
Keringat mulai merembes di kening Jinfu. Bayangan kemarahan ayahnya sudah mulai menari di depan matanya seolah sedang mengejek dirinya.
" Sekarang bereskan semua barang-barang kalian dan segera angkat kaki dari sini. " Usir kepala sekolah.
Jinfu tak ingin meninggalkan akademi namun ia juga enggan bersimpuh seperti Xi jun. Ia tak ingin merendahkan dirinya memohon pada orang lain.
Sikapnya yang sombong dan arogan sebelumnya seolah tersapu bersih dengan gelombang keterkejutan yang baru saja diketahuinya.
Ia melirik sekilas wanita yang diketahui sebagai pemilik akademi. Kembali dirinya bimbang antara harus merendahkan diri atau menerima dirinya di keluarkan dari akademi.
A Guang yang melihat kebimbangan di wajah Jinfu tersenyum puas.
" Kepala sekolah, ketua. Bolehkah aku bicara? " Ucap A Guang membuyarkan keheningan.
" Katakan. " Bukan kepala sekolah yang bicara melainkan ziyan.
" Terima kasih ketua. Aku hanya berharap agar mereka berdua tidak di keluarkan dari akademi. "
Semua orang tampak terkejut dengan apa yang baru saja dikatakan A Guang.
" Apa maksud mu? " Tanya kepala sekolah.
" Seperti yang ku katakan. Aku ingin agar mereka tidak di keluarkan dari akademi. " Ulang A Guang.
" Aku tahu apa yang kau katakan. Tapi yang tidak aku mengerti kenapa kau meminta mereka agar tidak dikeluarkan. Bukankah kau menginginkan mereka di hukum dan sekarang kau mendapatkannya. Lalu kenapa kau kembali menarik kembali keinginan mu itu. " Beber kepala sekolah.
Semua orang memasang tampang bingung tak mengerti dengan jalan pikiran A Guang. Namun diam-diam salah satu sudut bibir ziyan naik. Wanita itu tahu apa yang sedang di mainkan oleh putranya.
" Aku memang menginginkan mereka dihukum tapi tidak dengan mengeluarkan mereka. Setidaknya kalian bisa mengubah hukumannya. Aku lihat mereka juga sudah menyesalinya. Karena bagiku yang terpenting adalah mereka berdua mau meminta maaf padaku dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. "
' Meminta maaf. Cuih! jangan harap aku akan melakukannya. ' Cibir Jinfu dalam hati.
__ADS_1
Berbanding terbalik dengan isi hati Xi jun. 'Syukurlah. Tak masalah meminta maaf padanya. Setidaknya aku tidak di keluarkan. '
Kepala sekolah yang bimbang dengan keputusan apa yang harus di ambil, lagi-lagi melirik pada ziyan.
Ia mengangguk, memberikan persetujuan pada kepala sekolah.
" Baiklah. Kalian tidak akan di keluarkan namun kalian harus meminta maaf pada A Guang dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. "
" Baik kepala sekolah. " Keduanya mengucapkan bersamaan. Namun suara Xi jun lebih mendominasi.
Sesuai dengan kesepakatan, Xi jun akhirnya meminta maaf tanpa merasa terbebani. Berbeda dengan Jinfu yang dengan sangat terpaksa mengucapkan kata yang menurutnya merendahkan harga dirinya tersebut.
A Guang menyambut permintaan maaf Jinfu dengan memberikan pelukan sembari membisikkan sesuatu.
" Lihatlah. Akhirnya kau menyerahkan harga diri mu yang sangat tinggi itu agar bertahan di Akademi ini. "
Melepas pelukannya, A Guang tersenyum.
Ia berjanji, jika dirinya tidak bisa menyingkirkan A Guang di Akademi. Maka ia akan melakukannya di luar.
' Lihat dan tunggu saja! ' Batin Jinfu.
