Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 208 Penyergapan


__ADS_3

Segera setelah Sima rui bertemu dengan pemburu yang dimaksud oleh junyi. Ia memerintahkan beberapa penjaga bayangan untuk menuju lokasi yang di maksud oleh si pemburu. Sebuah paviliun yang terkenal sebagai rumah bordir. Jalan rahasia yang terhubung dengan penjara tempat ziyan di kurung ternyata menghubungkan dengan paviliun tersebut.


Sima Dan menatap bingung bangunan di depannya. Alisnya mengerut begitu membaca papan nama paviliun tersebut. Meski tidak pernah datang, sebagai pria dewasa ia tahu tempat apa itu.


" Kakak. Aku tahu kau kesulitan menyalurkan hasrat mu karena hilangnya kakak ipar dua hari ini. Tapi bukankah tidak etis tengah hari seperti ini kau mengajak ku kemari. Tunggulah sampai malam jika kau ingin kesini untuk bersenang-senang. Lihatlah, mereka bahkan masih tutup, belum membuka pelayanan. " Ucap sima Dan menunjuk bangunan di depannya.


Alis Sima rui mengerut. " Imajinasi begitu bagus. Sayang sekali kau menjadi petugas penyidik bukan menjadi penulis opera. " Cibir Sima rui.


Mendengar jawaban Sima rui, Sima Dan akhirnya tahu bahwa ia telah salah paham. Ia hanya bisa meringis menanggapi pemikiran liarnya tersebut.


" Maaf kak. Kau tadi mengajak ku pergi untuk bersenang-senang. Jadi begitu tahu tempat tujuan kita pikiran liar ku langsung melayang. " Sima Dan mengusap tengkuknya yang tak pegal.


" Aku juga tak mungkin mau dengan para wanita itu. Apa menurut mu kakak ipar mu bisa disamakan dengan mereka? " protes sima rui.


" Tentu saja tidak. Kakak ipar adalah bunga langka yang tak mungkin di temukan di mana pun. Ia begitu istimewa karena bisa tumbuh di sebuah pohon besi sekalipun. " Puji Sima Dan berlebihan. Ia memang kagum dengan ziyan sejak pertemuan mereka pertama dulu. Menurutnya pembawaan ziyan yang berani dan cerdas memang sangat cocok bila di sandingkan dengan kakaknya, Sima rui.


" Akan ku sampaikan pujian mu itu padanya nanti. "


Sima Dan memilih diam, ia tahu Sima rui sedang membalasnya karena imajinasi bodohnya tadi.


" Jadi apa tujuan kakak membawa ku kemari? " Tanya Sima Dan kembali fokus pada tujuan kedatangan mereka.


" Nanti malam pelelangan itu akan di mulai. Tepatnya tempat ini akan menjadi tempat diadakannya acara itu. " papar Sima rui.


Sima Dan terkejut dengan informasi yang baru saja di ucapkan oleh kakaknya. Namun ia tidak terkejut dengan fakta sang kakak bisa dengan mudah mendapatkan informasi tersebut.


" Benarkah? bagaimana kakak bisa mendapat informasi itu? aku sendiri sudah menyelidiki selama beberapa hari namun tak ada petunjuk sama sekali. "


" Kau tak akan pernah menemukan petunjuk jika menggunakan orang-orang di biro penyidik. Menurut mu kenapa pelelangan itu masih bisa beroperasi tanpa diketahui selama ini? " pertanyaan Sima rui memancing kecurigaan Sima Dan.


Wajah Sima Dan kaku. Tentu saja ia tahu maksud dari ucapan kakaknya. Biro penyidik tentu saja ikut andil dalam hal ini.


" Aku akan mengirim laporan pada ayah tentang hal ini. " Putus Sima Dan, Sima rui mengangguk setuju.


" Untuk operasi malam ini aku ingin kau merahasiakannya. Jangan sampai penangkapan nanti malam bocor. Atau kita tidak akan mendapatkan apa-apa. " Perintah Sima rui.


" Baik kak. Aku akan membuat misi penangkapan palsu agar mereka tidak curiga. "


Sima Dan tahu bahwa ada mata-mata di biro penyidik. Karena itu ia memutuskan untuk membuat misi palsu agar pengkhianat tersebut tidak curiga.


