Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Bab 313 side story ( A Feng story)


__ADS_3

Liu ru dan Ziyan menoleh ke arah sumber suara. Berdiri dua pria dengan garis wajah sama. Dua pria beda generasi itu terlihat mirip jika berdiri berdampingan seperti saat ini.


" Kalian sudah selesai? kenapa cepat sekali? " Tanya ziyan pada sang suami yang sudah berada di sampingnya merangkul pinggang wanita itu, mengabaikan pertanyaan asal suaminya.


" Itu bukan hal serius yang kami bahas. Lagi pula putra kita bisa menyelesaikannya tanpa perlu penjelasan panjang. " Lalu menoleh pada Sima Feng dan menatapnya penuh arti.


' Pergilah. Kau menggangu waktu ku bersama istri ku. ' Setidaknya itulah yang Sima Feng tangkap dari tatapan sang ayah.


"Ibu, aku tak ingin mengganggu waktu ibu lebih lama. Jadi aku dan Liu ru pergi dulu. " Dan dengan cepat ia menarik tangan calon istrinya itu meninggalkan kedua orang tuanya.


Ayahnya terlalu kejam. Bahkan untuk berbagi waktu bersama ibunya saja ia tidak rela.


" Tidak bisakah kita berjalan lebih pelan. " Keluh Liu ru saat Sima Feng tanpa sadar menariknya dan berjalan cepat hingga membuat dirinya beberapa kali hampir tersandung.


Wajah Liu ru menabrak punggung Sima Feng, saat pria itu berhenti secara tiba-tiba.


" Astaga. Tidak kah kau memberitahu ku terlebih dulu jika ingin berhenti. " Liu ru merasakan sakit pada hidungnya. Ia merasa seakan baru saja menabrak tembok bukan punggung.


Tampaknya Liu ru harus berterima kasih pada calon suaminya itu, karena berkat latihan fisiknya selama ini. Membuat Sima Feng tak hanya memiliki punggung penuh otot melainkan dada bidang dengan otot yang terpahat pas di tubuhnya. Membuat wanita manapun yang melihatnya akan meneteskan air liurnya karena tergoda.


" Kau ini sangat cerewet sekali. Bukankah kau tadi yang meminta ku agar berjalan lebih pelan. Lalu kenapa kau sekarang justru kesal karena aku berhenti. "


" Ish.. Kau ini. Sudahlah, terlalu panjang jika berdebat dengan mu. " Liu ru terlalu malas untuk melanjutkan perdebatan mereka dan memilih untuk terus berjalan kembali.


Tanpa mereka sadari, kedua tangan mereka masih bertaut hingga akhirnya mereka sampai di kamar Liu ru.


Barulah ia sadar bahwa sejak tadi mereka berjalan dengan bergandengan tangan.


Segera Liu ru melepaskan tangannya, " Su-sudah sampai. Kau.. kembalilah. " Niat sekali Liu ru mengusir Sima Feng. Padahal Ia sendiri tinggal di istana pria itu.


" Kau mengusir ku? " Tanya Sima Feng santai.


" Tidak. Tapi aku meminta kau kembali. " Balas Liu ru. Entah pergi kemana rasa takut yang tadi ia rasakan pada pria ini. Setelah mendengar cerita calon mertuanya tadi. Sedikit banyak ia mulai memahami kehidupan Sima Feng.


" Kembali kemana? ini istana ku. "


' Benar juga. Ini kan juga tempat tinggalnya. ' Liu ru tak sadar bahwa ia sedang dipermainkan oleh Sima Feng.

__ADS_1


" Eh... jangan coba membodohi aku. Kau tahu jelas maksudku. Sudah, cepat kau pergi. " Ia mendorong A Feng agar meninggalkan kamarnya. Lalu menutup pintu begitu pria itu sudah keluar dari kamar tersebut.


Sima Feng menoleh menatap kesal pintu di depannya. ' Wanita ini. ' Geramnya dalam hati.


Memilih mengalah lalu selanjutnya berkata, " Besok, A Fei akan mengajak mu pergi ke ibu kota. Belilah beberapa barang yang kau mau. " Tanpa menunggu jawaban Liu ru, Sima Feng sudah berjalan kembali menjauhi kamar itu.


Keesokan harinya, sesuai ucapan Sima Feng. A Fei datang dengan wajah bahagia. Bagaimana gadis itu tidak bahagia. Ia mendapatkan tugas menemani calon kakak iparnya berbelanja dan A Feng juga membebaskan dirinya membeli apapun yang Ia mau.


A Feng bahkan tidak peduli berapa banyak uang yang akan mereka habiskan. Dan itu membuat A Fei begitu senang seolah baru saja menemukan oase di tengah padang gurun yang gersang.


Siapapun mengira bahwa kedua wanita itu akan melubangi kantong Sima Feng. Tapi itu tidak benar. Sima Feng menggunakan balas jasanya yang pernah menolong Xu xiang untuk membayarnya.


Dan A Guang mulai menyesalinya.


" Benarkah tak apa? ini sangat banyak. Aku takut Pangeran akan marah jika kita terlalu boros. " Tanya Liu ru takut-takut saat melihat jumlah pakaian yang mereka beli.


Ya saat ini mereka berada di salah satu toko kain dan pakaian terbesar di ibu kota.


" Kakak ru, kau tenang saja. Tadi A Feng sudah mengatakan padaku bahwa kita bebas berbelanja apa saja. Anggap saja ini sebagai penebusan dosanya karena tidak memberikan nafkah pada mu selama ini. " Ujar A Fei begitu santai. Ia bahkan masih berniat menambah kain yang saat ini sedang dipegangnya. Kain yang sejak tadi menarik perhatiannya.


