Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 358 Side story ( A Feng story)


__ADS_3

Liu Ru bukanlah wanita bodoh. Tak mungkin ia menghancurkan masa depan cerah putranya hanya karena masalah kecilnya. Sungguh amat tidak sebanding jika demi kebebasan yang tidak seberapa, ia harus mengorbankan masa depan putranya. Itu terlalu merugikan.


Sima Yi adalah putra sulung kediaman pangeran Kedua dan yang terpenting ialah status putranya sebagai anak sah. Terlepas di masa depan Sima Feng akan mengangkat seorang selir dan pada akhirnya memiliki putra lain. Kedudukan Xiao Yi tetaplah yang tertinggi, tidak sebanding dengan putra tidak sah dari selir suaminya.


Karena itu, Liu Ru memilih untuk bertahan dan sementara waktu pergi ke ibu kota selama kehamilan keduanya ini.


Itu benar, saat ini dirinya tengah hamil.


Seharusnya ini menjadi kabar yang menggembirakan. Namun sayangnya Liu Ru belum memberi tahu kabar kehamilannya ini pada Sima Feng. Disaat situasi seperti ini, memberitahu kabar kehamilannya hanya akan membuat orang-orang yang membencinya beralih menargetkan pada anak di perutnya.


" Ibu yakin akan ikut dengan ku ke ibukota? " Tanya Xiao Yi sekali lagi.


" Tentu. Ibu ingin tinggal dengan mu. Apa kau senang? "


" Tentu saja bu. Lalu bagaimana dengan ayah? "


" Ayahmu pria dewasa, ia tidak membutuhkan ibu untuk mengurusnya. Lagipula ada wanita lain yang dengan sukarela akan mengurusnya. Jadi jangan khawatirkan dia. " Liu Ru terlihat begitu acuh tak acuh. Namun percayalah, hatinya sesungguhnya begitu sesak saat mengatakannya.


Xiao Yi tidak langsung menjawab, melainkan kembali bertanya. " Bu, apa kau tidak cemburu jika ayah mengambil selir? " Xiao Yi sudah sejak lama ingin menanyakan hal ini. Ia ingin tahu bagaimana perasaan ibunya pada sang ayah yang sebenarnya.


" Saat ibu memutuskan menikah dengan ayah mu. Ibu sudah mempersiapkan diri untuk kemungkinan itu. Meski Yang mulia ratu berjanji bahwa tidak akan ada selir di harem ayah mu. Tapi ibu tetap menyiapkan diri untuk kemungkinan lain. "


" Karena itu, jika kau bertanya apa ibu cemburu maka jawabannya tentu saja iya, tak ada satu wanita pun yang sebenarnya ingin berbagi suami dengan wanita lain. Tapi rasa cemburu itu perlahan sudah berganti dengan logika yang harus lebih ibu utamakan alih-alih perasaan semata. "


Dari jawaban Liu Ru, Xiao Yi bisa melihat bahwa sang ibu sudah menekan perasaannya sendiri untuk tidak hanyut dalam perasaan cintanya pada sang ayah, atau yang terburuk ialah sang ibu sudah membunuh hatinya sendiri untuk tidak merasa cemburu.


Setelah keputusan itu, Xiao Yi segera membicarakannya pada sang Bibi perihal kepulangannya ke ibukota sekaligus ibunya yang sudah bersedia untuk kembali bersamanya. Sima Fei yang memang sudah tak tahan tinggal di sana terutama karena sikap saudaranya yang akhir-akhir ini mengecewakan. Tentu saja menyambut baik keputusan kakak iparnya itu yang ingin kembali ke ibukota bersama dengannya.


" Kakak ipar, keputusan bagus. Akulah yang akan merawat mu nanti. Lupakan suami mu yang tidak berguna itu. " Sima Fei meluapkan rasa kecewanya pada sang kakak.


" Jangan berkata seperti itu. Biar bagaimana pun juga, A Feng adalah jenderal yang membawa kemenangan untuk Kekaisaran kita. Dia adalah pahlawan negara ini. " Meski sangat mengecewakan, tapi fakta bahwa ia adalah suaminya tidak bisa di abaikan.

__ADS_1


" Kau masih saja melindunginya. Padahal dia sudah mengecewakan mu kakak ipar. Kau dilarang keluar kediaman dan harus menyalin kitab suci sebagai hukuman atas perbuatan yang sama sekali tidak kau lakukan. Bukankah itu sama saja dengan tidak berguna. Karena ia bahkan tak bisa menemukan pelaku yang sebenarnya. "


Liu Ru terkekeh. " Apa kau yakin bahwa bukan aku yang meracuni Gu Feifei? "


" Tentu saja aku yakin. "


" Bagaimana bila aku yang benar-benar melakukannya? "


Liu Ru mengira ia akan melihat ekspresi kecewa sima Fei, nyatanya justru hal mencengangkan yang keluar dari mulutnya.


" Maka aku akan mendukung mu kakak ipar. " jawab A Fei.


