
Kereta kediaman mo tiba di depan sebuah kediaman. Hari ini di kediaman tersebut mengadakan pesta dan keluarga mo menjadi salah satu tamu undangan yang hadir.
Ziyan turun dari kereta kudanya. Ayah dan ibunya yang sudah terlebih dulu turun dari keretanya mengajak gadis tersebut untuk bergabung dengan mereka. Ziyan melihat papan kediaman yang bertuliskan karakter 王 ( wang ) di atas. Kediaman wang tampak begitu ramai karena pesta ulang tahun menteri wang yang sekaligus perayaan atas kenaikan jabatannya sebagai menteri ritus.
Tuan besar wang mengantikan menteri ritus sebelumnya yang harus pensiun karena sakit keras yang dideritanya. Menteri ritus sebelumnya berada di kubu ayahnya, namun menteri ritus kali ini lebih bersikap netral. Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pengadilan istana terbagi menjadi dua kubu. Kubu timur dan barat. Kubu timur lebih berpihak pada kerajaan, sedangkan kubu barat berpihak pada para bangsawan. Ayahnya sendiri berada di kubu timur. Sedangkan kubu barat digerakkan oleh perdana menteri dan menteri pendapatan. Karena menteri ritus sebelumnya berada di pihak timur. Ayahnya berharap menteri kali ini juga akan berada di pihaknya.
"Selamat datang menteri mo. Terima kasih atas waktunya. Silakan masuk. " Sambut tuan besar wang begitu melihat kedatangan mo yincheng.
" Menteri wang begitu sungkan. Bukankah sudah sewajarnya jika kami sekeluarga datang. " Meski hanya sekedar basa basi. Namun hal itu diperlukan untuk membuat suasana terasa lebih santai. Mo Yincheng lalu meminta pelayannya untuk memberikan hadiah yang sudah di siapkan olehnya.
"Ini... silakan diterima. Hadiah sederhana dari kami. " (Mo yincheng)
Menteri wang tertawa. "Anda bisa saja. Tapi terima kasih. Mari kita masuk. "
Kedua menteri itu lalu masuk ke dalam. Nyonya mo dan ziyan bersama mengikuti dari belakang.
Begitu memasuki aula pesta. Ziyan merasakan pandangan dingin dari para tamu yang sudah hadir disana. Banyak pasang mata yang memandangnya seolah merendahkannya. Ziyan tahu hal ini karena rumor sebelumnya. Meski sudah tidak ada lagi yang membicarakannya secara terbuka. Namun ia yakin bahwa di belakang, dirinya masih menjadi pembicaraan hangat.
Tempat duduk pria dan wanita diatur terpisah. Karena itu ziyan duduk bersama ibunya.
Acara pesta berlangsung begitu membosankan bagi ziyan. Karena acara inti belum dimulai, jadi para tamu hanya makan dan saling mengobrol ringan. Ziyan memperhatikan ibunya yang tampak menikmati pesta. Sesekali ia mengobrol dengan istri pejabat lain yang ada di sampingnya.
Untuk mengusir kebosanannya, ia memutuskan keluar untuk menghirup udara segar. Setelah mendapatkan izin dari ibunya. Ia segera mengajak yaoyao dan snowy yang sejak tadi menunggunya di luar.
" Anda mau kemana nona? " (yaoyao)
" Mengusir kebosanan. Ayo kita berkeliling sebentar. " (ziyan)
Setelah berjalan mengelilingi mansion tersebut. Ziyan tiba di sebuah taman belakang, dengan kolam teratai di dalamnya. Karena sekarang sudah musim panas, banyak teratai yang mekar. Membuat wangi bunganya tercium meski ziyan berada cukup jauh dari tepi danau.
Mereka berjalan mendekati kolam. Karena terdapat tanaman di sekeliling tepian kolam, jadi ziyan tak bisa melangkahkan kakinya lebih dekat untuk menyentuh air kolam tersebut. Saat ziyan sedang mengagumi keindahan teratai di kolam. Sekelompok gadis datang. Ada lima gadis yang berjalan mendekat ke arahnya. Dilihat dari pakaiannya, sepertinya mereka juga tamu seperti dirinya.
