
A Guang menerima lampion yang di berikan oleh istrinya. Tangan kurusnya mengusap benda tersebut. Ekspresi wajahnya yang lembut seketika berubah sendu. Sudah berbulan-bulan ia tak bertemu keluarganya. Terlihat jelas kerinduan di kedua netranya.
' Ayah, ibu, A Feng, A Fei. Bagaimana kabar kalian? ' Monolog A Guang dalam hati.
Sungguh, ia sangat merindukan mereka.
" Ehem.. " Sebuah deheman membuat A Guang dan Xuxiang menoleh. Seorang pria dengan aura bangsawan berdiri tidak jauh dari mereka.
Ia berjalan mendekat, tangannya memegang beberapa bungkusan makanan yang dibelinya sebelum datang.
" Bagaimana kondisi mu Yang mulia? " Tanyanya pada A Guang.
A Guang tersenyum tipis, " Masih sama seperti kemarin. "
" Tidak apa. Aku yakin kau akan segera sembuh. Maaf Yang mulia, karena aku belum bisa membawa mu kembali ke Kekaisaran Jin. Aku harap kau mengerti. Aku lakukan ini juga untuk keselamatan mu juga. "
" Aku mengerti putra mahkota Nan. Kau sudah membawa ku kembali dari kematian saja, itu sudah merupakan pertolongan besar. Aku berterima kasih pada mu. "
Pria yang saat ini berbicara dengan A Guang adalah Putra Mahkota Nan. Ia sengaja melakukan perjalanan ke Kekaisaran Shu untuk menemui A Guang yang saat ini berada di salah satu kota diperbatasan. Tepatnya di kota dimana dulunya milik Kerajaan Wei. Namun karena sekarang Kerajaan itu bergabung dengan Kekaisaran Jin maka kota tersebut menjadi salah satu kota negara Jin.
" Tidak perlu berterima kasih Yang mulia. Aku melakukan ini demi rakyat Nan. Aku tak ingin peperangan nanti menghancurkan negara ku. Bila menyelamatkan mu bisa menyelamatkan ribuan nyawa maka aku akan siap melakukannya. Tidak peduli jika ayahku nantinya mengetahuinya. "
__ADS_1
" Sebenarnya apa motif mu menyelamatkan ku? tidak mungkin itu hanya demi alasan yang kau sebutkan tadi bukan? " A Guang masih tidak percaya.
Putra Mahkota Nan terkekeh. " Aku hanya ingin Kekaisaran Jin menyerang negara Nan dan paksa Kaisar saat ini untuk turun tahta. Bila perlu kalian bisa membunuh pria tua itu. "
Sungguh tanpa beban Putra Mahkota Nan mengharapkan kematian ayahnya. Andai Kaisar Nan tahu ia mungkin akan muntah darah karena sakit hati. Bagaimana tidak, benih yang dulu ia tanam justru mengharapkan kematiannya.
" Apa setelah itu kau akan menduduki tahta? " Pertanyaan yang sebenarnya sudah sangat jelas jawabannya. Tapi A Guang tetap ingin menanyakannya.
" Apakah terlihat sangat jelas. " Jawab Putra mahkota Nan tanpa ragu sama sekali tidak berniat untuk menyembunyikannya.
" Aku memang berharap bisa duduk di singgasana dan memimpin Kekaisaran Nan. Aku ingin menjadikan Kekaisaran kami makmur dan kuat seperti dulu. Apakah terdengar seperti omong kosong keinginan ku itu? "
A Guang menggeleng. " Tidak. Itu masuk akal. "
Lalu A Guang bertanya lagi. " Apa keluargaku sudah mengetahui bahwa aku masih hidup? "
Ekspresi Putra Mahkota berubah tidak enak. Ia menggeleng, merasa bersalah karena sudah merahasiakan tentang keberadaan A Guang. Tapi setidaknya ia membawa Xuxiang untuk menemaninya.
Jadi secara tidak langsung hanya Xuxiang yang baru mengetahui.
Andai saat itu bawahan Putra Mahkota Nan tidak menculiknya. Mungkin sampai sekarang ia tidak akan tahu tentang hidupnya sang suami.
__ADS_1
Entah Xuxiang harus berterima kasih atau memaki pria itu karena sudah berani melakukan penculikan padanya.
" Maaf, awalnya aku ingin memberitahu mereka. Tapi saat aku membawa mu dari tanah kubur kau dalam keadaan kritis. Meski aku bisa menawarkan racun mu. Tapi saat itu beberapa organ vital mu mulai terkena dampak racun. Aku takut kau tidak akan hidup lama, jadi aku hanya bisa menunggu kau bangun dari koma dan sehat kembali. Barulah saat itu aku akan memberitahu mereka. "
Jingu sebenarnya berada di pihak Putra Mahkota, ia hanya berpura-pura mengawasi anak buah ayahnya yang saat itu meracuni A Guang.
Ketika perhatian semua orang berkurang, Jingu memberikan A Guang penawar racun dan juga obat yang mampu melemahkan detak jantung. Bahkan ketika tabib memeriksa denyut nadi, itu tidak akan terasa dan akan membuat orang mengira bahwa A Guang telah tiada.
Barulah ketika sudah dikubur, Jingu menggali kembali makam A Guang lalu membawanya pergi.
Jika itu orang lain mungkin akan menganggap Putra Mahkota Nan sebagai penyelamat. Tapi tidak dengan A Guang, ia hanya merasa pria di depannya ini sangat licik. Ia menggunakan tangan ayahnya untuk membuat permusuhan dengan Kekaisaran Jin lalu menyelamatkan A Guang sebagai alat negoisasi untuk membawanya duduk di singgasana.
Bermusuhan dengan pria ini akan sangat merepotkan, pikirnya.
" Tapi kau tenang saja. Berdasarkan laporan yang ku terima, Kekaisaran Jin sedang melakukan persiapan penyerangan. ketika saat itu tiba aku akan membawa mu kembali pada keluarga Sima. "
Dari jarak cukup jauh, bawahan Sima Feng beberapa kali mengusap matanya. Ia takut yang dilihatnya saat ini adalah hantu. Apa lagi saat ini tengah malam.
Siapapun pasti akan berpikir begitu ketika orang yang dikabarkan sudah meninggal justru terlihat tengah bercengkerama. Andai ia tidak tahu bahwa lawan bicaranya adalah manusia, mungkin dirinya akan berpikir sedang menyaksikan perbincangan sesama hantu.
" Apakah yang di lihat mataku ini benar? itu.. pangeran pertama. Dia... masih hidup.. " Monolognya. Terkejut sekali dia.
__ADS_1
" Aku harus segera melaporkannya pada Yang mulia Putra Mahkota. "
********