Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 146


__ADS_3

Sima rui akhirnya mengadakan rapat darurat guna membahas situasi genting yang dialami kerajaan Jin. Semua orang hadir, tak terkecuali shuwang yang ikut hadir meski dirinya bukan bagian dari kerajaan Jin.


Wajah setiap orang tampak serius. Pasalnya apa yang baru saja mereka dengar dari Sima Dan sungguh sangat mengejutkan. Mereka tidak menyangka situasi kerajaan Jin tidak jauh berbeda dengan nasib kerajaan wei.


" Serangan pada kerajaan wei tampaknya juga di rencanakan oleh ibu suri. Jika demikian, maka ibu suri sudah menguasai dua kerajaan. "


" Dengan pasukan suku bar-bar dan sekutunya, lalu para prajurit kerajaan wei yang memutuskan menyerahkan diri, sudah di pastikan meningkatkan kekuatan militer ibu suri. Jika kita hanya menyerang dengan jumlah prajurit Jin yang ada di sini, sudah di pastikan hanya akan menjadi serangan sia-sia. "


" Lantas apa kita hanya akan diam saja. Sementara nenek tua itu menguasai istana. Setelah ini aku yakin dia pasti akan mengirim pasukan pendukungnya untuk menyerang kita yang ada di perbatasan. "


" Siapa yang mengatakan bahwa kita akan diam saja. Lalu satu hal lagi, ibu suri bukanlah nenek-nenek. Kulitnya masih kencang. Ia bahkan masih cocok jika bersanding dengan kaisar. "


Perdebatan para komandan pasukan membuat suasana rapat berubah ricuh. Niat awal Sima rui ingin membahas masalah tersebut dengan tenang namun yang ia dapatkan justru perang mulut para bawahannya.


Tak ingin terus terganggu dengan perdebatan tersebut. Sima rui lekas mengambil pedang yang ada di sampingnya, lalu mengeluarkan dari sarung pedangnya.


Sontak apa yang Sima rui lakukan tersebut sanggup membungkam para komandan itu. Mereka segera terdiam, bahkan salah satunya dengan cepat menarik bibirnya masuk ke dalam.


Sima rui dengan acuh melihat pedangnya. Namun yang terlihat di mata para komandan adalah pria itu sedang berpikir bagaimana dia akan menebas leher mereka.


Ziyan sungguh ingin tertawa melihat tingkah ke empat komandan Sima rui. Mereka dengan tubuh besar bagai beruang justru terlihat seperti anak kunci yang ketakutan.


Melihat situasi kembali tenang. Sima rui memasukan kembali pedangnya, dan mulai berbicara.


" Jika kalian tidak bisa berpikir dengan kepala dingin silakan keluar. " Ucap dingin Sima rui. Para komandan yang mendengarnya bahkan sampai menelan salivanya.


Sima rui lalu menatap shuwang. " Putri, apa kaisar wei menitipkan sesuatu padamu? "

__ADS_1


Shuwang mengangguk. " Iya. Tapi itu bukan benda yang penting. " Jawab shuwang bohong.


Ia tahu Sima rui berada di pihak mereka, tapi stempel kerajaan adalah benda yang sangat penting. Ia tidak bisa menyerahkannya pada orang lain. Benda itu menentukan nasib rakyat kerajaan wei.


" Karena token militer telah di rebut. Maka kau bisa menggunakan 'benda tidak penting' itu untuk menggerakkan sisa tentara wei yang belum bergabung dengan suku bar-bar. Dan setelah itu, kau bisa merebut kembali kerajaan wei. "


Ucapan Sima rui seakan menjadi seteguk air yang menghilangkan rasa dahaganya di kala rasa putus asa menyelimuti hatinya.


" Benarkah kerajaan wei masih bisa di rebut lagi. " Tanya shuwang tak percaya. Namun sorot matanya penuh dengan pengharapan.


" Tentu saja. Karena itu bekerja samalah. Setelah kita mengalahkan pasukan ibu suri yang ada di kerajaan wei. Maka kita bisa mengambil alih istana dan menyelamatkan kerajaan Jin. "


Shuwang akhirnya setuju dan memutuskan menyerahkan stempel kerajaan pada Sima rui.