"Yo.. Bukankah ini nona besar mo. Gadis yang di rumorkan itu. "
" Benar. Kenapa datang sendiri? Apakah tidak bersama dengan salah satu pangeran? "
" Mungkin ia berniat mencari pria lain disini. "
" Benar. "
Semuanya tertawa menghina ziyan.
"Kalian! jaga mulut kalian! " (yaoyao)
Yaoyao sangat marah mendengar ucapan menghina nonanya itu. Reaksi yaoyao berbanding terbalik dengan ziyan. Ia masih tampak tenang, bahkan terlihat seakan tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan mereka.
Melihat ziyan yang tak bereaksi, membuat para gadis tersebut kesal.
" Sepertinya nona besar mo ini bermuka tebal. Apakah karena rumor itu benar karena itu kau sama sekali tidak marah? "
Ziyan tersenyum, lalu menatap gadis yang terakhir berbicara itu.
" Kau... "
Ziyan melangkah maju ke arah gadis itu, membuat gadis itu melangkah mudur selangkah. Ia mengira bahwa ziyan akan menampar atau menyerangnya.
"Kau siapa? " Ziyan langsung bertanya padanya lalu mengedarkan pandangannya pada yang lain. " Aku tidak mengenal kalian. Siapa kalian? begitu perhatian dengan rumorku. Aku sendiri bahkan tidak ada waktu untuk memikirkan rumor tersebut karena begitu sibuk. Namun kalian menggunakan sebagian besar waktu luang kalian untuk memperhatikannya. Membuatku berasumsi apakah hanya itu yang bisa kalian pikirkan oleh isi kepala kecil kalian itu. "
Ziyan tersenyum mengejek. Ucapan ziyan memiliki arti lain. Itu seperti mengatakan, mereka bodoh karena itu tak ada hal lain yang bisa mereka lakukan selain bergosip tentangnya.
Nadi kepala para gadis itu mulai menonjol. Mereka mengerti betul maksud ucapan ziyan.
Setelah menyampaikan apa yang ingin ia katakan, ziyan berencana meninggalkan tempat itu. Namun tanpa diduga, terdengar suara sesuatu jatuh ke air dan bersamaan dengan itu terdengar teriak minta tolong dari para gadis itu.
"Tolong.... tolong... " Teriak gadis yang berada di dalam kolam.
" Tolong ada yang tenggelam. " Ke empat gadis yang lain mencoba berteriak meminta tolong.
Ziyan tak mengerti apa yang sedang terjadi. Ia baru juga berbalik dan gadis itu sudah terjatuh di dalam kolam. Ia merasa ada yang aneh dengan kejadian ini. Sehingga ia memutuskan untuk melihat saja dan sama sekali tidak bergerak.
Para pelayan yang mendengar teriakan minta tolong, langsung bergegas datang. Dua pelayan pria bergegas masuk ke dalam kolam dan membantu gadis itu untuk naik. Mendapatkan kakinya sudah menyentuh daratan. Gadis itu mulai mengatur napasnya. Lalu dengan matanya yang bergetar menatap ziyan.
" Nona Mo, kenapa kau begitu kejam. Aku hanya sedikit berbicara denganmu. Jika kau tidak terima dengan ucapanku maka kau katakan saja, tak perlu mendorongku ke kolam."
Ucapan gadis itu di ikuti anggukan dan pembelaan dari ke empat gadis yang lain.
Ziyan akhirnya mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dalam hati ia tersenyum, 'ingin menjebak ku. Baiklah mari kita lihat. '
"Bicara apa kau. Jelas-jelas nonaku tidak melakukan apa-apa. Jangan memfitnahnya. "
Yaoyao mencoba membela ziyan. Namun karena hanya ada dirinya yang berada dipihak ziyan, tentu saja ia kalah jumlah. Orang-orang akan lebih mempercayai suara terbanyak.
Tak lama setelah itu, datang rombongan para tamu. Diantaranya ada kedua orang tua ziyan dan juga si tuan rumah, tuan Wang.
" Wei er.. " Seorang wanita berteriak dan segera menghampiri gadis yang hampir tenggelam tadi. Wajahnya penuh ke khawatiran. Ia segera memeriksa tubuh putrinya seakan memastikan bahwa tidak ada sedikitpun luka padanya.
" Wei er putriku... kenapa kau bisa seperti ini. " Wanita itu menangis melihat keadaan putrinya yang menurutnya terlihat sangat menyedihkan.