Malam hari sesuai dengan instruksi Sima rui. Sima Dan dan bawahannya di biro penyidik tengah bersiap. Mereka masih memantau dari kejauhan. Saat sebuah kembang api menyala yang merupakan sinyal Sima rui. Sima Dan beserta pasukannya langsung menyerbu masuk. Sedangkan sima rui yang datang dengan pasukan kerajaan bertugas mengepung area luar paviliun.


Kekacauan dari penyergapan itu tentu saja tak terhindarkan. Sima Dan beserta pasukannya langsung menuju ke tempat dimana Pelelangan berlangsung.

__ADS_1


Brakk!


Sima Dan langsung mendobrak masuk, disusul semua pasukan dari biro penyidik.


Perhatian semua orang yang awalnya pada ketujuh wanita di atas panggung kini beralih pada Sima Dan. Wajah pucat mereka tentu saja menyiratkan kepanikan akan kedatangan Sima Dan dan para petugas penyidik.


Para pengunjung tanpa aba-aba langsung bergerak bermaksud melarikan diri. Namun berkat Sima Dan yang cepat tanggap. Semua pasukan penyidik berhasil mengepung tempat itu dan membuat semuanya tak berhasil melarikan diri.


" Percuma kalian kabur. Kami sudah mengepung tempat ini. Begitupun dengan pasukan kerajaan yang sudah berada di luar gedung. " Suara lantang Sima Dan membuat semua orang lemas seketika.


" Hei. Apa yang kau lakukan. Beraninya kau melakukan ini pada kami. " Salah satu pengunjung berteriak pada Sima Dan. Tak terima atas perlakukan yang diterimanya.


Sima Dan menatap orang tersebut dan berjalan mendekat ke arahnya.


Ia memandang pria di depannya dengan tatapan merendahkan. " Kenapa aku tak berani padamu? Memangnya kau siapa? Melakukan tindakan ilegal yang di larang kerajaan serta mendukung penculikan atas istri salah satu pangeran kerajaan. Apakah menurutmu kesalahan mu bisa di terima oleh keluarga mu. " Cibir Sima Dan dengan pandangan sinis.


Pria itu kehilangan kata-katanya. Tangannya mengepal kuat menyalurkan amarahnya yang mendidih.


" Tangkap semua orang. Jangan sisakan satu pun. " Perintah Sima Dan pada semua pasukannya.


Dari arah pintu, Sima rui masuk dan berjalan seolah berada di karpet merah. Pandangannya hanya fokus menatap pada satu wanita yang berada di atas panggung.


Ziyan tengah fokus menenangkan para wanita yang bersama dengannya. Mereka tengah bersimpuh dan menangis entah karena ketakutan atau rasa lega karena berhasil diselamatkan.


Entah karena begitu rindu atau karena hal lain. Tanpa ia sadari kedua matanya terasa panas seolah ada benda cair yang mendesak ingin keluar. Perasaan haru karena akhirnya bisa melihat lagi pria yang beberapa hari ini selalu muncul dalam mimpinya.


Ziyan masih diam menatap suaminya. Tenggorokannya tercekak seakan ada benda besar menghalanginya untuk berbicara.


Pertemuan sepasang suami istri yang saling mengunci tatapan tersebut seakan melupakan keberadaan orang sekitar. Seolah-olah hanya ada mereka berdua di sana.


Ziyan mencoba melangkah, ingin menghambur ke pelukan sang suami. Tapi apa daya, ia melupakan tali yang mengikat kedua kakinya hingga membuatnya hampir saja terjungkal ke depan. Beruntung sima rui dengan sigap berlari hingga bisa mencegah sang istri terjatuh.


" Hati-hati. " Ucap sima rui khawatir.


Ziyan malu karena tindakan cerobohnya hampir membuatnya jadi bahan lelucon. Alangkah sangat memalukan, ketika sebuah pertemuan indah di selingi dengan dirinya yang terjungkal.


" Maaf, aku terlalu senang jadi melupakan ini. " Balas ziyan menunjukkan ikatan di kedua tangannya.


" Mundur lah. Aku akan memotong ikatan mu. " Sima rui mengambil pedang dan dengan hati-hati memotong tali di tangan ziyan. Ia juga memotong semua tali yang mengikat para korban yang lain.


