
Tangan A Guang gemetar saat membaca laporan dari penjaga bayangan yang diam-diam ia kirim.
Serangan? jatuh ke sungai? belum di temukan?
Kata-kata itu terus mengganggu pikirannya. A Guang menangkap secara garis besar apa yang terjadi pada Xu xiang saat itu.
Karena posisi Xu xiang saat itu berada di sungai, membuat penjaga bayangan yang bertugas mengawasinya kesulitan untuk menolong. Dan saat ia akan bergerak, gadis itu telah terjatuh ke sungai.
Kembali A Guang memegang dadanya yang terasa sakit.
" Apakah rasa sakit ini karena hal ini. " Gumamnya. Ia masih meremas dadanya yang begitu sesak. Ia merasa kesulitan bernapas, seolah tak ada oksigen di sekitar.
Karena melibatkan penjaga bayangan, Sima rui juga tahu apa yang terjadi dengan calon menantunya. Jadi ia bergegas mengajak ziyan menemui A Guang.
" Ayah, ibu? " Lirih A Guang begitu melihat dua sosok orang terpentingnya.
Ziyan memeluk putranya, " Ayah mu sudah mengerahkan semua penjaga bayangannya dan ibu juga sudah meminta heilong untuk mencarinya. Kita akan segera mendengar kabar terbaru dari mereka. "
A Guang tahu kedua orang tuanya sudah membantu, tapi ia tidak bisa hanya duduk diam menunggu. Ia memutuskan akan ikut dalam pencarian.
" Kalau begitu berhati-hatilah. Seseorang yang tahu status Xu xiang dan tetap mencoba menyakitinya, maka sudah pasti ia bukan orang biasa. " Peringat Sima rui.
" Aku akan berhati-hati. "
A Guang segera pergi ke perbatasan dimana Xu xiang menghilang.
Di tempat lain,
Dua pemuda tengah menunggang kuda dengan santai.
" Tuan muda, apa yang anda lihat? " Ling He mengikuti arah pandang Sima Feng.
Pria berwajah datar dengan aura dingin itu langsung turun dari kuda dan berjalan ke samping sungai dimana ada sesosok wanita terdampar.
__ADS_1
Ling he mengikuti tepat di belakang.
Sima Feng memeriksa denyut nadi. " Dia masih hidup. " Lalu membalik tubuh wanita itu yang sebelumnya telungkup.
" Wanita ini terluka tuan muda. " Ucap Ling He saat melihat noda merah yang merembes keluar.
" Kemungkinan wanita ini korban kejahatan. " Imbuhnya.
A Feng bangkit dan berjalan pergi.
" Tuan muda apa anda akan meninggalkannya? " Ling He bertanya dengan ekspresi bingung. Untuk apa menghampiri jika pada akhirnya ditinggalkan. Begitulah batin Liang He.
Kening A Feng mengerut. " Apa maksud mu? apakah menurut mu aku sekejam itu? Kau gendong wanita itu. Kita akan membawanya menemui tabib. "
Ling He tersadar, bagaimana mungkin tuannya akan menggendong wanita asing sementara ada dirinya di sampingnya.
Jangan salahkan dirinya salah sangka. Siapa pun yang melihat juga pasti akan berpikir bahwa ia bermaksud meninggalkannya. Ling He lagi-lagi hanya bisa menyuarakan pikirannya di dalam hati.
" Ah iya. " Segera Ling He membawa wanita itu di kedua tangannya. Menaikkannya ke atas kuda miliknya. Lalu segera melesat ke kota terdekat untuk mencari seorang tabib.
Itu benar, wanita yang di temukan A Feng adalah Xu xiang.
Pria itu tak akan pernah menyangka bahwa wanita yang ia tolong barusan adalah calon kakak iparnya.
" Aku mengerti. Kalau begitu kau bisa pergi. Tapi datanglah untuk perawatan selanjutnya. " Kata Ling He pada sang tabib.
Setelah mengantar tabib itu pergi, Ling He kembali lagi ke kamar.
" Tuan muda apa kita akan di sini menunggu wanita ini siuman atau kita akan kembali ke kamp militer? "
Sima Feng tampak berpikir sejenak. Ia menatap Xu xiang yang masih tak sadarkan diri. Ada perasaan berat saat ia memutuskan untuk meninggalkan wanita ini.
' Apa yang sebenarnya terjadi dengan ku? kenapa aku merasa seolah akan mendapatkan masalah besar jika meninggalkannya? Aku bahkan tidak mengenalnya. ' Batin Sima Feng.
__ADS_1
Ia memang tahu bahkan kakaknya akan menikah. Tapi karena ia belum pernah kembali ke istana. Maka ia tidak tahu bagaimana rupa calon kakak iparnya.
" Kita tunggu wanita ini sadar. Tidak baik menolong orang setengah jalan. Orang lain mungkin akan beranggapan buruk tentang kita. " Putus Sima Feng.
Ling He hampir saja tersedak ludahnya sendiri saat mendengar ucapan tuannya tersebut.
Tuannya yang selalu acuh tak acuh memikirkan tanggapan orang lain.
Lalu melihat pada Xu xiang yang tak sadarkan diri.
' Apa Yang mulia menyukai wanita ini? tidak, tidak mungkin. ' Pikirnya. Ia tidak tahu bahwa pikiran liarnya ini bisa saja mengantarkannya pada amukan badai besar yang saat ini sedang menuju ke perbatasan.
Jadi, Sima Feng dan Ling He akhirnya memutuskan untuk sementara waktu tinggal di penginapan dimana mereka merawat Xu xiang.
Tiga hari berlalu dengan cepat. Xu xiang masih tak sadarkan diri
Sementara itu, datang sebuah surat darurat dari istana. Sima rui memberitahu kedatangan A Guang pada putra keduanya.
Sima Feng membacanya dan mengernyit heran. Lalu segera menyimpan kembali surat tersebut.
" Persiapan. Kita harus pergi ke dermaga sekarang juga. Kakak datang dan terjadi masalah besar. "
Ling He sedikit ragu, " Putra mahkota datang? apakah kedatangannya perihal masalah pungutan liar yang sedang kita tangani Yang mulia? "
" Lebih besar dari itu. Ia kesini mencari calon istrinya yang hilang. "
Hilang? Apakah calon istri putra mahkota kabur? tidak mungkin. Lagi-lagi Ling He hanya bisa membatin.
" Singkirkan pikiran konyol mu itu. Calon kakak ipar bukan kabur. Tapi ia mendapatkan serangan saat perjalanan ke shu. Jadi perintahkan beberapa orang untuk melakukan pencarian. " Seolah tahu apa yang sedang di pikirkan pengawal pribadinya. Sima Feng segera menegurnya membuat Ling He hanya bisa menelan ludahnya dan tak ingin membatin lagi.
Terlalu menakutkan, saat seseorang tahu apa yang sedang kita pikirkan.
" Kalau begitu kita akan meninggalkan wanita ini sendiri Yang mulia? " Tanya Ling He.
__ADS_1
Sima Feng memberi tatapan tajam seolah menegaskan, ' Apa maksud mu? '
Ling He menutup mulutnya segera. Ia tahu kali ini tebakannya salah. Jadi ia memerintahkan seorang pelayan wanita untuk menjaga Xu xiang selama mereka pergi.