Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 422 Side story ( A Fei the princess of Jin)


__ADS_3

A Fei melamun di gazebo tak jauh dari kamarnya. Bukan karena memikirkan masalah di perjamuan keluarga Jiang. Tapi entah kenapa hatinya tiba-tiba saja merindukan seseorang yang pernah dilukainya.


Otaknya selalu mengatakan membenci, tapi hatinya justru berkata sebaliknya. Sudah gila memang A Fei. Begitu keras ia menyangkal tapi yang ada justru semakin galau dirinya.


" Putri, sudah sangat larut. Angin malam juga tidak baik untuk tubuh mu. Aku takut dada mu akan kembali nyeri bila terlalu lama terkena angin malam. "


Sudah dua jam A Fei duduk termenung seorang diri. Sudah puluhan kali juga Xiao Er mengingatkan. Sampai lelah mulutnya terus mengulang kata-kata yang sama.


" Xiao er, kau tenang saja. Nyerinya sudah tak pernah kambuh lagi. Mungkin tonik yang diberikan tabib itu benar-benar ampuh. " A Fei terkekeh. Meski di bibir ia tertawa kecil, ada kesepian dan kerinduan di balik tatapannya.


A Fei kembali berbicara, " kau tahu, ketika sepi seperti ini aku jadi teringat akan kak A Guang. Jika dia tahu apa yang ku lakukan tadi siang di kediaman Jiang. Alih-alih marah, dia pasti akan memuji ku. Kak A Guang selalu mengajarkan ku untuk tidak lemah. Dia selalu menekankan agar aku bisa membela diriku dimana pun aku berdiri. Jadi apa menurut mu apa yang ku lakukan di kediaman Jiang tadi sudah sesuai keinginan kak A Guang? "


Pembahasan mengenai A Guang selalu membuat perasaan sendu. Entah sampai kapan perasaan ini akan benar-benar hilang.


*******


Pagi menjelang siang, A Fei dikejutkan dengan kedatangan Jinfu di istananya. Tujuannya sudah bisa A Fei tebak. Mungkin pria itu datang untuk minta maaf.


" Putri, apakah kedatangan ku mengganggu mu? " Tanya Jinfu membuka pembicaraan.


Apa yang harus A Fei katakan? apakah ia harus jujur bahwa kedatangannya mengganggu acara santai paginya.


" Sejujurnya sedikit. " Jujur A Fei.


Lihatlah, suasana langsung berubah canggung. Jinfu jadi bingung harus bicara apa. Semua kata-kata yang sudah ia rangkai sebelumnya mendadak rontok semua.


A Fei terbatuk mencairkan suasana. " Aku bisa melakukan kegiatan ku nanti. Jadi jangan merasa tidak enak. kalau boleh aku tahu ada urusan apa kak Jinfu datang? "


Bukan niat hati mengusir. Tapi A Fei hanya ingin bertindak langsung. Hari masih pagi, terlalu lelah jika percakapan membahas sebuah masalah.


" Aku.. Aku sudah mendengar apa yang terjadi kemarin. Aku datang kesini untuk meminta maaf atas nama ibu ku. Maafkan aku putri. Aku juga tidak menyangka ibu bisa bersikap seperti itu. "


Benar dugaan A Fei. Sudah sangat jelas bukan. Tidak mungkin juga nyonya Jiang akan meminta maaf padanya.

__ADS_1


" Kak Jinfu, kau tidak memiliki kesalahan apapun pada ku. Jadi tolong jangan minta maaf. Meski sekalipun kau tidak datang untuk minta maaf, aku sudah memaafkan nyonya Jiang. Bagiku itu bukan masalah besar yang harus di buat berlarut-larut. Aku yakin ini hanya sebuah kesalahpahaman saja. "


Sebenarnya Jinfu ingin sekali mengatakan alasan kenapa ibunya bersikap begitu tapi urung. Ia takut jika A Fei justru akan menjaga jarak padanya.


Tidak, Jinfu belum siap untuk itu.


Setelah mengatakan tujuannya, Jinfu memilih pulang. Ia masih tidak enak jika mengajak wanita itu pergi. Takut jika ibunya tahu justru akan semakin menyalahkan A Fei.


' Huft... hubungan bahkan belum di mulai. Tapi sudah mendapatkan batu kerikil saja. ' Jinfu hanya bisa mengeluh dalam hati.


" Jinfu, kau sudah kembali, dari mana saja kau, nak? " Nyonya Jiang menyambut kedatangan putranya dengan senyum. Sementara wanita muda di samping nyonya Jiang tampak malu-malu seakan Jinfu sedang melihat ke arahnya.


