Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 261 Side story ( A Guang story)


__ADS_3

" Siapa yang ayah panggil putra mahkota? " Jinfu bertanya memastikan pendengarannya, berharap apa yang baru saja di dengarnya itu tidak benar.


" Anak kurang ajar! " Jiang wu memukul kepala putranya " Menurut mu siapa lagi orang yang ada di sini selain kita bertiga. Apa kau berharap ayah mu ini putra mahkota. "


Jiang wu terlihat kesal dengan kebodohan putranya. Bisa-bisanya ia menanyakan pertanyaan bodoh itu. Sungguh, saat ini Jiang wu merasa malu yang luar biasa. Ia harap saat ini ada lubang untuk dirinya bersembunyi.


Baru tadi siang dirinya di puji oleh A Guang bahwa ia memiliki putra yang cerdas. Tapi sekarang..


Dirinya tidak sadar bahwa buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Andai jiang wu tidak lupa bahwa saat muda dirinya lebih konyol dari sang anak. Mungkin rasa malu itu akan berubah menjadi rasa puas karena berhasil mencetak anak dengan sifat yang jauh lebih baik darinya.


" Maaf Yang mulia. putra ku ini memang sangat bodoh karena tidak mengenali anda. Saya akan menghukumnya begitu sampai di rumah. "


" Itu tidak perlu perdana menteri. Mungkin putra anda hanya terkejut dengan fakta yang baru saja di terimanya. Mengingat kami berdua berteman cukup dekat saat di Akademi. Bukan begitu tuan muda Jiang. "


A Guang memberikan senyum terbaiknya, namun yang di lihat Jinfu seperti senyum iblis yang berhasil membuat punggungnya berkeringat dingin.


" I-itu be-benar. " Jawab Jinfu gagap. Ia merasa seolah kecil di hadapan A Guang.


Jiang wu tampak antusias. " Benarkah. Kenapa kau tidak cerita nak? Kalau kau berteman dengan putra mahkota. " Bahkan di kening Jiang wu tercetak jelas kata ' aku bangga padamu '.


Tawa Jiang wu lalu berhenti secara tiba-tiba saat ia menyadari sesuatu yang janggal.


" Jika kalian berteman, lalu kenapa kau tak tahu bahwa ia adalah putra mahkota? "


Sekali lagi, Jiang wu memberikan serangan telak pada putranya yang membuatnya tak tahu harus menjawab apa.


Jinfu sangat gugup, hingga otaknya yang selalu mudah dalam mencari alasan mendadak kosong.


Ia berharap semoga A Guang tidak mengadukan perbuatannya tempo hari pada sang ayah. Atau hukuman lain akan segera menjemputnya. Ia bahkan belum menyelesaikan hukuman yang di berikan oleh pihak Akademi. Memikirkan kemungkinan menerima hukuman lain dari sang ayah membuat tengkuknya sakit karena tekanan darah tinggi.


" Perdana menteri, kau jangan marah. Putra mu tak mengenal ku sebagai putra mahkota mungkin karena aku mendaftar tidak dengan menggunakan marga Sima melainkan dengan marga Mo. " Jelas A Guang.

__ADS_1


Jiang wu seolah mendapatkan pencerahan dan mengerti kenapa putranya bersikap bodoh.


" Jadi seperti itu, Haha aku tak menduga anda akan menyembunyikan status anda Yang mulia. "


" Pasti ada suatu alasan kenapa anda melakukannya. " Imbuhnya.


" Aku hanya ingin menuntut ilmu tanpa harus dibayangi dengan status. Dari hal itu aku bahkan bisa mendapatkan beberapa teman yang tulus dengan ku. Termasuk putra anda. Ia begitu tulus dengan ku. "


Jinfu hampir muntah darah menerima sindiran telak A Guang. Tak tanggung-tanggung, serangan halus A Guang tersebut mampu menumbangkan kesombongan Jinfu dalam sekali pukulan.


" Benarkah. Haha aku semakin bangga dengan mu nak. " Jiang wu yang tak memahami makna lain dari ucapan A Guang semakin tertawa puas.


" Kapan-kapan kalian bisa bermain bersama. Yang mulia datang lah ke kediaman Jiang. Kami sekeluarga menanti kunjungan anda. " Ucap Jiang wu penuh harap.


" Jika senggang, aku pasti memenuhi tawaran anda perdana menteri. "


" Baiklah. Silakan kalian lanjutkan obrolan kalian. Aku akan kembali ke dalam aula. "


Lalu jiang wu menepuk pundak Jinfu. " Kau tak perlu kembali dengan cepat nak. Tidak kembali juga tidak apa-apa. Mengobrol lah dengan Yang mulia. " Bisiknya.