"Dia... Dia mendorongku. " Wei er menunjuk ziyan. Matanya merah karena air mata.
Melihat sikap wei er. Membuat semua orang di tempat itu terkejut, tak menyangka seorang nona kediaman mo akan tega melakukan tindakan yang begitu kejam.
" Omong kosong. Putriku tidak akan melakukan hal itu. "
Nyonya mo dengan cepat menyangkal ucapan wei er. Wanita yang biasanya terlihat lemah lembut itu kali ini nampak begitu berani, bagai harimau yang siap melindungi anaknya.
" Apakah kau punya bukti jika putriku yang melakukannya. Hentikan memfitnah putriku. " ( Hou minglan)
__ADS_1
" Mereka! Mereka adalah saksinya. " wei er menunjuk ke empat temannya. Lalu di balas anggukan oleh mereka.
Ziyan memperhatikan ke empat gadis itu. Benar-benar tidak ada keraguan dari mereka. Sepertinya mereka sangat percaya diri, berpikir bisa menjebak dirinya.
" Mereka bohong. Nona sama sekali tidak melakukannya. Justru mereka yang berbicara kasar dan menghina nona. Tapi nona tidak mempedulikannya. Dan saat nona hendak pergi, begitu berbalik, nona ini sudah berada di kolam. "
Mendengar penjelasan yaoyao, membuat semua orang memiliki opini masing-masing. Beberapa orang percaya dengan ucapan yaoyao, namun ada juga yang menganggapnya sebagai omong kosong sekedar untuk melindungi tuannya.
Wei er melihat beberapa orang mulai terlihat ragu, jadi ia kembali membuka suaranya untuk menyerang ziyan. " Kau sendiri yang bilang, aku telah berbicara kasar terhadap nona mo. Karena itulah ia marah lalu mendorongku. "
" Kau... " Ketika hendak membuka suaranya lagi. Seseorang menepuk pundak nyonya mo. Ia menengok dan melihat bahwa itu suaminya. Yincheng menggelengkan kepalanya. Memberitahu istrinya bahwa 'sudah cukup'.
Tangis wei er membuat sandiwaranya semakin meyakinkan. Semua orang kini hampir sepenuhnya percaya padanya.
Mo Yincheng sama sekali tidak membuka suaranya. Bukan karena ia tak ingin membela putrinya. Namun karena ia percaya putrinya tidak bersalah dan ia yakin putrinya tersebut pasti bisa mengatasi masalah ini.
" Tuan mo kenapa kau tidak berbicara? apakah kau tidak ingin membantu putrimu. " (Tuan wang)
" Kita lihat saja. Itu masalah antar anak-anak, jadi akan lebih baik bila mereka juga yang menyelesaikannya. Kita hanya perlu melihatnya saja. "
Tuan wang tak mengerti dengan jalan pikiran tuan mo. Putrinya sedang dalam masalah, meskipun itu masalah antar anak-anak, tapi masalah itu hampir membuat seseorang kehilangan nyawanya. Apakah ia hanya akan melihatnya tanpa melakukan apa-apa?
Ziyan melihat ayahnya. Pria itu memberikan senyum dan sebuah anggukan yang memberi tahu gadis itu bahwa ia mempercayainya.
"Nona wei er. Kau mengatakan bahwa aku mendorongmu. Kalau begitu bisakah kau ceritakan bagaimana aku mendorongmu? "
Dengan begitu banyak pasang mata yang memandangnya penuh curiga, ziyan masih bisa menjaga ketenangannya, baik saat berbicara maupun sikapnya.
Tuan wang yang memperhatikan ketenangan ziyan mulai merasa tertarik dengannya. Ia sekarang
mengerti kenapa tuan mo tampak begitu tenang, sama sekali tidak khawatir. Putrinya ini bukan gadis biasa.
Mendengar pertanyaan ziyan, wei er mulai memikirkan sebuah skema di kepalanya.
" Tentu saja. Saat secara tidak sengaja bertemu nona mo disini, aku bertanya padanya mengenai rumor itu. Tapi siapa yang tahu bahwa hal itu ternyata membuatnya merasa tersinggung dan marah. Karena itu aku meminta maaf. Tapi saat aku meminta maaf, Ia justru mendorongku ke kolam. Membuatku yang tidak bisa berenang hampir saja tenggelam. " Wei er menjelaskan dramanya dengan mata yang masih mengeluarkan air mata.
