Ratu Hebat Mau Lewat

Ratu Hebat Mau Lewat
Chapter 88


__ADS_3

Yelu memperhatikan sahabatnya, Jiangwu, yang sedang meminjat kepalanya yang pusing akibat mabuk.


"Ini minumlah. Bisa meredakan sakit kepalamu. " Yelu memberikan semangkuk sup pereda mabuk.


Pagi tadi yelu dikejutkan oleh kabar bahwa jiangwu tergeletak di depan paviliunnya. Dengan khawatir yelu bergegas menuju Tiantang. Melihat tubuh jiangwu yang tidak bergerak, wajah yelu pucat. Tangannya sedikit gemetar saat memeriksa tubuh jiangwu.


Udara hangat keluar dari hidung jiangwu. Ternyata ia hanya tertidur. Yelu merasakan kelegaan mengalir di tumbuhnya, namun setelah itu, urat nadi menonjol di dahinya. Sahabatnya ini bisa-bisanya berbaring seperti mayat di depan paviliunnya. Apakah statusnya sebagai putra perdana menteri tidak membuatnya malu untuk tidur di pinggir jalan.


Jiangwu segera mengambil mangkuk tersebut dan mengosongkannya dalam sekali teguk.


"Bagaimana bisa kau tidur di depan paviliunku. Apa yang sebenarnya terjadi? " (Yelu)


Jiang wu mencoba mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi.


Ia bertemu dengan seorang pria cantik di meja poker. Lalu mereka minum bersama. Setelah itu, ( komputer not responding ), Jiangwu tidak tahu apa lagi yang terjadi setelah itu. Ia hanya mengingat pelayan bar membangunkannya dan memintanya membayar tagihan mereka. Setelah itu ia keluar dari kasino tersebut. Awalnya ia berniat hendak pulang, hanya saja karena sangat mengantuk, Jiangwu memutuskan untuk berbaring di depan Tiantang, mengingat letak paviliun itu yang berada di seberang kasino.


Yelu tidak bisa berkata-kata. Sahabatnya ditinggalkan begitu saja oleh teman minumnya dan lagi harus membayar tagihan minuman mereka.


"Lalu siapa nama teman barumu itu? "


"Dia..." Jiang wu tampak berpikir. " Aku tidak tahu..." Ia baru ingat bahwa mereka belum bertukar nama.


Melihat kebodohan temannya ini benar-benar membuat yelu menggelengkan kepala.


"Sudahlah... Anggap saja kau sedang sial. Kau berbaringlah terlebih dulu, setelah merasa lebih baik kita akan menemui putra mahkota. "


" Bertemu Yan? Kenapa? "


"Kenapa? Tidakkah kau dengar rumor tentangnya? Meski rumor itu sudah hilang. Namun pengadilan istana masih mempermasalahkannya. Karena itu setidaknya kita harus memberinya semangat. "


Jiangwu hanya mengangguk lalu merebahkan badannya. Ia terlalu lelah untuk terus menanggapi percakapan yelu.


**********************


Di tempat lain, di dalam sebuah kamar. Dua orang sedang berbaring di tempat tidur. Tanpa sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya dan hanya menggunakan selimut sebagai penutup. Gadis itu merebahkan kepalanya pada tubuh pria yang ada di samping yang sejak tadi memeluk tubuhnya.


"Tuan... Bukankah anda berjanji padaku akan memberi pelajaran Mo ziyan. Kenapa sampai sekarang ia masih baik-baik saja. Bahkan rumor itu sama sekali tidak berpengaruh padanya dan juga hubungannya dengan pangeran pertama. "


" Tenang saja. Meski rumor itu sudah berlalu dan hubungannya dengan pangeran pertama baik-baik saja. Tapi setidaknya pengadilan istana sudah sedikit terguncang. Mereka menuntut pertunangan mereka untuk di tinjau ulang. Kita lihat saja apa yang bisa pangeran pertama lakukan saat kembali. "


" Baiklah. Aku akan menunggu seperti yang tuan katakan. Tapi apakah tuan sudah menyiapkan kejutan lain untuk jal*ng itu. Aku ingin dia menderita. Aku ingin dia menjadi hina dan kotor, sehingga pangeran pertama tidak akan sudi untuk menerimanya lagi. "


" Semuanya sudah siap. Kau tinggal tunggu kabar baik dariku. "


"Terima kasih tuan. "


Gadis itu memeluk sang pria. Meski dalam hatinya ia merasa jijik dengannya. Namun demi bisa membalaskan dendamnya, ia menahan rasa jijik tersebut. Ia tidak keberatan memberikan Kehormatannya dan menerima pria yang bahkan pernah tidur dengan ibunya tersebut.


