
Sudah Satu bulan berlalu sejak Jingu mulai memimpin perang. Kerajaan Jin benar-benar mendesak kerajaan Nan. Kini para prajurit Nan mulai kehilangan semangat bertarung. Tak sedikit dari mereka yang secara terang-terangan mulai mengeluh.
" Apa kita akan kalah.. Aku tidak ingin mati. "
" Istri ku sedang hamil. Aku tidak ingin anak ku menjadi yatim ketika ia lahir. "
" Aku bahkan belum menikah, aku tidak ingin mati sebelum menikah. "
" Sungguh mengenaskan hidup kita. Terpaksa kehilangan nyawa hanya karena kita prajurit. Aku ingin berhenti saja menjadi prajurit kalau begitu. Nasib kita bahkan tidak lebih baik dari para warga sipil yang sangat beruntung karena tidak tersentuh oleh pasukan Jin. "
Racauan putus asa para prajurit Nan saat memikirkan nasib mereka.
Pasukan Nan yang hampir setiap hari terdesak situasi, seolah pasrah akan hidup mereka. Berharap bahwa perang akan segera berakhir dan mereka bisa kembali meskipun dalam kondisi tubuh sudah tak bernyawa.
Melihat situasi yang tidak mendukung, ketika rapat berlangsung para pemimpin pasukan Nan mulai mencari solusi.
" Jenderal, kita harus menemukan solusi untuk bisa mengalahkan pasukan Jin. Terlebih semangat para prajurit juga sudah redup jika terus seperti ini hanya masalah waktu sampai pasukan kita benar-benar akan kalah. " Ucap salah satu komandan pasukan Nan.
Melihat sang jenderal masih diam, salah satu komandan yang lain angkat bicara.
" Jenderal, jika kita tidak bisa melawan mereka dengan cara biasa. Kenapa tidak kita coba dengan cara lain. Seperti kata pepatah, satu pintu tertutup maka akan terbuka pintu yang lain. "
Empat komandan lain saling bertukar pandangan, kecuali Jingu yang masih tetap diam seolah mampu membaca ke arah mana pembicaraan salah satu rekannya tersebut.
Komandan itu membuka sebuah peta lalu kembali berbicara, " Perkemahan sementara pasukan Jin ada di sini dan aliran sungai ini menjadi sumber air mereka. "
" Maksud mu.. " Salah satu komandan mulai menebak.
" Benar. Kita akan meracuni sumber air mereka. Aku yakin dengan cara ini kita bisa memenangkan peperangan ini. "
Jingu yang mendengar rencana itu langsung mendengus seolah mengejek. Hal itu mengundang perhatian semua orang di sana.
" Apa ada yang ingin kau katakan komandan Liang, ah maksud ku Yang mulia pangeran. " Jelas sekali ini adalah kalimat provokatif. Komandan yang sebelumnya bicara memang diketahui memiliki hubungan yang kurang baik dengan Jingu.
" Apakah Kerajaan Nan begitu pecundang bahkan sampai menggunakan cara licik untuk memenangkan peperangan. Meskipun nantinya kita menang. Aku akan sangat malu untuk mengakuinya. "
Bukannya marah, komandan tersebut justru dengan santai berkata. " Pangeran, mungkin kau tidak tahu. Ini adalah strategi, kau mungkin tidak tahu apapun mengingat kau tidak tumbuh di medan peran melainkan hidup damai di balik tembok istana."
__ADS_1
Lanjutnya, " kau tahu, di medan perang nyawa adalah yang terpenting dari segalanya. Sedangkan untuk harga diri, itu tidak lah penting. Karena itu yang terpenting saat ini adalah memenangkan pertempuran. Kau mungkin tak akan mendapatkan hukuman dari Kaisar jika kita kalah mengingat kau adalah putranya. Tapi tidak dengan kami. Kaisar pasti menghukum kami semua karena dianggap tidak mampu. Jadi berpikir lah dari sudut pandang kami. "
Ucapan itu seolah menjadi hinaan bagi Jingu. Seakan ia berada di kamp militer dan mendapat posisi sebagai komandan pasukan karena statusnya yang seorang pangeran. Sama sekali tak paham mengenai kesulitan hidup di medan perang.
Tangan Jingu terkepal kuat.
" Kau tahu nyawa yang terpenting. Tapi apa kau sadar jika rencana mu itu juga akan mencelakai para warga sipil yang berada di sekitar aliran sungai. Apa kau juga akan membunuh mereka, orang-orang yang tidak bersalah? " Jingu berkata menahan amarah.
" Itu tidak masalah selama korbannya bukan rakyat Nan. " Enteng sekali komandan itu berbicara membuat amarah Jingu benar-benar sudah sampai di ubun-ubun.
Tak ada satupun yang membantu Jingu bicara, seakan membuktikan bahwa mereka pun setuju dengan ucapan salah satu rekan komandannya itu.
" Baiklah. Terserah kalian. Lakukan saja sesuka hati kalian. " Jingu meninggalkan ruang rapat dan enggan untuk menoleh meski sang jenderal sudah memanggilnya. Tak peduli lagi dia meski nantinya akan mendapatkan hukuman.
*******
Beberapa hari kemudian, di perkemahan pasukan Kerajaan Jin. Satu persatu prajurit mulai jatuh sakit. kebanyakan dari mereka mengalami diare dan muntah.
