Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 345 Side story ( A Feng story)


__ADS_3

Di saat yang sama, kehebohan di depan kediaman juga sudah diketahui oleh Sima Feng. Ia tampak tersenyum puas saat mendengar laporan kepala pelayan Hu.


" Istri ku memang hebat. " Puji Sima Feng.


" Nyonya sepertinya melakukannya dengan baik Yang mulia. " Ling He juga ikut memuji sang Nyonya. Wanita yang ia pikir lemah ternyata bisa bersikap tegas. Apalagi menghadapi wanita seperti Gu Feifei.


Jika ia saja bisa melihat niat buruk Gu Feifei apa lagi tuannya.


Wanita ulat itu ternyata ingin bertindak seperti wanita ular. Andai bukan karena pengorbanan komandan Gu, sudah sejak lama wanita itu di tendang keluar oleh tuannya.


" Apakah tugas yang ku perintahkan sudah selesai kau kerjakan? " Tanya Sima Feng. Setelah kepala pelayan Hu keluar.


" Sudah Yang mulia. Saya berhasil menemukan tempat yang sesuai dengan permintaan anda. Kami akan segera merubahnya menjadi klinik untuk Wangfei. "


" Bagus. Kau siapkan sisanya. Kemungkinan bantuan dari istana juga akan tiba dalam beberapa hari. "


" Apa ada lagi yang ingin kau laporkan? " Melihat Ling He tak kunjung pergi. Sima Feng kembali bertanya.


" Baru saja saya mendapat pesan dari perbatasan Yang mulia. Ada kabar bahwa tampaknya sisa pasukan wei berencana menjalin kerja sama dengan bangsa bar-bar. "


Wajah Sima Feng berubah gelap. " Ternyata mereka masih tidak menyerah. Gulma tetaplah gulma. Jika tidak mencabutnya sampai ke akar maka cepat atau lambat pasti akan tumbuh merajalela. Kali ini jangan sisakan apapun. Kita akan berangkat besok pagi. "


Aura membunuh Sima Feng mampu membuat suhu ruangan berubah drastis hingga membuat bulu halus Ling He tegak.


Jika sudah begini, maka Ling he hanya bisa berdoa atas kesialan pasukan wei yang sebentar lagi datang.


Sima Feng keluar di ikuti Ling He di belakang. Ia berencana akan berbicara pada sang istri terlebih dulu mengenai keberangkatannya. Kepergiannya kali ini mungkin akan lama. Dan sekali lagi, mereka akan kembali berpisah.


Ada perasaan sedikit tidak rela saat memikirkan harus meninggalkan istrinya.


" Yang mulia, apakah anda akan pergi ke tempat wangfei? " Dari arah lain Gu Feifei datang menghampiri Sima Feng.


" Ada apa? " Sima Feng mengabaikan pertanyaan Gu Feifei. Bertanya balik dengan wajah datar seperti biasa.


Wanita itu tersenyum, " Hm.. Ada yang ingin aku katakan pada anda Yang mulia. Tapi... " Ia melirik Ling He berharap pengawal itu sadar bahwa kehadirannya adalah pengganggu. Namun dasarnya Ling He yang acuh tak acuh. Ia tak peduli dengan sinyal yang di berikan Feifei.


" Katakan saja. Dia bukan orang lain. " Sima Feng tak ingin berbicara berdua dengan wanita selain istrinya. Jadi ia sengaja tidak mengusir Ling He.


Ling He dalam hati tertawa puas. Wanita ini benar-benar tidak tahu malu, batinnya.


Dengan ragu-ragu Feifei berkata, " Yang mulia, aku ingin minta maaf. Karena tadi aku sudah bersikap kasar dan membuat Wangfei hampir di salah pahami. Sungguh aku tidak bermaksud melakukannya. Aku hanya tak ingin Wangfei bertemu dengan pria acak itu. Tapi sepertinya wangfei telah salah paham dan berpikir buruk tentang ku. "

__ADS_1


Sekilas Gu Feifei berkata bahwa ia bertindak demi kebaikan Liu ru. Tapi bagi mereka yang memiliki pikiran, terlihat jelas maksud wanita itu yang menyiratkan bahwa Liu ru sering bertemu dengan pria acak.


Beruntung, Ziyan selalu mendidik anak-anaknya agar tak terpedaya dengan ucapan manis namun beracun di dalam.


" Untuk itulah, sebagai permintaan maaf, aku sengaja membuat beberapa kudapan sebagai permintaan maaf. Aku benar-benar menyesal. " Gu Feifei membuat ekspresi penuh penyesalan yang mampu memikat kaum pria. Namun itu hanya berlaku untuk bajingan dan pria brengsek. Sayangnya Sima Feng tidak termasuk keduanya.


" Baguslah kalau kau menyesal. Aku harap hal seperti ini tidak terulang lagi. " Tekan Sima Feng.


Meski hatinya getir, Gu Feifei masih bisa tersenyum lebar.


Mengangguk cepat ia berkata. " Hm. Aku janji tidak akan mengulanginya. "


Lalu memindahkan piring berisi kudapan di tangan pelayannya pada Sima Feng. " Tolong sampaikan permohonan maaf ku ini pada Wangfei pangeran. Aku terlalu malu untuk menyerahkannya secara langsung padanya. Aku tidak percaya diri. "


Sima Feng tak memiliki pilihan untuk menolak setelah piring penuh dengan kue itu sudah berada di tangannya.


" Baiklah. Aku akan menyerahkannya pada istri ku. " Ucap Sima Feng terpaksa.


