Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 383 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

Malam hari kali ini begitu berangin, langit gelap yang biasanya banyak titik menyala kini tampak gelap gulita.


" Putri, hari ini tampaknya akan turun hujan, apakah anda ingin menambah selimut lagi? "


" Tidak perlu Xiao Er, kau bisa kembali dan beristirahat. "


Setelah menutup seluruh jendela dan memastikan semuanya tertutup sempurna. Xiao Er kembali ke kamarnya.


A Fei yang tidak bisa tidur hanya bergerak bolak balik di atas ranjang hingga akhirnya tengah malam dan ia masih tetap terjaga, sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.


Samar, A Fei mendengar pintu kamar terbuka. Semula ia berpikir itu Xiao Er atau Xiao San. Namun sebuah bayangan hitam perlahan masuk. A Fei tahu itu bukan salah satu pelayannya dan penyusup tersebut juga tak menyadari jika A Fei masih terjaga, sebab kamar A Fei yang gelap. Meski begitu A Fei bisa menebak bahwa itu seorang pria.


Ada dua kemungkinan penyusup ini masuk, antara membunuhnya atau merusak reputasinya. Tentu saja opsi kedua adalah yang paling masuk akal, mengingat apa yang ia katakan di jamuan sebelumnya, pasti secara tidak langsung sudah menekan titik sensitif wanita itu hingga akhirnya tak tahan dan mulai mengambil tindakan pembalasan.


Benar-benar kuno cara yang digunakannya.


Pria itu segera berjalan menuju ranjang. Ia melihat Putri Mahkota yang tertidur menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.


Ia menyeringai penuh nafsu, bahkan air liurnya hampir saja menetes sebelum akhirnya dihapusnya. Tangannya gemetar karena terlalu antusias membuka selimut A Fei. Tapi sebelum pria itu sempat menggapai dan membuka selimut, seseorang mengetuk pundaknya.


Reflek pria itu menoleh, namun sebelum dirinya sempat melihat wajah orang yang menepuknya. Pria itu sudah pingsan karena sebuah pukulan keras mendarat di wajahnya.


A Fei melihat pria itu dengan wajah penuh ejekan. " Kau ingin menghancurkan reputasi ku tapi kemampuan mu terlalu buruk. Ck, ck, orang yang menyuruh mu pasti terlalu buta untuk melihat kemampuan mu. "


Ternyata A Fei segera bersembunyi begitu menyadari kedatangan penyusup itu.


Lagi, A Fei menendang pria asing yang terbaring tak sadarkan diri tersebut sebelum akhirnya keluar untuk memanggil Xiao Er.


Jangan ditanya bagaimana A Fei bisa memukul pria itu dengan mudah. Tentu saja itu semua berkat pelatihan bela diri yang Ziyan ajarkan. Berbeda dengan ayahnya Sima Rui yang melimpahkan kasih sayang pada putrinya, Ziyan cenderung sedikit keras, terlebih menurutnya penting bagi A Fei memiliki bekal beladiri guna menjaga dirinya.


Meski tidak sekuat kedua kakaknya, kemampuan A Fei bisa di anggap kuat jika dibandingkan dengan wanita pada umumnya.


Keesokan harinya, hal menggemparkan terjadi di istana Selir Fu. Dua pria ditemukan sedang bergumul di bawah selimut. Hal itu tentu merupakan aib yang sangat memalukan dan nama selir Fu pun mau tidak mau ikut terseret sebab kejadian itu terjadi di istananya.


Ketika Selir Fu tengah mengamuk, A Fei justru tengah tertawa puas. Apalagi ketika membayangkan wajah merah sang Selir.


" Aku senang sekali. Wanita itu merasakan obatnya sendiri. " A Fei terus terbahak. " Bagus juga ide mu Xiao Er. Sedikit menambahkan bubuk perangsang dan hasilnya ternyata menjadi lebih menggemparkan. "


Itu benar, setelah A Fei memanggil Xiao Er. Mereka membawa pria itu kembali ke istana Fu Xiquan. Ditengah aksinya tersebut, Xiao Er memberikan ide untuk meniupkan bubuk afrodisiak padanya dan juga pria lain yang sedang terbaring di samping.


" Pria ini tidur seperti mayat. Bahkan saat orang lain masuk, dirinya sama sekali tak terbangun. Apa tak masalah jika kita juga melibatkannya? " Awalnya A Fei ragu, ia tak ingin melibatkan orang yang tidak bersalah.


Melihat keraguan A Fei, Xiao Er menjelaskan. " Pelayan ini juga pria yang buruk putri, dia selalu mabuk-mabukan dan menggoda pelayan wanita. Sama buruknya dengan pria ini. " Tunjuk Xiao Er pada pria yang diam-diam menyelinap masuk tadi.