" itu benar. "
" Kamilah saksinya. Kami melihatnya sendiri. "
"Iya benar. "
" Kami tidak mungkin berbohong. "
Ke empat gadis yang lain memberikan pembenaran atas cerita wei er. Membuat semua orang semakin yakin dengan cerita fiktif tersebut.
" Tuan mo bagaimana kau akan menyelesaikan hal ini. Putrimu hampir saja membunuh wei er. Tapi kau hanya diam dan melihat saja sejak tadi. Apakah kau ingin membiarkan masalah ini begitu saja? Meski kami hanya rakyat biasa. Tapi kami tetaplah manusia tuan mo. Jika kau tak ingin menyelesaikan hal ini, maka dengan terpaksa aku akan membawa masalah ini ke pengadilan. "
Ibu wei er mencoba meminta pertanggung jawaban dari mo yincheng. Sayangnya, Yincheng sama sekali tidak menganggap serius ancaman wanita tersebut.
"Nyonya. Bisakah anda tenang. Anda ingin keadilan untuk putrimu. Tapi kau sama sekali tidak tahu bagaimana tepatnya putrimu bisa jatuh ke dalam kolam. " ( ziyan)
" Itu tidak perlu. " ( ziyan)
Ketidaksetujuan ziyan membuat semua orang berpikir bahwa dialah pelaku sebenarnya, karena itu ia takut dan menolak memanggil pihak penyidik.
"Kenapa? apakah kau takut? takut penyidik akan menemukan Kebenaran bahwa kaulah yang mendorongku. " ( Ang li wei)
Ziyan tersenyum sinis. " Takut? Kenapa aku harus takut, aku sama sekali tidak melakukannya. Aku tidak setuju memanggil pihak penyidik karena itu membuang-buang waktu. Aku sendiri bisa menyelesaikan hal ini. "
"Apa?! " Wei er tidak percaya bahwa seorang nona besar sepertinya bisa membongkar sandiwaranya. Hanya satu saksi yang membelanya. Sedangkan ia memiliki teman-teman yang siap bersaksi mendukungnya.
"Nah mari kita mulai. Nona wei er, Kau bilang aku mendorongmu. Bisa kau katakan bagaimana aku mendorongmu? dan bagian tubuh mana yang aku sentuh saat mendorongmu? "
"Itu.. Kau menyentuh bagian dada ketika mendorongku. "
" Jadi maksudmu, posisimu membelakangi kolam saat aku mendorongmu? "
" Itu benar. "
Ziyan menunjuk tempat dimana wei er terjatuh. " Disana bukan kau berdiri sesaat sebelum kau jatuh? "
" itu benar. "
Ziyan berjalan mendekat ke arah tempat itu. Lalu dengan santai menunjukan sepasang jejak kaki yang ada di sana.
"Jejak ini... apakah milikmu? "
Wei er merasakan panik ketika melihat jejak itu. Karena jejak itu mengarah ke arah danau. Bukan membelakanginya. Ia mulai memutar akalnya, mencari alasan yang akan ia katakan nanti.
" Mungkin saja. Lalu kenapa? "
" Kau bilang aku mendorong dadamu, lantas kenapa arah kakimu menghadap ke kolam bukan membelakanginya? "
Wei er sudah menduga bahwa ziyan akan menanyakan hal ini.
" Itu... Aku baru ingat kau mendorong punggungku. Karena terlalu shock aku jadi tidak mengingat dengan baik. "
Kali ini ke empat temannya diam tak memberikan pembenaran apapun apa yang dikatakan wei er.
Ziyan melihat ekspresi ke empat gadis itu, terlihat nampak sedikit cemas. 'Benar.. begitulah seharusnya. Kalian harus merasa cemas. ' Ziyan menyukai ekspresi mereka.
" Begitu kah? Jadi aku mendorong punggungmu dan kau langsung terjatuh ke kolam. " Ziyan mendekatkan wajahnya ke wajah wei er.
" I.. iya... "
"Kalau begitu mari kita buktikan. " Ziyan menarik tangan wei er dan menyeretnya ke tempat jejak kaku tadi.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan. " Wei er meronta, mencoba melepaskan tangan ziyan. Namun cengkraman tangan ziyan sangat kuat, membuat usahanya sia-sia.