Hong Dawei, tuan besar kediaman Hong yang sekaligus menteri pendapatan di Kerajaan jin dan juga selingkuhan ibunya.


Setelah diusir dari kediaman mo. Yuefeng harus menderita tinggal di rumah kecil jauh dari kemewahan yang selalu ia dapatkan. Ibunya bahkan tidak bisa kembali ke kediaman Han, membuat hidup mereka semakin menderita. Saat itulah ia baru tahu, bahwa selama ini ibunya berselingkuh dengan tuan besar Hong, yang tak lain ayah temannya sendiri, Hong sujin. Itulah yang ia pikir sebelumnya yaitu sujin adalah temannya. Namun semuanya berubah. Kini yuefeng membenci Hong sujin. Disaat dirinya terpuruk dan membutuhkan bantuan. Sujin justru dengan dingin menolaknya dan mengusirnya dari kediaman Hong.

__ADS_1


Disaat itulah muncul ide licik lain. Bagaimana pun selalu ada jalan untuk bisa mendapatkan uang dari kediaman Hong. Ia yakin dengan sifat Hong Dawei yang suka bermain wanita, tak mungkin ia menolak dirinya yang bahkan lebih cantik dari ibunya dan yang terpenting ia masih muda. Bukankah para pria menyukai wanita yang lebih muda. Hingga akhirnya yuefeng menjadi simpanan Hong Dawei dan mengkhianati ibunya.


Sejak yuefeng memutuskan jalan tersebut. Ia bersumpah akan membuat hidup mo ziyan kotor dan hina seperti dirinya. Membuat hidupnya menderita, berharap bahwa ia lebih baik mati dari pada harus hidup.


"Aku tidak ingin ucapan terima kasih. Aku ingin tubuhmu yang indah ini. "


"Apakah tubuhku lebih indah dari tubuh ibuku tuan? "


"Tentu saja. " Hong Dawei langsung menghujani yuefeng dengan ciuman. Begitu kasar tak ada kelembutan dalam ciuman tersebut.


"Tunggu tuan.. " Yuefeng membenci ciuman tersebut namun ia menyembunyikan perasaannya tersebut. Ia mencoba berpikir, mencari alasan untuk menolak ***** pria tua itu.


Bukan Hong Dawei jika bisa menahan hasratnya. "Aku sudah tidak tahan. " Ia kembali mencium yuefeng dengan kasar.


Yuefeng merasakan mual di perutnya. perasaan jijiknya terhadap pria ini sangat besar, namun rasa bencinya terhadap keluarga mo dan ziyan jauh lebih besar. Sebuah senyum palsu menyimpul di bibirnya.


" Tolong lebih lembut tuan. "


Yuefeng membalas pelukan Hong Dawei. Pria itu mulai mencium leher yuefeng lebih lembut, terus turun hingga sampai di kedua puncak dadanya. Dengan rakus pria itu menggigit dan menyesapnya, membuat gadis itu terangsang hingga mengeluarkan desahannya. Suara basah dari gesekan tangan Hong Dawei dengan milik yuefeng yang ada di tengah pangkal kakinya membuat suasana kamar itu semakin erotis.


( ....... a**degan selanjutnya di sensor )


****************


Istana Qinwu,


Sima yan masih berada di ruang kerjanya ketika seorang kasim datang membawa pesan dari permaisuri.


"Bangunlah. Ada apa kasim Xu? "


Kasim Xu adalah kasim yang bertugas di istana permaisuri.