" Aku baru saja menemui Tuan Putri untuk minta maaf atas tindakan ibu kemarin. "


Senyum nyonya Jiang seketika lenyap. Begitu pula dengan ekspresi Bai Fulan yang langsung berubah cemberut.


" Untuk apa kau menemuinya? apa dia menggoda mu dan meminta mu untuk datang lalu mengadukan semuanya pada mu. " Ketus Nyonya Jiang.


Jinfu dibuat menganga dengan imajinasi ibunya. Ia melihat Bai Fulan dengan tatapan belati.


" Bukankah sudah ku katakan tadi bu. Aku datang untuk meminta maaf padanya atas nama ibu karena aku tahu ibu tidak akan melakukannya. " Jinfu berusaha keras mengatakannya dengan selembut mungkin agar tak memancing keributan.


" Itu kau sudah tahu. lalu kenapa kau masih pergi untuk minta maaf. " Nyonya Jiang masih saja tidak merasa bersalah meski Jiang Wu bahkan sudah melayangkan ancamannya.


Nyonya Jiang tidak suka jika sang putra merendahkan dirinya untuk minta maaf pada wanita seperti Sima Fei.


" Aku minta maaf bukan demi ibu tapi aku lakukan demi ayah. Apa ibu lupa ayah bekerja dimana? siapa yang ayah temui setiap hari. Apakah ibu tidak memikirkan ayah kedepannya jika hubungan kita dengan Kaisar buruk karena sikap ibu pada tuan putri. Ibu pasti tahu bagaimana Kaisar menyayangi tuan putri. Kerajaan Wei saja bisa dia musnahkan apa lagi keluarga Jiang. " Ucap Jingu frustasi.


Kemudian berganti melihat Bai Fulan. " Dan kau, berhenti bersikap seolah kau adalah calon tunangan ku. Meskipun ibu menganggapnya demikian, tapi tidak dengan ku. "


" Jinfu apa yang kau katakan. Fulan memang calon istri mu. Dia wanita terbaik yang pantas untuk mendampingi mu. " Tidak terima ketika putranya memarahi calon menantu kesayangannya.


" Terbaik menurut ibu tapi tidak dengan ku. Jika ibu memang sangat menyukainya maka ibu saja yang menikah dengannya. Atau ibu bisa nikahkan dia dengan ayah. "

__ADS_1


Jinfu langsung meninggalkan keduanya tak peduli dengan Nyonya Jiang yang sedang berteriak memarahinya.


*******


Seminggu berlalu dengan cepat.


Hari ini adalah ulang tahun A Guang. Tahun pertama keluarga Sima merayakan ulang tahun tanpa adanya si pemilik acara.


Acara yang biasanya dilakukan dengan suka cita kini justru tampak suram. Seluruh keluarga Sima melewati malam kelahiran A Guang dengan melepaskan lampion terbang baru kemudian makan malam bersama.


Langit yang awalnya gelap perlahan penuh dengan puluhan bahkan ratusan lampion. Ternyata rakyat Jin juga ikut melepaskan Lampion turut serta mendoakan yang terbaik untuk A Guang.


" Indah sekali. " Kagum A Fei melihat pemandangan indah di langit saat ini. Tampak seperti ratusan kunang-kunang yang berterbangan.


" Aku harap Kak A Guang bisa melihat ini dimana pun dia berada. "


" Kakak mu pasti bisa melihatnya. Kau hanya perlu mendoakan yang terbaik untuknya. " Kata Sima Rui.


A Fei menoleh dan hanya mengangguk setuju. Ia tidak tahu ada makna lain di balik ucapan sang ayah.


Beberapa jam kemudian di tempat lain, tempat yang sangat jauh.


Seorang pria duduk di kursi roda tengah menatap langit malam. Berharap ada pemandangan lain selain bintang dan bulan di sana.


" Pakailah selimut agar tidak dingin. Ingat! kau masih belum sembuh. " Dengan penuh perhatian, wanita itu menyelimuti punggung hingga bagian depan tubuh pria itu.


" Terima kasih. "


" Kau suamiku. Sudah menjadi kewajiban ku untuk melayani mu. "


Mereka saling tersenyum lalu bersama-sama melihat langit. Satu buah lampion mulai terlihat di langit. Terus terbang hingga akhirnya jatuh di halaman rumah mereka. Wanita berjalan lalu mengambil benda itu.


Ada kata 'Guang' di sana. Wanita itu tersenyum lalu menoleh pada sang suami.

__ADS_1


" Selamat ulang tahun. " Ucapnya sembari memberikan benda di tangannya tersebut pada pria itu.


__ADS_2