
Ketika mendengar kabar bahwa Sima Feng telah tiba. Semua komandan bersiap untuk menyambutnya. Kini para komandan militer sudah berada di tenda utama.
Sayangnya niat baik mereka disambut dengan wajah dingin A Feng.
Bagaimana tidak? Baru saja ia mendengar kekalahan mereka dan begitu tiba, ia melihat hampir setengah dari pasukannya terluka.
" Berikan aku alasan masuk akal. Kenapa pasukan kita bisa mengalami kekalahan? " Kalimat sederhana Sima Feng penuh dengan tekanan. Jangankan untuk menelan ludah. Bahkan untuk bernapas pun terasa sulit.
Tak ada satupun yang berani membuka mulut mereka. Seakan kompak untuk diam dan tak mengungkap fakta yang sebenarnya.
" Kau. Katakan. " Akhirnya Sima Feng menunjuk salah satu komandan paling muda di sana.
" Maaf Yang mulia. Kami terlalu lalai dan menyepelekan lawan. Membuat prajurit lengah dan kehilangan kekuatan mereka. " Ungkapnya jujur.
Ketiga komandan yang lain hanya bisa menunduk. Karena terlalu malu untuk mengakuinya.
Sima Feng tersenyum penuh hina. " Bagus. Kalian bekerja dengan sangat bagus. Jika bukan karena kebodohan kalian. Setengah dari pasukan kita tidak akan terluka seperti sekarang. "
" Setelah perang ini selesai. Bersiaplah menerima hukuman kalian. " Pandangan Sima Feng menyapu ke empat komandan militernya. Mereka akan menerima hukuman tak peduli siapa pun itu.
Sudah merupakan konsekuensi yang harus mereka terima. Mereka sadar betul, ini semua akibat dari kelalaian mereka. Jadi meski berat, mereka akan menerima hukuman tersebut.
Sima Feng tidak akan dengan ceroboh menghukum para komandannya di saat perang seperti saat ini. Bagaimana pun juga ia masih membutuhkan mereka.
Setelah mendengar laporan mereka dan beberapa permasalahan yang harus segera di selesaikan.
Akhirnya Sima Feng kembali ke tenda miliknya.
" Yang mulia. Para tabib dari kota terdekat sudah datang. " Ling he memberikan laporannya.
" Suruh mereka obati para prajurit yang terluka. Jika kekurangan bahan obat-obatan. Minta lah pada serikat Zi. Lalu masukkan tagihannya pada bendahara istana. "
Ling he bergegas pergi untuk menjalankan perintah.
Alasan kenapa Sima Feng memanggil tabib dari luar adalah untuk mempercepat pengobatan para pasukannya. Ia yakin, pasukan Wei akan menyerang mereka lagi tanpa memberikan para pasukannya untuk memulihkan kekuatan mereka.
Keesokan harinya, benar saja. Pasukan Wei datang menyerang. Namun kali ini mereka berhasil di tekan mundur oleh pasukan Sima Feng.
__ADS_1
Ia mengira akan membutuhkan waktu lama bagi pasukan Wei untuk kembali menyerang. Sayangnya tidak. Mereka kembali menyerang keesokan harinya. Dan kembali mundur setelah beberapa serangan.
Dua kali berhasil membuat mundur pasukan Wei tentu membuat rasa percaya diri pasukan Jin meningkat. Namun mereka tidak tahu, bahwa rasa percaya diri yang terlalu tinggi hanya akan menjadi bumerang.
*********
Dua hari sudah Liu ru mengalami perjalanan ke perbatasan. Ia akhirnya tiba di salah satu kediaman yang sudah di siapkan Sima Feng untuk mereka tinggal.
" Inikah kediaman yang di siapkan suami ku? " Tanyanya pada Xiao su.
" Benar nyonya. "
Begitu Xiao su selesai berbicara, kepala pelayan datang dengan beberapa pelayan di belakangnya.
Kepala pelayan merupakan pria paruh baya. Ia menyambut kedatangan Liu ru kemudian memberikan salam.
Liu ru melihat wajah kepala pelayan yang tersenyum dan itu terlihat ramah di mata Liu ru.
Ia berpikir, setidaknya kepala pelayannya bukan paruh baya kaku yang sangat galak dan tegas.
" Kepala pelayan Hu apakah Yang mulia sudah datang ke sini? " Tanya liu ru saat kepala pelayan mengantarnya ke kamar miliknya.
Liu ru mengangguk mengerti. Kemudian ia tiba di kamar miliknya. Ah bukan hanya miliknya tapi juga Sima Feng.
Mengedarkan pandangannya, Liu ru menyadari satu hal. Kamar miliknya sama persis dengan kamar miliknya di ibukota.