" Hamba membawa pesan dari Permaisuri. Beliau meminta anda untuk datang ke istana permaisuri. "


"Baiklah. Kau boleh pergi. "


Setelah menyampaikan pesannya. Kasim Xu bergegas undur diri dari hadapan Sima yan.


Sima yan yakin ibunya memanggil dirinya karena masalah rumor itu. Tapi entah kenapa ia juga memiliki firasat bahwa ibunya akan membahas mengenai 'hal itu'. Hal yang tak ingin ia lakukan.


"Salam ibu... "


Sima yan segera memberi salam pada ibunya begitu tiba di istana permaisuri. Sudah lama sejak kunjungan terakhir dirinya ke sini.


" Apakah kau tahu alasan kenapa ibumu ini memanggilmu? "


" Pasti ada hubungannya dengan masalah rumor itu. " Sima yan menjawab dengan penuh keyakinan.


"Baguslah kalau kau mengerti. Lantas kenapa bisa ada rumor seperti itu. Apakah kau tahu, rumor itu cukup memalukan. Bagaimana bisa dua pangeran terkena skandal seperti itu. "


Sima yan tidak mengerti dengan jalan pikiran ibunya. Bukankah rumor itu hanya berdampak pada pertunangan kakaknya, tidak dengan dirinya. Kenapa sekarang ibunya marah hanya karena rumor tersebut. Sedangkan ia tidak pernah sekalipun menunjukan kepeduliannya ketika rumor mengenai dirinya yang setiap hari berganti wanita.

__ADS_1


" Ibu.. masalah rumor sudah selesai. Sekarang tak ada lagi rakyat yang membicarakannya. Kenapa ibu masih mempermasalahkannya? "


" Apa kau bilang?! "


Permaisuri mencoba menahan emosinya. Jawaban spontan Sima yan hampir membuat emosi permaisuri meledak. Ia tak ingin pembicaraan dengan putranya selesai begitu saja karena emosi.


" Aku tak keberatan kau memiliki rumor dengan wanita lain. Tapi jangan dengan tunangan kakakmu. Apakah kau tahu hal itu berdampak negatif terhadapat nona mo. "


Sebenarnya lebih tepatnya karena permaisuri meifeng tak ingin Sima yan menikahi nona mo sebagai permaisurinya. Menjadikan gadis itu seorang selir juga merupakan hal yang tidak mungkin. Semua itu tentu saja karena wasit mendiang raja sebelumnya. Karena itulah ia khawatir dengan rumor tersebut. Mungkin jika itu gadis lain. Ia tidak akan peduli.


Sima yan diam. Ia tahu jelas mengenai hal itu. Selama ia mendengarkan pendongeng bercerita. Banyak wanita ataupun pria yang menghina ziyan. Hanya karena ia dan kakaknya pangeran, mereka berdua bisa terbebas dari kata-kata kotor para pengunjung. Tapi Ziyan, meskipun dirinya seorang bangsawan namun tak membuatnya terbebas dari ucapan hina mereka. Hal itu membuat hati Sima yan sakit, saat mendengar gadis yang dicintainya dihina di depan matanya.


Ia menyadari perasaannya saat itu juga. Keinginan untuk melindunginya, memberikan semua hal terbaik untuknya, dan menggenggam erat tangannya hingga ia bisa selalu berada di sisinya. Semua perasaan itu muncul di dalam hatinya. Perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Dan saat itu juga ia tersadar, bahwa ia sebenarnya sudah jatuh hati pada gadis itu sejak pertama kali mereka bertemu.


"Aku tahu bu. Karena itulah aku mencoba menghentikannya. "


Permaisuri memperhatikan sikap putranya itu. Ia merasa sedikit aneh dengannya. Sebuah pikiran muncul di benaknya. Namun terlalu takut untuk mengungkapkannya.


Permaisuri mengambil tehnya lalu menyesapnya. Teh yang mengalir di tenggorokannya membuat Perasaannya jauh lebih tenang. Lalu permaisuri kembali menatap putranya.


"Yaner. Bagaimana menurutmu nona besar mo? "


Permaisuri terlalu takut mengungkap kekhawatirannya. Jadi ia mencoba bertanya dengan pendekatan yang lebih halus.