" Sejak kapan mereka mengalami ini? " Tanya A Fei ketika memeriksa salah satu prajurit. Tubuh mereka lemas karena kekurangan cairan. Tak hanya itu, wajah mereka pun tampak pucat dengan mata cekung.
A Fei baru kembali dari kota sebelah setelah membeli kebutuhan bahan obat untuk persediaan di pangkalan militer jadi ia tidak tahu jika mereka mengalami ini.
" Kenapa kau tidak segera memberitahu ku? " Ucap A Fei kesal.
" Maaf Putri. Saya tidak berharap akan menjadi parah seperti ini. Mulanya saya hanya berpikir ini mungkin sakit biasa. "
A Fei melihat raut penyesalan komandan Yan membuatnya tidak tega untuk kembali menyemburkan kemarahannya. Ia hanya berharap bahwa apa yang di alami oleh pasukannya bukanlah wabah.
Sayangnya harapan itu tidak terjadi. Pasukan Jin yang jatuh semakin banyak. Keesokan harinya tak hanya pasukan Jin yang terkena diare, banyak warga Jin juga mengalami hal yang sama.
" Bagaimana hasilnya? apakah kalian sudah memeriksanya? " Tanya A Fei pada para tabib yang bertugas di perkemahan.
" Maaf Putri, tapi seluruh bahan makanan sudah kami periksa namun tetap tidak ditemukan racun di sana. "
" Sumber air minum juga sudah kami periksa putri dan hasilnya pun sama. "
A Fei kembali menghembuskan napas putus asa ketika mendengar laporan para tabib. Ia menggaruk kepalanya yang pusing karena tak kunjung menemukan penyebab sakitnya sebagian besar pasukan Jin.
__ADS_1
" Apa kau masih belum menemukan penyebabnya? " Tanya A Feng pada saudara kembarnya tersebut setelah hanya ada mereka berdua. Entah sudah tak terhitung lagi untuk kesekian kalinya putra mahkota Jin itu menanyakan pertanyaan yang sama.
" Aku juga tidak tahu kak. Jika ini racun mudah bagi ku untuk menyembuhkan mereka, tapi setelah beberapa kali memeriksa sumber makanan dan air, sama sekali tidak ditemukan racun di sana. Aku ragu ini bukan kasus keracunan. "
" Jadi jika ini bukan kasus keracunan, lalu apa menurut mu penyebab sakit mereka semua? "
A Fei memutar kursi menghadap lurus Sima Feng. Wajahnya tampak serius menatap sang kakak.
" Tiba-tiba aku teringat sesuatu. Dulu ibu selalu berkata bahwa batuk berdarah atau TBC di sebabkan oleh bakteri. Tapi para tabib percaya penyebab penyakit itu adalah karena rusaknya organ paru-paru. Hal ini juga pernah aku tanyakan pada guru dan ia juga berkata bahwa itu memang di sebabkan oleh bakteri. Ketika aku bertanya, apa itu bakteri. Ia menjelaskan bahwa itu sejenis makhluk hidup yang sangat kecil yang tak bisa di lihat oleh mata. " Jelas A Fei.
Mengingat saat itu pengetahuan medis masih belum begitu berkembang jadi sangat wajar jika belum diketahui mengenai virus ataupun bakteri. Pengobatan pun masih sederhana dan yang paling rumit hanya seputar racun dan penawar saja.
" Jadi kau berpikir ini disebabkan oleh bakteri? " Sima Feng mulai menyimpulkan.
A Fei mengangguk. "Benar. Aku sendiri tidak tahu bagaimana bentuk bakteri. Tapi aku yakin wabah ini di sebabkan olehnya. "
Sima Feng tampak berpikir keras, hal itu membuat A Fei penasaran.
" Apa yang sedang kau pikirkan kak? "
Melihat A Fei, Sima Feng berkata dengan serius. " Aku hanya berpikir bakteri itu sangat kecil namun mengerikan. Terbukti mereka mampu membuat manusia menderita. Kau pun pasti berpikir demikian, bukan? "
Jangan tanya padaku. Aku sendiri bahkan tak pernah melihatnya. Aku tidak tahu apa-apa. Monolog A Fei dalam hati.
" Lalu langkah apa yang harus kita ambil untuk mengobati mereka. Kau tahu sendiri bagaimana wabah ini sudah menyebar hingga ke luar perkemahan militer. Ada puluhan warga yang di laporkan mengalami hal sama. Mereka muntah disertai diare panjang. " Sambung Sima Feng dengan pertanyaannya.
A Fei berpikir dalam diam.
Setelah menunggu dalam diam. Jawaban A Fei membuat Sima Feng ingin sekali memukulnya.
" Aku... tidak tahu.. " Kata A Fei ragu. Lalu dengan cepat ia menambahkan.
" Tapi aku akan melihat buku catatan guru terlebih dulu dan melihat cara menangani hal ini. " Sambungnya ketika melihat Sima Feng hendak mencercanya lagi.
Beruntung A Fei selalu membawa catatan yang di tinggalkan Lucy bersama beberapa jurnalnya yang tidak luput dari daftar barang bawaan putri Jin itu.
Di sela-sela sakitnya pasukan Jin. Tiba-tiba Pasukan Nan kembali melakukan serangan. Jumlah pasukan Jin yang sehat tidak banyak membuat pertahanan menjadi lemah. Hingga untuk pertama kalinya kerajaan Jin menderita kekalahan.
__ADS_1