Dan sidang panas itu akhirnya berakhir dengan keputusan Xi jun dan Jinfu yang harus membersihkan seluruh asrama timur selama satu bulan.
Dan untuk kepala sekolah, ia juga tidak lepas dari hukuman. Karena menerima gratifikasi secara diam-diam dan menggunakan wewenangnya secara tidak bertanggung jawab. Maka ziyan memberikan potongan gaji secara tiga bulan dengan masa percobaan enam bulan. Dimana jika dalam enam bulan ia kembali melakukan kesalahan maka ia harus bersiap melepaskan jabatannya.
" Jadi bu kenapa kau meminta ku kesini? " A Guang berada di kereta kuda ziyan.
Sesaat keluar dari ruang kepala sekolah, secara diam-diam bingjie memintanya untuk menunggu ibunya di dalam kereta kuda. Jangan ditanya bagaimana caranya A Guang keluar dari akademi maka jawabannya dengan melompat pagar. Dan bukan hal mengejutkan bagaimana ziyan mengetahui kebiasaan putranya tersebut.
" Minggu depan jangan lupa pulang. A Fei ingin ulang tahunnya di majukan bersamaan dengan kedatangan utusan Kerajaan wei. " Ziyan berbicara sembari melepas cadar miliknya.
__ADS_1
" Hah! dimajukan? Dan A Feng menyetujuinya? "
Ziyan mengangguk. " Baik ayah mu dan juga A Feng tak ada yang menolak. Apa menurut mu ayah mu tega menolak permintaan putrinya. "
A Guang hanya bisa memasang tampang masam. Pasalnya ia sudah tahu jawaban dari pertanyaan ibunya. A Fei adalah putri kesayangan sang ayah.
Ayahnya meski di kenal sebagai kaisar sang pemimpin. Nyatanya ia adalah budak istri dan juga putrinya. Apapun yang ibu dan adiknya katakan akan menjadi sebuah titah baginya.
" Bu, bisakah aku tidak datang. Kau tahu sendiri aku tidak menyukai pesta. " Mohon A Guang.
A Guang memang sangat jarang menghadiri perjamuan kerajaan. Hanya perjamuan resmi dan penting yang ia datangi. Itupun dengan sangat amat terpaksa. Jadi jangan heran jika banyak anak muda para pejabat yang tidak mengenalnya.
" Kau tahu jika kau tidak datang, A Fei akan sangat sedih. Dan ayah mu tidak suka itu. "
A Guang berdecak. " Aku tahu. Dan saat ini jujur aku menyesal karena dilahirkan sebagai seorang laki-laki. "
" Bu... kenapa kau tak lahirkan aku sebagai perempuan saja. " Keluh A Guang.
Ziyan menggeleng melihat sikap kekanak-kanakan putra sulungnya tersebut.
Ia mengelus pundak sang putra membuat A Guang menyadari bahwa setelah ini ibunya akan membicarakan hal serius.
" A Guang. Kau adalah putra mahkota. Suka tidak suka kau harus mengemban tanggung jawab besar di sini. " Ziyan menepuk pundak A Guang yang tadi dielusnya.
" Suatu hari kau akan menggantikan ayah mu sebagai kaisar dan memimpin negeri ini agar semakin berjaya. Jadi berusahalah untuk terbiasa berhubungan dengan mereka. "
A Guang terdiam. Sungguh ingin sekali ia mengungkapkan isi hatinya. Sejujurnya ia tidak ingin menjadi kaisar. Ia menyukai kebebasan, bukan sesuatu yang terikat seperti duduk di singgasana.
Namun ia takut jika mengungkapkannya akan mengecewakan ayah dan juga ibunya. Demi apapun ia tak ingin melihat wajah kecewa sang ibu karena baginya ziyan adalah ibu terbaik.
' Bu maafkan aku. Bukan aku yang seharusnya menjadi putra mahkota. Sungguh aku tidak menginginkannya. Bagiku A Feng lah yang paling cocok. ' Batin A Guang.
__ADS_1