutuk mulutnya karena begitu pintar membuat wanita kecintaannya ini semakin marah.


Panik sekali Jingu. " Tidak. Bukan itu maksud ku. Aku hanya mencoba menjelaskan situasi yang sebenarnya. Percayalah aku tidak memiliki maksud lain apalagi pikiran kotor. " Jelas Jingu berbohong.


A Fei tersenyum remeh. " Percaya padamu? kenapa aku harus percaya pada orang yang pernah menipu ku. " Kata A Fei sinis.


Jingu paham kemana arah pembicaraan A Fei. Ia menarik lengannya hingga gadis itu menabrak dada Jingu. Matanya menatap lurus A Fei, begitu dalam seakan mampu membuat gadis itu tenggelam dan hanya terpaku melihat padanya.


Dengan lembut, Jingu berkata. " Aku tidak pernah menipu mu. Aku melakukan itu karena memiliki alasan khusus. Mengenai perasaan ku. Aku bersumpah, itu sebuah kejujuran. Sampai saat ini pun aku masih sangat mencintai mu. Meski kau menikam ku hingga mati pun, itu tak akan merubah perasaan ku. "


" Disini. " Tunjuk Jingu pada dadanya. Ia juga menyikap sedikit dadanya hingga terbuka dan terlihat bekas luka dimana dulu A Fei menusuknya.


" Luka ini. Sedikit saja bergeser dan itu akan menancap tepat di jantung ku. Aku tahu kau tidak sungguh-sungguh ketika menusuk ku. Saat itu aku yakin sekali kau pun ragu ketika melakukannya. Dan itu semua bisa ku lihat dari sorot mata mu. "


A Fei masih diam. Entah apa yang sedang di pikirkan oleh otak kecilnya.

__ADS_1


" A Fei, aku tahu kau sudah mendengar mengenai Kakak mu Sima Guang dari Putra Mahkota Jin dan kau tahu bahwa aku tidak bersalah. Jadi maukah kau memikirkan kembali perasaan ku? "


Gadis itu masih bungkam. Entah kenapa ia mendadak berubah bisu.


Jingu kembali melanjutkan. Ia juga merapikan poni A Fei dan masih dengan lembut berkata. " Apa lagi setelah apa yang kita lakukan malam ini. Aku bukan lelaki brengsek yang akan meninggalkan wanita setelah menyentuhnya. Aku akan bertanggung jawab. Jadi.. "


" Berhenti! " A Fei mengangkat telapak tangannya meminta pria yang sejak tadi berbicara itu untuk diam.


" Kau tidak perlu bertanggung jawab pada ku. Kita tak melakukan sesuatu yang jauh. Kau juga tidak menyentuh ku. Aku hanya membantu mu meredakan demam mu terlepas bagaimana cara ku melakukannya meski itu terkesan tidak sopan. Apa yang ku lakukan hanya demi membayar hutang karena kau sudah menolong ku, tidak lebih. Jadi tolong jangan bicarakan ini lagi di masa depan. Anggap saja ini semua tidak pernah terjadi. "


Melupakan semua? mana mungkin? mustahil, batin Jingu.


Seolah ada lubang besar di hatinya, Jingu kecewa. Pernyataan A Fei sama halnya dengan penolakan akan perasaannya.


Memanfaatkan Jingu yang tengah terguncang. A Fei mendorong pria itu, membuatnya mampu melepaskan diri dari pelukannya.


Ia kembali mencekal lengan A Fei, membuat gadis itu untuk kedua kalinya berada di pelukan Jingu.


A Fei terkejut, lalu menatap tajam Jingu. Ia juga terus meronta mencoba melepaskan diri. Namun tenaganya tak mampu melerai pelukan itu.


" Lepaskan aku! Jangan kurang ajar kau Jingu! " Pekik A Fei marah.


" Kau boleh memaki ku, kau juga boleh memukulku. Tapi tolong beri kesempatan untuk ku menjelaskan semuanya. Aku pun ingin memperjuangkan mu. " Mohonnya pada A Fei.


Telinga A Fei mampu mendengar suara putus asa Jingu. Pria itu seolah sedang memohon berharap ketulusannya bisa tersampaikan.


Ditatap dengan sorot mata Jingu saat ini, membuat jantung A Fei kembali bermasalah. Organ vitalnya tersebut berdegup kencang seolah saling berpacu layaknya kuda pacuan.

__ADS_1


A Fei membuang napas menetralkan debaran jantungnya. ' Berdekatan dengannya sangat tidak sehat untuk jantung ku. '


" Baiklah. Lepaskan aku. Kita bisa bicarakan lagi nanti. Tolong.. sekarang lepaskan aku. "


Dengan patuh, Jingu melepaskan pelukannya. Meski pun sebenarnya ia sangat enggan untuk melakukannya.


" Jadi... " Pancing Jingu.


Dan langsung di tepis oleh A Fei. " Kita bicarakan lagi nanti. Ada hal lain yang harus aku lakukan. "


Mendengar itu, wajah Jingu langsung berubah masam.


Tahu Jingu hendak protes, A Fei kembali berbicara. " Sungguh. Kita akan membicarakannya lagi nanti. Tapi untuk saat ini aku hanya ingin mengetahui keadaan kakak ku dan pasukan Jin. Kau tentunya tidak lupa bahwa pasukan mu menyerang perkemahan kami. " Sindir A Fei di akhir kalimat.


" Mengenai kakak mu. Kau tidak perlu khawatir. Ia pasti akan baik-baik saja. Para pasukan Jin kalian juga. Justru pasukan Nan lah yang seharusnya bernasib malang saat ini. " Ucap Jingu tanpa sadar.


A Fei menyipitkan mata, melihat penuh selidik pada Jingu. Perlahan melangkah maju mengikis jarak dirinya dan pria itu.


" Kau pasti mengetahui sesuatu bukan? cepat katakan pada ku atau kesepakatan sebelumnya batal. "


Jingu menelan ludah kasar. Melihat dari ekspresi A Fei, tampaknya Sima Feng tidak memberitahu apapun padanya. Ia menatap ngeri wanita di depannya. Ketakutannya semakin besar ketika mendengar ancaman yang dilontarkan A Fei.


" A-aku.. aku akan mengatakan semuanya. " Jawab Jingu terbata dengan kedua tangan terangkat setengah ke atas.


Ia menyerah.


*******

__ADS_1


__ADS_2