" Hentikan! Lepaskan putriku. " Ibu wei er mencoba menghentikan langkah ziyan.
"Nyonya ang. Aku tidak akan menyakiti putrimu. Aku justru akan memberikan keadilan untuknya. "
Tentu saja keadilan yang di maksud ziyan adalah keadilan lain yang berbeda dari bayangan nyonya ang.
"Sekarang berdirilah di samping jejak kaki itu. " (ziyan)
" Apa yang akan kau lakukan. " Wei er mulai merasakan keringat dingin di punggungnya, sekujur tubuhnya gemetar.
Semua orang yang melihat juga penasaran dengan apa yang akan di lakukan oleh nona muda mo itu.
" Berdirilah dengan benar. Kau akan tahu setelah itu. "
Wei er tampak ragu melangkahkan kakinya. Namun karena melihat tatapan semua orang yang tertuju padanya. Tentu saja mau tidak mau ia harus mengikuti perkataan ziyan. Jadi ia menempatkan kakinya sejajar dengan jejak kaki itu.
Baru juga ia menemukan keseimbangan saat menempatkan kakinya. Tanpa ragu-ragu ziyan mendorong wei er ke dalam kolam.
Dorongan kuat dan tiba-tiba ziyan membuat kaki wei er tersandung dan terjatuh ke dalam kolam. Ziyan segera meminta pelayan pria didekatnya untuk segera menolong wei er. Sementara nyonya Ang kembali histeris melihat putrinya sekali lagi hampir tenggelam. Suasana kembali ricuh kala semua orang melihat kejadian tersebut. Siapa yang akan menduga bahwa nona muda kediaman mo akan melakukan hal gila seperti itu.
" MO ZIYAN! KAU INGIN MEMBUNUHKU! " Wei er berteriak dengan penuh amarah. Reaksinya benar-benar berbeda dengan saat dirinya diselamatkan sebelumnya.
" Beginilah reaksi seharusnya. " (Ziyan)
Apa?! Wei er tak mengerti maksud ucapan ziyan.
" Apakah kau lupa bagaimana reaksimu setelah di selamatkan sebelumnya? "
Mana mungkin wei er lupa. Ia hanya tak mengerti apakah ada yang salah dengan itu. Jadi ia masih terus diam.
" Begitu kau diselamatkan. Tanpa ragu kau langsung menunjukku sebagai orang yang mendorongmu. Bukankah jika melihat dari sifat mu. Kau akan memakiku seperti yang baru saja kau lakukan ketika mengetahui akulah yang mendorongmu. "
Pelayan pria yang sebelumnya menolong wei er kemudian membenarkan pernyataan ziyan.
"Satu lagi. Jika aku benar-benar mendorongmu, maka yang terjadi adalah seperti itu. " Ziyan menunjuk pada tanaman yang ada di tepian kolam. Kondisinya rusak karena terinjak.
" Tanaman itu terinjak ketika kau tersandung karena dorongan tiba-tiba dariku. Tapi lihatlah sisi pada jejak kaki yang pertama. Tanamannya tampak utuh tanpa terinjak sedikitpun. Bagaimana bisa? Kecuali jika...."
Ziyan memberikan jeda pada kalimatnya. " ..... Kau sendiri yang melompat ke dalam kolam. "
Pernyataan terakhir ziyan membuat semua orang terkejut. Karena baik ucapan maupun bukti yang diberikan ziyan semuanya tampak masuk akal.
" Jika kau masih tidak mau mengaku. Maka kita bisa memanggil pihak penyidik untuk membuktikannya. "
Wei er merasa bagai tikus yang terpojok. Ia tidak mungkin mengaku namun ia juga tidak tahu harus berbicara apa.
"Karena kalian juga membantu Nona ang, maka kalian juga bersiaplah berurusan dengan pengadilan karena terbukti membantunya membuat tuduhan palsu. " Ziyan menatap ke empat gadis yang sedang ketakutan itu.
Walaupun sudah terpojok, ziyan ragu wei er akan begitu saja mengaku. Jadi ia hanya bisa memaksa ke empat temannya tersebut bicara.