Setelah berkata, ia berlalu pergi meninggalkan Feifei. Gadis itu masih tersenyum namun setelah sosok Sima Feng menjauh. Wajahnya yang tersenyum itu berubah dingin. Sangat berbeda dengan sikap hangat yang tadi di tunjukkan pada pria itu.


Liu ru sedang membaca buku saat Sima Feng tiba-tiba datang ke kamarnya.


" Pangeran, apa yang kau bawa? " Penasaran dengan isi piring di tangan suaminya.


Alis Liu ru mengerut saat melihat makanan yang baru saja diletakkan oleh Sima Feng tersebut. " Kenapa ia tidak memberikannya langsung pada ku? " Melihat ke arah Sima Feng penuh tanya.


" Ia terlalu malu pada mu dan merasa tidak enak. Itulah kenapa ia meminta ku untuk memberikannya pada mu. "


Liu ru mengangguk paham. ' Apanya yang tidak enak. Dia mungkin hanya ingin memanfaatkan situasi agar bisa mengobrol pada mu. Dasar. Sebenarnya pria ini terlalu abai atau memang sengaja. ' Batinnya.


" Ada apa? apa kau tak suka? " Tanya Sima Feng melihat istrinya tidak memakannya dan hanya memandangnya saja.


" Bukan. Aku hanya sedang tak ingin makan. " Ucap Liu ru beralasan. Perasaannya tiba-tiba jelek dan itu membuatnya tak bernafsu.


" Baiklah. Jangan dimakan sekarang kalau begitu. Kau bisa memakannya nanti. " Setelah jeda sesaat Sima Feng memasang wajah serius.


" Ada hal lain yang ingin ku bicarakan. "


Liu ru meletakkan buku di tangannya dan memasang perhatian. Ia tahu suaminya memiliki hal penting untuk di sampaikan.


" Ada apa? apakah ada hal mendesak di perbatasan? " Tebak Liu ru.

__ADS_1


Sima Feng mengangguk. Istrinya sangat pintar. " Sisa pasukan Kerajaan wei terlihat bersekutu dengan bangsa bar-bar. Ada kemungkinan mereka akan kembali menyerang. Karena itu aku harus kembali ke kamp militer besok pagi. "


" Besok? kenapa begitu cepat? Apakah itu akan lama? "


" Aku tidak tahu. Kemungkinan bisa lebih dari sebulan. Mengingat ini bukan serangan langsung. Kita tak tahu mereka akan menyerang kapan. Aku harus memperkuat pertahanan pasukan kita terlebih dulu. "


Jujur Liu ru sedikit tidak rela. Entah kenapa kepergian kali ini begitu terasa berat.


Liu ru memeluk Sima feng, tidak peduli jika pria itu berpikir ia sedang menggodanya. " Aku pasti akan merindukan mu. "


Liu ru tak tahu kenapa, tapi yang ia inginkan saat ini adalah mengutarakan apa yang dirasakannya.


Mungkin karena obrolan mereka tempo hari dan melihat bagaimana bekas luka di tubuh suaminya. Membuatnya menghargai momen kebersamaan mereka saat ini.


Sima Feng membalas pelukan istrinya, memejamkan mata seolah menyalurkan perasaan yang sejak tadi menyesakkan dadanya. Begitu enggan ia meninggalkan istrinya. Perasaan yang baru pertama kali ia rasakan. Bahkan saat meninggalkan keluarganya dulu untuk pertama kalinya berperang. Hatinya tak segalau ini.


" Aku akan kembali. Tunggu aku. " Bisik Sima Feng dengan suara berat. Membuat bulu halus Liu ru meremang.


Wanita itu mengangguk. " Tapi sebelum pergi. Bisakah kau kabulkan permintaan ku. "


" Katakan. " Sima Feng menyelipkan rambut liar Liu ru ke belakang telinganya.


Wanita itu kembali menunduk tampak malu-malu. Sima Feng bisa merasakan sikap istrinya yang seolah mengundang harimau lapar untuk datang berkunjung.


Sima Feng mengangkat dagu Liu ru dan menatap penuh cinta wanita itu.


" Apakah apa yang kita berdua pikirkan sama? " Begitu berat suara Sima Feng menahan hasrat yang semakin menekan akal sehatnya itu.


" A-aku tidak tahu. " Jantung Liu ru berdebar kencang. Seolah kapan saja bisa melompat keluar sangking cepatnya berdetak.


Tanpa aba-aba Sima Feng mengangkat tubuh Liu ru. Tak ingin terjatuh, Liu ru dengan sigap langsung mengalunkan tangannya di leher pria itu.


" Apa yang kau lakukan? " Pekiknya terkejut.


" Ayo kita selesaikan pernikahan kita. Sudah terlalu lama kita berdua menundanya. "


" Sekarang? apa kau gila? Ini masih sore dan kau ingin melakukannya. "


Sima Feng meletakkan tubuh istrinya pelan di atas ranjang. " Kau benar. Aku memang gila. Karena itu kita akan menggila sepanjang malam. "


Segera Sima Feng menerkam Liu ru. Bagai predator kelaparan. Sima Feng benar-benar tak menyia-nyiakan kesempatan.

__ADS_1


Suasana kamar dengan cepat berubah panas. Kepala pelayan Hu yang sebelumnya akan memanggil keduanya untuk makan malam, dengan bijaksana mundur dan meminta para pelayan untuk pergi. Ia tak ingin kesenangan tuannya terganggu.


__ADS_2