" Kau benar. Sekarang aku tahu istilah burung dengan bulu sama cenderung berkumpul bersama. Tak heran jika pelayannya buruk, Itu sama dengan sifat tuannya. "


Dan rencana mereka akhirnya berjalan. Kini giliran Fu Xiquan yang harus menanggung malu dengan insiden memalukan tersebut. Meski tidak terjadi padanya tapi itu cukup untuk membuat semua orang berpikir bagaimana buruknya ia mengatur istananya hingga pelayannya bisa berbuat hal menjijikan tersebut.


*********


A Fei menerima beberapa kain sutra langka dari Permaisuri. Seorang utusan Kerajaan Nan memberikan mereka hadiah, dan A Fei mendapatkan tugas untuk mengatur dan membaginya dengan para selir raja dan juga putra mahkota.


" Putri, apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran mu? " Tanya Xiao Er melihat A Fei yang tampak berpikir keras.


" Bukan sesuatu yang besar. Perasaan ku hanya sedikit tidak enak akhir-akhir ini. Mungkin aku hanya terlalu banyak berpikir. "


Semenjak kejadian terakhir kali, A Fei merasa sedikit tidak tenang.


" Oh iya, apa kepala pelayan sudah kembali? " Tangannya pada Xiao Er.


" Belum putri, sepertinya kepala pelayan masih mengantar hadiah pada para selir Yang mulia Raja. Apakah ada yang anda butuhkan putri? "


" Tidak. Bukan itu. Aku hanya ingin ini semua cepat selesai. Karena itu, setelah kepala pelayan kembali tolong minta dia antar kain-kain ini pada selir Fu. "


" Putri, atau biarkan saya yang mengantarnya. " Xiao San mengajukan diri.

__ADS_1


" Tidak. Lebih baik kita tunggu saja kepala pelayan. " Ia tak ingin pelayannya datang ke sarang ular.


" Anda tak perlu khawatir putri. Selir Fu tak akan berani berbuat macam-macam pada ku. Anda juga bisa memerintahkan beberapa pengawal untuk mengawal ku. "


" Baiklah. Jangan makan atau minum apapun di sana. " Sima Fei memperingatkan.


Xiao San bersama dua pengawal yang ditunjuk A Fei untuk menemaninya pergi ke istana Fu Xiquan. Setelah mereka tiba, tanpa membuang waktu Pembawa barang segera menurunkan dua peti berisi kain dan meletakkannya di depan Selir Fu.


" Selir Fu, Putri Mahkota meminta ku mengantarkan kain pemberian permaisuri ini pada anda, silakan diterima. " Jelas Xiao San.


" Hem. Sampaikan terima kasih ku pada Permaisuri. " Hanya ucapan terima kasih untuk Permaisuri, sama sekali Xiquan tak menyinggung A Fei sebagai Putri Mahkota.


" Kalau begitu, saya pamit undur diri. " Xiao San pergi setelah menyelesaikan tugasnya.


Xiquan menatap benci pelayan A Fei kemudian ia membisikkan sesuatu pada pelayan pribadinya.


Sang pelayan mengangguk mengerti.


" Akan sangat beresiko jika kita menyerangnya langsung. Lebih baik patahkan satu tangannya. Itu akan sama menyakitkan baginya. Bukankah dia sangat menghargai kedua pelayan itu. "


Xiao San tak akan pernah menduga, bahwa kedatangannya kali ini akan membuatnya merasakan penyesalan terbesar dalam hidupnya yang pada akhirnya akan merubah segalanya. Tak hanya dirinya namun A Fei di masa depan.


******


" Putri, apakah anda tahu bahwa hari ini selir Fu berulang tahun. " Xiao San memberitahu.


" Benarkah? kau mendengar dari mana ? "


" Dari para pelayan. Secara tidak sengaja saya mendengarnya. Selain itu saya juga mendengar jika... " Xiao San tampak ragu. A Fei yang mengenal betul sifatnya tentu bisa menebak bahwa ada rumor buruk lain tentangnya.


A Fei mengambil napas dalam sebelum berbicara. " Sekarang rumor apa lagi yang kau dengar. Aku tahu pasti bukan suatu hal yang baik. Jadi katakan saja. "


Meski sedikit sungkan, Xiao San akhirnya memberitahu apa yang ia ketahui.


Entah siapa yang memulai, tapi ada rumor yang mengatakan bahwa alasan kenapa Putri Mahkota tidak memberikan ucapan selamat atau hadiah pada selir Fu karena Putri Mahkota yang cemburu dengan sang selir. Hal itu wajar karena semua orang tahu bahwa Putra Mahkota lebih mencintai Selir Fu dari pada Putri Mahkota. Sebab itulah Putri Mahkota bersikap dingin.