Menurutnya kesempatan emas haruslah di manfaatkan dengan sebaik-baiknya.


Apakah karena mereka saudara kembar, hingga sifat pun sama, batinnya.


" Pelayan. Aku ingin kain ini. " A Fei memberikan kain yang di pilihnya pada seorang pelayan.


Namun sebuah tangan tiba-tiba mengambil kain itu dari tangan pelayan tersebut.


" Aku ingin ini. Aku yang akan membayarnya. Berikan kain yang lain untuknya. " Ucap seorang gadis dengan gaya arogan.


" Maaf nona. Tapi ini kain terakhir. Dan nona ini sudah lebih dulu memesannya. " Pelayan itu menjawab dengan sopan.


Tahu jika itu kain terakhir, wanita itu beralih melihat pada A Fei.


" Nona. Tidak keberatan bukan jika kain ini untuk ku. " Sambungnya melihat pada A Fei.


Sima Fei masih terlihat santai, tidak terlihat amarah atau kekesalan di wajahnya. Tangannya terlipat bersedekah di depan.

__ADS_1


" Kau ingin kain ini? dan kau ingin aku melepasnya untuk mu. " Wanita itu mengangguk.


" Hahaha. " Sima Fei terbahak. " Dalam mimpi mu. Aku yang lebih dulu melihatnya. Jadi kain ini tentu saja milikku. Enak saja kau ingin merebutnya. "


Wajah wanita itu berubah hitam. Marah, kesal, dan malu karana penolakan A Fei. Ia menatap benci A Fei.


Tiba-tiba sudut matanya menangkap sosok Liu ru. Ia tersenyum remeh sembari menatap Liu ru dari atas ke bawah, lalu menatap pada A Fei.


" Apakah dia teman mu? " Tanya wanita itu pada A Fei dan matanya masih tidak lepas melihat pada Liu ru.


Sima Fei mengerutkan kening saat wanita arogan di depannya tampak mengenal Liu ru.


" Bukan urusan mu. " Ketus Sima Fei.


Wanita itu tersenyum remeh lalu memandang Liu ru dengan sorot mata menghina. " Liu ru apa kau sekarang menjadi pelayan nona ini? ck ck, tampaknya setelah terusir dari rumah utama dan menjadi wanita murahan. Kini kau terlihat hidup nyaman. Ya meskipun hanya seorang pelayan. " Hinanya.


Lalu beralih melihat Sima Fei, " Nona lebih baik kau pikirkan lagi untuk menjadikan wanita ini sebagai pelayan mu. Apa kau tidak tahu? dia pernah hamil dengan pria acak dan melahirkan anak haram. Ia juga di buang oleh keluarganya karena pembawa sial. Jadi lebih baik kau jual saja dia dan jangan pekerjakan dia lagi atau kau akan menderita kesialan karenanya. " Sambungnya masih mencoba memancing A Fei.


" Liu shishi, hentikan ucapan mu atau.. "


" Atau apa? " Dengan nada menantang wanita bernama Liu shishi memotong ucapan Liu ru.


" Kenapa aku harus menghentikan ucapan ku sementara apa yang ku katakan adalah kenyataan, kau adalah bintang pembawa sial, lalu kau juga hamil anak pria tidak jelas dan melahirkan anak haram. "


" Liu shishi! " Geram Liu ru tertahan. Kedua tangannya mengepal kuat. Tak kalah gentar ia menatap Liu shishi. Kemudian berjalan lebih dekat.


" Kau sepupu ku tersayang. Apa aku harus mengumumkan bahwa kau dan Liu Mei membayar pendeta untuk membuat ramalan palsu agar aku di usir dari kediaman Liu. Jika kau tidak bodoh, seharusnya kau tahu semua kemalangan ku berasal dari siapa. Bukan aku bintang pembawa sial. Tapi kau lah dan saudari ku itu. Kalian lah pembawa sial bagi ku. "


" Jika kau tak ingin aku membuka fakta ini lebih baik kau tutup mulut mu sekarang. Atau akan ku buat kau menyesal. " Ancam Liu ru.


Liu shishi menelan ludahnya kasar. Ia tak menyangka bahwa perbuatannya dan Liu Mei bisa di ketahui oleh wanita yang ia ketahui bodoh itu. Selalu diam saat anggota keluarga yang lain mengganggunya. Tapi apa ini sekarang? Ia bahkan bisa mengancam balik dirinya.


" Omong kosong! aku bahkan tak mengerti apa maksud mu. Jangan menuduhku. " Elak Liu shishi. Ia yakin Liu ru tidak memiliki bukti apapun.


" Dasar wanita murahan. Kau dan anak haram mu adalah pembawa sial. " Lagi, Liu shishi menghina Liu ru. Sengaja ia berbicara dengan nada lebih keras, sangat yakin semua orang di dalam toko tersebut bisa mendengarnya.


Ia tersenyum licik melihat Liu ru masih diam menatap bengis dirinya.

__ADS_1


" Nona Liu, aku tidak menyangka bahwa mulut mu ternyata sangat bau. Bahkan sangking bau nya sampai membuat ku mual. Jadi saran ku lebih baik kau diam dan tutup mulut mu rapat-rapat. " Sima Fei yang sejak tadi diam menonton akhirnya membuka mulutnya juga. Bahkan kata-kata yang keluar tak hanya tajam tapi juga pedas.


__ADS_2