Bibir Sima yan melengkung membentuk sebuah senyuman lembut. Pandangannya penuh kehangatan. Dan ekspresinya dengan jelas memperlihatkan rasa cinta.


" Dia ... " Sima yan tak tahu harus bagaimana menggambarkan gadis itu. Dimatanya ia adalah wanita sempurna. Tak cukup baginya bila harus mengungkapkannya dengan kata-kata. Jika bisa, ia ingin mengeluarkan hatinya agar semua orang tahu bagaimana sempurnanya ziyan di matanya.


Ketakutan permaisuri semakin terlihat. Ia yakin apa yang ada di benaknya benar. Namun ia mencoba menyangkalnya dan berpikir untuk bertanya secara langsung.


" Kau menyukainya? "


Tak nampak keterkejutan dari Sima yan. Ia justru menatap lurus ibunya. Matanya memperlihatkan keseriusan akan perasaannya.


Permaisuri begitu marah hingga melempar cangkir yang ada di sampingnya. Jatuh tepat di samping kaki Sima yan. Kakinya yang sejak tadi berdiri tak ada sedikit pun gerakan untuk menghindari cangkir tersebut.


" Lancang. Apa kau tahu, dia tunangan kakakmu. Jangan lupa kau sendiri sudah memiliki tunangan "


Akhirnya. Ibunya kembali mengingatkan hal itu. Pertunangannya dengan putri kerajaan wei. Sima yan sendiri tidak pernah bertemu dengan putri itu. Pertunangan mereka dibuat untuk memperkuat hubungan kedua kerajaan. Meski tunangan adalah seorang putri, namun ia tak ada hubungan darah dengan ibunya. Putri yang akan ia nikahi itu adalah putri angkat, yang sebenarnya adalah putri jenderal besar kerajaan wei yang gugur saat perang. Untuk menghormatinya, maka putri satu-satunya jenderal di adopsi oleh raja wei yang tak lain adalah paman Sima yan. Karena itulah tidak ada masalah mengenai pernikahan antar saudara dalam pertunangan ini.


" Kenapa.. kenapa harus aku yang menikah dengan putri kerajaan wei, dan bukan kakak. Bukankah hanya memperkuat hubungan dua kerajaan. Kenapa bukan kakak. " Sima yan mengungkapkan keberatannya, meski nada bicaranya pelan, namun terdengar penuh kekecewaan.


Permaisuri menatap putranya, ia menarik napasnya mencoba mencari ketenangan untuk menjawab pertanyaan putranya itu.


"Karena kau putra mahkota. Kau adalah calon kaisar masa depan. Itu semua adalah tanggung jawabmu. Ingatlah, semua kesenangan yang kau dapatkan. Karena itu, sudah saatnya kau membayar apa yang sudah kau terima selama ini. "


Sima yan tertawa, mengejek nasibnya. Ia lupa bahwa ia hanyalah seorang putra mahkota tidak berguna yang hanya bisa bersenang-senang. Berbeda sekali dengan kakaknya yang seorang jenderal besar. Begitu banyak kontribusi yang sudah di lakukannya. Ia mengalahkan tentara musuh dan memberikan kemenangan bagi negara serta menjadikan negara jin sebagai negara terkuat di dataran ini.


" Kembalilah. Kita akan berbicara lagi lain kali. "


Permaisuri tahu bahwa kata-katanya membuat perasaan putranya terpuruk. Tapi ia harus melakukannya. Bagaimanapun, putranya adalah seorang putra mahkota. Ia tak ingin perasaan sesaat pada gadis itu membuatnya melupakan tanggung jawabnya. Ia harus menjadikan putranya sebagai kaisar selanjutnya. Sesuai kesepakatan yang ia dan kaisar saat ini buat.

__ADS_1


Cinta hanyalah perasaan yang timbul karena kekaguman sesaat. Pernikahan masih bisa di lakukan meskipun tanpa cinta. Begitulah anggapan permaisuri selama ini. Mengingat ia dan Sima shao juga menikah tanpa cinta. Cinta pria itu hanya untuk Huang Guifei. Sedangkan hati permaisuri, sudah lama gugur sebelum ia menikah dengan Sima shao.


__ADS_2