" Kalian semua ikutlah dengan petugas penyidik. Mereka akan membantu menghubungi keluarga kalian. " Kata sima rui pada ke enam wanita yang menjadi korban bersama ziyan.


Semua tampak bahagia karena akhirnya bisa kembali berkumpul dengan keluarga. Namun tidak dengan sese. Wajahnya menunjukkan hal sebaliknya.

__ADS_1


" Kenapa sese. Kenapa kau terlihat tidak senang? apa kau tak ingin kembali dengan keluarga mu. " Ziyan melepas pelukan sima rui dan menghampiri sese.


Sese mengambil napas lalu membuangnya. " Kau tahu bahwa aku sendiri ingin meninggalkan desaku. Jadi setelah ini aku akan mencari pekerjaan agar bisa bertahan hidup di ibukota. "


Ziyan mengangguk mengerti. " Kau sudah memutuskan ingin tinggal di ibukota? " Sese mengangguk. " Lalu apakah kau sudah tahu akan bekerja apa? " Sese menggeleng.


Selain kecantikan sese yang patut ziyan acungi jempol. Kenekatan wanita itu juga patut mendapat acungan dua ibu jari ziyan. Dengan paras cantik dan sifat polosnya sudah dipastikan akan menjadi santapan empuk para penipu di ibukota. Dan yang lebih buruk ia bisa saja kembali di jual.


Merasa tak tega. Ziyan berinisiatif untuk mengajak sese bekerja dengannya.


" Kalau kau tak keberatan. Kau bisa bekerja di kediaman pangeran. Bagaimana? " Tanya ziyan mengajak sese.


Mata gadis itu berbinar. Dengan cepat ia mengangguk setuju. " Iya aku mau. " Lalu memeluk ziyan dengan begitu antusias.


Acara pelukan ziyan dan sese terganggu ketika terdengar teriakan seorang wanita. Ziyan menoleh dan melihat bahwa itu sujin yang menolak keras saat petugas penyidik menyeret paksa dirinya.


Teringat dirinya masih memiliki hutang pada wanita itu. Sebuah seringai muncul di wajah ziyan. Ia akan membayar hutangnya secara tunai beserta bunganya.


" Tunggu! " Cegah ziyan menghentikan langkah petugas yang hendak membawa sujin keluar. Mereka berhenti dan melihat ke arah ziyan.


" Kau! " Pekik sujin. " Dasar jal*ng! Kau pasti puas kan? "


" Kenapa kau diam. Dasar wanita murahan cuih. " Sujin masih memaki ziyan. Ia semakin marah karena tak mendapat tanggapan dari ziyan.


Ziyan hanya menatap sujin dalam diam. Kemudian berjalan semakin mendekat ke arahnya.


" Aku masih memiliki hutang padamu. Jadi aku ingin membayarnya sekarang juga. "


Sujin melipat keningnya tak mengerti maksud ziyan. Ketika sedang berpikir, tiba-tiba sebuah tamparan keras mendarat mulus di pipi sujin. Hingga membuat tanda cap tangan tergambar jelas di pipi wanita itu.


sujin tercengang dengan mulut terbuka. Ia terkejut dengan apa yang baru saja di terimanya. Belum sempat mengumpulkan kesadarannya, kembali tamparan ziyan mendarat di pipi sujin yang lain.


" KAU! Beraninya kau me- "


Plakk!


Kembali ziyan menampar sujin. Bahkan wanita itu tak memberikan jeda sedikitpun untuk sujin berbicara. Sujin hanya bisa berteriak kesakitan ketika telapak tangan mulus ziyan mendarat di pipinya. Hingga akhirnya ziyan berhasil melayangkan enam tamparan.


Sudut bibir sujin berdarah. Bahkan tangan ziyan sampai gemetar karena begitu kerasnya ziyan menamparnya.


" Ini balasan atas tamparan mu tempo hari. Bersyukurlah karena aku begitu baik hingga memberikan balasan beserta bunganya. "


Napas sujin memburu. Matanya nyalang menatap ziyan tajam. " Kemari kau jal*ng. Aku akan membunuhmu. Kemari kau! " Murka sujin berteriak dan meronta.

__ADS_1


" Cepat bawa dia pergi sebelum wanita ini semakin menggila. " Pinta ziyan pada kedua petugas yang menahan lengan sujin sejak tadi.


__ADS_2