" Xiao su mataku yang bermasalah atau memang kamar ini terlihat sama dengan kamar di kediaman ibu kota? "
Xiao su ingin sekali tertawa melihat wajah tidak percaya majikannya tersebut. " Tidak nyonya. Anda memang tidak salah lihat. Pangeran memang sengaja mengaturnya agar terlihat seperti Kamar anda sebelumnya. Beliau takut anda akan merasa tidak nyaman karena berada di tempat baru. " Jawab Xiao su jujur.
Perhatian sekali Sima Feng membuat hati Liu ru berbunga-bunga. Pria yang selalu membuatnya kesal itu ternyata diam-diam begitu memperhatikannya.
Tanpa sadar bibir Liu ru melengkung. Ia jadi tak sabar menunggu kedatangan pria yang menjadi suaminya tersebut.
Hari terus berganti, dan tanpa terasa sudah hampir satu bulan berlalu. Namun Sima Feng masih belum datang ke kediaman. Hal itu tentu membuat Liu ru khawatir.
" Bagaimana? Apakah belum ada berita? " Tanya Liu ru pada Xiao su setelah ia menyuruhnya mencari informasi mengenai Sima Feng.
__ADS_1
" Sudah nyonya. Berdasarkan apa yang kepala pengawal sampaikan. Yang mulia masih berada di medan perang. Namun beliau tidak bisa kembali karena pasukan Wei yang terus menyerang. "
" Apakah sesulit itu mengalahkan pasukan Wei. Bukankah pasukan kita lebih kuat dari mereka? " Tanyanya tak mengerti. Jika dilihat dari perbandingan kekuatan militer. Seharusnya sudah sejak lama Kekaisaran Jin mengalahkan kerajaan Wei.
" Tampaknya mereka sengaja menyerang untuk mengulur waktu nyonya. Itulah kenapa tak pernah ada serangan besar hingga saat ini. "
" Licik sekali mereka. Jika mereka tidak ingin menyerang, kenapa tidak kita saja yang menyerang mereka? Bukankah itu akan lebih baik dari pada menunggu. " Liu ru yang begitu buta tentang militer tentu saja tak mengerti mengenai strategi militer.
" Kamp militer musuh selalu berpindah nyonya. Itulah kenapa pangeran tak bisa mengerahkan pasukannya secara total. "
Dari sini Liu ru akhirnya tahu bahwa situasi Sima Feng sedang tidak baik-baik saja.
Ingin sekali ia datang menyusulnya. Namun dirinya takut bahwa kedatangannya justru akan mengganggu. Jadi pada akhirnya ia hanya bisa bertahan dan menunggu.
" Apa kau tahu, Yang mulia tidak datang karena hubungan ia dan nyonya tidak baik. "
" Benarkah? "
" Tentu saja. Jika tidak bagaimana pangeran tidak sekalipun datang. Padahal sudah hampir satu bulan nyonya berada di sini. "
Samar Liu ru bisa mendengar percakapan dua pelayan yang tak jauh dari tempatnya sekarang.
Meski sesungguhnya ia tidak merasa sakit hati dengan hal tersebut. Namun tetap saja itu mengganggu pikirannya.
" Nyonya. Jangan dengarkan mereka. Pangeran juga pasti ingin sekali kembali. Hanya saja situasi membuatnya sulit. Jadi tolong percayalah padanya. " Hibur Xiao Su. Ia harap sang nyonya tidak termakan dengan ucapan mereka.
Liu ru tak menjawab. Ia memilih mengabaikan dua pelayan itu dan meninggalkan tempat tersebut untuk kembali ke kamarnya.
Niat hati ingin melihat taman yang ada di belakang kediaman seketika sirna begitu mendengar percakapan itu.
" Tidak bisakah mereka menggunakan mulut mereka dengan baik. Berani sekali mereka membicarakan tuan mereka. Akhhh.... sungguh menyebalkan. " Liu ru yang sedang rebahan menendang asal kakinya ke udara. Melampiaskan kekesalannya.
Setelah puas mengumpat dan memaki kedua pelayan itu. Liu ru akhirnya tertidur.
Tengah malam, tanpa Liu ru sadari. Seseorang baru saja menyelinap masuk ke dalam kamarnya.
Orang itu berjalan pelan, mendekat ke ranjang Liu ru. Tangannya terulur menyentuh pipi wanita yang sedang terlelap itu.
__ADS_1
" Maaf. Aku belum bisa menemui mu. Tapi aku berjanji akan datang. Saat semuanya sudah berakhir. "
Tanpa siapa pun tahu sebenarnya Sima Feng diam-diam datang menemui Liu ru. Ia terpaksa melakukannya karena tak ingin kepergiannya dari medan perang diketahui.