" Tolong... Jangan bawa kami ke pengadilan. Kami akan bicara. "
" Iya.. Tolong kami. Kami minta maaf karena berusaha memfitnah nona mo. Kami hanya diperintahkan oleh wei er untuk membantunya. "
Ke empat gadis itu semuanya berlutut. Mereka menyadari kesalahannya dan meminta maaf pada ziyan dengan penuh air mata.
Wei er memandang tidak percaya teman-temannya yang berbalik menyerangnya. Demi mendapatkan pengampunan dari ziyan, mereka dengan mudahnya menjual dirinya.
Semua orang terkejut dengan pengakuan ke empat gadis itu. Mereka tidak menyangka seorang rakyat biasa akan begitu berani menjebak seorang bangsawan. Kini mereka menanti apa yang akan dilakukan nona kediaman mo tersebut.
Ziyan tidak memperdulikan padangan semua orang. Ia hanya ingin tahu, orang di balik skema wei er ini. Meski keluarga ang adalah saudagar kaya, salah satu pemilik jalur sutra di ibu kota. Tapi tetap saja, mereka adalah rakyat biasa. Sangat kecil kemungkinannya, wei er berani merencanakan skema ini sendiri. Jadi kemungkinan besar, pasti ada yang memberinya perintah.
" Aku bisa melepaskan kalian dan tidak membawa masalah ini ke pengadilan, tapi kalian harus mengatakan dengan jujur siapa sebenarnya yang menyuruh kalian melakukan ini. " (ziyan)
Keempat gadis itu saling berpandangan. Bukankah mereka sudah mengatakan bahwa ini semua adalah perintah wei er. Kenapa nona mo masih bertanya lagi?
"Kami benar-benar diperintahkan oleh ang li wei. Kami tidak menerima perintah dari orang lain lagi. "
Ziyan memperhatikan salah gadis yang baru saja berbicara. Dari ekspresinya sepertinya ia tidak berbohong. Apakah ia berpikir berlebihan? atau hanya wei er saja yang menerima perintah. Ziyan kembali menatap wei er. Gadis itu masih menunduk dengan tangannya yang mengepal.
" Ang li wei.. Apakah tidak ada yang ingin kau katakan. " (ziyan)
Ang liwei mengalami gejolak dilema dalam batinnya. Ia tidak bisa mengatakan semuanya. Jadi ia hanya menggeleng dan memilih untuk menutup rapat mulutnya.
"Baiklah.. Karena kau diam saja, aku anggap pengakuan ke empat temanmu sebagai bukti tambahan. Karena itu aku memutuskan untuk membawa masalah ini ke pengadilan. "
Ang liwei hanya terduduk lemas mendengar ucapan ziyan.
"Tidakkk! Nona mo tolong kau jangan bawa masalah ini ke pengadilan. Masa depan putriku bisa hancur. " Nyonya ang menghentikan langkah ziyan. Ia memegangi kaki ziyan sambil berlutut memohon.
"Nyonya... Bukankah anda sendiri yang mengatakan pada ayahku bahwa akan membawa masalah ini ke pengadilan. Jadi aku melakukannya sesuai keinginanmu. "
Tanpa memandang nyonya ang lebih lama lagi. Ziyan meninggalkan tempat itu. Dan tak butuh waktu lama, Sima Dan datang kesana.
Kenapa Sima Dan ? Itu karena sebelum ziyan membongkar skema ang liwei, ia sudah meminta xiaoqi untuk memanggilnya. Ia tahu jika ia membiarkan penyidik lain yang menangani hal ini. Maka hanya tangan kosong yang akan ia dapatkan.
Sima Dan segera membawa ang liwei ke biro penyelidik. Nyonya ang yang mencoba menghalangi putrinya di bawa pergi, tidak bisa berbuat banyak ketika para pengawal menghalanginya.
Dan acara di kediaman wang yang semestinya meriah dan damai harus berakhir dengan penangkapan ang liwei.
**********
pojok author :
Kok updatenya cuman 1 doank?
__ADS_1
Oh itu tidak benar. Chapter kali ini lebih panjang kok, karena 3 bab langsung dijadiin satu. Biar ngirit chapter soalnya.
Jadi tolong tetap dukung novel ini dengan cara like, vote dan kasih hadiah dikit boleh lah 😚.. supaya makin semangat updatenya. Dan Terima kasih buat yang sudah dukung selama ini. Seneng banget baca comment kalian yang selalu kasih dukungan. 🥰 Semangat ! !