" Sungguh sangat di sayangkan, kenapa mereka tak menjadi pendongeng saja alih-alih menghabiskan waktu mereka sebagai pelayan. Tidakkah mereka tahu, imajinasi mereka terlalu bagus untuk di sia-siakan. "


" Putri, anda jangan terpengaruh rumor itu. Saya yakin ini hanya rumor yang sengaja di sebarkan oleh orang-orang selir Fu. " Nasehat Xiao Er.


" Aku tahu. Bahkan orang buta pun tahu jika dia yang menyebarkan rumor ini. Bukankah sudah terlihat jelas siapa yang akan di untungkan dan dirugikan dari rumor ini. Jadi lebih baik abaikan saja. "


Baru juga Sima Fei menyelesaikan ucapannya, Li Chenlan sudah datang dengan wajah merah padam.


" Ada apa? apa kau baru saja membakar diri mu? kenapa ada asap kepala mu? "


" Tidak bisakah kau menjalani peran mu dengan baik. Kita sudah sepakat bahwa kau akan menjalani peran mu sebagai Putri Mahkota. Tapi mana? rumor buruk mu sudah menyebar, membuat ayah Raja memanggil ku dan meminta ku untuk segera menyelesaikannya. "


" Lalu apa yang kau ingin aku lakukan? aku bahkan tak tahu bahwa selir kesayangan mu berulang tahun. Kau sendiri tak memberitahuku. Apakah aku harus pergi ke bagian arsip dan bertanya mengenai data pribadi wanita mu? "


Li Chenlan terdiam. Sejujurnya ia sendiri juga melupakan ulang tahun Fu Xiquan, lebih tepatnya tak tahu kapan ulang tahunnya. Ia baru tahu tadi saat Xiquan merengek padanya perihal hadiah ulang tahunnya.


' Ck.. aku yakin dirinya juga melupakan ulang tahun wanita itu. ' Ejek A Fei dalam hati.


Pria itu berdehem mengusir kecanggungan. " Kalau begitu siapkan saja hadiah untuknya. Itu akan memberikan sedikit kesan baik untuk mu. "


" Hadiah apa yang harus ku berikan? "


" Apa saja. Itu urusan mu. "


Sima Fei berdecak kesal, " Kalau begitu apapun yang akan ku berikan jangan mengeluh. "


Segera, Sima Fei pergi ke dapur dan meminta koki istana untuk membuat mie panjang umur. Setelah semua selesai, A Fei membawanya sendiri.


Kedatangan A Fei disambut Xiquan. Tak ada sorot mata kebencian atau sikap arogan dari wanita itu. Hal itu justru membuat A Fei sempat curiga bahwa wanita yang saat ini ada di depannya bukanlah Fu Xiquan.

__ADS_1


" Putri Mahkota, apa yang membuat mu datang ke sini? "


A Fei tak menjawab tapi menunjuk pada sebuah kota makanan di tangan Xiao San.


Xiao San maju dan menyerahkannya pada pelayan Xiquan.


" Itu hadiah ku, mie panjang umur. Dengan tulus aku mengucapkan selamat ulang tahun. "


Xiquan tersenyum, "Terima kasih. Putri Mahkota silakan kau masuk terlebih dulu. Kita bisa menikmati mie ini bersama-sama. Anggap ini sebagai awal mula agar hubungan kita lebih baik. "


" Tidak perlu. Aku masih ada beberapa urusan yang harus ku selesaikan. Terima kasih atas ajakannya. Kalau begitu aku pergi dulu. "


Setelah obrolan yang tersebut, Sima Fei bergegas pergi. Jujur, sikap ramah Fu Xiquan justru membuatnya merinding.


******


Istana Putri Mahkota yang biasanya damai mendadak ramai saat beberapa pengawal datang.


" Apa yang terjadi? kenapa kalian sembarang masuk kemari? " Protes A Fei pada beberapa pengawal di depannya.


" Maaf Putri Mahkota atas ketidaknyamanannya. Tapi kami hanya menjalankan tugas. Yang mulia Putra Mahkota meminta kami untuk membawa anda menghadap Raja atas dugaan meracuni Selir Fu dan mengakibatkan keguguran. Jadi tolong Putri Mahkota jangan melawan dan segera ikut dengan kami. "


" Meracuni? siapa? maksud kalian aku meracuni Selir Fu dan sengaja membuatnya keguguran? " A Fei benar-benar memasang wajah tercengang.


" Benar Putri. "


' Wanita itu tampaknya masih belum menyerah. ' Batinnya.


" Baiklah. Aku akan ikut dengan kalian. "


Dengan sukarela A Fei berjalan bersama para pengawal menemui Raja wei.


