
Sima Feng merasa otaknya berubah tumpul semenjak ia jatuh cinta. Apapun yang berhubungan dengan Liu Ru berhasil mengacaukan ketenangannya. Jika dalam kondisi normal, ia tidak akan bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu namun berbeda jika itu berkaitan dengan Liu Ru. Ia akan bertindak impulsif bahkan tanpa melihat sekitar. Dan contoh terbaiknya adalah kejadian hari ini.
Sungguh ia tak menyangka akan ada hari dimana ia mempermalukan dirinya sendiri. Beruntungnya, Liu Ru masih tak sadarkan diri, atau dirinya benar-benar harus menggali lubang untuk menyembunyikan rasa malunya.
Suara tinggi nenek Wu sedikit mengusik tidur Liu Ru, membuat wanita itu terbangun.
Sima Feng yang menyadari istrinya bangun merasa begitu bahagia.
" Istriku, kau akhirnya bangun. Aku datang menjemput mu. "
Sayangnya antusias Sima Feng tak mendapat respon dari Liu Ru. Wanita itu masih diam menatapnya tanpa ekspresi apapun. Bahkan untuk sekedar berkedip pun tidak.
Ketakutan mulai dirasakan Sima Feng. Ia takut istrinya terlalu marah padanya hingga membuat hanya diam saat melihat dirinya.
" Istri ku, apa kau baik-baik saja? apa tubuh mu masih sakit? katakan padaku jika masih ada bagian tubuh mu yang masih terasa tidak nyaman? atau kau masih marah pada ku? tolong katakan sesuatu istri ku, jangan diam seperti ini. "
Namun masih tak ada respon dari Liu Ru membuat ketakutan pria itu semakin menjadi.
" Istri ku... " Lirih Sima Feng memanggil sang istri.
Liu Ru masih setia dengan diamnya. Bukan karena ia marah seperti yang di pikirkan Sima Feng.
Sejujurnya wanita itu tengah termenung memikirkan apakah sosok di depannya adalah bagian dari fatamorgana yang menipu matanya. Selama tertidur, ia memang memimpikan sosok Sima Feng. Karena itu, begitu membuka mata dan melihat wajah yang sama, ia masih berpikir bahwa ini semua adalah mimpi.
Namun sentuhan di pipi Liu Ru membangunkan kesadarannya membuat dirinya yakin bahwa ini bukanlah mimpi.
" Istri ku, tolong bicaralah.. " Lagi, Sima Feng mengiba mencoba mengajak Liu Ru berbicara. Ia menyentuh lembut pipi wanita itu dan mengusapnya penuh cinta.
' Ini bukan mimpi. Ini benar-benar dia... 'Batin Liu Ru meyakinkan dirinya. Kerinduan yang sudah lama ia rasakan akhirnya meledak juga.
__ADS_1
" Suami.. ku.." Panggilnya lemah menatap sang suami dengan tatapan penuh kebahagiaan.
" Apa ini benar-benar kau? "
Sima Feng mengangguk, " Benar, ini aku. Maaf, aku membuat mu melalui ini semua. "
Tanpa sadar Liu Ru menangis. ia benar-benar bahagia bahwa suaminya yang hanya bisa ia temui dalam mimpi akhirnya berada di sampingnya.
"Tolong jangan menangis. Aku tidak akan meninggalkan kalian lagi. "
Liu Ru masih tak menyadari kalimat Sima Feng.
Pria itu kemudian menyentuh perut istrinya dengan sangat hati-hati seolah itu adalah benda rapuh yang akan hancur saat ia menyentuhnya.
" Bagaimana dengannya? apakah ia baik-baik saja? "
Liu Ru tertegun sesaat. Ia menatap Sima Feng penuh tanda tanya.
Sima Feng mengangguk dan tersenyum. " Jangan harap kau bisa membawa kabur benih ku untuk yang kedua kalinya. Ijinkan aku menemani mu pada kehamilan ini. Biarkan aku menebus kesempatan yang hilang saat kau mengandung Xiao Yi. Aku berjanji akan lebih memberikan perhatian dan juga waktu ku kali ini. "
Liu Ru yang bahagia hanya bisa kembali terisak. Ia sungguh sangat bahagia, ternyata suaminya menyambut baik kehamilannya. Ia bahkan akan menemaninya pada kehamilannya kali ini.