Jawaban tak terduga A Fei sontak membuat Liu Ru tergelak dan menggeleng. Jalan pikiran adik iparnya itu benar-benar lain dari pada yang lain. Apakah ia tidak sadar bahwa apa yang dilakukannya itu salah.


" Baiklah kakak ipar. Aku akan segera mengirim surat untuk ayah dan ibu mengabarkan mengenai kepulangan kita. aku juga harus menyiapkan beberapa hal sebelum kepulangan ku ke ibukota. "


Beberapa hari berlalu. Sima Feng sama sekali tak menemui Liu Ru semenjak terakhir kali mereka bertemu. Berulang kali Liu Ru memutuskan untuk menemuinya di ruang kerjanya. Namun selalu ditolak oleh Ling He.


Seperti ini lah jawaban yang selalu di berikan Ling he. Hingga akhirnya Liu Ru memutuskan untuk berhenti menemui Sima Feng.


" Yang mulia, para pemberontak kerajaan Wei kembali menyerang perkampungan di sebelah barat perbatasan. " Lapor salah satu bawahan sima Feng.


" Beraninya mereka. Ling He, siapkan semuanya. Kita akan berangkat satu jam lagi. "


Ling He tahu ini keadaan darurat, jadi dengan cepat ia melaksanakan apa yang di perintahkan oleh tuannya. Hingga keduanya berangkat dan melupakan untuk memberi tahu kepergian mereka berdua pada Liu Ru.


Saat makan malam,


" Kepala pelayan Hu, dimana Yang mulia? apakah malam ini juga Yang mulia memilih makan di ruang kerjanya lagi? "


Kepala pelayan Hu melihat Liu Ru dengan ekspresi bingung. " Nyonya, Yang mulia pergi ke perkampungan di sebelah barat perbatasan untuk menangkap para pemberontak yang menjarah juga membantai para warga di sana. Jadi Yang mulia tidak akan ikut makan untuk beberapa minggu mendatang. "

__ADS_1


" Kapan dia pergi? " Bukan Liu Ru yang bertanya, melainkan Sima Fei.


" Yang mulia berangkat selang satu jam setelah pembawa pesan mengirim berita itu. " Jawab Gu Feifei.


" Tidak ada yang mengira kau bisu meski kau tidak berbicara. Jadi berhenti menyela, aku sedang bertanya pada kepala pelayan Hu, bukan dengan mu. " Sinis Sima Fei.


Gu Feifei marah. Ingin sekali saat ini juga ia mencengkram leher dan mencekik Sima Fei sekuat tenaga hingga kehabisan napas. Mulutnya terlalu beracun.


Meski begitu, Gu Feifei hanya bisa bertahan dan mencengkeram erat bajunya di bawah meja.


" Jadi kepala pelayan Hu, kapan kakak ku pergi? " Sima Fei mengulang kembali pertanyaannya.


" Yang mulia pergi selang satu jam setelah pembawa pesan datang, putri. " Jawab kepala pelayan Hu.


Salah satu sudut bibir Gu Feifei naik. Tiba-tiba ia mendapatkan sebuah ide.


" Wangfei, aku pikir Yang mulia sudah mengatakan padamu tentang keberangkatannya mengingat ia juga mengatakan padaku sesaat sebelum ia berangkat. Aku tidak berpikir bahwa Yang mulia akan lupa untuk memberitahu mu. "


Sengaja Gu Feifei mengatakan itu semua. Ia ingin agar Liu Ru berpikir bahwa Sima Feng telah melupakannya.


Secara tidak langsung Gu Feifei berkata bahwa Sima Feng sudah melupakannya.


Tentu saja Liu Ru menyadari provokasi yang di lakukan Gu Feifei. Meski ia terlihat seolah tidak terpengaruh. Tapi jauh di lubuk hatinya ada sedikit rasa cemburu. Ia tahu bahwa Gu Feifei mencoba membuat jarak antara dirinya dan Sima Feng dengan mengatakan itu.


Meski akal sehat Liu Ru menyakini dirinya agar tidak percaya akan ucapan Gu Feifei. Tapi hatinya menolak, dan ia tanpa sadar percaya. Membuat dirinya kembali merasakan kekecewaan pada Sima Feng.


" Yang mulia bukanlah bocah 4 tahun yang harus mengatakan padaku kemana pun setiap ia hendak pergi. Ia pria dewasa, seorang jenderal besar, dan juga seorang pangeran. Apakah menurut mu jika ia memberitahu kepergiannya dan aku melarang, Yang mulia akan patuh? "


Kemudian Liu Ru terkekeh. " Aku justru merasa lucu padamu. Pangeran mengatakan padamu tentang kepergiannya dan itu membuat mu begitu bangga. Tapi sayangnya dimata ku itu tampak seperti Xiao Yi yang meminta permen padaku. Kau bukan ibu Yang mulia bukan? "


Sima Fei terbahak ketika mendengarnya. " Sungguh malang sekali ibuku jika harus di samakan dengannya. "

__ADS_1


Gu Feifei yang tak menduga akan reaksi Liu Ru hanya bisa mengepalkan tangannya dengan kuat. Kesal karena wanita itu sama sekali tak terpengaruh.


__ADS_2