Sesampainya di aula pengadilan, sudah ada beberapa orang di sana. Pria dengan status suaminya bahkan saat ini sedang menatapnya dengan sorot mata rumit. Entahlah, A Fei tak bisa menebaknya.


Di sisi lain ada perdana menteri Fu yang memberikan tatapan membunuh seolah A Fei adalah mangsa yang siap untuk di cabit-cabit.


" Putri Mahkota, apa kau tahu kenapa kau dipanggil kemari? " Tanya Raja Wei langsung.


A Fei mengangguk dan menjawab. " Tahu Yang mulia. Mereka mengatakan bahwa saya meracuni Selir Fu yang sedang hamil dan membuatnya keguguran. "


" Benar. Tabib yang memeriksa Selir Fu menemukan obat penggugur di dalam mie yang kau kirim. Apa kau mengakuinya? "


" Tidak Yang mulai. Saya tidak melakukannya. Saya juga tak memiliki motif untuk melakukannya. " Santai sekali A Fei mengemukakan pembelaannya. Tak ada raut wajah tegang atau pun panik.


" Tentu saja kau memiliki motif untuk melakukannya. " Bukan Raja atau Li Chenlan yang berbicara melainkan perdana menteri Fu.


A Fei menoleh dan menatap Perdana Menteri Fu.


Pria paruh baya itu juga melanjutkan, " Kau pasti cemburu dengan putri ku. Karena Putriku lebih di cintai oleh putra mahkota dari pada dirimu. Selain itu, ia juga sedang hamil. Kau pasti merasa terancam bukan dengan anak yang di kandung putri ku. Kau takut bahwa putri ku akan melahirkan anak laki-laki dan menjadi penerus putra mahkota. "


A Fei memutar bola matanya, Kini ia tahu dari mana sifat percaya diri Fu Xiquan berasal. Ternyata itu Gen yang diturunkan oleh ayahnya.l


" Kau mengatakan aku cemburu dengan putri mu karena Putra Mahkota lebih mencintainya dari pada aku. Dari mana kau begitu yakin dengan hal itu, sementara Putra Mahkota juga beberapa kali bermalam di istana ku. Aku lah yang menyuruh pangeran untuk lebih sering bersama Selir Fu mengingat dirinya yang saat ini sedang hamil. Dia lebih membutuhkan keberadaan Pangeran dari pada aku. Tapi tampaknya kebaikan ku ini justru membuat orang-orang memiliki imajinasi liar. "


" Lalu kau juga mengatakan bahwa aku cemburu atas kehamilannya dan merasa terancam jika putri mu melahirkan seorang putra yang akan menjadi pewaris putra mahkota. Huft... " A Fei membuang napas sebelum kembali berbicara. Kali ini setiap kata-kata A Fei penuh penekanan.


" Sejak kapan putra seorang Selir menjadi pewaris tahta. Putra seorang selir tetap lah anak tidak sah. Jika kau ingin cucumu menjadi pewaris maka buat putri mu sebagai putri mahkota. Tapi tentu saja terlebih dulu kau harus menyingkirkan ku. "


" Masalah keracunan bukankah itu sangat aneh. Racun itu ditemukan di dalam makanan yang ku kirim seolah aku memang dengan sengaja membuat diriku dalam masalah. Apa menurut mu aku sudah gila? Jika aku memang memiliki niat itu. aku tak akan dengan bodoh meletakkannya pada makanan yang ku bawa sendiri. "


"Justru lebih masuk akal jika putri mu memasukkan racun itu sendiri untuk menjebak ku dan membuat ku kehilangan posisi putri Mahkota ku."


" Omong kosong! " Pekik perdana menteri Fu. " Mana mungkin putri ku menyakiti anaknya sendiri. Lebih baik kau jangan berbicara asal menuduh, putri Mahkota. Kau pasti hanya iri padanya. "


A Fei masih menanggapi perdana menteri Fu dengan santai seolah mereka sedang terlibat obrolan hangat bukan proses interogasi.

__ADS_1


" Menuduh? bukankah sejak tadi kaulah yang sedang menuduhku perdana menteri. Apa yang membuat putri mu begitu tinggi hingga membuat ku iri? jangan katakan karena putra mahkota lebih menyayanginya? omong kosong. "


" Aku rasa itu pemikiran yang sangat konyol. Dari segi kecantikan dan juga status aku lebih segalanya dari pada putrimu. Aku lebih cantik darinya. Aku juga seorang Putri Mahkota, dan putri satu-satunya Kaisar Jin. Hidup ku penuh dengan limpahan kasih sayang dan juga kekayaan, sangat sempurna. Jika dibandingkan dengan putri mu, bagian mana yang lebih buruk darinya? kau sudah tahu, ti-dak a-da. "


__ADS_2