Gugup, panik, canggung dan malu. Semua perasaan yang saat ini dirasakan oleh Jinfu.


Hening.


Keduanya hanya berdiri berhadapan tanpa ada satupun yang berbicara. Sibuk dengan pikiran masing-masing.


" Itu.. Yang mulia, maaf. Aku.. aku tidak tahu jika itu anda. Jadi.. " Jinfu membuka suaranya setelah sebelumnya tertekan dengan keheningan. Meski ia sendiri kesulitan merangkai kata-kata yang hendak ia ucapkan.


Akal sehatnya memaksanya agar meminta maaf terlebih dulu. Setidaknya hal tersebut bisa mengurangi kekhawatirannya dan berharap A Guang tidak mengadukan perbuatannya pada sang ayah.


Begitulah, permintaan maaf jinfu karena motif tersebut. Bukan karena dirinya benar-benar merasa bersalah.

__ADS_1


" Apakah karena kau mengetahui aku adalah putra mahkota karena itulah kau meminta maaf? "


Pertanyaan A Guang membuat hati Jinfu tersentil. Karena apa yang diucapkannya memang lah benar.


Jinfu masih diam. Ia semakin sulit untuk membuka mulutnya, lidahnya kelu bahkan untuk menyanggah pun ia tak mampu.


" Jika demikian, maka kau tak perlu meminta maaf. Karena aku tidak membutuhkannya. "


Kemudian A Guang melanjutkan dengan penuh penekanan. " Kau tenang saja karena aku tidak akan mengadukan apa yang sudah kau perbuat pada paman jiang. Aku takut jantungnya tak akan bisa menerima kenyataan bahwa putra yang selama ini dikenalnya begitu santun ternyata tak ada bedanya dengan pembuat onar. Apa lagi jika sampai tahu bahwa putranya hampir saja membunuh putra mahkota kerajaan. "


" Apa maksud mu dengan membunuhmu? Aku hanya ingin membuatmu sedikit terluka. Kau berlebihan jika mengatakan itu bisa membuat mu kehilangan nyawa. Aku yakin kau tidak selemah itu. " Kali ini jinfu menolak tuduhan A Guang. Ia bahkan melupakan unggah-ungguh yang sebelumnya ia tunjukan saat meminta maaf.


A Guang tersenyum sinis. ' Lihatlah. Bahkan macan tutul yang menanggalkan bintiknya tidak akan berubah menjadi seekor singa. ' Batinnya.


" Kau mungkin tak bermaksud demikian. Tapi pernahkah kau berpikir jika saat itu aku tidak bergerak cepat, maka sudah dipastikan bukan luka lecet yang saat itu ku dapatkan tapi patah tulang dan cidera kepala yang mungkin menyebabkan pendarahan yang berujung dengan kematian. " Papar A Guang dengan emosi yang sudah sampai diubun-ubun.


" A-aku tidak berpikir sampai disitu. Han dong mengatakan bahwa itu tidak akan berbahaya dan hanya menyebabkan sedikit luka lecet. "


" Dan kau mempercayainya. " A Guang menggeleng juga berdecak. Tak habis pikir bahwa Jinfu tanpa sadar sudah di manfaatkan oleh temannya.


" Aku pikir kau cukup pintar untuk mengetahui mana yang benar-benar teman dan mana yang parasit. "


Lalu A Guang berbalik, sebelum melangkah jauh, ia pun kembali berbicara.


" Saran ku, berhati-hatilah pada Han Dong. Ia bukan pria bodoh yang akan begitu saja menerima dirinya menjadi pengikut seseorang. Lebih baik waspada dari pada terlambat dan justru menghancurkan mu. "


Jinfu menatap punggung A Guang yang semakin jauh. Di kepalanya masih terngiang kata-kata A Guang.


Ingatannya kembali ke belakang. Sebenarnya ia sendiri ragu dengan alasan yang membuatnya membenci A Guang.


Dan begitu otaknya memutar ulang memorinya. Jinfu menyadari, bahwa selama ini Han dong selalu mengatakan kata-kata yang menggiring dirinya untuk membenci A Guang. Han dong mencuci otaknya agar secara tidak sadar dirinya menganggap A Guang sebagai musuhnya.

__ADS_1


' Sial! ternyata selama ini dia memanfaatkan ku. ' Geram jinfu dalam hati.


Telapak tangannya mengepal kuat hingga tercetak jelas tonjolan otot di sana.


__ADS_2