Keduanya saling melepas kerinduan setelah Sima Feng dengan tidak tahu malu mengusir semua orang pergi. Ia meminta ketiga orang tidak berkepentingan itu untuk keluar meninggalkan mereka berdua. Sima Feng beralasan bahwa ia membutuhkan waktu berdua untuk berbicara. Bagaimana pun juga mereka memiliki banyak kesalahpahaman yang belum terselesaikan.
Dalam kesempatan itu, Sima Feng tidak membuang waktu lagi dan segera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi antara dirinya dan juga Gu feifei. Termasuk tentang pengkhianatan kakaknya, Gu Xinzu dan rencana Sima Feng menjebak mereka.
" Jadi, penyergapan tempo hari itu adalah rencana kakak Gu feifei? aku tidak menyangka bahwa ada konspirasi besar di belakangnya. Aku pikir Gu Feifei benar-benar menyukai mu Yang mulia? "
" Mungkin dia memang menyukai ku. Karena itu ia setuju bekerja sama dengan kakaknya berharap bisa menjadi salah satu selir ku. "
__ADS_1
Liu Ru mendengus kesal. " Kau terlalu percaya diri. "
Sima Feng terkekeh. Istrinya sangat lucu, bukankah ia sendiri yang mengatakan Gu Feifei menyukainya, ia hanya mengiyakan tapi wanita ini justru semakin cemberut.
" Para penjaga bayangan sudah menemukan persembunyian Gu Xinzu dan saat ini tengah mengejarnya. Mengenai Gu Feifei, aku sudah meminta seseorang untuk mengurungnya di manor. Ia tidak akan bisa kabur. "
Sima Feng melanjutkan. " Jadi setelah kondisi mu pulih, kita akan kembali ke kediaman utara? tapi jika kau keberatan dan ingin kembali ke ibukota. Aku akan mengatur perjalanan untuk mu dan kita akan kembali bersama. "
Sima Feng sudah memutuskan bahwa ia akan berada di manapun istrinya tinggal.
" Bersama? Apa tidak masalah kau juga ikut kembali ke ibukota, Yang mulia? lalu bagaimana dengan urusan mu di sini? "
Liu Ru tak ingin menjadi beban bagi Sima Feng. Ia tahu betul sebesar apa tanggung jawab sang suami di perbatasan.
" Kau tenang saja, semua urusan ku sudah di urus oleh Ling He. Saat ini ia sedang menyelesaikan sisanya. "
" Baiklah jika Yang mulia berpikir demikian. Aku akan mengikuti pengaturan mu Yang mulia. Tapi sebelum pergi aku harus melakukan sesuatu. "
Liu Ru teringat hutang budinya pada Jingu. Bagaimanapun juga, pria itulah yang sudah menolongnya. Karena itu ia harus membayarnya terlebih dahulu sebelum mereka pergi.
" Apa itu? Biar aku saja yang melakukannya. Lebih baik kau fokus pada penyembuhan diri mu. "
Liu Ru menggeleng. "Tidak. Ini harus ku lakukan sendiri. Jingu sudah menolong ku jadi aku harus membayarnya sendiri. Itu akan terlihat lebih tulus jika aku yang melakukannya. "
" Jingu menolong mu? " Liu Ru mengangguk.
Sima Feng membayangkan Jingu yang membawa istrinya di pelukannya. Ia mengabaikan fokus utama tindakan Jingu yang bertujuan menolong Liu Ru. Saat ini, entah kenapa Sima Feng merasa hatinya terasa asam seolah puluhan guci cuka baru saja mengguyur dirinya.
" Biar aku saja. Itu sudah menjadi tugas suami untuk membayar hutang istri. Sekarang lupakan masalah hutang ini. Fokus lah terlebih dulu pada kesehatan mu. " Sima Feng berbicara sembari merapikan selimut yang menutupi tubuh istrinya agar tetap hangat.
__ADS_1
Sima Feng tak akan membiarkan istrinya untuk kembali memiliki interaksi dengan pria lain meskipun itu pada Jingu, seseorang yang sudah menolong istrinya.