" Aku percayakan keselamatan rakyat wei padamu. " Ucap shuwang menyerahkan stempel tersebut.


Sima rui pun hanya mengangguk sebagai balasan. Setelah itu, mulai lah sima rui menjelaskan rencananya.


*********


Pria itu memeluk ziyan dari belakang. Lalu berbicara tepat di samping telinga ziyan. " Apa yang kau khawatirkan? " Tanya Sima rui.


Ziyan menghembus napasnya. " Aku sedang memikirkan nasib keluarga Mo di ibu kota. "


Ya benar. Sejak tadi ziyan memikirkan bagaimana nasib keluarganya di sana. Setelah mendengar kabar Sima Dan, Ziyan mengutus salah seorang anggota Heilong untuk melihat keluarganya.


Situasi kediaman masih aman. Hanya saja sang ayah harus merasakan dinginnya penjara karena menolak kekuasaan ibu suri bersama dengan beberapa menteri lainnya. Itulah kabar terakhir yang ia terima.

__ADS_1


" Percayalah pada ayahmu. Aku yakin tuan Mo memiliki rencananya sendiri. Apa kau meragukan kemampuan ayahmu? "


Ziyan menggeleng. " Aku tahu dia sosok yang hebat. Hanya saja, rasa khawatir ini tetap saja tak bisa hilang. Setelah kehilangan keluarga, dan akhirnya menemukan kembali keluarga disini. Aku menjadi egois dan serakah. Berharap agar hanya ada kedamaian pada keluarga baru ku ini. Tanpa menyadari bahwa hidup itu bagai roda yang berputar. Dan kini disaat roda itu berada di bawah, aku tidak sanggup menerimanya. " Ucap ziyan lesu.


Sima rui memutar badan ziyan agar menghadap padanya.


" Melihat wajahmu seperti ini sungguh membuat hatiku sakit. Seolah aku menjadi laki-laki yang gagal membuat wanitaku tersenyum. " Sima rui menjeda ucapannya, lalu kembali berbicara, " Aku berjanji. Semuanya akan segera berakhir. "


Setelah berbicara, Sima rui menarik Ziyan ke dalam pelukannya. Detak jantung pria itu ternyata sanggup menenangkan rasa gundah di hati ziyan. Rasa khawatir dan cemas yang tadi menyelimutinya seolah menguap.


Berbeda dengan detak jantung Sima rui yang menenangkan, sorot mata pria itu justru menatap tajam ke arah luar. Tatapan tajamnya seolah mencerminkan tekadnya yang kuat untuk segera menyelesaikan semuanya.


Sementara di tempat lain,


Shuwang menatap langit penuh bintang. Ia teringat ucapan kaisar wei saat dirinya kecil. Saat ia merindukan kedua orang tuanya. Kaisar wei datang menghiburnya.


" Jika kau merindukan mereka, maka lihatlah langit. Di salah satu bintang itu ada orang tua mu yang senantiasa memperhatikanmu. Jadi, jika kau bersedih, maka mereka pun akan bersedih. Tersenyumlah agar mereka juga tersenyum. "


Shuwang tersenyum pahit, rasa perih di hatinya masih begitu terasa. Apa lagi jika mengingat obrolan kedua pria asing di penginapan perihal kematian kaisar wei, membuat hatinya semakin hancur. Ia masih yakin bahwa pria itu masih hidup.


" Melamun lagi? " Suara berat pria membuat shuwang tersentak terkejut. Ia segera menoleh ke samping dan melihat Sima Dan yang baru saja tiba.


' Rusak sudah ketenangan ku. ' Batin shuwang. Entah kenapa ia selalu merasa kesal jika berada di samping pria ini.


**********


Author butuh dukungan!

__ADS_1


Yuk dukung dengan like, komen, vote, dan kirim hadiah supaya semangat updatenya.


Dan Terima kasih banyak buat yang udah like, komen dan vote. Makasih banyak..........


__ADS_2